
Stevi terduduk lemas sambil menatap nanar kekasih yang baru saja mengucapkan kata putus padanya. Ia tidak mengerti keputusan sepihak Kevin, pemuda yang dulu mengaku mencintainya.
"Apa karena aku udah gak secantik dulu?" lirihnya hampir menangis.
Kevin menolak memandang gadis itu, takut hatinya akan goyah melihat wajah terluka Stevi.
"Engga, Stev. Kamu masih tetap cantik. Masalahnya ada di aku."
"Apa masalahnya? Ki-kita pasti bisa atasi bersama ...."
"Aku bukan laki-laki yang baik buat kamu. Aku udah melakukan kesalahan."
"Engga, Yang .... Aku gak butuh laki-laki sempurna, aku cuma butuh kamu. Aku gak bisa kalo gak ada kamu ...." Air mata Stevi mulai mengalir.
"Stev, aku minta maaf. Kamu pasti bisa dapat laki-laki yang lebih baik dari aku."
Kevin hendak beranjak keluar dari kamar Stevi. Ia mulai goyah melihat air mata gadis itu. Tiba-tiba Stevi memeluknya dari belakang, menahannya agar tidak pergi.
"Jangan tinggalin aku, Yang! Aku udah gak punya apa-apa!"
"Lepas, Stev jangan gini ...."
"Gak, gak mau!! Aku harus gimana supaya kamu gak tinggalin aku?!"
Kevin dapat merasakan punggungnya basah karena air mata Stevi. Ia kembali menguatkan hatinya. Perlahan ia melepas tangan Stevi yang memeluk erat pinggangnya. Pemuda itu membalik tubuhnya dan menatap Stevi langsung di kedua bola matanya.
"Dengerin, Stev. Aku yang salah karena gak bisa menjaga kepercayaan kamu. Kita gak bisa meneruskan hubungan ini karena hati aku udah jadi milik orang lain."
Stevi berusaha mencerna kata demi kata yang diucapkan oleh Kevin. "Orang lain itu pasti Jeany kan? Apa yang udah dia lakukan sampe kamu tergoda?!"
"Bukan salah dia. Aku yang salah di sini," jelas Kevin karena melihat sorot kebencian di mata Stevi.
"Masih bela dia! Apa yang bikin kamu lebih pilih dia? Memangnya di mana kurangku dibanding Jeany!!!" Gadis itu mulai berteriak.
"Gak ada kurangmu. Please jangan bandingkan diri kalian. Salahkan aku yang gak bisa setia ...."
"Gak, Yang, aku gak mau!!! Apa salahku? Kamu kenapa tega sama aku? Kamu mau ninggalin aku di saat aku lagi terpuruk kayak gini!!!"
Stevi menangis meraung-raung. Gadis itu sangat mencintai Kevin. Ia bahkan lebih memilih menggunakan uang pemberian kakaknya untuk membeli sepasang baju batik daripada krim wajah yang sangat dibutuhkannya. Ia tidak ingin kehilangan Kevin.
"Aku gak ninggalin kamu. Kapan pun kamu butuh bantuanku, selagi bisa aku pasti bantu. Tapi hubungan kita gak bisa kayak dulu. Tolong jangan nangis lagi. Aku gak pantas kamu tangisin ...." Kevin akhirnya memeluk tubuh Stevi untuk menenangkan gadis yang mulai histeris itu.
"Aku gak mau putus. Ini semua gara-gara Jeany cewek penggoda itu!! Aku udah bilang baik-baik supaya jauhin kamu, tapi dia malah kayak gini!!! Aku benci dia, benci dia!!!"
Kevin terhenyak mendengar penuturan Stevi. Ia melepas pelukannya dan menatap gadis itu. "Kamu pernah minta Jeany jauhin aku? Kapan?"
"Memangnya penting? Pada akhirnya kamu ninggalin aku!!!"
"Maaf, Stev. Aku memang berengsek. Kamu boleh pukul aku kalau itu bisa bikin perasaan kamu lebih lega. Tolong jangan benci Jeany, dia gak salah apa-apa di sini."
"Gak salah apa-apa? Dia udah ngerebut cowok orang lain!!!"
"Aku yang deketin dia, Stev .... Aku yang pantas dibenci!"
