Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)

Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)
Perasaan Tidak Enak


__ADS_3

Tangisan Stevi terdengar memilukan, seolah seluruh kesedihannya ia tumpahkan bersamaan dengan air mata yang membanjiri wajahnya. Gadis itu tak mengerti mengapa kekasih yang dulu mengejar-ngejar cintanya dan membuatnya merasakan cinta yang sama kini dengan mudahnya berpaling pada perempuan lain.


Kevin menghentikan langkahnya sejenak, merasa sangat bimbang. Pemuda itu tidak tega mendengar Stevi menangis seperti itu dan mengetahui ialah penyebab kesedihan gadis itu. Ia mengepalkan tangannya yang satu untuk menguatkan tekad, sedangkan tangan yang lain masih menggenggam erat jemari Jeany. Kevin meneruskan langkahnya dan menarik Jeany keluar dari ruangan tempat Stevi dirawat.


"Kamu mau balik?" tanya Jeany yang menangkap kegalauan Kevin.


Pemuda itu menggeleng. "Engga. Devi udah keterlaluan sama kamu."


Mereka terus berjalan menyusuri lorong rumah sakit sambil bergandengan tangan. Ketika melewati toilet, Jeany meminta berhenti sebentar untuk buang air kecil. Kevin berdiri menunggu di dekat pintu toilet. Ia tak sengaja melihat laki-laki dan perempuan sedang berdebat. Walau jarak mereka terpisah beberapa meter, Kevin masih dapat menangkap pembicaraan mereka.


"Sampai kapan kita harus menanggung hutang orang tuamu, Pi? Kamu tahu minggu depan kita harus bayar uang gedung sekolah Eric!"


"Iya aku tahu, Mi. Ini yang terakhir, tolong mengerti kondisi keluargaku."


"Bukan aku pelit sama keluargamu. Tapi kita masih punya cicilan rumah dan mobil yang harus dibayar tiap bulan. Kalau terus-terusan bantu keluargamu bisa-bisa keluarga kita yang kolaps!"


"Kali ini saja. Siapa yang sangka adik aku bakal masuk rumah sakit, kasihan mama makin banyak pikiran."


"Huff adik kamu pakai minum obat tidur segala! Aku heran sama orang tuamu. Coba dari dulu gak gengsi dan mau cepat menjual rumahnya, gak akan habis bis kayak gini!"


"Adik aku lagi stres berat, jangan kamu persalahkan lagi. Yang harus kita lakukan adalah sebisa mungkin memberi dia pengertian."


"Ya harus dari dianya dong yang mau berubah. Dia harus sadar orang hidup itu ya seperti ini, gak semua harus sesuai harapannya."


"Iya tapi kamu juga harus sadar gak semua orang itu sama. Adik aku butuh waktu untuk menerima keadaan, apalagi dia memang terbiasa dimanja sejak kecil."


"Bela aja terus adik kamu!"


"Sudah gak usah marah lagi, kita ke sini mau besuk adik aku kan. Nanti di depan dia jangan bicara macam-macam ya."


"Iya iya tahu. Adik kamu udah kayak tuan putri, kamar aja harus VIP ...."


"Sonia!"


"Iya iya ...."


Sambil menggerutu wanitu itu berjalan mengekor di belakang suaminya. Tanpa perlu bertanya Kevin sudah tahu siapa sepasang suami-istri yang baru saja dijumpainya. Ia menepuk keningnya karena baru mengingat janjinya pada mama Stevi, yang tadi sempat dilupakannya karena terbawa emosi.


Jeany keluar dari toilet dan mendapati Kevin sedang berdiri menunggunya dengan wajah yang menampakkan kegelisahan. Gadis itu menyentuh bahu Kevin untuk memberitahukan kehadirannya.


"Kamu masih mikir kejadian tadi?"


Kevin melihat Jeany dengan sorot mata yang menunjukkan perasaan bersalah. "Jean, kayaknya aku harus balik ke tempat Stevi. Aku lupa tadi udah janji sama mamanya untuk antar dia pulang ke rumah kontrakan mereka."


Jeany menghela napasnya. "Ya udah tapi kamu hati-hati ya. Kasih kabar dan jangan pulang terlalu malam."


Entah kenapa perasaan Jeany jadi tidak enak sehingga ia mengucapkan kalimat tersebut.

__ADS_1


Kevin memegang pipi Jeany dengan lembut dan penuh rasa sayang. "Makasih ya kamu udah mau sabar sampe sekarang. Nanti malam aku akan cerita semuanya ke keluargaku," ucapnya masih memegang pipi gadis itu.


"Iya."


***


Kevin masuk ke ruangan tempat Stevi dirawat setelah memastikan Devi dan Sandra telah pulang. Ia malas bertemu dengan mereka yang dianggapnya telah merendahkan Jeany.


Mendengar suara pintu dibuka, sepasang suami istri yang tadi dilihatnya menoleh dan memberinya tatapan bertanya.


"Kenalin, Kak, ini Kevin pacar aku," kata Stevi memberitahu mereka.


Kakak dan kakak ipar Stevi langsung menghampiri Kevin dan menyambutnya ramah. "Ganteng banget ya pacar kamu, Stev," goda kakak Stevi yang bernama Aldo itu.


