Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)

Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)
Kamu Harus Jaga Jarak Dari Kevin


__ADS_3

Setelah turun dari mobil Kevin, Jeany perlahan berjalan membelah air yang hampir setinggi lututnya sambil menjinjing sepatu. Ia sudah pasrah celananya basah karena masih punya celana pengganti, tetapi sepatu yang ia pegang adalah sepatu satu-satunya. Tidak ada pilihan selain berjalan tanpa alas kaki.


Untung saja banjir tidak sampai masuk ke dalam rumah kosnya. Sepertinya pemilik rumah kos sudah mengantisipasi terjadinya banjir sehingga meninggikan pondasi rumah. Jeany selalu merasa kagum pada orang yang berpikiran jauh ke depan seperti pemilik rumah kosnya itu.


Gadis itu masuk ke dalam rumah yang selalu terasa sepi, bahkan dengan kehadiran Serly sekali pun. Dulu ketika ia baru pindah ke situ, penghuni kos ada delapan orang. Namun, satu per satu keluar dan kini hanya tersisa empat orang saja, yaitu Serly, Arini, Husna dan dirinya sendiri. Belakangan Arini dan Husna semakin jarang pulang ke kos. Jeany tidak tahu mengapa karena ia tidak dekat dengan mereka.


Setelah mandi, Jeany mencoba mengetuk pintu kamar Serly tetapi tidak ada jawaban. Sepertinya kakak kosnya itu belum pulang karena masih asyik berkencan dengan pacar barunya. Tiba-tiba Jeany merasa kesepian sekali. 


Apa kalau punya pacar aku gak akan merasa kesepian lagi? tanyanya dalam hati.


Tapi mana ada yang mau sama perempuan membosankan seperti aku?


Jeany mencoba menghibur dirinya dengan membaca novel. Namun, cerita percintaan menyedihkan karena adanya orang ketiga dalam novel tersebut justru membuat dadanya terasa sesak. Ia pun memutuskan untuk menelepon Mita, sahabat yang sudah satu semester tidak dijumpainya.


"Halo, Jean?" terdengar suara Mita ketika menerima panggilan teleponnya.


"Halo, lama gak ketemu. Gimana kabar papamu?" Setelah mendengar suara Mita, Jeany sadar betapa ia sangat merindukan sahabatnya itu.


"Masih sama. Kayaknya tipis harapan bisa bangun …." Mita menjawab dengan suara lirih.


Om Ardi, papa Mita, terkena serangan stroke dan terlambat ditangani hingga menyebabkan kerusakan pada saraf di otaknya. Sudah enam bulan lebih kondisi Om Ardi hanya berbaring dengan mata terpejam. Untuk makan pun hanya bisa menggunakan selang kecil yang dimasukkan melalui lubang hidung dan terhubung ke lambung.


Mita memutuskan untuk sementara berhenti kuliah demi menjaga papanya, dengan dibantu oleh seorang perawat. Sedangkan mama Mita beralih menjadi tulang punggung keluarga. Beruntung mama Mita memiliki jabatan cukup tinggi di tempat kerjanya sehingga biaya hidup sehari-hari dan biaya pengobatan papa Mita masih dapat terpenuhi.


Jeany paham betul bagaimana sedihnya Mita saat ini. Papa Jeany sendiri pergi untuk selamanya di saat usia Jeany masih sebelas tahun. Hingga hari ini gadis itu masih merasa sedih manakala teringat sang papa. Hanya doa yang bisa ia kirimkan untuk mengurangi kesedihannya, berharap doa tersebut mampu melancarkan perjalanan sang papa di alam yang sudah tidak bisa dijangkaunya lagi.


"Yang sabar ya, Mit." Jeany berniat menghibur Mita. Namun, tidak ada kata-kata lain yang mampu diucapkannya selain meminta sahabatnya itu untuk tetap bersabar.


"Iya aku udah mulai ikhlas kok. Sekarang kamu mau cerita apa?"

__ADS_1


Mita benar-benar mengerti tabiat Jeany. Sahabatnya itu tidak akan menelepon bila tidak ada yang benar-benar ingin dibicarakannya. Jeany bukan termasuk orang yang suka mengobrol panjang lebar di telepon.


"Ehm .... Kamu tahu Kevin kan?" kata Jeany memulai ceritanya.


"Kevin? Kevin Wijaya? Yang ditembak ama Giselle kan?"


"Iya betul."


