Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)

Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)
Membela Selingkuhan


__ADS_3

Henny menghampiri Jeany yang baru saja selesai mengganti baju Enzo di kamarnya. Sepulang dari Bandung, bayi lucu itu mengalami ruam sehingga untuk sementara waktu tidak dipakaikan popok, membuat Jeany harus sering mengganti baju Enzo setiap kali bayi itu buang air kecil atau besar. Mama Kevin tersenyum puas melihat pengasuh cucunya yang terlihat demikian telaten di matanya.


"Jeany," panggilnya sambil memberi senyum keibuan pada gadis itu.


"I-iya, Tante?" Gadis itu selalu gugup bila berhadapan dengan orang tua Kevin.


"Kamu berteman dengan pacarnya Kevin kan? Bisa ceritain ke tante orangnya kayak gimana?"


"Ehm iya o-orangnya cantik dan baik."


Jeany sedikit tergagap karena tiba-tiba ditanya tentang Stevi, yang bisa dilakukannya hanyalah menjawab secara jujur. Menurutnya Stevi memang cantik dan baik. Henny terlihat senang dengan jawaban Jeany, senyumnya mengembang semakin lebar.


"Kalau begitu saya mau minta tolong bisa?"


"Minta tolong apa, Tante?"


"Saya titip kue buat pacarnya Kevin di rumah sakit ya, sekalian kan kamu belum jenguk dia dari kemarin. Tadi saya sudah telpon Kevin, katanya kemungkinan sore baru keluar dari rumah sakit karena masih menunggu dokternya datang. Nanti biar diantar sama Agus." Henny menyudahi kalimatnya dengan menyebut nama sopir pribadi keluarganya.


"Tapi saya masih harus jaga Enzo."


"Enzo biar sama saya dulu. Kamu pergi aja bentar mumpung sekarang jam besuk rumah sakit." Henny langsung menggendong Enzo dan menciuminya dengan gemas. "Sudah lama sekali rasanya oma gak main-main sama Enzo ya?"


Mama Kevin itu lalu mengalihkan tatapannya pada Jeany yang masih diam terpaku. "Kamu tahu gak? Saya senang sekali akhirnya Kevin mau berpacaran. Tadinya saya khawatir sekali dia ada kelainan karena selalu bersikap dingin sama perempuan. Pasti pacar Kevin sangat istimewa sampai bisa merubah anak saya, jadi saya harus menunjukkan perhatian juga supaya hubungannya sama Kevin bisa awet," ucap Henny panjang lebar dengan wajah yang terlihat bahagia.


"Menurut saya Kevin gak dingin kok, Tante," jawab Jeany jujur walau merasa gundah karena mama Kevin menganggap Stevi istimewa.


Henny tersenyum. "Kamu juga spesial. Belum pernah anak saya itu punya teman dekat perempuan. Kamu yang pertama."


Jeany membalas dengan senyuman canggung. Gadis itu berhenti tersenyum setelah melihat raut wajah Henny yang tiba-tiba berubah sendu. Mama Kevin itu menghela napas, pandangan matanya menerawang jauh berusaha menggali kenangan pahit yang telah dikuburnya dalam-dalam.


"Saya tidak bisa cerita detilnya. Tapi tanpa saya sadari sepertinya saya sudah menanamkan ketakutan dalam diri Kevin sampai dia tidak mau dekat dengan lawan jenis. Sekarang saya harus memperbaiki kesalahan saya dengan membantu hubungannya dengan pacarnya sampai berhasil ke jenjang pernikahan."


DEG!


Pilu rasanya mendengar mama Kevin sudah berpikir jauh untuk menikahkan pemuda itu dengan Stevi. Namun Jeany menutupi perasaannya yang sebenarnya, ia berpura-pura tidak tahu apa pun di depan Henny.


Wajah bingung gadis itu membuat mama Kevin tertawa kecil. "Saya malah bikin kamu bingung ya? Ya sudah gak usah dipikirin. Kamu ganti baju dulu saja, saya mau kasih tahu Agus supaya siapin mobil."


Jeany memang sedang bingung, tetapi bukan karena cerita dari Henny. Gadis itu bingung dengan posisinya saat ini yang tidak bisa menolak permintaan Henny. Ia juga takut dengan reaksi mama Kevin bila mengetahui tidak lama lagi putranya akan putus dengan kekasihnya karena dirinya. Memikirkan semua itu, Jeany mengganti pakaiannya tanpa semangat. Ia lalu turun ke lantai bawah.


"Lho kok kamu tidak pakai tas yang saya belikan di Hong Kong?" Henny mengerutkan keningnya melihat Jeany masih memakai tas yang lapisan kulitnya telah terkelupas di banyak tempat.


"Sa-saya tidak enak, Tante ...," jawab Jeany memelas. Apa kata orang bila ia memakai tas bermerek mahal itu?


