Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)

Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)
Asal Saling Percaya


__ADS_3

"Wah lo datang di saat gak tepat, lagi romantis-romantisnya nih ...."


Randy menanggapi ucapan dingin Kevin dengan santai. Ia justru senang bila sahabatnya itu bisa menyaksikan kedekatannya dengan Jeany. Diliriknya gadis itu, yang tampak senang dengan kedatangan Kevin, tetapi juga terlihat kekhawatiran di wajahnya yang polos.


Kevin berjalan mendekat dan melihat ke arah Randy dan Jeany bergantian. "Gue ganggu kalian?"


"Engga." "Iya." Jeany dan Randy menjawab bersamaan.


"Ran!" tukas Jeany tak senang.


"Iya iya becanda doang. Kita seneng dong kedatangan sahabat baik. Lo dari mana jam segini baru datang?"


"Dari rumah Stevi," jawab Kevin dengan wajah kaku.


"Wow dari tadi sore lo di sana?"


"Ran, lo bisa pulang dulu gak? Ada yang mau gue omongin ama Jeany."


Raut wajah Randy langsung berubah. "Kalo gue gak mau?" tanyanya menantang.


Kevin langsung menghampiri Jeany dan menarik tangan gadis itu. "Ikut aku."


"Tunggu, Vin!" Jeany berusaha melepaskan tangan Kevin. Ia agak takut karena pemuda itu terlihat sedang sangat marah.


Kevin tetap bergeming. Ia setengah menyeret Jeany agar mengikutinya.


"Vin! Aku gak mau!" berontak Jeany.


"Lepasin dia! Lo gak denger dia gak mau ikut!" Tiba-tiba Randy mencengkeram tangan Kevin, memaksanya agar melepaskan Jeany.


"Minggir."


"Lo lepasin dia dulu baru gue minggir."


"GUE BILANG MINGGIR!!"


Jeany terkejut dengan suara keras Kevin. Gadis itu melirik ke luar pagar, takut tetangganya ada yang mendengar keributan mereka. Untung saja tidak ada yang lewat ketika itu. Ia menimbang situasi. Sepertinya kedua pemuda itu bisa berkelahi bila tidak segera dicegah. Cepat-cepat ia berbicara pada Randy.


"Ran, lo pulang dulu ya? Mungkin ada hal penting yang mau Kevin bicarain ama gue. Makasih banget buat bebek gorengnya."


"Hufff ya udah ...." Randy menghembuskan napasnya. "Kalo ada apa-apa lo telpon gue ya," ucapnya lagi sambil mengusap lembut kepala Jeany. Kevin mendengus kesal melihatnya.


Jeany mengangguk dengan wajah menunjukkan rasa terima kasih. Sebelum pergi, Randy memberi lirikan tajam pada Kevin, yang ternyata juga sedang memberi tatapan permusuhan padanya. Pemuda itu lalu meninggalkan rumah kos Jeany dengan seringai mengejek.


Beberapa menit berlalu. Kevin belum berbicara apa-apa pada Jeany walaupun Randy telah cukup lama meninggalkan mereka. Ia sedang menata emosinya agar tidak mengeluarkan perkataan yang melukai gadis itu.


"Aku ambilin minum dulu ya," kata Jeany menawarkan, lalu beranjak dari tempat duduknya.


Kevin memegang pergelangan tangan gadis itu untuk mencegahnya masuk ke dalam. "Gak usah."


Gadis itu pun duduk kembali. Dalam hati ia gelisah luar biasa karena tidak biasanya Kevin diam seperti ini.


"Kamu lagi deket sama Randy?" Kevin akhirnya menanyakan hal yang membuatnya marah.

__ADS_1


"Deket gimana? Kami biasa aja."


"Kamu kira aku gak bisa lihat? Tadi di apartemenku, kalian selalu ngobrol berdua."


"Trus kamu mau aku diam kayak patung di sana? Kamu tahu cuma Randy yang menganggap keberadaanku di situ! Kamu sendiri cuekin aku!"


