Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)

Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)
Semakin Tidak Suka


__ADS_3

Jeany membuka pintu ruang rawat inap Kevin setelah terlebih dahulu mengetuknya. Begitu masuk ia langsung bertatapan dengan Stevi yang terlihat kaget dengan kehadirannya. Kedua gadis itu saling melihat untuk beberapa saat, dengan berbagai perasaan yang berkecamuk di batin masing-masing.


"Kevin lagi tidur," ucap Stevi datar, tanpa melarang maupun mempersilakan lawan bicaranya untuk mendekat.


Merasa tidak mendapat penolakan dari Stevi, Jeany berjalan maju dengan pandangan terkunci pada wajah Kevin. Wajah itu terlihat pucat, tetapi Jeany sangat bersyukur laki-laki yang dicintainya dalam keadaan baik-baik saja. Sebab jika kondisi Kevin parah, tentu pemuda itu kini sudah terbaring di ruang ICU.


Setelah Jeany berada tepat di samping Kevin, barulah ia dapat melihat jelas lebam berwarna kebiruan di sisi kanan wajah pemuda itu. Hati Jeany terasa sakit membayangkan bagaimana laki-laki yang dicintainya mendapat luka tersebut. Ia mengulurkan tangannya untuk meraba pipi Kevin.


Tiba-tiba Jeany merasa tangannya yang hampir menyentuh Kevin ditarik dengan keras hingga tubuhnya ikut berbalik arah. Gadis itu terkesiap melihat orang yang sedang mencekal pergelangan tangannya.


"Tante?" Jeany begitu takut hingga suara yang keluar dari mulutnya hanya berupa sebuah bisikan.


Henny melihat Jeany dengan garang. Mama Kevin itu lalu berjalan ke pintu keluar tanpa melepas pegangannya pada tangan Jeany. Mau tidak mau gadis itu jadi terseret keluar.


"Stevi, kalau Kevin bangun tolong bilang saya belum datang," pesan Henny sebelum keluar dan menutup pintu.


Stevi tidak sempat menjawab, tetapi ia tahu maksud dari ucapan Henny tersebut. Gadis itu juga sama takutnya dengan Jeany melihat sikap mama Kevin yang berubah seratus delapan puluh derajat. Perlahan gadis itu membuka pintu dan mengintip dari sedikit celah yang ada.


"Kamu memang tidak tahu malu! Sudah dilarang tapi masih datang!" Terdengar suara Henny memarahi Jeany.


"Tante, ijinkan saya melihat Kevin sebentar ...."


"Tadi sudah lihat kan? Sekarang ayo pulang dan kemasi barang-barang kamu!" Henny menarik paksa Jeany yang terlihat sudah terisak.


Stevi menutup mulutnya dengan telapak tangan, terkejut dengan apa yang baru saja dilihatnya. Ia cepat-cepat mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang.


"Halo, Ran? Kayaknya gue udah salah ngomong."


***


Henny memaksa Jeany ikut pulang dengannya. Sepanjang perjalanan, mama Kevin itu mendiamkan Jeany. Gadis itu duduk di samping Agus yang sedang menjalankan tugas mengantar majikannya kembali ke rumah. Karena tidak tahan lagi didiamkan, Jeany memberanikan diri menoleh ke belakang.


"Tante, saya-"


"Diam kamu! Apa kamu mau saya marahi di depan Agus?" Henny tidak memberi kesempatan pada gadis itu untuk berbicara.


Sesampainya di rumah, Henny memerintahkan Jeany untuk mengemasi barang-barangnya.


"Tante, saya mohon jangan begini ... Saya masih mau kerja di sini ...," pinta Jeany memelas.


"Kalau kamu tidak mau biar Iis saja yang membereskan!"


Mama Kevin itu lantas berteriak memanggil asisten rumah tangganya. Iis datang dengan tergopoh-gopoh setelah mendengar majikannya memanggil, merasa heran karena tidak biasanya nyonya rumahnya itu marah-marah.


"Iis, kamu bereskan barang-barang Jeany yang ada di kamar. Jangan sampai ada yang ketinggalan!"


