
Seorang laki-laki muda berusia dua puluh delapan tahun menginjakkan kakinya kembali di tanah air setelah hampir tujuh tahun lamanya. Tidak banyak perubahan pada wajah rupawannya. Namun kini tidak ada lagi kehangatan pada sorot matanya yang tajam. Hatinya telah membeku akibat luka di masa lalu yang masih begitu dalam membekas.
Laki-laki itu pulang ke rumahnya dengan taksi. Ia tak ingin ada yang menjemputnya di bandara. Ia bahkan tak ingin kembali ke Indonesia kalau bukan karena permintaan sang mama, karena bisa jadi itu adalah permohonan terakhir dari wanita yang telah melahirkannya itu.
"Kevin, mama kangen sekali sama kamu, Nak ...." Henny memeluk putranya yang baru tiba di rumah dengan penuh rindu.
Kevin membalas pelukan Henny. Ia merasakan tubuh mamanya semakin ringkih akibat kanker yang menggerogotinya. Mereka duduk di ruang tengah. Anggota keluarga yang lain sedang berada di tempat kerjanya masing-masing.
"Di Singapore apa tidak ada perempuan yang menarik hati kamu, Nak?" tanya Henny penuh harap.
"Gak ada, Ma," jawab Kevin singkat. Baru pulang sudah ditanya masalah perempuan, pikirnya malas.
"Kalau begitu sama Giselle saja mau, Nak? Mama cocok sama dia. Anaknya baik, sering datang ke sini menemani mama."
"Ma, waktu itu Mama kan memberi pilihan. Aku bersedia dijodohkan, atau lanjut kuliah di luar negri. Aku sudah memilih kuliah di luar negri. Kenapa sekarang setelah aku pulang Mama masih mau menjodohkan aku?" Kevin menjaga agar nada bicaranya tetap sopan mengingat mamanya yang sedang sakit keras.
Henny menghela napasnya yang terasa sedikit sesak akibat lendir yang mulai bersarang di paru-parunya.
"Mama sudah tua dan sakit-sakitan, Kevin. Tidak tahu sampai kapan Mama bisa bertahan. Anak Mama yang belum menikah tinggal kamu. Mama ingin melihat kamu menikah dan kalau Tuhan ijinkan, menimang cucu dari kamu .... Waktu seumuran kamu sekarang Marvin sudah punya Enzo."
Kevin tetap pada pada pendiriannya. Ia belum siap membuka hatinya untuk perempuan lain. Kisah cintanya yang lama terlalu pahit untuk dilupakan.
"Mama gak usah mikir yang engga engga. Mama pasti bisa sembuh."
"Kalau kamu tidak cocok dengan Giselle, mama bisa kenalkan dengan perempuan lain. Sahabat-sahabat Mama juga banyak yang anak perempuannya belum menikah."
"Kita omongin lain kali ya, Ma. Aku mau istirahat dulu di kamar."
Henny dengan pasrah melihat Kevin menaiki tangga. Wajah wanita itu tampak sedih. Ia tahu putranya berusaha menghindar dari topik yang sedang mereka bicarakan. Sulit baginya untuk percaya. Setelah sekian tahun lamanya, hati putranya masih tertambat pada satu perempuan yang sama.
Malamnya, di sebuah kafe Kevin bertemu dengan teman kuliahnya ketika berada di Singapore dulu. Tentu saja bukan inisiatif darinya, melainkan dari seorang perempuan yang dulu begitu gigih mengejar cintanya itu. Kevin tak pernah memberinya harapan, tetapi perempuan itu selalu setia menemani di sampingnya. Pada akhirnya mereka menjadi teman dekat. Karena lelah cintanya tak kunjung dibalas, perempuan itu memutuskan untuk kembali ke Indonesia meninggalkan Kevin yang masih asyik mengejar karirnya di negeri singa.
"Jadi mama kamu mau menjodohkan kamu, Vin?" ucap perempuan itu tak senang. Ia belum sepenuhnya berhenti berharap pada Kevin.
"Iya."
"Turuti saja permintaan mama kamu. Jangan sampai kamu menyesal kalau ternyata ini permintaan terakhirnya."
"Tapi aku gak tertarik berhubungan dengan perempuan mana pun saat ini."
"Bagaimana kalau dengan aku saja?" Perempuan itu mengutarakan kalimatnya dengan nada bercanda, tetapi hatinya penuh harap.
"Kamu?" tanya Kevin terkejut.
"Iya. Kamu jangan pura-pura gak tahu ya kalau selama ini aku mencintai kamu."
__ADS_1
"Maaf, Lis. Jujur sampai sekarang aku cuma menganggap kamu sebagai sahabat."
