
"Gue minta lo gak deketin Jeany lagi," ucap Kevin tanpa basa-basi begitu mendudukkan diri di sofa ruang tamu rumah Randy.
Sahabat yang diajaknya bicara itu mengangkat alis mendengar permintaan Kevin yang terkesan seenaknya.
"Ck, lo ke rumah gue malam-malam buat ngomongin ini?"
"Ya."
Randy tidak segera menjawab. Ia sedang memainkan gelas kaca berisi anggur merah yang baru sedikit dinikmatinya, sebelum terganggu oleh Kevin yang datang tanpa diundang. Tiba-tiba ia melihat Kevin dengan sorot mata tajam. "Gue gak mau," ucapnya tegas.
Kevin berusaha menahan emosi yang dirasakannya siap meledak sewaktu-waktu. Ia sudah menduga sahabatnya itu tidak akan langsung menyetujui permintaannya. "Gue tahu lo gak serius ama dia," tekannya.
Salah satu sudut bibir Randy terangkat ke atas memperlihatkan senyuman sinis. "Lo salah. Gue serius."
"Cowok yang suka gonta-ganti cewek demi kepuasan kayak lo bisa serius?"
Randy meletakkan gelas anggur yang dipegangnya. Ia menuding Kevin dengan jari telunjuknya. "Lo pikir seorang pemerkosa kayak lo lebih baik dari gue?"
"A-apa?" Kevin terperanjat mendengar tuduhan yang seumur-umur tidak pernah dibayangkannya akan dialamatkan padanya.
"Lo bahkan lebih parah dari gue. Kena alkohol dikit langsung jadi hewan liar!" timpal Randy lagi.
"Gue bukan pemerkosa!" sangkal Kevin.
"Lo nidurin seorang cewek dalam keadaan dia gak berdaya, apa namanya kalo bukan pemerkosa?"
"Waktu itu gue dalam pengaruh obat!"
"Hahaha .... Kevin Kevin .... Lo terlalu polos ato gimana sih? Gak ada yang kasih lo obat! Yang lo minum waktu itu tuh cocktail, alkohol!"
"Alkohol?" Kevin tampak tak percaya.
"Kaget? Sengaja gue pilihin yang rasanya manis dan seger. Bahkan lo itu gak mabuk, baru tipsy. Tapi lo jadi lebih berani sampe-sampe gak bisa nahan diri. Gue yakin lo pasti masih ingat saat-saat lo mencicipi tubuh Jeany ...."
"TUTUP MULUT LO!!"
Randy tidak menghiraukan bentakan Kevin. Ia terus mengoceh. "Gue biar bejat begini gak pernah nidurin seorang perawan. Tapi lo-"
"DIAM!!"
Kevin mencengkeram kaos bagian depan Randy. Ia benar-benar murka saat ini. Murka pada diri sendiri yang dilampiaskannya pada Randy. "Lo tahu dari mana masalah gue ama Jeany? Siapa yang kasih tahu lo?!"
Randy memberi senyuman mengejek. "Makanya kalo gak mau ada yang tahu jangan ninggalin bekas! Lo gak sadar leher Jeany penuh bekas c*pangan lo!"
Merasa terpukul, Kevin melepas cengkeramannya pada kaos Randy. Ia memang sempat melihat tanda kemerahan itu. Hanya sekilas karena Jeany menutupinya dengan baik sehingga ia merasa tidak perlu mencemaskannya. Namun bagaimana Randy bisa tahu? "Kapan lo perhatiin leher Jeany?" tanyanya curiga.
Lagi-lagi Randy memberinya seringai mengejek. "Waktu gue satu lift ama dia. Gue sengaja bikin dia tersandung biar gue ada kesempatan untuk peluk dia dan perhatiin lehernya."
"BRENGSEK LO!!"
Sebelum Kevin mengayunkan tinjunya, dengan telapak tangannya Randy memberinya isyarat untuk berhenti.
__ADS_1
"Ckck lo kok sekarang jadi emosian gini? Kayaknya sebutan brengsek itu lebih cocok buat diri lo sendiri deh. Lo gak tahu gimana selama ini Jeany mati-matian menjaga dirinya di club? Dia gak pernah tergoda dengan banyaknya duit yang ditawarkan para hidung belang itu. Tiba-tiba aja dalam satu malam seorang Kevin Wijaya merenggut harta yang susah payah dia jaga!"
Kata-kata Randy membuat Kevin terdiam. Selama ini ia merasa dirinya adalah korban. Bahkan awalnya ia berpikir hanya akan menikahi Jeany bila gadis itu sampai mengandung karena perbuatannya. Namun ternyata ialah penjahat sesungguhnya, tidak ada bedanya dengan laki-laki paruh baya yang hendak melecehkan Jeany saat itu. Dengan napas berat ia menatap sahabatnya.
"Thanks udah kasih tahu gue. Sekarang gue makin gak bisa melepas dia."
"Oh? Trus gimana dengan cewek lo?"
"Gue bakal putusin dia."
"Hahaha .... Lo emang suka permainin perasaan cewek ya. Dulu lo yang kejar-kejar Stevi, sekarang lo mau putusin dia? Secepat itu perasaan lo berubah?"
"Terserah lo mau bilang apa. Gue emang udah sayang ama Jeany."
"Hahaha! Gue gak bisa bayangin seandainya sampai detik ini lo masih cinta ama Stevi, bakal malang bener nasib Jeany!"
"Iya gue emang berengsek." Kevin berkata pelan mengakui keburukan dirinya.
Randy mengamati sahabatnya sebelum memberi kalimat pamungkas. "Camkan baik-baik. Selama lo belum bisa kasih Jeany status, gue gak akan menyerah untuk menjadikan dia cewek gue."
