
Malam mendekati pukul 19.00, Kevin baru tahu Jeany telah mengiakan ajakan Stevi untuk pergi bersama. Dengan heran pemuda itu bertanya pada Jeany yang baru saja keluar dari pintu kamarnya, setelah sebelumnya bersiap-siap. "Kamu kok tiba-tiba mau ikut pergi?"
"Soalnya Stevi mohon-mohon supaya aku ikut."
Kevin meringis karena tahu betul sifat kekasihnya itu. "Hehe dia memang kadang suka maksa. Tapi kalo kamu nolak gapapa kok dia pasti ngerti."
"Engga ah nanti aku dibilang kaku dan gak asyik."
"Astaga ... Kamu kok ungkit-ungkit itu terus. Segitu sakit hatinya ya?"
Jeany mengangguk.
"Trus aku harus gimana supaya kamu mau lupain kata-kataku itu?"
"Aku mau kamu turuti tiga permintaanku," ucap Jeany sambil menunjukkan jarinya membentuk angka tiga.
Pemuda itu tersenyum. "Perasaan permintaanmu selalu aku turuti deh."
"Oh gitu ya? Hehe ...." Jeany jadi salah tingkah mendengar jawaban Kevin.
"Kamu barusan kayak Tio Beng pas dimintain penawar racun ama Thio Bu Ki tau gak."
"Apa?! Emang aku niruin dia hahaha .... Kamu suka nonton itu juga?"
"Suka. Tapi aku suka adegan silatnya, kalo kamu pasti suka cinta-cintaannya doang."
"Ih kok gitu. Aku juga suka adegan silatnya tahu. Apalagi pas Thio Bu Ki melindungi Tio Beng, so sweet banget."
Apa juga gue bilang .... Kevin mesem mendengar jawaban polos Jeany. Ia lalu menanyakan tempat yang menjadi tujuan Jeany dan Stevi pergi. "Kamu mau pergi ke mana ama Stevi?"
"Gak tahu, aku ngikut aja."
"Bawa ini." Kevin memberikan kartu debit dan kartu kreditnya pada Jeany, membuat gadis itu menatapnya bingung.
"Buat apa bawa dua kartu segala?"
"Buat jaga-jaga aja. Nanti pinnya aku kirim di WA. Aku lagi gak pegang uang cash soalnya."
Wajah Jeany tampak ragu. Merasa tidak berhak, ia pun memutuskan untuk menolak kartu dari Kevin. "Gak usah, Vin aku masih ada dua ratus ribu kok. Kalo sampe Stevi tahu kamu pinjemin kartu kamu ke aku bisa-bisa dia gak senang."
Kevin memikirkan kata-kata Jeany. Sejak di rumah Stevi tadi, ia sadar kekasihnya selama ini merasa cemburu melihat kedekatannya dengan Jeany. Akan tetapi ....
"Percayalah, dua ratus ribu itu gak akan cukup kalo pergi ama Stevi dan kawan-kawannya."
"Tapi-"
"Udah bawa aja buat jaga-jaga. Nanti kalo Stevi tanya biar aku yang jelasin."
"Ya udah. Kalo kepake, nanti aku ganti pas gajian ya."
"Iya santai aja."
Mereka berdua lalu turun ke ruang tengah dimana Stevi sedang duduk mengobrol dengan Marvin dan Winda. Sedangkan Jovina, gadis itu dari siang pergi dengan temannya dan belum pulang.
__ADS_1
"Yuk, Jean kita pergi sekarang biar gak kemalaman."
Stevi lagi-lagi harus menahan diri untuk tidak memasang wajah tidak sukanya. Bagaimana tidak kecewa, kekasihnya pamit ke lantai atas untuk mengambil ponsel yang katanya sedang diisi dayanya. Namun waktu lima belas menit tentu terlalu lama untuk sekadar mengambil ponsel. Ia jadi tahu alasan Kevin berlama-lama di atas setelah melihat kekasihnya itu turun bersama Jeany.
