Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)

Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)
Dia Urusanku


__ADS_3

Semalaman Kevin hanya berbaring gelisah di atas tempat tidurnya. Ia masih tidak percaya Jeany baru saja mengecup bibirnya beberapa saat yang lalu. Bahkan Stevi, kekasihnya, tidak seberani itu. Apakah matahari sudah terbit dari barat?


Beruntung Jeany segera mengambil jarak di antara mereka, karena nyaris saja ia meraih tengkuk gadis itu dan mengubah kecupan tersebut menjadi ciuman yang sebenarnya. Ia tidak mengerti mengapa hanya kepada Jeany hasratnya timbul demikian cepat. Mungkin karena kejadian ia menyentuh Jeany untuk pertama kalinya tidak pernah lepas dari ingatannya, seberapa keras pun ia berusaha.


Dengan helaan napas panjang, pemuda itu mengingat lagi kejadian di kamar Jeany tadi. Bulir air mata yang menetes dari mata sayu Jeany membuat bibirnya terasa asin. Ia tertegun saat menyadari gadis itu menangis, hingga hanya bisa menurut pasrah ketika gadis itu memintanya keluar dari kamar.


Jeany cinta ama gue?


Jeany cinta ama gue?


Jeany cinta ama gue?


Pertanyaan yang sama berulang kali Kevin lontarkan pada dirinya sendiri. Ia tak pernah mengira kebaikannya pada Jeany akan membuat gadis itu jatuh hati padanya. Apakah perasaan itu akan terkikis bila mereka saling menjauh? Namun mengapa hatinya tidak rela memikirkan Jeany jauh darinya? Pemuda itu mengacak-acak rambutnya, pusing memikirkan masalah asmara yang memang selama ini bukan menjadi prioritas utama dalam hidupnya.


Keesokan harinya, Kevin terbangun ketika Marvin, Winda dan Enzo telah siap untuk berangkat. Bahkan Jovina yang biasanya bangun siang terlihat sudah rapi dengan sebuah tas jinjing berukuran besar tergeletak di dekat kakinya. Kevin mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan, mencari keberadaan gadis yang membuatnya semalaman tidak bisa tidur.


"Jeany udah pergi dari pagi-pagi banget." Marvin seolah mengerti apa yang sedang dicari oleh adiknya.


"Pergi ke mana, Kak?" tanya Kevin dengan kening berkerut.


"Katanya ada urusan di kampus. Dia udah bilang dari tiga hari yang lalu makanya kakak bisa minta cuti di kantor," imbuh Winda.


"Kak Kevin sendiri kok belum siap-siap ke kampus? Ntar telat loh." Jovina mengingatkan kakaknya.


"Gak ada yang perlu diurus di kampus."


"Trus Kak Jeany urus apaan dong?"


"Mana kakak tahu!" jawab Kevin kesal. Kesal karena Jeany pergi tanpa pamit lagi padanya.


"Dih? Ditanya baik-baik malah sewot!"


"Sudah-sudah. Coba ingat-ingat, Vin hari ini di kampus kamu ada kegiatan apa?" Winda mencoba memberi saran.


"Cuma ambil KHS, Kak."


"Nah itu."


Kevin tidak menjawab. Sepertinya kakak iparnya itu lupa bahwa kemajuan teknologi membuat hampir semua keperluan administrasi mahasiswa bisa dilakukan secara online, berbeda dengan jaman ketika Winda kuliah dulu. Jadi tidak mungkin Jeany pergi ke kampus untuk mengambil Kartu Hasil Studi.


"Ya udah kakak berangkat dulu ya. Jaga rumah baik-baik. Kalau gak ada kendala, hari Senin papa mama mau balik," ucap Marvin yang sebenarnya ingin berangkat lebih pagi, tetapi apa daya masih harus menunggu istri dan adiknya.


"Asiiikkk pasti mama beli banyak oleh-oleh buat aku!" Vina mengambil tasnya dan berjalan dengan penuh semangat.


"Kami pergi dulu ya, Vin," pamit Winda pula.