Perempuan bernama Lisa itu menahan rasa sesak di hatinya. Bagaimanapun ia sudah terbiasa dengan penolakan Kevin padanya. Bahkan, dari bibir laki-laki itu pula ia tahu di hati Kevin masih tersimpan nama seorang perempuan dari masa lalunya, walau Kevin tak pernah mau menceritakan siapa perempuan itu.
Lisa memegang tangan Kevin. Ia menahan laki-laki itu menarik tangan yang sedang berada dalam genggamannya.
"Kamu harus belajar melupakan masa lalu dan menatap masa depan. Lihat aku. Di sini ada aku yang selalu siap mendampingi kamu. Gak masalah kalau kamu belum bisa mencintai aku. Aku bisa menunggu sampai hati kamu terbuka buat aku."
Kevin menatap Lisa dengan bimbang. Di satu sisi ia ingin membahagiakan sang mama dan mengabulkan permintaannya. Namun di sisi lain ia tidak ingin menghapus cintanya pada sang mantan kekasih. Laki-laki itu berusaha mencari jawaban dalam hatinya. Bisakah ia membuka hatinya untuk Lisa? Bisakah ia melupakan perempuan yang bahkan dengan menyebut namanya saja telah membuat hatinya berdenyut nyeri?
***
Jeany baru saja memoleskan lipstik berwarna merah muda lembut pada bibirnya. Ia menatap pantulan dirinya di cermin dan tersenyum. Sudah cukup, pikirnya. Setelahnya ia mengambil tas dan keluar dari kamar. Lagi-lagi ia tersenyum karena melihat pemandangan di sofa ruang tamunya yang berukuran kecil itu.
"Kenny sayang .... Ayo bangun, Nak." Jeany menepuk lembut pipi bocah laki-laki itu. Putranya tertidur selagi menunggu dirinya bersiap-siap untuk pergi ke kantor
Bocah itu langsung membuka matanya. "Kenny ngantuk, Ma ...," keluhnya dengan suara menggemaskan tetapi tetap memaksa diri untuk bangun. Ia memang anak yang pengertian.
"Nanti lanjut tidur di tempat Mami Mita ya?"
Putranya mengangguk.
"Ayo kita berangkat sekarang."
"Aduh aduh anak mami masih ngantuk rupanya ...." Mita menyambut Kenny dengan hangat. Ia memang sudah menganggap putra sahabatnya itu seperti putranya sendiri. Terlebih lagi ia belum dikaruniai momongan di usia pernikahannya yang sudah menginjak tahun keempat. Sang suami juga sudah siap berangkat ke kantor.
"Kamu berangkat bareng Mas Pras aja, Jean. Aku gapapa kok lagipula kalian kan satu kantor," kata Mita menawarkan sahabatnya itu untuk kesekian kalinya.
"Engga, Mit. Aku gak mau muncul gosip di kantor. Aku berangkat sendiri aja." Jeany menghampiri putranya. "Mama berangkat kerja dulu ya, Kenny. Nurut-nurut sama Mami ya," ucapnya seraya mencium pipi kiri dan kanan putranya itu.
"Iya, Ma. Nanti pulang bawain Kenny coklat ya, yang kayak telur itu ...." Kenny balas mencium pipi mamanya.
"Iya tapi Kenny gak boleh malas sikat giginya."
Kenny mengangguk-anggukkan kepalanya senang. Ibu dan anak itu saling melambaikan tangan sebelum berpisah seharian. Mita menggelengkan kepalanya melihat sahabatnya yang keras kepala tetapi tangguh itu. Tak lama kemudian sang suami juga berangkat mengendarai mobil fasilitas dari kantornya. Setelah itu Mita mengajak Kenny masuk ke dalam rumah. Beberapa hari lagi putra angkatnya itu akan memulai hari barunya sebagai murid sekolah dasar.
***
Prok prok prok ...!
Suara tepuk tangan mengiringi prosesi tukar cincin yang baru saja dilakukan oleh Kevin dan Lisa. Dua orang fotografer tampak sibuk mengabadikan momen indah yang hanya dihadiri kerabat dekat tersebut. Henny tersenyum puas melihat sang putra akhirnya bertunangan dengan perempuan pilihannya.
Beberapa hari yang lalu Henny sangat terkejut saat Kevin pulang membawa seorang perempuan untuk dikenalkan padanya. Perempuan yang dikenalnya ketika menimba ilmu di Singapura. Namun ia tidak berkeberatan dengan pilihan Kevin. Perempuan tersebut lulusan luar negeri dan berasal dari keluarga yang cukup berada. Bahkan Lisa kini menjabat sebagai seorang manajer di kantornya. Jauh lebih baik daripada perempuan yang tujuh tahun silam menjalin hubungan asmara dengan putranya.