"Kamu ngambil HP aja lama banget, Vin," celetuk Marvin pada adiknya.
Kevin kini punya kebiasaan baru bila sedang tidak ingin berdusta. Cukup menjawab dengan senyuman.
"Lah? Malah senyum. Sejak pacaran adikku ini makin aneh." Marvin menggelengkan kepalanya.
"Tapi kenapa Kevin gak ikut pergi?" tanya Winda tak mengerti.
"Soalnya malam ini edisi khusus cewek, Kak. Besok-besok baru pergi rame-rame , sama Randy dan Johan juga."
"Oh iya sejak Kevin pindah ke apartemen mereka gak pernah main ke sini lagi. Gimana kabar Randy, masih kuliah dia?" Marvin mengingat sahabat adiknya yang terkenal badung itu sambil tertawa. Menurutnya luar biasa bila Randy mampu bertahan kuliah hingga saat ini, mengingat kenakalannya yang di luar batas itu.
"Udah malam, Stev. Kalian berangkat sekarang gih."
Entah kenapa, pemuda itu tidak suka keluarganya membicarakan Randy. Ia juga bertanya-tanya kapan Stevi membuat janji untuk pergi bersama-sama dengan Randy dan Johan. Semoga saja kekasihnya itu tidak memberitahu Randy bila Jeany saat ini sedang bekerja di rumahnya. Marvin dan Winda hanya saling memandang melihat reaksi Kevin.
Jeany dan Stevi berpamitan dan meninggalkan ruangan itu. Kevin mengantar mereka sampai depan.
"Yakin gak mau aku antar, Stev?"
"Gak usah, Yang. Aku kan bukan cewek manja yang ke mana-mana harus diantar."
Kevin spontan memuji sang kekasih. "Haha iya iya kamu memang mandiri."
"Ya udah aku ama Jeany pergi dulu ya," ucap Stevi lalu mencium pipi Kevin.
Stevi seperti menunggu sesuatu, karena gadis itu belum beranjak pergi juga. Kevin baru teringat janjinya untuk mencium pipi sang kekasih setiap kali berpamitan. Ia pun mencium pipi Stevi. Jeany langsung mengalihkan pandangannya ke sembarang tempat.
"Yuk, Jean."
Jeany masuk ke mobil Stevi tanpa berpamitan pada Kevin. Di dalam mobil, gadis itu langsung bertanya tanpa basa-basi lagi.
"Sekarang tinggal kita berdua. Apa yang mau lo omongin?"
"Ntar aja habis makan. Biar bisa enak ngomongnya."
"Kalo cuma mau ngomong kenapa harus ada Devi ama Sandra?"
"Gue emang udah janjian mau pergi ama mereka ini hari. Bisa ngomel mereka kalo gue batalin. Tapi tenang aja ntar kita bicaranya berdua aja kok."
Jeany tidak mengatakan apa-apa lagi. Sesampainya di mal, Stevi langsung mengajak Jeany ke restoran Jepang yang sedang naik daun. Di sana, Devi dan Sandra telah menunggu di sebuah bilik yang cukup privat.
Ini pertama kalinya Jeany ke restoran tersebut. Ia melihat sekeliling dengan pandangan kagum. Dekorasi restoran tersebut sangat kental dengan nuansa Jepang, dengan taman mini buatan yang dihiasi bambu dan bebatuan khas taman di Jepang. Tempat duduknya didominasi kayu berwarna kecoklatan dengan hiasan tradisional dan penataan lampu yang sangat cantik.
Devi dan Sandra saling melirik.
"Lama banget sih, Stev udah mati kelaparan cacing di perut gue," sungut Devi begitu Stevi dan Jeany sampai di meja mereka.
"Bagus dong lo jadi gak usah beli obat cacing lagi," timpal Sandra.
__ADS_1
"Itu cuma perumpaan, Once. Lo kira gue cacingan?"