"Apa gak ada sedikit pun perasaan buat aku yang masih tertinggal di hati kamu?" tanya Stevi dengan wajah yang telah basah oleh air mata.
__ADS_1
Kevin memalingkan wajahnya. "Maaf, Stev, aku gak bisa mencintai dua orang sekaligus."
Air mata yang terus mengalir membasahi wajahnya menjadi ungkapan perasaan Stevi saat itu. Ia memandang Kevin cukup lama tanpa kata, menyadari dengan pahit bahwa hubungan mereka benar-benar tidak dapat diselamatkan lagi.
Helaan napas berat keluar dari mulut Stevi. "Pergilah. Gak ada gunanya maksa bersama kalo kamu udah gak cinta."
Di luar dugaan, sikap Stevi tiba-tiba berubah drastis. Dari yang semula menangis histeris, kini ia terlihat dapat menerima keputusan walaupun harus diwarnai isak tangis.
"Sekali lagi aku minta maaf udah bikin kamu sedih dan kecewa," ucap Kevin sungguh-sungguh.
Stevi hanya mengangguk. Kevin yang baru saja beralih status menjadi mantan kekasih Stevi meninggalkan rumah gadis itu. Menurutnya itu hal yang tepat untuk dilakukan, setelah tidak ada hubungan apa-apa lagi di antara mereka. Selepas Kevin pergi, Stevi berjongkok memungut sepasang baju batik yang tergeletak di lantai sambil menumpahkan air mata.
***
Jeany dikejutkan oleh Kevin yang langsung memeluknya begitu ia membuka pintu rumah kosnya. "Vin, jangan gini ntar dilihat tetanggaku ...," kata gadis itu seraya membebaskan diri dari kedua tangan yang sedang mendekapnya.
"Tolong jangan gerak. Bentar aja." Kevin menyandarkan dagunya di bahu gadis itu. "Aku ini jahat banget ya, Jean ...."
"Maksud kamu?"
"Aku udah bikin Stevi nangis ...."
"Kenapa?"
"Barusan aku putusin dia," jawab Kevin pelan sambil melepas pelukannya.
Jeany sangat terkejut mendengarnya. Baru tadi malam ia berselisih dengan Kevin karena pemuda itu belum juga memberinya kepastian. Namun sore ini ia malah mendapat kabar sebaliknya.
"Apa dia terima diputusin?"
"Bisa gak kita ngomong di dalam?" Kevin melihat Jeany dengan pandangan memohon.
"Gapapa biar sekalian disuruh nikah."
"Iya kalo disuruh nikah. Kalo diarak keliling kompleks?"
"Asal habis itu dinikahin ...."
Jeany memegang kening Kevin untuk memeriksa suhu tubuhnya, dikiranya pemuda itu melantur karena sedang demam.
"Aku gak sakit, cuma lagi butuh kehangatan."
Jeany mengajak Kevin untuk duduk di kursi yang tersedia di terasnya. "Ayo duduk sini. Kamu lagi stres berat ya habis putus dari pacar kamu?"
"Aku ngerasa jadi cowok jahat banget ...."
"Kamu nyesel?"
"Engga, Sayaaang ...." Kevin mencubit gemas pipi Jeany. Ia ingat dulu sering melakukannya pada Stevi. Perasaan tidak enaknya kembali muncul. "Aku cuma merasa buruk udah bikin cewek sebaik Stevi nangis."
"Aku juga merasa buruk udah ngerebut kamu dari dia."
Kevin menggenggam tangan Jeany. "Jangan salahkan diri kamu. Semua yang terjadi ini salahku. Aku minta maaf ya udah merusak kamu."
Kevin meminta maaf lagi karena mengingat ucapan Randy tadi malam. Ia memang pantas disebut sebagai seorang pemerkosa. Untung saja ia tidak pernah melakukan hal di luar batas dengan Stevi. Jika tidak, ia akan menghancurkan hidup dua orang gadis sekaligus.
__ADS_1
"Tapi Stevi beneran gak apa-apa kamu putusin?" Jeany memastikan keadaan Stevi, karena ia sendiri akan hancur bila suatu saat Kevin memutuskan hubungan dengannya.
Pemuda di hadapannya mengangguk. "Ayo siapin barang kamu. Kita balik ke rumahku. Besok aku bilang ke papa mama kalo sekarang kamu pacar aku ya."