"Lo gak perlu repot-repot. Besok gue bakal putusin Stevi dan membuat Jeany punya status sebagai pacar gue," ucap Kevin sebelum meninggalkan rumah sahabatnya itu.
Setelah Kevin pergi, Randy menyesap anggurnya sedikit demi sedikit, menikmati rasa khas kesukaannya yang membuat minuman tersebut selalu tersedia di rumahnya.
Mau putus dari Stevi? Lo kira gampang ....
Sambil tersenyum puas Randy meneguk kembali minumannya.
Keesokan harinya, Kevin mengunjungi rumah Stevi dengan niat untuk menyudahi hubungan mereka. Stevi yang tidak tahu tujuan Kevin yang sebenarnya, merasa senang ketika pemuda itu memberi kabar akan datang. Gadis itu langsung menyiapkan bahan-bahan untuk memasakkan sang kekasih makan siang.
Kevin sebenarnya berniat datang pagi. Namun rencana tersebut berubah karena lagi-lagi ia merasa mual, bahkan sempat dua kali muntah. Ia berpikir dirinya sedang masuk angin karena malam hari sebelumnya ia tidak makan. Niatnya tadi malam ingin mengajak Jeany makan bersama, tetapi yang dilihatnya justru gadis itu sedang duduk berduaan dengan sahabatnya sendiri. Kevin menghela napas kesal mengingat kejadian tadi malam.
Menjelang siang setelah tak lagi mual, pemuda itu berangkat ke rumah Stevi. Sepanjang perjalanan ia terus memberi sugesti pada dirinya agar dapat tega melakukan hal yang ia tahu akan menyakiti gadis itu. Bagaimanapun ia pernah memiliki perasaan pada Stevi. Ia ingin mereka putus secara baik-baik agar tidak menyisakan penyesalan di antara mereka.
"Yang, aku kangen!" Belum apa-apa Stevi sudah melompat memeluknya. Kevin melepaskan pelukan itu dengan canggung.
"Mama kamu ada di rumah?"
"Lagi keluar. Tiap hari keluar gak tahu ngurus apaan!"
"Sabar ya mungkin mau urus rumah kontrakan."
"Gak usah ngomongin rumah kontrakan, bikin mood aku jadi jelek. Makan yuk? Aku udah bikinin ayam goreng tepung!" ucap gadis itu bersemangat.
"Eh iya ...."
Kevin menggaruk kepalanya. Sepertinya agak susah menemukan momen yang tepat untuk mengutarakan niatnya. Namun terlebih dahulu ia harus menghargai Stevi yang sudah bersusah payah memasak untuknya.
Habis makan baru ngomong deh, putusnya dalam hati.
Stevi mengambilkan semua yang dibutuhkan kekasihnya untuk makan.
__ADS_1
"Kamu gak makan?" tanya Kevin karena dilihatnya Stevi tidak mengambil piring untuk dirinya sendiri.
Stevi menggeleng sambil tersenyum. "Tadi aku udah makan."
Rupanya makan siang itu menjadi ujian tersendiri bagi Kevin. Ayam goreng tepung buatan Stevi ternyata belum seutuhnya matang, masih ada sedikit warna kemerahan darah pada dagingnya.
"Hoek!"
Kevin kembali merasakan mual, karena jijik dengan daging ayam yang telah sempat masuk ke dalam mulutnya.
"Yang, kamu sakit?" tanya Stevi yang tidak tahu penyebab mualnya Kevin.
"I-iya. Aku gak lanjut makan ya? Masih mual ...." kata Kevin sambil cepat-cepat meneguk air.
"Ya ampun kalo belum sehat kenapa maksa ke sini?"
"A-ada yang mau aku omongin sama kamu."
"Aku juga mau tunjukin sesuatu ke kamu. Yuk ke kamar aku! Sekalian baringan aja di sana biar enakan."
"Gak usah aku di ruang tamu aja."
"Kenapa sih? Kemarin kan kamu juga di kamar aku terus."
"Kemarin kan aku bantuin kamu packing barang ...."
"Ya udah kamu baringan aja di kamar, sambil aku packing. Masih banyak barang aku yang belum masuk kardus."
Kevin berpikir sejenak. Mungkin dengan membantu Stevi mengurus kepindahannya hingga selesai, ia tidak akan terlalu terbeban dengan rasa bersalah bila meminta putus dari gadis itu. "Aku bantuin deh," pungkasnya.
Setelah di kamar Stevi, gadis itu mengeluarkan sepasang baju batik dari dalam lemari dan menunjukkannya pada Kevin.
"Yang cobain deh! Aku udah nyiapin baju couple buat kita reuni nanti. Bagus kan?!"
Kevin melihat sepasang baju batik yang terlihat mewah itu. Ia mengernyitkan keningnya.
"Ini kan mahal, Stev? Kamu dapat duit dari mana?"
"Minta kakak aku beliin. Buruan cobain! Duh gak sabar deh reunian sama temen-temen SMA. Pasti mereka kaget lihat kita pacaran!" Wajah Stevi berbinar ceria saat berbicara dengan sang kekasih.
Kevin menarik napas dalam-dalam sebelum menghembuskannya. Sekarang atau engga sama sekali, tekadnya.
"Stev, aku minta maaf. Aku gak bisa pergi ke reuni sama kamu."
"Loh kenapa, Yang?" tanya Stevi bingung.
"Aku ... aku minta maaf banget. Tapi aku gak bisa melanjutkan hubungan kita."
Baju batik yang sedang dipegang oleh Stevi terjatuh dari tangan gadis itu.
"A-apa maksud kamu, Yang? Kamu gak bisa lanjutin hubungan kita?"
__ADS_1
"Kita putus, Stev."