"Kenapa gak enak? Kamu cakep banget lho pakai itu. Tasnya cocok dengan pembawaan kamu yang kalem. Ayo ganti tasnya."

__ADS_1


Perasaanku jadi gak enak, keluh Jeany dalam hati. Ia terpaksa kembali ke kamarnya dan memindahkan isi tasnya ke dalam tas pemberian dari Mama Kevin itu.


"Nah begitu ... saya memang gak pernah salah pilih barang," ucap Henny puas melihat Jeany telah berganti tas. "Nanti sebelum ke rumah sakit mampir ke toko kue langganan saya ya, Agus tahu kok tempatnya. Bilang saja mau ambil pesanannya Bu Alan, tinggal ambil saja karena saya sudah bayar."


"Iya, Tante."


***


"Ya ampun, Stevi ... kenapa lo gak cerita kalo lagi ada masalah?"


Devi dan Sandra yang baru mengetahui Stevi masuk rumah sakit, datang menjenguk sahabat mereka. Stevi baru saja menceritakan masalah keluarganya pada mereka karena tak kuat memendamnya lebih lama lagi.


"Gue takut kalian gak mau bersahabat ama gue lagi setelah tahu gue gak punya apa-apa," jawab Stevi terus terang.


"Dasar b*go! Memangnya udah berapa lama kita kenal?! Bisa-bisanya ya mikir begitu! Lo mau ada duit ato engga kami tetap sayang sama lo! Jangan pernah rahasiain apa-apa dari kami lagi!"


Devi berkata marah, tetapi ia segera memeluk Stevi. Sandra pun melakukan hal yang sama.


"Jangan minum obat tidur, Stev. Kalo lo gak bisa tidur telpon gue aja, gue temenin cerita sampe pagi."


Stevi membalas pelukan kedua sahabatnya dengan mata berkaca-kaca, berterima kasih atas ketulusan Devi dan Sandra padanya. Kevin menyaksikan ketiga gadis itu berpelukan dengan perasaan tidak enak. Ia menyakiti Stevi justru di saat gadis itu sedang membutuhkan dukungan dari orang-orang terdekatnya.


Namun hari ini ia menyesali dirinya yang tidak bisa lebih cepat mengambil sikap, setelah tadi mamanya menelepon dan menanyakan ruangan tempat Stevi dirawat. Ia tentu saja melarang mamanya datang. Pemuda itu beralasan hari ini Stevi sudah boleh pulang. Menurutnya lebih baik orang tuanya dan Stevi tidak usah saling mengenal karena ia tidak lama lagi akan putus dengan gadis itu.


"Mama gak ke sana, kamu kan tahu mama gak suka suasana rumah sakit," jawab Henny tadi sebelum menutup panggilannya.


Tok Tok Tok ...!


Terdengar suara pintu diketuk sebelum orang yang mengetuknya membuka pintu tersebut. Semua orang yang ada di ruangan terkejut melihat siapa yang datang.


"Sorry gue ganggu. Gue ke sini mau-"


"Ngapain lo kemari?! Cewek gak tahu malu! Gak usah pura-pura baik deh lo! Lo seneng kan Stevi masuk rumah sakit, supaya bebas selingkuh ama cowoknya!" Devi langsung menghardik Jeany dengan kalimat-kalimat pedas.


Jeany mendesah dalam hati. Seharusnya ia sudah bisa memperkirakan keberadaan sahabat Stevi yang sangat membencinya itu.


"Dev, jangan teriak-teriak ntar dimarahin suster," tegur Sandra. Ia sebenarnya tidak tega melihat Jeany diperlakukan kasar oleh Devi, tetapi sebagai sahabat Stevi ia juga tidak bisa terlihat terlalu membela Jeany.


"Biarin aja, biar seluruh rumah sakit tahu ada selingkuhan yang gak tahu malu datengin pacar sah cowoknya!"


"Devi! Jaga bicara lo! Jeany gak seperti yang lo bilang!" Kevin berdiri dari tempat duduknya untuk memperingatkan Devi.


Sahabat Stevi itu melengos. "Lo lihat sendiri kan, Stev? Jaman sekarang banyak orang gak tahu malu, terang-terangan bela selingkuhannya."


Stevi hanya diam, tidak mencecar Jeany, juga tidak membelanya. Ia tidak bohong ketika mengatakan dirinya membenci Jeany. Kalau menuruti kata hatinya, ingin rasanya ia menjambak perempuan yang telah merebut kekasihnya itu. Namun Stevi tidak ingin merusak citra diri yang telah ia bangun dengan susah payah, citra diri yang sempat berhasil membuat Kevin jatuh hati padanya.