Suara Jeany mulai meninggi karena merasa dirinyalah yang seharusnya marah melihat Kevin mesra dengan perempuan lain. Namun ia sadar diri akan posisinya sehingga memilih untuk memendamnya sendiri.


"Itu karena kamu gak mau membaur. Seingatku tadi Stevi juga ngajak ngomong kamu kan?"


Jeany mengernyit mendengarnya. Tidak mau membaur? Benar memang ia bukan orang yang supel. Benar ia tidak pandai bergaul dan tidak mampu membaur seberapa besar pun keinginannya untuk memiliki banyak teman. Ia bukannya tidak tahu kekurangan dirinya itu. Namun sakit rasanya mendengar laki-laki yang dicintainya menyalahkan dan menyebut kelemahannya tepat di depan wajahnya.


"Iya aku gak sebaik pacar kamu! Sana balik aja sama dia!"


"Kok kamu jadi nyolot gini?!"


"Memang begini sifat asliku! Kalo kamu gak suka-"


Kevin cepat-cepat meletakkan telapak tangannya di bibir Jeany. "Tolong .... Jangan bilang pisah. Kita bahkan belum memulai. Jangan keluar kata-kata seperti itu lagi ya? Aku minta maaf udah bikin kamu tersinggung."


Kevin sadar mereka berdua sama-sama sedang tersulut emosi. Bila tidak ada yang mengalah, bisa-bisa hubungan mereka layu sebelum berkembang.


"Stevi ngajak ngobrol karena dia kepo sama urusan aku." Jeany menjawab perkataan Kevin dengan pedas.


"Stevi bukan orang kayak itu," ujar Kevin. "Dia udah anggap kamu seperti sahabatnya sendiri. Lagian kamu juga kenapa gak cerita sama aku kalau mau cuti kuliah?"


Jeany melengos mendengarnya. Ia memilih tidak menjawab pertanyaan Kevin.


"Jawab, Jean."


"Tapi kamu ingat untuk cerita ke Randy?"


"Kamu sendiri sadar gak sih kalo kamu nempel terus sama Stevi? Kamu kira aku gak sakit hati?"


"Jean, Stevi itu masih pacar aku, wajar kalo dia minta perhatian aku."


"Trus aku gimana, Vin? Aku harus tahan lihat kamu manjain dia, lihat kalian pelukan?"


Wajah Kevin yang sedari tadi tegang kini menampakkan senyum. Ia merasa senang mendengar curahan hati Jeany. Gadis itu rupanya sedang cemburu. Dengan lembut ditatapnya wajah polos itu. "Jean, tolong sabar ya. Aku sedang menunggu waktu yang tepat untuk putusin Stevi, supaya gak terlalu menyakiti dia."


"Sampai kapan, Vin? Sampai kamu tidurin dia?"


Jawaban Jeany membuat pemuda itu kembali meradang. "Jeany! Jangan ngomong sembarangan!"


"Tadi aja kamu ngabisin waktu di rumah dia kan?"


"Tapi kami gak ngapa-ngapain."


"Entahlah, Vin .... Aku sulit percaya ...." Jeany menjawab dengan wajah lelah. Kevin mengerti gadis itu sedang mencemaskan hubungan tanpa status mereka. Bila tidak sedang berada di teras rumah, ingin rasanya ia menarik gadis itu ke dalam pelukannya, memuaskan rasa rindunya. Akhirnya ia hanya bisa menggenggam tangan Jeany, seperti yang dilakukan oleh Randy tadi.


"Percaya sama aku ya. Asal saling percaya, kita pasti bisa melewati masa sulit ini."


"Kamu sendiri gak percaya sama aku." Jeany menggerutu sambil memajukan bibirnya.

__ADS_1


CUP!


Kevin mengecup bibir gadis itu dengan cepat. Ia tersenyum melihat ekspresi terkejut Jeany. "Itu karena saingan aku Randy. Dia kan pintar naklukin hati cewek. Aku takut kamu berpaling."