Wajah Jeany memerah mendengar status barunya disebut oleh Kevin. "Papa mama kamu udah balik? Aku takut, Vin ...."
"Apa yang ditakutin? Udah kenal juga ...."
"Kalo mereka gak setuju gimana?"
"Tenang aja. Papa mama aku bukan orang tua yang seperti itu, kamu kan tahu sendiri."
"Iya sih ...."
"Ayo aku bantu kamu siapin barang." Kevin berdiri hendak membuka pintu rumah kos Jeany.
"Gak, kamu tunggu di sini," tegas Jeany lalu masuk ke dalam meninggalkan Kevin.
Pemuda itu tersenyum kecut. Mungkin ini hukuman untuknya. Ia dulu menolak menyentuh Stevi dengan alasan ingin berpacaran secara sehat, walau penyebab sebenarnya adalah karena ia telah jatuh hati pada perempuan lain. Kini perempuan lain itu melakukan hal yang sama padanya. Kevin bertanya-tanya dalam hati apakah ia bisa menahan diri hingga gadis itu sah menjadi istrinya.
Apa? Istri? Kevin menggelengkan kepala, menertawakan pemikirannya sendiri.
Jeany keluar dengan menenteng sebuah tas berukuran cukup besar. Kevin mengambil alih tas tersebut. Tangan yang satunya ia gunakan untuk menggandeng tangan Jeany. "Jalan-jalan dulu mau?" ajaknya.
"Iya mau."
Di dalam mobil keduanya lebih banyak diam menikmati alunan lagu romantis yang diputar oleh Kevin. Pemuda itu kini berkonsentrasi menyetir, sedangkan Jeany masih tidak percaya bahwa ia telah menjadi kekasih Kevin. Semuanya terasa begitu cepat dan mudah.
"Jean?" panggil Kevin tiba-tiba.
"Ya?"
"Aku sayang kamu."
Lagi-lagi pipi Jeany memerah dan jantungnya berdebar kencang. "Aku juga sayang kamu, Vin," jawabnya malu-malu.
Hari sudah cukup malam ketika mereka tiba di rumah Kevin. Pemuda itu baru saja selesai memarkir mobilnya di garasi dan kini mereka hendak masuk ke dalam rumah. Senyum tidak berhenti menghiasi wajah kedua orang yang sedang menikmati indahnya cinta itu. Kevin merasakan ponselnya bergetar. Langkahnya terhenti ketika melihat nama orang yang meneleponnya, membuat Jeany juga ikut berhenti di sampingnya.
"Halo? Apa, Tante?! Ba-baik saya ke sana sekarang!" Jeany mendengar Kevin berbicara dengan panik.
"Jean, aku pergi dulu ya. Stevi masuk rumah sakit!"
Kevin pergi tanpa menunggu jawaban dari Jeany. Pemuda itu begitu tergesa-gesa, dengan raut penuh kekhawatiran di wajahnya. Jeany melihat mobil Kevin meninggalkan pekarangan dengan cepat. Bahkan pemuda itu membunyikan klakson dengan tidak sabar pada satpam yang menurutnya lambat membukakan pagar. Jeany lantas melangkahkan kakinya ke dalam rumah dengan lesu.
"Hai, Jean. Gimana libur tiga harinya, menyenangkan?" sapa Winda begitu melihat Jeany memasuki ruang tengah. Kakak ipar Kevin itu sedang menggendong putranya yang terlihat baru saja menangis.
"Menyenangkan, Kak."
"Kamu gak pulang bareng Kevin?"
"Bareng. Tapi Kevin pergi lagi soalnya Stevi masuk rumah sakit," jawab Jeany apa adanya.
"Oh ya ampun. Sakit apa Stevi?"
"Saya gak sempat tanya, Kak. Tadi Kevin buru-buru pergi."
__ADS_1
"Kasihan .... Pasti Kevin kuatir banget sama pacarnya."
Jeany tidak menjawab. Ia berpamitan untuk masuk ke kamarnya di lantai atas. Gadis itu menunggu kabar dari Kevin hingga tertidur. Keesokan harinya ia tahu bahwa semalam kekasihnya tidak pulang ke rumah.