__ADS_1


"Asal lo tau, Dev, gue yang-"


"Udah udah, Vin, jangan berantem ya ini kan di rumah sakit. Aku cuma mau menyampaikan amanat dari mama kamu," potong Jeany cepat-cepat karena takut Kevin yang telah terpancing emosinya akan membongkar rahasia mereka. Tidak boleh, apalagi di depan Devi yang selalu bermulut pedas padanya.


Kevin melihat Jeany dengan perasaan frustrasi. Pemuda itu ingin sekali mengatakan yang sebenarnya pada Stevi dan kedua sahabat gadis itu. Ia siap bila harus menerima hinaan karena memang dirinya yang menyebabkan semua kekacauan ini. Namun masalah ini melibatkan nama baik Jeany. Jika tidak, detik itu juga ia akan mengungkapkan kejadian yang sebenarnya, bahwa ia telah merenggut kesucian Jeany, agar tidak ada lagi yang menyalahkan gadis itu.


"Amanat apa?" tanya pemuda itu kemudian, pikirannya sementara teralihkan karena mendengar sang mama disebut.


Jeany berjalan mendekati Stevi. "Ini kue dari mama Kevin buat kamu, Stev. Katanya supaya kamu cepat sembuh," ucapnya menyodorkan kotak dengan logo toko kue ternama kepada Stevi, yang menerimanya dengan sedikit terkejut. Ia melihat ke arah Kevin.


"Mama kamu udah balik dari Hong Kong, Yang?" tanyanya, sengaja masih menggunakan panggilan sayang seakan tidak ada masalah apa pun pada hubungannya dengan Kevin.


"Udah."


"Wah bikin iri deh camer lo perhatian banget, Stev." Devi berkata sambil melirik Jeany.


Stevi tersenyum senang. "Iya padahal kami belum saling kenal."


"Kalo gitu besok lo harus memperkenalkan diri dong, gak sopan kalo lo gak balas kebaikan camer lo."


Stevi mengangguk dengan senyum malu-malu. Ada sedikit harapan yang timbul di hatinya untuk memiliki kesempatan bersama Kevin bila orang tua pemuda itu menyukainya. Ia bertekad untuk merebut hati orang tua Kevin, setidaknya dalam waktu beberapa hari yang masih tersisa.


"Gue permisi dulu ya." Jeany berpamitan tanpa berharap ada yang menjawabnya. Ia lalu berjalan ke pintu.


Sandra melihat Jeany dengan perasaan iba. Menurutnya gadis itu tidak jahat, hanya tidak bisa mengendalikan perasaannya saja. Jika Kevin pun membalas perasaan Jeany, mungkin memang sebaiknya Stevi yang harus mundur. Anggap saja ia belum berjodoh dengan Kevin.


Saat sedang memikirkan kisah cinta menyedihkan sahabatnya, pandangan Sandra jatuh pada tas yang sedang dipegang oleh Jeany. Matanya membelalak lebar melihat tas dengan merek favoritnya itu berada di tangan Jeany. Betapa tidak, ia pernah harus menabung berbulan-bulan agar dapat membeli tas dengan merek yang sama.


"Jean, tas lo itu keluaran baru kan? Wah gue boleh lihat? Lo beli di mana? Apa lagi ada sale? Tapi model baru masak udah di-sale?" tanyanya bertubi-tubi sambil mengagumi tas tersebut. Semua orang yang ada di situ jadi memperhatikan tas tersebut.


Jeany mendesah dalam hati untuk kesekian kalinya. Hal seperti ini yang paling ditakutkan olehnya. Ia tidak ingin dituduh sengaja mendekati Kevin demi mendapatkan barang-barang bermerek.


"Paling juga barang KW lah, San! Duit dari mana dia beli tas mahal begitu?"


"Engga loh, Dev, lo lihat kualitas kulitnya. Handle-nya kokoh, pola dan jahitannya juga rapi. Gue apal banget!"


"Tas ini sebenarnya dikasih-"


"Jangan-jangan lo nyolong itu tas ya? Kan kelakuan lo suka ambil milik orang lain."


"DEVI! Kalo lo gak bisa jaga mulut lo jangan salahin gue bertindak kasar!" Kevin sangat geram mendengar Devi memberi tuduhan keji pada Jeany.


"Jangan berani kasar ke sahabat aku demi selingkuhan kamu!!" Stevi balas membentak Kevin setelah dari tadi tidak bersuara. Pemuda itu memandang Stevi sambil menahan amarah. Ia tahu tak bisa menyalahkan gadis itu.


"Ayo, Jean, kita pergi aja dari sini!"

__ADS_1


Kevin menarik tangan Jeany untuk keluar dari ruangan itu. Ia tak ingin melihat Jeany terus-menerus disudutkan. Stevi akhirnya menangis keras, tidak dapat lagi menahan gejolak emosinya menyaksikan kekasihnya menggandeng perempuan lain di hadapannya. Langkah Kevin terhenti mendengar tangisan Stevi.


__ADS_2