Iis memandang ke arah Jeany. Ia bertanya-tanya kesalahan apa yang diperbuat oleh pengasuh bayi yang bahkan belum genap satu bulan bekerja di rumah itu hingga disuruh pergi dengan tidak hormat.


"Kenapa belum naik? Ayo cepat kerjakan!" bentak Henny karena asisten rumah tangganya tidak segera melaksanakan perintah darinya.

__ADS_1


"Ba-baik, Nyonya."


Iis segera menaiki tangga menuju lantai dua. Sambil melangkah, ia memasang telinganya baik-baik agar dapat mendengar pembicaraan di ruangan tempat majikannya dan Jeany berada. Upayanya tidak sia-dia. Ia dapat mendengar majikannya itu memarahi Jeany walau tidak terlalu jelas.


"Seharusnya dari awal saya tidak membiarkan kamu kerja di sini dan menggoda anak saya!"


"Saya tidak pernah menggoda Kevin ...."


"Lalu bagaimana ceritanya anak saya yang sudah punya pacar bisa selingkuh sama kamu?"


"Kami cuma saling mencintai ...."


"Saling mencintai? Perempuan murahan seperti kamu tidak pantas bicara soal cinta!"


Jeany menggigit bibirnya menahan tangis. Sakit rasanya mendengar dirinya disebut perempuan murahan oleh ibu dari laki-laki yang dicintainya.


"Saya bukan perempuan murahan, Tante ...."


"Perempuan baik-baik tidak akan kerja di tempat hiburan malam! Juga tidak akan mendekati pacar orang lain! Atau jangan-jangan yang kamu incar sebenarnya suami saya ya?!"


Pengalaman buruknya dengan kelab malam dan wanita penghibur membuat Henny jadi gelap mata menuduh Jeany. Gadis itu kaget karena Henny mengetahui riwayat pekerjaannya. Ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat.


"Demi Tuhan saya tidak seperti itu .... Saya cuma waitress di sana ...."


"Tidak usah munafik! Saya tahu betul perempuan seperti kamu! Apa kamu juga mau bilang kalau kamu masih suci?"


DEG!


Henny tersenyum sinis. "Tebakan saya benar kan? Perempuan yang tidak bisa menjaga kesuciannya hingga hari pernikahannya bagi saya bukan perempuan baik-baik dan tidak pantas menjadi menantu saya!"


"Apa salah perempuan itu juga kalau dia kehilangan kesuciannya karena diperkosa?"


"Kalau dia diperkosa karena bekerja di tempat hiburan malam berarti itu salah dia sendiri! Masih banyak tempat lain yang lebih baik untuk mencari uang! Saya tahu betul perempuan seperti kamu hanya mau cari jalan pintas untuk dapat banyak uang!"


Tiba-tiba Jeany merasa pening. Ia tidak tahu lagi yang mana yang benar dan mana yang salah. Ucapan Henny dirasanya masuk akal. Ia sendiri yang memutuskan bekerja di kelab malam. Seandainya Kevin tidak menolongnya malam itu, ia pasti telah dinodai oleh pria lain. Seandainya bukan Kevin yang merenggut kesuciannya, maka pria lain itu yang akan melakukannya. Seandainya ia tidak mengiakan ajakan Rika untuk bekerja di kelab malam .... Ia memang gadis bodoh yang tidak bisa menjaga kehormatannya sendiri!


Pemikiran baru itu menyentak kesadaran Jeany dan menghancurkan titik pertahanan gadis itu. Sedikit kepercayaan dirinya yang masih tersisa seketika runtuh, tergantikan oleh rasa jijik pada dirinya sendiri. Air matanya lolos begitu saja tanpa dapat ditahannya.


Iis berjalan turun membawa tas berisi barang-barang Jeany diikuti oleh Winda. Kakak ipar Kevin itu ingin meminta penjelasan pada mertuanya.


"Ma, kenapa barang-barang Jeany diberesin semua?"


"Mulai hari ini dia mama pecat. Kamu juga mulai besok berhenti kerja saja. Kalau harus bayar penalti ke kantor kamu bayar saja! Toh keluarga kita gak kekurangan uang!"


"Tapi, Ma, salah Jeany apa? Bukankah selama ini pekerjaan Jeany sangat memuaskan?" Winda yang memang menyukai Jeany langsung membela gadis itu.