"Iya pintar, sampe-sampe kamu minta saran dia buat naklukin hati Stevi kan?"


"Hehehe .... Yang lalu biarlah berlalu ...." Kevin meringis mendapat sindiran dari Jeany.


"Oh iya, Vin! Dari mana Randy bisa tahu kejadian malam itu? Kamu yang cerita?"


"Maksud kamu dia tahu kita udah- Hmpph!"


Jeany menutup mulut Kevin dengan telapak tangannya. "Gak usah disebut!"


"Memangnya aku mau ngomong apa coba?"


"Ih serius ini .... Aku takut ada orang lain yang tahu."


"Dia bilangnya gimana?"


"Dia bilang aku seperti kertas putih, dan sahabatnya yang udah menodai kertas putih itu."


Kevin diam sejenak. Kelihatannya sedang berpikir, tetapi sebenarnya ia sedang mengontrol emosi. Bisa-bisanya Randy berbicara seperti itu kepada Jeany?


"Udah gak usah dipikirin ya, biar aku yang urus," katanya kemudian untuk membuat Jeany tidak khawatir.


"Tapi jangan sampe berantem, kalian itu sahabat."


"Iya." Diusahain, batinnya. "Kamu jangan cuti kuliah ya?" pintanya pada Jeany.


"Gak bisa, Vin. Aku kewalahan kalo harus kuliah, bikin skripsi dan cari uang sekaligus. Belum lagi kalo ada tugas kelompok."


"Kamu gak usah pikirin biaya kuliah. Nanti aku yang urus."


"Vin, kalo kamu bayarin kuliahku apa anggapan orang-orang ke aku nanti?"


"Kenapa harus peduli apa kata orang?"


"Gak, Vin. Aku gak mau dipandang rendah. Untuk kuliahku biar aku sendiri yang usahain biayanya."


Sekarang aja udah dikatain cewek murahan, pikirnya sedih.


"Jean, tolong jangan keras kepala! Aku yang akan biayai kuliahmu. Titik."


Jeany tertegun melihat Kevin yang hampir kembali marah. Sekarang sepertinya hal kecil pun bisa membuat mereka bertengkar. Apa karena hubungan mereka yang semakin dekat sehingga mulai menunjukkan sifat asli masing-masing? Ia memilih tidak membantah untuk saat ini. Perlahan ia akan memberi penjelasan pada Kevin perihal cuti kuliahnya, tetapi tidak malam ini, di saat mereka baru saja berbaikan.


Mereka mengobrol hingga lewat pukul sembilan malam. Kevin berpamitan pulang dengan alasan mengantuk. Namun pemuda itu tidak pulang ke apartemennya. Ia mengemudikan mobilnya menuju rumah seseorang.


***


Di kamarnya, Stevi yang baru saja menerima telepon dari sahabatnya sedang memandang bayangan dirinya di cermin meja rias. Wajah yang kini tidak mulus itu semakin terlihat buruk tanpa polesan tata rias. Pikirannya semakin penat mengingat kata-kata sahabatnya tadi.


"Gue yakin Jeany pernah ke apartemen cowok lo sebelumnya. Tadi gue perhatiin dia sama sekali gak kebingungan waktu mau ke toilet. Trus lipstik yang lo temuin tadi, gue yakin itu punya dia! Dia pernah bilang kalo lipstiknya hilang kan! Lo harus hati-hati. Kayaknya cowok lo udah selingkuh, Stev!"

__ADS_1


Lelah. Lelah sekali rasanya dengan semua ini ....


Gadis itu mengambil sebutir pil tidur dan meneguknya dengan air. Namun ia sama sekali tidak dapat tertidur. Ia ingin segera terlelap dan melupakan seluruh beban hidupnya. Setelah menambah jumlah pil yang diminumnya, barulah malam itu ia dapat mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.


__ADS_2