"Vina, kamu ikut ke Bandung?" tanya Kevin setelah melihat adiknya berjalan mengikuti Marvin dan Winda.


"Iya. Malas di rumah, Kak Kevin nyebelin soalnya!" jawab Jovina sambil cepat-cepat berlari keluar.


Kini tinggal Kevin seorang diri di ruangan itu. Sambil duduk di sofa ia mencoba menghubungi Jeany melalui ponselnya. Seperti yang sudah diduganya, gadis itu tidak menjawab panggilannya. Pemuda itu membanting ponselnya ke samping dengan kesal.


Kenapa tuh cewek ngilang mulu sih, geramnya dalam hati.


Apa jangan-jangan pergi ama Randy?


Pemuda itu menggapai ponsel yang tadi dilemparnya dan menghubungi sang sahabat.


"Halo, Ran. Lo lagi di mana?"

__ADS_1


"Halo, Bro. Gue lagi nyantai di rumah nih. Tumben lo telpon?"


"Lo sendirian di rumah?"


"Haha ya engga lah, mana enak liburan gini gak ada yang nemenin."


"Lo ditemenin sapa?"


"Hehehe coba tebak. Seseorang yang lo kenal ...," jawab Randy penuh teka-teki.


Kevin mulai menggeretakkan giginya. "Cowok apa cewek?" tanyanya.


"Lo pikir gue maho?"


Sial*n!


Kevin langsung menutup panggilannya dan bergegas ke kamar. Ia hanya mencuci muka dan menggosok giginya, lalu berganti pakaian. Semua dilakukannya dalam waktu tidak lebih dari lima menit. Ia cepat-cepat menuruni tangga, berlari menuju mobilnya dan mengemudikan kendaraannya itu meninggalkan rumahnya dengan kecepatan penuh.


Sesampainya di rumah Randy, pemuda itu segera memencet bel berkali-kali serta tangannya mengetuk pintu rumah dengan tidak sabar.


"Kesambet apa lo? Gak sabaran amat!" sungut Randy pada Kevin ketika membukakan pintu rumahnya.


"Mana dia?" Kevin langsung masuk tanpa dipersilakan.


"Di dalem lah lagi bobo."


"Apa?! Berengsek lo!"


Kevin menarik bagian depan kaos Randy, bersiap mendaratkan tinjunya pada rahang pemuda tengil itu.


"Tunggu tunggu! Ini apaan sih dateng-dateng ngamuk! Gue laporin ke Pak RT baru tahu rasa lo!"


"Gak usah banyak omong! Lo apain dia hah?!"


"Kenapa dia bisa tidur di tempat lo?!"


"Mana gue tahu? Dateng dateng udah minta ke kamar aja dianya."


"B*ngsat!"


Kevin benar-benar akan meninju wajah Randy bila tidak ditahan oleh seseorang.


"Stop stop! Kalian kenapa berantem?" Wajah seseorang yang menahan tangan Kevin itu terlihat tidak segar dengan mata yang sepertinya masih lengket oleh kotoran.


"Elo?!"


"Huh kalian pagi-pagi dah ganggu tidur gue aja!"


"Pagi pala lo. Pulang sana! Gara-gara lo gue hampir dihajar nih anak!" Randy mendelik marah pada kedua sahabatnya. Sahabat yang satu membuatnya kesal karena tiba-tiba datang hanya untuk menumpang tidur, sedangkan yang satu lagi hampir saja menonjok wajah mulus yang selalu dibanggakannya.


"Lo marah ke Randy gara-gara gue, Vin?" tanya Johan yang merasa pernyataan Randy tersebut tidak masuk akal. Ia mengucek matanya untuk membersihkan kotoran yang menempel.


"Ehm ...."


Kevin tidak mampu menjawab, merasa malu karena telah berpikiran yang tidak-tidak mengenai seseorang. Ia bahkan tidak berani menyebut nama orang tersebut di depan kedua sahabatnya karena pasti akan memancing kecurigaan mereka.