Kevin memandangi cincin yang melingkar di jari manis tangan kirinya. Ia berharap telah membuat keputusan yang tepat. Baginya lebih baik bertunangan dengan Lisa daripada dengan perempuan pilihan sang mama yang tidak dicintainya. Ia memang belum mencintai Lisa, tetapi setidaknya ia telah merasa cukup nyaman bersama perempuan itu.
__ADS_1
"Kevin, sudah saatnya kamu meneruskan perusahaan papa," ucap Alan setelah acara pertunangan selesai dan para tamu telah pulang.
"Nanti dulu, Pa. Aku masih mau cari ilmu dan pengalaman di tempat lain."
Laki-laki itu enggan bekerja di perusahaan keluarga. Ia memiliki keinginan terpendam untuk berkarir dan menjadi pria sukses tanpa embel-embel nama besar keluarga Wijaya.
"Pengalaman kamu kan sudah banyak di Singapore. Atau kamu bekerja di tempat Lisa saja. Posisi direktur di sana sekarang sedang kosong karena direktur yang sedang menjabat kena serangan jantung. Sudah ada calon pengganti tapi papa lebih suka kamu yang menggantikan."
"Iya, Kevin. Mama sampai tidak percaya Lisa kerja di sana. Ini pasti tanda dari Tuhan kalau kalian memang berjodoh."
Kedua orang tua Lisa juga tampak bahagia dengan pertunangan putri mereka. Sungguh suatu kebetulan Alan, calon besan mereka adalah pemegang saham mayoritas di perusahaan tempat Lisa bekerja.
"Kevin gak mau, Pa, Ma," ucap Kevin tegas. Ia merasa sudah cukup banyak menuruti keinginan orang tuanya. Laki-laki itu tidak ingin diatur lagi untuk masalah pekerjaan.
"Kalo kerja di sana nanti kalian habis pulang kerja bisa langsung kencan, Vin. Deket banget sama mall itu," timpal Marvin.
"Iya, Vin kantor aku strategis banget tempatnya. Banyak lho yang bermimpi mau kerja di sana tapi gak kesampaian." Lisa juga berusaha meyakinkan laki-laki yang baru saja menjadi tunangannya itu.
"Memang di mana tempatnya?" tanya Kevin sekadar berbasa-basi.
"Di Plaza Tower."
Seketika ingatan Kevin membawanya pada masa tujuh tahun silam, ketika ia berada di restoran pizza bersama seorang gadis yang amat dicintainya. Suara gadis itu terngiang di benaknya.
Pasti keren banget kalo bisa kerja di gedung itu, jadi wanita karir, pake baju kantor yang keliatan anggun ....
"Ya udah aku mau, Pa."
"Cie cieee mau kerja apa mau kencan nih?" Jovina langsung menggodanya. Ia turut senang sang kakak akhirnya memulai lembaran baru dalam hidupnya.
"Kalau begitu papa akan segera mengadakan RUPS Luar Biasa untuk mengurus pengangkatan kamu sebagai direktur."
Semua orang mengira Kevin setuju untuk bekerja di sana karena pengaruh Lisa. Kevin tidak menghiraukan mereka. Ia berkutat dengan pikirannya sendiri.
"Kevin, untuk pernikahan kalian pakai WO yang sama dengan Marvin dulu bagaimana? Kan sudah terbukti bagus." Henny yang paling ingin putranya itu cepat menikah tidak sabar lagi mengurus segala sesuatunya.
"Terserah Mama sama Lisa aja."
Lisa mengulum senyum senang. Hatinya seolah akan meledak oleh rasa bahagia. Tidak sia-sia penantiannya selama ini karena sebentar lagi ia akan menikah dengan laki-laki pujaannya.
Malamnya, Kevin tidak dapat terlelap. Hatinya tak tenang. Ia bangkit dari tempat tidurnya dan membuka laci meja. Dari dalam laci tersebut ia mengambil sebuah kotak dan mengeluarkan isinya, benda yang selama ini selalu menemani hari-harinya, mengobati rasa rindunya. Ia mengusap penuh sayang pada kalung emas yang tujuh tahun silam ditebusnya dari pegadaian.
Setelah itu ia mengambil ponselnya dan membuka sebuah gambar yang disimpannya di folder khusus. Terpampang sebuah foto yang dulu diabadikan oleh Jovina di pesta ulang tahun Enzo, satu-satunya gambar dirinya bersama sang mantan. Ia memandang foto tersebut cukup lama. Hatinya kembali berdenyut nyeri.
Jean, mungkin sudah waktunya aku melupakan kamu ....
__ADS_1