"Kamu membantah mama? Apa kamu mau anak kamu diasuh oleh orang tidak bermoral?"


"Maksud Mama?"

__ADS_1


Jeany langsung menghentikan perdebatan mertua dan menantu tersebut sebelum kembali mendengar kata-kata menyakitkan dari mama Kevin.


"Sudahlah, Kak Winda biar saya keluar saja. Terima kasih Kak Winda selama ini sudah baik sama saya."


"Iya, Jean, kamu hati-hati ya," jawab Winda merasa kasihan pada Jeany.


Henny melirik tas milik Jeany yang dipegang oleh asisten rumah tangganya. "Iis, kamu antar dia ke depan. Pastikan sampai dia sudah benar-benar pergi dari rumah ini."


"Baik, Nyonya."


Iis berjalan dengan Jeany menuju gerbang pagar. Ia melirik gadis di sebelahnya dengan wajah tak suka. "Makanya to jadi orang jangan sombong. Mentang-mentang temennya Den Kevin jadi gak mau nyapa orang, cuci piring ya ndak mau! Sukurin diusir Nyonya!"


Jeany menoleh untuk memastikan pendengarannya tidak salah. Iis memang sedang berbicara dengannya, mencibir dirinya.


Ya Tuhan cobaan apa lagi ini ....


Jeany mengeluh dalam hati. Orang lain memang sering salah paham padanya, mengira ia sombong padahal sebenarnya karena ia terlalu takut dan terlalu malu untuk terlebih dahulu menyapa. Orang yang tidak memiliki masalah dalam bergaul tidak akan memahami hal tersebut, karenanya selama ini ia membiarkan saja orang lain berpikir semau mereka.


"Saya bukan sombong, Mbak. Saya minder."


Gadis itu keluar dari gerbang pagar. Ia tidak perlu lagi memikirkan cara untuk kembali ke kosnya, karena Randy telah menunggunya di depan pagar, siap mengantar ke mana pun tujuan yang dikehendakinya.


Iis kembali masuk ke dalam rumah untuk melapor pada majikannya. Ia mengingat kata-kata terakhir Jeany. Bukannya sombong malah minder? pikirnya bingung.


"Sudah pergi? Naik apa dia?" tanya Henny setelah Iis berdiri di hadapannya.


"Sudah, Nyonya. Tadi dijemput sama temennya Den Kevin."


Henny mengernyit. "Temannya Kevin?"


"Iya yang dulu sering main ke sini sebelum Den Kevin pindah ke apartemen. Kata Mas Darto orangnya sering ajak Non Jeany keluar."


Henny menyipitkan matanya, semakin tidak menyukai Jeany.


***


Di teras rumah kos Jeany, Randy berusaha menghibur gadis itu. Sejak masuk mobil, gadis itu diam seribu bahasa. Pandangannya pun kosong.


"Jean, kalo mo nangis, nangis aja biar lega. Atau lo mau pergi ke suatu tempat? Gue siap antar ke mana pun lo mau."


"Gue mau pergi dari dunia, Ran." Jeany menjawab tanpa memandang Randy.


"Jangan dong .... Ntar gue cari ke mana kalo kangen sama lo?"


Gadis itu kembali diam. Melihat itu, Randy menghela napasnya. "Hufff .... Gue sebenarnya males banget ngomong begini, cuma bikin untung saingan gue aja."


Jeany lagi-lagi tidak merespons.


"Jean, Kevin itu serius sama lo. Dia putusin si Stevi, dia minta gue gak deketin lo lagi. Semua itu dia lakuin karena cinta sama lo. Jadi lo jangan putus asa ya?"

__ADS_1


Jeany menelungkupkan kepalanya di atas meja. Walau tidak dapat melihat wajah Jeany, Randy tahu gadis itu sedang menangis. Hatinya ikut sakit manakala gadis itu tidak lagi menyembunyikan isakannya. Pemuda itu membiarkan Jeany menangis sepuasnya. Ia mengusap-usap lembut kepala Jeany untuk waktu yang cukup lama.


Tolong bantu like dan komen ya, Teman-teman 🙏


__ADS_2