"Kenapa sekarang diem aja? Tadi lo garang kek singa mau kawin!" gertak Randy.


"Sorry, Ran. Tadi gue gak berpikir jernih."

__ADS_1


"Emang lo mikir apaan tadi?"


"Ehm .... Gue pikir lo ngelecehin sahabat gue."


Kalau jawab begini gak termasuk bohong kan?


Randy memutar bola matanya. "Gue masih waras lah, kalo mau pindah haluan juga gak sama dia kali!"


"Hei! Gue juga masih normal ya!" sahut Johan tak terima. "Tadi malem aja gue kenalan sama cewek cantik banget! Sayang dia gak mau kasih nomornya."


"Hahaha sukurin sapa suruh clubbing gak ajak-ajak. Kalo lo ajak gue pasti tadi malem dah eksekusi."


"Gue gak sampe segitunya dah. Takut dosa! Lagian lo kan pernah bilang mau tobat, demi seorang cewek yang lagi lo deketin."


Kevin seketika menajamkan telinganya mendengar informasi tersebut.


"Hah iya. Untung lo ingetin gue. Baby gue lagi ngapain ya sekarang?" Randy berkata demikian sambil melirik Kevin.


"Ya lo samperin lah kalo mau tahu," kata Johan.


"Ntaran dulu deh. Baru semalem gue ketemu dia, ntar dia kabur lagi kalo gue terlalu gencar pdkt-nya."


"Hahaha baru kali ini gue lihat lo serius ngejar-ngejar cewek, pake taktik segala."


"Dia spesial soalnya," ucap Randy sambil menyeringai.


Kevin mendengar semuanya dengan hati panas. Ia berusaha menenangkan dirinya demi sebuah jawaban yang diharapkannya dari Randy. "Emang lo mau nyamperin tuh cewek di mana, Ran?" tanyanya dengan suara yang ia buat sesantai mungkin.


Randy memandangnya penuh arti. Sedetik kemudian ia memberikan senyum lebarnya pada Kevin. "Tuh cewek biar jadi urusan gue. Lo urus aja Stevi."


Kevin langsung memberi Randy tatapan tajam. "Lo jangan macam-macam." Ia memperingatkan pemuda itu.


"Jadi cuma lo yang boleh macam-macam?" tanya Randy menantang.


"Bro, Bro, mending kita cari sarapan dulu. Dah laper banget nih gue. Pecel Mbak Sari masih buka gak, Ran?" Johan yang merasa ada yang tidak beres di antara Kevin dan Randy berusaha mengalihkan perhatian mereka.


"Adanya lontong sayur Mas Joko. Mau gak lo?" jawab Randy terkekeh.


"Hmm .... Gak suka lontong gue."


"Sama."


"Gue cabut dulu ya, masih ada urusan." Kevin memanfaatkan momen tersebut untuk berpamitan. Ia ingin segera mencari Jeany.


"Gak sarapan bareng dulu, Vin?" tawar Johan.


"Gak deh gue juga gak suka lontong." Kevin menjawab asal.


Setelah Kevin pergi, Randy tertawa terpingkal-pingkal.


"Ngapa lo?" tanya Johan keheranan.


"Tuh anak kocak banget ya!" Randy menjawab sambil memegangi perutnya yang sakit karena tertawa.


Setelah keluar dari rumah Randy, Kevin langsung berkendara menuju rumah kos Jeany karena hanya tempat itu yang terpikir olehnya. Ia ingin segera bertemu dengan gadis itu dan menyelesaikan masalah di antara mereka. Saat sudah mendekati daerah kampusnya, ia meminggirkan mobilnya untuk menjawab panggilan dari nomor yang tidak dikenalnya.


"Halo?"


"Halo, Kevin. Ini saya mamanya Stevi."

__ADS_1


Mendengar suara mama sang kekasih, pemuda itu refleks menegakkan punggungnya. "Oh iya halo, Tante," jawabnya canggung.


"Apa kamu sekarang ada waktu?"


__ADS_2