Jeany hampir melupakan fakta bahwa Kevin cukup populer. Giselle hanya satu dari banyak mahasiswi yang mendekati Kevin. Namun Giselle adalah nama yang cukup diingat karena ia adalah putri seorang pemilik perusahaan yang tidak hanya cantik tetapi juga pintar. Berita ditolaknya Giselle mencengangkan sebagian besar mahasiswa, termasuk Jeany sendiri.


"Emangnya Kevin kenapa?"


"Dia jadi sahabatku sekarang."


"Apa?! Kok bisa? Kayaknya dulu kalian gak saling kenal," tanya Mita dengan menggebu-gebu.


Jeany bersusah payah memilih kata-kata agar mudah dipahami oleh Mita, sekaligus berusaha agar Mita tidak mengetahui kejadian yang sebenarnya. Bukan karena ia tidak mempercayai sahabatnya itu, tetapi karena ia telah berjanji pada Kevin untuk tidak menceritakannya pada siapa pun.


"Hmm agak aneh ya. Kayaknya cuma modus deh supaya bisa deketin kamu."


Jeany menghela napas. Bahkan dirinya sendiri juga akan berpikir seperti itu seandainya saja tidak ada Stevi.


"Dia udah punya pacar. Stevi pacarnya."


"Loh, jadian ama Stevi?! Pantesan aja Giselle ditolak, ternyata naksir yang lebih bening. Tapi dia merasa bersalah kenapa?"


"Oh i-itu .... Ehm .... Ada barang aku yang dia hilangin. Pokoknya gitu deh," jawab Jeany tergagap, berharap Mita tidak bertanya lebih lanjut.


"Jadi begitu. Oke Kevin sekarang sahabat kamu. Trus masalahnya apa?"

__ADS_1


"Ya gak ada sih. Cuma pengen cerita aja. Dia baik banget, selalu bantuin aku."


Jeany juga tidak tahu apa yang menyebabkan kegalauan hatinya hingga membutuhkan Mita untuk berbagi cerita.


"Jean, apa kamu mulai punya perasaan ke Kevin?" tanya Mita dengan suara lembut.


"Apa?! Enggalah engga. Mana mungkin!"


"Jean, aku tahu kamu. Biarpun dari luar kelihatan dingin, tapi perasaanmu sangat halus. Tadi kamu bilang Kevin selalu bantu kamu. Sepertinya kamu sudah terbawa perasaan karena kebaikannya. Apalagi ... kamu jarang mendapat perlakuan seperti itu dari seorang cowok kan?" Mita terdengar memilih kalimatnya dengan hati-hati agar tidak menyinggung perasaan Jeany.


"Menurutmu aku harus gimana?" Jeany tidak berniat membantah lagi. Ia tahu yang dikatakan sahabatnya memang benar.


"Menurutku kamu harus jaga jarak dari Kevin."


"Menjaga jarak?"


Jeany terperangah mendengar saran dari sahabatnya. Tadinya ia mengira Mita akan tetap menyemangatinya. Sejujurnya yang ia harapkan memang sebuah dukungan, sebuah penegasan bahwa perasaan yang tumbuh di hatinya tidaklah salah. Kadangkala manusia seperti itu, menanyakan pertanyaan yang ia sendiri sudah menentukan jawabannya.


"Iya menjaga jarak. Lagian dia mau jadi sahabatmu karena merasa bersalah kan? Itu artinya dia tidak tulus."


"Tapi aku merasa dia tulus, Mit ...," lirih Jeany pada Mita. Ini pertama kalinya ia merasakan sesuatu yang berbeda terhadap lawan jenis tetapi malah dianjurkan untuk menjaga jarak.


"Coba kamu pikir. Seandainya bukan karena merasa bersalah, apa dia bakal jadi sahabat kamu?"


Jeany berpikir sejenak. Memang tidak ada alasan lain bagi Kevin untuk menjadi sahabatnya. Bila tidak ada kejadian malam itu, mereka akan tetap menjalani hidup seperti biasanya. Mengenal namun merasa asing, tidak ada bedanya dengan tidak saling mengenal.


"Sepertinya engga," jawabnya jujur.


"Sorry ya kalo aku keras, tapi ini demi kebaikanmu. Jangan sampai kamu merasakan sakitnya cinta sepihak, apalagi dia udah punya pacar. Ngomong-ngomong aku penasaran deh barang apa yang dia hilangin?"

__ADS_1


__ADS_2