Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)

Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)
DB 21 - Tidak Bisa Diajak Bicara Baik-Baik


__ADS_3

Vivian mengabaikan nasihat yang disampaikan dengan nada penuh cela itu. Ia malah bangkit dari kursinya. "Kalau sudah tidak ada yang mau dibicarakan, saya dan David permisi dulu. Ayo, Vid!" Tanpa menunggu reaksi orang tua Revan, ia mengajak adiknya meninggalkan ruangan sang ayah mertua.


Di luar, Johanna yang semula duduk, langsung berdiri dan menyapanya. "Bu Vivian sudah mau pergi?"


Karena Johanna terlihat heran, Vivian tersenyum untuk menunjukkan tidak ada suatu masalah apa pun. "Iya saya harus balik ke kantor."


"Kalau begitu mari saya antar, Bu." Dengan sigap, Johanna mengantar Vivian dan adiknya hingga ke lobi kantor.


"Terima kasih ya, Jo. Sampai ketemu lagi lain waktu," ujar Vivian sekadar berbasa-basi. Ia berharap dirinya tidak perlu menginjakkan kaki lagi di kantor Revan.


"Sama-sama, Bu. Saya senang bisa ketemu sama istrinya Pak Revan." Johanna tersenyum penuh hormat pada Vivian.


Vivian yang merasa canggung hanya membalas dengan senyum kecil. Setelah beberapa langkah keluar dari gedung kantor, ia memelototi adiknya. "Mulut kamu udah kayak petasan aja, nyerocos terus. Nggak bisa apa lihat situasi?"


"Kakak ini, dibelain kok malah marah. Aku nggak rela Kakak dihina terus sama orang tuanya Kak Revan," jawab David sama emosinya dengan sang Kakak.


Mengingat mereka masih berada di area kantor Revan, Vivian menahan omelannya. "Kamu habis ini ada kuliah? Kalo enggak, temenin Kakak makan siang dulu."

__ADS_1


David meringis. "Tau aja kalo adiknya laper."


"Jangan seneng dulu. Kakak belum puas ngomelin kamu."


"Duh." Wajah David tampak pasrah. "Ya udah mau makan di mana? Ntar ketemuan di sana."


"Di Raja Burger aja deh biar cepet."


Vivian mengajak adiknya makan di restoran cepat saji tidak jauh dari kantor Revan. Mereka berangkat terpisah karena David mengendarai sepeda motor yang sebelumnya terparkir di halaman kantor Revan.


Tidak sampai lima menit kemudian mereka telah duduk di Raja Burger. Vivian memilih burger daging sapi dengan campuran sayuran, sedangkan David memilih burger dengan banyak campuran keju. Di sela-sela makan, Vivian menginterogasi adiknya.


David tampak enggan membuka mulutnya, tapi akhirnya ia bercerita juga. "Mama yang nelpon Kak Revan. Katanya nggak apa-apa minta tolong sama kakak ipar sendiri. Kak Revan juga nyuruh aku datang aja."


"Mama memang nggak pernah ngerti. Revan juga keterlaluan, nggak diskusi dulu sama Kakak!" Rasa geram membuat Vivian mengunyah burgernya dengan cepat.


David menatap iba kakaknya. "Tapi mertua Kakak juga keterlaluan. Kalau bukan karena Kak Revan orangnya baik, aku pasti udah maksa Kakak cerai sama dia. Aku nggak mau Kakak diinjak-injak terus sama keluarga Kak Revan."

__ADS_1


Mendengar kepedulian sang adik padanya, sorot mata Vivian melembut. "Sekarang kamu ngerti, 'kan, kenapa Kakak melarang kamu penelitian skripsi di perusahaan Revan?"


"Sorry," kata David menyesal. "Aku cuma pengen cepet lulus supaya nggak nyusahin Kakak lagi. Nggak nyangka bakal kayak gini."


"Emang Kakak pernah bilang kamu nyusahin Kakak?"


"Nggak sih, aku cuma ngerasa sendiri."


"Ge-er sih kamu."


David meringis lagi. Vivian menatap serius adik semata wayangnya itu. "Vid, kita harus buktiin kalau keluarga kita nggak bergantung sama Revan."


"Apa bisa? Kayaknya mertua Kakak udah mikir jelek banget tentang keluarga kita."


Vivian langsung teringat sesuatu. "Kamu tahu nggak Papa Mama dapat uang dari mana buat renovasi rumah?"


"Dari Kak Revan." Jawaban itu diberikan David sambil menghela napas. Sepertinya ia tahu sang kakak akan segera mengamuk.

__ADS_1


Benar dugaan pemuda itu. Sorot mata Vivian langsung mengeras. "Mama udah nggak bisa diajak ngomong baik-baik lagi."


Teman-teman, aku gak minta vote. Cuma minta tolong tinggalkan jejak di kolom komentar supaya aku makin semangat nulis. 🙇‍♀️🙇‍♀️🙇‍♀️


__ADS_2