Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)

Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)
Jangan-jangan Kamu Hamil?


__ADS_3

Jeany duduk di sofa apartemen Kevin dengan wajah pucat. Ia baru saja memuntahkan isi perutnya di kamar mandi, disaksikan oleh Kevin yang membantu memijat tengkuknya semata-mata untuk membuat gadis itu merasa nyaman. Jeany mendesah dalam hati. Mengapa Kevin selalu melihatnya ketika ia dalam keadaan buruk?


"Jean, minum ini dulu biar perut kamu enakan. Hati-hati panas," ucap Kevin ketika memberikan satu gelas teh manis yang baru saja dibuatnya.


"Makasih."


Kevin memperhatikan Jeany sedikit demi sedikit meneguk teh manis pemberiannya. Wajah gadis itu terlihat lelah. Ia jadi teringat kakak iparnya juga pernah muntah-muntah pada masa awal mengandung Enzo. Kevin tersentak.


"Jean, jangan-jangan kamu hamil?" ucap Kevin menatap tajam pada Jeany.


"Ah gak mungkin!" Jeany langsung menampik kecurigaan Kevin. Mana mungkin ia hamil kalau baru minggu lalu ia datang bulan.


"Kamu tahu kan muntah-muntah itu salah satu gejala kehamilan?"


"Kamu juga tahu kan minggu lalu aku baru aja dapet?"


"Kalo dapet pasti gak mungkin hamil?"


"Engga lah," jawab Jeany mulai jengah.


Pembicaraan macam apa ini ....


"Kamu yakin gak hamil?" Kevin masih memperhatikan wajah dan tubuh Jeany dengan seksama.


"Kok kayaknya kamu pingin banget aku hamil sih?" Akhirnya gadis itu mengeluarkan kekesalannya karena Kevin seperti memaksakan pendapat.


"Bu-bukan gitu. Maksud aku kalo lebih cepat ketahuan kan lebih baik."


"Lebih baik gimana?"


"Supaya kita bisa lebih awal cari solusinya."


"Maksud kamu digugurin?"


" Astaga, Jeany! Apa kamu pikir aku sekejam itu?"


Mereka berdua malah jadi cekcok. Kevin berdiri di samping sofa dengan menyandarkan tubuhnya pada dinding, berusaha meredam rasa sakit hatinya karena tuduhan tanpa dasar dari Jeany.


Sedangkan gadis itu, ia masih tetap duduk di sofa, sedang menyalahkan dirinya sendiri karena telah berbicara kelewatan pada Kevin. Selama beberapa saat keduanya membungkam, takut kata-kata yang keluar malah akan membuat mereka saling menyakiti.


"Sorry omonganku keterlaluan." Jeany akhirnya meminta maaf.

__ADS_1


"Kok kamu bisa mikir kayak gitu?" Rupanya Kevin masih meradang. Ia masih tetap pada posisi berdiri.


Karena kamu tidak mencintaiku.


Kata-kata itu yang ingin Jeany utarakan sebagai jawaban. Akan tetapi tentu saja ia tidak mengatakannya. Karena kalau sampai pemuda itu mengetahui perasaannya yang bertepuk sebelah tangan, hubungan persahabatan mereka pasti akan retak. "Aku juga gak tahu kenapa," dustanya kemudian.


"Aku gak mungkin lah ngebunuh darah dagingku sendiri!" kata Kevin dengan geram.


"Iya aku minta maaf. Kita gak usah bahas ini lagi ya? Aku cuma masuk angin kok."


Mendengar Jeany meminta maaf untuk kedua kalinya, hati Kevin jadi melunak. Apalagi sepertinya gadis itu sakit karena kesalahannya. "Aku panggilin dokter ya?"


"Masak cuma masuk angin sampai panggil dokter segala." Jeany menertawakan sikap Kevin yang menurutnya berlebihan.


"Kamu ini .... Gak tahu orang kuatir apa?"


"Iya iya. Ini udah baikan kok."


Setelah meminum tehnya hingga separuh gelas, Jeany jadi banyak berkeringat. Namun, ia merasa tubuhnya telah jauh lebih baik.


"Apa mau baringan dulu di kamar?"


Jeany langsung menolak tawaran Kevin. Menurutnya tidak pantas seorang perempuan masuk ke kamar laki-laki. Kalau bukan karena merasa ingin muntah, tadinya ia juga tidak ingin masuk ke dalam apartemen Kevin.


"Kalo gitu makan dulu ya? Habis muntah perut kamu harus diisi lagi."


"Gak usah, Vin. Udah telat banget kita."


