Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)

Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)
Bayar Dulu Hutangmu


__ADS_3

Lo mau nonton film apa, Jean?" tanya Kevin setelah ia dan Jeany tiba di bioskop yang terletak di lantai empat mal yang mereka datangi.


"Terserah, gue ngikut aja."


"Kalo ini mau gak?" Kevin mencoba peruntungannya dengan menunjuk poster film favoritnya.


"Boleh! Sekuel yang ini cerita anaknya Han Solo kan?"


"Lo ngikutin film ini juga?!"


"Gak terlalu. Cuma dulu banget pernah nonton, tapi kayaknya bukan film sebelumnya ini."


Kevin langsung tersenyum. Ia senang karena Jeany tidak menolak film pilihannya, bahkan gadis itu sepertinya menyukai genre film yang akan mereka tonton. Setelah membeli tiket, mereka masih memiliki waktu sekitar satu jam sebelum film ditayangkan. Akhirnya mereka berjalan mengelilingi mal untuk menghabiskan waktu.


"Lo gak ada yang mau dibeli gitu, Jean?" tanya Kevin karena Jeany tidak mampir ke toko mana pun walau hanya sekadar melihat-lihat.


"Gak ada. Emang kenapa?"


"Maksud gue, kalo lo mau masuk lihat-lihat baju atau yang lain bilang aja. Gak perlu sungkan ama gue."


"Gue lagi gak butuh beli apa-apa," jawab Jeany singkat. Sebenarnya gadis itu sengaja tidak masuk ke toko mana pun, karena tahu hal tersebut hanya akan membuatnya merasa sedih bila nantinya tertarik pada suatu barang tetapi tidak dapat membelinya. Ia merasa sudah cukup beruntung ada yang bersedia membayarinya nonton film.


Hal itu membuat Kevin merasa Jeany sungguh berbeda. Biasanya perempuan sangat suka cuci mata dan belanja. Setidaknya semua perempuan yang ia kenal seperti itu. Kalau diperhatikan lagi, gadis itu juga tidak berdandan. Sangat berbeda dengan Stevi yang selalu tampil dengan riasan dan tatanan rambut yang membuatnya terlihat anggun berkelas.


Setelah berkeliling tanpa tujuan, mereka kembali ke bioskop. Di sana Kevin membeli popcorn dan minuman untuk dibawa ke dalam studio. Tidak lupa ia juga membelikan Jeany.


Di dalam studio tempat film diputar, mereka duduk bersebelahan. Jeany merasa jantungnya berdebar kencang, tetapi ia tidak paham apa penyebabnya. Apakah karena senang bisa nonton di bioskop setelah sekian lama? Atau karena ia duduk di sebelah Kevin?


Bagaimanapun, ini pertama kalinya ia pergi nonton berdua saja dengan seorang laki-laki. Apa kayak gini rasanya kencan? tanyanya pada diri sendiri.

__ADS_1


Sepanjang film ditayangkan, Jeany berusaha berkonsentrasi untuk memahami alur ceritanya. Namun tetap saja banyak bagian yang ia tidak mengerti. Yang ia tahu, ada sepasang laki-laki dan perempuan yang ia harapkan bersatu.


"Kylo Ren ama Rey cocok banget ya. Pengen banget mereka jadian," kata gadis itu setelah Kevin menanyakan pendapatnya mengenai film yang baru saja mereka tonton. Mereka kini telah keluar dari studio dan sedang berjalan menuju pintu keluar bioskop.


Kevin hanya menggelengkan kepala. Dasar cewek. Yang dilihat cinta-cintaannya doang, batin pemuda itu.


"Vin, mampir toilet dulu ya," pinta Jeany yang merasa ingin buang air kecil. Ia sudah menahannya sejak di dalam studio.


"Toilet di sini pasti antri banget. Di luar aja ya? Gue juga mau ke toilet."


Mereka pun berjalan menuju toilet di luar bioskop yang letaknya agak tersembunyi. Benar kata Kevin, toilet di sana sangat sepi. Di dalam toilet wanita hanya ada satu orang selain Jeany. Mungkin karena toilet tersebut terletak di dekat toko elektronik yang sepi pengunjung.


Jeany keluar toilet dan melihat Kevin sudah berdiri menunggu di pagar pembatas lantai empat, dengan posisi sedang memunggunginya. Untuk urusan ke kamar kecil, laki-laki memang selalu lebih cepat selesai daripada perempuan. Gadis itu berjalan hendak menghampiri Kevin. Baru berjalan beberapa langkah, ia berpapasan dengan Rika yang sedang berjalan menuju toilet.


Rika menunjukkan raut wajah sama terkejutnya dengan Jeany. Ia memandangi Jeany penuh penilaian. "Bisa-bisanya lo ke mall dengan penampilan begitu?" katanya sambil tersenyum mengejek.