"Kali aja, lo kan kurus kerempeng," jawab Sandra sambil nyengir.
"Ey bilang aja lo iri sama bentuk tubuh alami gue yang biar makan banyak pun gak bakalan gemuk."
"Cuka cuka lodeh."
Harusnya di saat seperti ini Stevi tertawa mendengar pembicaraan konyol kedua sahabatnya. Namun suasana hatinya sedang tidak baik, membuatnya menjawab singkat pertanyaan Devi tadi.
"Sorry lama soalnya harus nungguin Jeany selesai kerja."
Devi memperhatikan penampilan Jeany. Gadis itu terlihat sangat tidak elegan mengenakan kaos oblong dan celana panjang denim. Wajahnya juga tidak dirias sedikit pun.
"Ya ampun, Jeany. Kalo gak suka dandan seenggaknya pake lipstik lah. Muka lo keliatan gak seger!"
"Lipstik gue hilang," jawab Jeany singkat. Tanpa diberitahu pun ia memang ingin memoles bibirnya dengan lipstik, tetapi waktu yang terlampau singkat membuatnya tidak bisa menemukan di mana benda kecil itu berada.
"Coba inget-inget lagi di mana lo terakhir pake." Sandra mencoba membantu.
"Terakhir gue pake di-"
"Di mana?"
"Gue gak ingat."
Jeany terpaksa berdusta. Ia takut Stevi dan teman-temannya akan berpikiran macam-macam bila tahu lipstiknya tertinggal di apartemen Kevin.
Ceroboh banget sih bisa ketinggalan di sana, keluhnya dalam hati.
"Oh iya, Jean, gimana rasanya kerja di rumah Kevin? Pasti betah ya soalnya majikan lo baik."
"Devi, stop. Kita ke sini mau makan."
Stevi menegur sahabatnya yang telah berbicara kelewat batas. Untung saja tidak lama kemudian pelayan datang membawa buku menu. Jeany tentu saja memilih menu termurah. Ia berusaha agar tidak harus menggunakan kartu yang dipinjamkan oleh Kevin.
"Lo pesen aja apa yang lo mau, Jean. Gue yang traktir, kan gue yang ajak lo keluar," ucap Stevi setelah mereka berempat selesai menyebutkan pesanan pada pelayan restoran.
"Gapapa ramen aja, gue emang lagi pengen makan yang berkuah."
Setelah itu mereka berempat menunggu makanan disajikan dalam diam. Karena tidak tahan dengan suasana canggung tersebut, Sandra jadi membicarakan masalah kuliah.
"Tiga hari lagi ambil KHS ya. Duh moga-moga IPK gue gak parah-parah amat deh biar gak di-DO."
"Gak lah lo kan udah berusaha keras," hibur Stevi padanya.
"Keras apaan. Dia waktunya belajar malah ngelayap mulu. Inget kan yang pas lo kencan ama Kevin trus kita gak sengaja ketemu?"
Stevi, Devi dan Sandra asyik berbicara bertiga. Jeany tidak dapat masuk ke pembicaraan mereka karena tidak paham dengan topik yang sedang dibicarakan. Akan tetapi gadis itu berusaha bersabar. Tujuan dia ikut ke sana memang bukan untuk mengakrabkan diri dengan mereka.
Ketika keempat gadis itu sudah selesai makan, Stevi mengajak mereka meninggalkan restoran tersebut.
"Sorry ya gak bisa nongkrong lama, gue masih ada urusan ama Jeany setelah ini."
__ADS_1
Devi dan Sandra mengangguk paham. Mereka berempat berjalan menuju kasir. Stevi mengeluarkan kartu kreditnya. Seperti biasa, ia memang yang paling sering keluar uang bila pergi bersama kedua sahabatnya.
"Mohon maaf, Kak, kartu kreditnya tidak bisa digunakan." Tiba-tiba petugas kasir memberi informasi mengejutkan.