Kevin tidak menjawab. Ia malah berjalan ke dapur, membuka lemari dan mengambil beberapa bungkus biskuit. "Seenggaknya makan ini dulu," katanya pada Jeany.


Jeany memakan dua bungkus biskuit lalu menghabiskan tehnya. "Ayo kita berangkat, Vin," ajaknya lagi pada Kevin.


Laki-laki itu memperhatikan wajah Jeany dengan seksama. "Yakin mau tetep pergi? Muka kamu pucat banget."


"Masak?"


Jeany lantas berdiri dan berjalan menuju cermin wastafel. Ia melihat wajahnya di cermin. Pantas Kevin bilang wajahnya pucat. Rupanya lipstik di bibirnya sudah terhapus akibat ia muntah tadi. Gadis itu mengambil tas dan mengeluarkan seluruh isinya agar dapat meraih lipstik yang tersisip di bagian paling dalam.


Ketika gadis itu memoleskan lipstik, Kevin menerima panggilan di ponselnya.


"Iya, kakak udah di apartemen. Udah mulai ya? Iya ini udah mau ke sana." Terdengar suara Kevin yang Jeany duga sedang berbicara dengan Jovina.

__ADS_1


Dengan terburu-buru gadis itu memasukkan barang-barangnya kembali ke dalam tas. Ia segera mengajak Kevin berangkat. "Ayo, Vin!"


Kevin melihat Jeany yang sudah tidak terlalu pucat. Ia pun mengiakan. Pemuda itu mengambil sepatu dari rak dan mengenakannya. Sepatu kulit berwarna hitam itu membuat Kevin terlihat semakin keren di mata Jeany.


"Ternyata kamu bisa jutek juga ya, padahal kelihatannya lemah lembut." Kevin meledek Jeany ketika mereka sudah dalam perjalanan menuju restoran tempat pesta ulang tahun Enzo dilangsungkan.


"Siapa suruh cuma menilai dari penampilan luar?" balas Jeany.


"Wah jadi selama ini aku tertipu?"


"Aku gak berusaha apa-apa supaya kelihatan lemah lembut. Kamu aja yang menyimpulkan sendiri."


"Haha iya juga sih. Memang muka kamu dari sononya kalem."


"Kamu lagi muji atau apa ini?" tanya Jeany sambil menoleh.


"Iya muji lah."


"Masak mau muji bilang muka kalem? Bilang cantik kek, atau manis gitu," protes Jeany.


"Iya kamu cantik, apalagi kalo rambut kamu digerai kayak gini," jawab Kevin berterus-terang.


"Ma-makasih."


"Tadi minta dibilang cantik. Habis dibilang malah salah tingkah," kata Kevin sambil menahan tawanya.


Jeany hanya tersenyum canggung. Seandainya Kevin tahu bahwa ucapannya telah membuat jantung gadis itu berdebar begitu kencang dan menyiksa.


Mereka sampai di sebuah restoran mewah yang juga sering dijadikan tempat untuk resepsi pernikahan. Terlihat tempat parkir telah dipenuhi oleh kendaraan para tamu undangan. Jeany melihat tidak sedikit mobil mewah yang terparkir di sana.


Mereka berjalan menuju pintu masuk restoran. Sebuah tulisan besar "Selamat Ulang Tahun Pertama Kenzo Wijaya" menyambut kedatangan mereka. Gadis itu dapat mendengar suasana begitu meriah di dalam restoran. Ia jadi gugup.


"Kenapa, Jean? Mual lagi?" tanya Kevin setelah memberikan kado yang ia dan Jeany bawa pada staf restoran yang juga menjadi panitia pesta di dekat pintu masuk restoran.


Jeany menggeleng. "Orangnya banyak banget, Vin ...," ucap gadis itu dengan wajah takut sambil melihat ke dalam restoran.


"Gapapa kan kamu sama aku. Kita masuk lewat belakang aja."


Kevin langsung menggandeng tangan Jeany. Sesuai dugaannya, tangan gadis itu begitu dingin karena perasaan gugupnya. Mereka berdua berjalan memutar dan masuk lewat pintu belakang restoran. Kevin mengajak Jeany berjalan menuju meja tempat Jovina dan Tania duduk. Ia tidak melepas genggamannya hingga mereka sampai di meja tersebut.


Karena datang terlambat dan letak meja yang berada paling depan, sontak Kevin dan Jeany menjadi perhatian beberapa pasang mata. Apalagi mereka berjalan sambil bergandengan tangan. Semua orang mengira putra kedua Alan Wijaya itu datang bersama kekasihnya, kecuali seorang gadis yang memperhatikan mereka dengan tatapan tidak senang.

__ADS_1


__ADS_2