
"Yang ... ketiga?"
Jeany mengucapkan kata-kata itu dengan susah payah, seperti ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya. Tubuhnya telah membatu dalam pelukan Kevin. Ia merasakan jantungnya berdetak sangat cepat karena takut kekhawatirannya akan menjadi kenyataan.
"Iya. Maaf ya baru bilang sekarang setelah kamu jadi istriku." Kevin kian mempererat dekapannya pada sang istri.
"Sama siapa?"
Tidak ada jawaban dari Kevin.
"Sama siapa?!" ulang Jeany dengan suara lebih keras.
"Sama mantan pacarku."
Jeany memejamkan mata menahan rasa sakit di hati. Harusnya ia tahu. Mustahil selama tujuh tahun laki-laki itu tidak menjalin hubungan asmara dengan siapa pun. "Kapan?" cecarnya lagi.
"Gak lama setelah yang pertama."
Kening Jeany berkerut. Itu artinya Kevin melakukannya dengan Stevi? Mantan kekasih Kevin itu pernah mengatakan telah menyerahkan segalanya pada laki-laki itu.
Jeany langsung melepaskan diri dari pelukan Kevin dan membalik tubuhnya, tidak ingin lagi bertatap muka dengan laki-laki yang sering membuatnya merasa kecewa.
Ia memang sangat kecewa. Namun apa yang bisa dilakukannya? Tidak mungkin ia meminta berpisah setelah dengan penuh liku mereka akhirnya dapat bersatu. Jeany memutuskan untuk tidur dan berusaha melupakan kesalahan lama sang suami, walau tak yakin sanggup melakukannya.
Di belakangnya, sambil memandangi punggung sang istri, Kevin mengusap wajahnya berkali-kali. Perlahan ia mendekati Jeany dan meletakkan tangannya di pundak perempuan itu.
"Kamu marah?"
"Menurutmu?" Jeany balik bertanya dengan ketus.
"Maaf waktu itu aku khilaf."
"Khilaf kok berkali-kali," cibir sang istri.
"Iya aku salah. Jangan lama-lama ya marahnya?"
"Gak tau ah." Sambil berkata demikian Jeany menepis tangan Kevin. Semakin memikirkannya ia semakin emosi. Sesuatu yang ia takutkan tiba-tiba membersit di pikiran. Ia langsung menanyakannya. "Waktu itu kamu pake pengaman?"
"Gak pake," jawab Kevin pelan, terdengar jelas merasa bersalah.
Jeany tertawa pahit. "Jangan bilang yang kedua juga menghasilkan anak."
"Aku gak tahu."
"Apa maksudmu gak tahu??" Jeany merasa ia benar-benar ingin memukul suaminya itu.
"Aku gak tahu yang pertama atau yang kedua yang menghasilkan anak."
"Kamu sebenarnya lagi ngomong apa sih?! Gak jelas banget!" Saking jengkelnya, Jeany memutar tubuh untuk menghadap sang suami. Ia memandang Kevin dengan galak.
Reaksi Jeany membuat Kevin tertawa terpingkal-pingkal. Ia merasa sangat geli. Namun sebuah cubitan keras di dada membuatnya berhenti tertawa. "Aduh! Kok dicubit di situ sih, Jean?!" protesnya sambil mengusap pentilnya yang sakit.
"Biar cowok mesum kayak kamu kapok!"
Kevin kembali tertawa. "Kamu tuh pikirannya jelek terus ke aku."
"Gak tau ah!" Jeany hendak memunggungi sang suami lagi.
Tiba-tiba Kevin menarik bahu Jeany agar tetap di posisi semula. Secepat kilat laki-laki itu sudah berpindah tempat, menindih tubuh sang istri. Kedua tangan Jeany dipeganginya agar tidak memberontak. Mata mereka saling beradu tatapan.
"Dengar! Yang pertama aku lakuin sama kamu. Yang kedua juga sama kamu!"
Jeany terperangah. "Apa? Bukan Stevi?"