"Lo budeg hah?!" Nada bicara Rika meninggi, kesal karena tidak dianggap. Tangannya mencengkeram lengan Jeany agar gadis itu tidak pergi.


"Lepasin, Rik. Aku lagi gak mau ribut," ucap Jeany berusaha sabar.


"Mau gue lepasin? Bayar dulu hutang lo!"


"Ada apa ini?" Tiba-tiba Kevin sudah berdiri di dekat mereka. Ia awalnya hanya ingin melihat apakah Jeany sudah keluar dari toilet, tetapi justru melihat gadis itu seperti sedang bertengkar dengan seseorang.


Rika menoleh dan kembali terkejut. "Oohhh jadi kalian masih sama-sama? Bagus deh! Cowok lo kayaknya tajir, dia pasti bisa lunasin hutang lo," katanya sambil memperhatikan Kevin dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ia yakin Kevin orang kaya karena semua barang yang melekat pada tubuhnya adalah barang bermerek kelas atas.


"Dia bukan pacarku, Rik. Hutangku ke kamu pasti aku bayar, tapi tunggu aku dapat kerja."


Jeany berusaha tetap tenang. Dalam hati ia malu sekali karena Kevin mengetahui ia memiliki hutang yang belum bisa dilunasinya. Padahal ketika itu Rikalah yang memaksa untuk meminjaminya uang.

__ADS_1


"Tidur bareng dan jalan bareng ke mall. Kalo bukan pacar lalu apa? Selingkuhan?"


"Jaga mulut kamu! Kami gak seperti itu!" Jeany langsung membentak Rika. Wajahnya memerah karena aliran darah yang naik dengan cepat ke kepala. Kata-kata Rika sudah sangat keterlaluan baginya, juga memalukan.


"Berapa hutang Jeany? Biar gue lunasin," sahut Kevin tiba-tiba. Ia merasa Rika sedikit tidak waras setelah melihat kata-kata dan tindakan gadis itu. Lebih cepat menjauh darinya lebih baik, pikir Kevin.


"Tapi, Vin-" Jeany ingin mencegah Kevin membantu melunasi hutangnya. Sudah sering Kevin mengeluarkan uang untuknya. Ia merasa tidak enak pada pemuda itu.


"Sudah gapapa." Kevin berkata dengan nada tegas, membuat Jeany tidak membantahnya lagi.


"Nah gitu dong! Beruntung banget sih lo, Jean dapat cowok begini. Udah cakep, tajir lagi!" Rika berkata sambil tersenyum menggoda Kevin. Ia mengulurkan tangannya hendak menyentuh pipi pemuda itu.


Kevin yang merasa risih segera menepis tangan Rika sebelum sempat menyentuh wajahnya. "Buruan kasitau berapa jumlahnya dan nomor rekening lo. Kami masih ada urusan."


Sambil tersenyum manis, Rika menyebut jumlah hutang Jeany. Kevin langsung membuka aplikasi perbankan yang ada pada ponselnya dan masuk ke menu transfer. Ia merasa lega setelah melunasi hutang Jeany. Ditariknya gadis itu meninggalkan area toilet, berharap setelah itu Jeany tidak perlu berurusan lagi dengan Rika.


"Jadi dia yang waktu itu menjebak lo? Dia kayak ada sakit jiwa gitu gak, Jean?" Kevin meminta pendapat Jeany setelah mereka berjalan cukup jauh.


"Entahlah, Vin, tapi dia dulu gak begitu." Jeany menjawab dengan suara lirih. Pikirannya masih kacau karena pertemuannya dengan Rika tadi. Kata-kata Rika terus terngiang di benaknya.


Melihat Jeany terlihat khawatir, Kevin berusaha menenangkannya. "Semoga setelah ini dia gak ganggu lo lagi ya. Kalo ada apa-apa bilang gue."


Jeany mengangguk pelan. "Makasih udah lunasin hutang gue, Vin. Gue usahain secepatnya ganti."


"Oke. Santai aja."


Kevin kini menyadari satu hal. Jeany sangat kesulitan keuangan. Mungkin itu sebabnya dulu gadis itu bekerja di kelab malam. Ia menghela napas dengan perasaan iba. Dua juta saja begitu sulit bagi Jeany melunasinya. Sedangkan baru kemarin ia dengan mudahnya mengeluarkan uang dua juta rupiah untuk biaya satu kali makan di restoran Korea dengan Stevi dan sahabat-sahabat kekasihnya itu.


Sementara itu, di sebuah salon kecantikan, Stevi memasang wajah muram setelah membaca pesan Whatsapp pada ponselnya.

__ADS_1


__ADS_2