__ADS_1
"Bukan! Malam itu kita ngelakuin dua kali."
Jeany memalingkan wajahnya karena merasa malu. "Kok bisa dua kali?"
"Karna aku ingin."
"Dasar mesum! Pantas habis itu rasanya sakit banget!"
Kevin meringis dan mencium pipi Jeany. Bibirnya beralih ke telinga perempuan itu untuk membisikkan sesuatu. "Tapi waktu itu kamu juga kelihatan menikmati ...."
"Eihhh ngawur banget! Mana mungkin aku kayak gitu, aku kan gak sadar!"
"Gak sepenuhnya gak sadar, kamu masih merespon, trus kamu-"
"Udah udah!" Jeany menutup mulut Kevin dengan telapak tangannya. "Gak usah bahas lagi masalah itu!"
"Berarti udah gak marah kan?"
Jeany mengambil waktu untuk berpikir sejenak. Ia menunjukkan kegelisahannya.
"Dibanding marah, aku lebih ke kaget karna kamu bisa liar begitu. Trus aku juga takut ... Kamu yang kayak gitu gak mungkin kan gak pernah tergoda cewek lain? Apalagi di Singapore ...."
Sebelah tangan Kevin membelai wajah Jeany dengan lembut. Perempuan itu memejamkan matanya menikmati sentuhan tangan sang suami.
"Gak pernah. Aku cuma bisa kayak gitu sama kamu."
"Kalo kamu mabuk?"
"Aku gak pernah minum alkohol sejak malam itu, karna aku gak mau lepas kendali lagi."
"Jadi beneran cuma aku?"
"Iya cuma kamu."
Kevin menurunkan wajahnya dan mel*mat bibir sang istri dalam waktu cukup lama. Saat ia mengangkat wajahnya dan menatap Jeany, sorot matanya memperlihatkan dengan jelas apa yang sedang diinginkannya. "Aku mau lagi boleh ya?"
Bangun kesiangan dialami sepasang pengantin baru itu. Jeany bangun terlebih dahulu dan berniat mandi. Ia membuka lemari pakaian untuk melihat isinya. Ternyata di dalamnya sudah tertata rapi pakaian miliknya. Entah kapan Kevin mempersiapkan semuanya.
Kevin terbangun karena mendengar suara air dari dalam kamar mandi. Ia duduk bersandar di kepala tempat tidur, menunggu istri tercinta selesai mandi.
"Pagi, Istriku," sapanya sambil tersenyum manis pada sang belahan jiwa.
"Pagi ...," jawab Jeany tanpa kata suamiku seperti yang diharapkan oleh Kevin. "Kamu mau sarapan apa?" tanyanya pada sang suami.
"Kita sarapan di luar aja. Kamu pasti masih capek kan?"
"Iya," jawab Jeany sedikit malu.
"Hehehe mikirin yang semalem ya? Kok mukanya merah?"
"Engga ih .... Udah mandi sana. Kita masih harus jemput Kenny sama antar Randy dan istrinya ke bandara."
"Hufff iya iya ...." Kevin menggerutu karena sebenarnya ia masih malas mandi. "Tolong siapin bajuku ya."
Laki-laki itu langsung masuk ke kamar mandi tanpa membawa apa pun. Jeany mempersiapkan kaos polo berkerah warna biru gelap dan celana panjang denim untuk dikenakan oleh suaminya. Ia meletakkannya di atas kasur sesuai permintaan Kevin. Tak lama kemudian laki-laki itu selesai dengan kegiatannya. Jeany tak mengerti bagaimana suaminya itu bisa mandi hanya dalam waktu lima menit saja.
"Lah, Jean?" tanya Kevin saat hendak memakai pakaian yang telah disiapkan oleh sang istri.
"Iya?"
"Celana dalamnya mana?"
Semburat merah langsung muncul di wajah Jeany. "I-itu juga ya?"
__ADS_1
"Iya lah .... Kamu mau aku ke mana-mana gak pake celana dalam?"
Kata-kata Kevin membuat Jeany tergelak. Ia segera membuka lemari pakaian dan mencari tempat pakaian dalam disimpan. Setelah menerimanya, tanpa malu Kevin melepas handuk yang membalut bagian bawah tubuhnya dan mengenakan pakaian di hadapan Jeany.
"Ih gak tau malu!" protes sang istri sambil memalingkan wajah.
"Ntar kamu juga kayak gini," ucap Kevin cuek.
Masak sih? pikir Jeany tak percaya. Dalam keadaan normal, rasanya ia belum sanggup berganti pakaian di hadapan laki-laki meskipun itu suaminya sendiri. Mungkin nanti saat mereka sudah cukup lama menikah dan punya anak lagi. Ia jadi teringat kata-kata Kevin tadi malam.
"Oh iya, Vin. Kalo kamu belum siap punya anak lagi, gimana kalo aku ikut KB?"
Kevin meletakkan sisir yang sedang dipegangnya dan menghampiri sang istri. "Gak usah, Sayang. Biar aku aja yang pake pengaman."
"Beneran?"
"Iya. Aku gak mau kamu kena efek samping kalo ternyata gak cocok sama KB-nya."
"Belum tentu gak cocok kok."
"Aku gak mau ambil risiko," putus Kevin.
"Ya udah aku nurut aja apa kata kamu."
Kevin mengambil jemari Jeany dan menggenggamnya. "Mau lihat-lihat rumah kita sebelum pergi? Kayaknya masih sempat."
"Mau."
Sambil bergandengan tangan, Kevin menunjukkan satu per satu ruangan yang ada di rumah tersebut pada Jeany. Perempuan itu sangat menyukai bagian dapur yang berukuran luas, dengan meja besar berdesain minimalis di bagian tengahnya.
"Suka gak? Kalo engga nanti kita ubah sesuai selera kamu." Kevin meminta pendapat Jeany.
"Suka banget. Gak ada yang perlu diubah," jawab Jeany dengan senyum senang.
"Syukurlah kalo kamu suka. Aku juga udah cariin asisten rumah tangga. Besok mereka mulai kerja."
"Kamu udah nyiapin semuanya ya?"
"Iya. Jadi tugasmu tinggal urus aku sama Kenny aja."
"Kalo suatu saat aku mau kerja boleh gak?"
"Hmm .... Dulu aku pernah bilang gak akan ngelarang kamu kerja kalo kita udah nikah. Tapi sekarang aku lebih suka kamu gak kerja."
"Iya aku nurut aja apa kata kamu."
"Tapi kalo kamu memang pengen banget kerja aku pasti ijinin," kata Kevin tak ingin membuat sang istri kecewa.
Jeany memeluk suaminya. "Makasih ya, Vin. Aku bahagia."
"Itu yang selalu aku inginkan. Membahagiakan kamu," ucap Kevin membalas pelukan sang istri.
Selanjutnya mereka meninggalkan rumah menggunakan mobil Kevin yang sudah terparkir di garasi. Jeany sekali lagi melihat sekeliling rumahnya, merasakan suasana yang tak asing.
"Astaga ...," ucapnya terkejut. "Ini kan di perumahanku!"
"Hehehe akhirnya kamu nyadar." Kevin melihat reaksi sang istri dengan senyum lebar.
"Kamu sengaja beli rumah di sini?"
"Iya. Supaya kamu bisa tinggal dekat sahabatmu."
Jeany begitu terharu hingga rasanya ingin menangis. "Makasih ya, Vin," ucapnya tulus pada sang suami.
__ADS_1
"Sama-sama, Sayang."
Mereka menuju rumah orang tua Kevin untuk menjemput Kenny sekaligus sarapan di sana. Setelahnya, mobil yang dikendarai oleh Kevin melaju menuju rumah Johan. Di sana telah menunggu Randy dan sang istri yang hari itu akan bertolak ke Bali.