Mereka mengobrol sebentar saja karena kakak Stevi harus kembali ke Tangerang untuk mengurus pekerjaannya.


"Kenapa kamu balik?" tanya Stevi setelah tinggal dirinya dan Kevin di ruangan tersebut.


"Aku udah janji sama mama kamu mau antar kamu pulang."


"Kamu dulu juga janji gak akan ninggalin aku."


"Aku gak ninggalin kamu. Kita masih bisa berteman."


Stevi memilih mengabaikan Kevin dan berbaring memunggungi pemuda itu hingga dokter datang untuk melakukan pemeriksaan. Sesuai yang diperkirakan, gadis itu sudah boleh keluar dari ruang perawatan. Kevin mengantar Stevi ke rumah tempat ia dulu pernah bertemu dengan mama gadis itu.


"Udah dong, Ma. Kalo engga mana mungkin Stevi sekarang ada di sini." Pandangan Stevi lalu beralih memperhatikan sekeliling ruangan. "Jadi ini rumah kontrakan kita?"


Gadis itu sedikit lega. Memang ukurannya tidak seluas rumah yang mereka tempati sebelumnya, tetapi paling tidak rumah tersebut cukup bersih dan terawat. Gadis itu tidak berkomentar apa pun. Ia pamit ke kamarnya untuk mandi.


Setelah itu mama Stevi memberi senyum ramah pada Kevin. "Nak Kevin makan malam di sini ya? Saya sudah masak tapi menu sederhana saja. Kamu gak keberatan kan?"


"Iya gapapa, Tante," jawab Kevin terpaksa mengiakan. Padahal ia ingin segera pulang menemui kedua orang tuanya untuk mengungkapkan hubungannya dengan Jeany. Sambil menunggu waktu makan tiba, ia membantu mama Stevi mengatur barang-barangnya.


Pukul tujuh tiga puluh malam Kevin baru dapat pulang dari rumah Stevi. Walau hubungannya dengan Kevin sedang buruk, gadis itu tidak memperlihatkannya di depan sang mama. Ia tetap mengantar Kevin hingga ke mobilnya.


"Aku pulang dulu ya, Stev," pamit Kevin.


"Kamu gak cium pipi aku dulu?"


"Tolong jangan mempersulit keadaan."


"Kenapa gak bisa? Bukannya sama Jeany kamu udah ngelakuin lebih?"


Kevin tersentak mendengar ucapan Stevi. "Apa maksud kamu?" tanyanya pura-pura tak mengerti.


"Lipstik yang aku temuin di apartemen kamu punya Jeany kan?"

__ADS_1


"Udah aku bilang itu punya Vina." Kevin terpaksa berdusta demi menjaga nama baik Jeany.


"Jeany gak pernah ke apartemen kamu?"


"Gak pernah."


"Baguslah. Besok aku mau ke rumah kamu, mau ucapin terima kasih ke mama kamu buat kue yang tadi dikasih."


"Kamu gak perlu lagi menemui mamaku."


"Loh kenapa? Aku kan masih pacar kamu, gak sopan dong kalo gak memperkenalkan diri."


Kevin menghela napasnya dengan rasa lelah. "Stev, aku rasa lebih baik kita sudahi saja semua sekarang. Gak ada gunanya menunda lebih lama lagi."


"Kamu udah setuju kita putus setelah reuni," ucap Stevi tegas.


"Itu konyol, Stev! Kamu justru menyiksa diri kamu sendiri."


"Konyol? Kamu gak merasa konyol udah selingkuh ama Jeany di belakangku? Apa tukang rebut pacar orang itu gak mau nunggu barang cuma beberapa hari?"


"Stevi! Denger baik-baik. Semua yang terjadi ini salahku! Aku yang jatuh cinta sama dia, aku yang mendekati dia dan aku yang memilih untuk putus sama kamu!"


Kata-kata Kevin kembali menorehkan luka di hati Stevi. "Cukup! Gak perlu pamer perasaanmu ke dia! Kalo dia cewek baik-baik harusnya dia gak deket-deket sama milik orang lain!"


"Stevi, kita ini baru pacaran beberapa bulan! Orang pacaran bakal putus kalo gak ada kecocokan!"


Stevi tercengang mendengarnya. "Maksud kamu kita gak ada kecocokan?" tanyanya lirih.


"Iya. Setelah ini kita benar-benar putus. Maaf."


Kevin langsung masuk ke mobil dan melajukannya meninggalkan rumah Stevi. Gadis itu mematung memandang Kevin yang dengan kejam meninggalkannya.


"Hai? Halo, tetangga baru?"


Suara seseorang memecah lamunan Stevi. Ia menoleh dan melihat seorang gadis cantik yang sepertinya seumuran dengannya.


"Seneng deh akhirnya rumah sebelah gak kosong lagi," ucap tetangga Stevi lagi karena orang yang diajaknya bicara masih membisu.


Stevi yang baru sadar sudah mengabaikan tetangganya itu segera mengulurkan tangannya untuk bersalaman. "Sorry tadi gue ngelamun. Kenalin, gue Stevi."


Gadis tetangga itu tersenyum manis dan menjabat tangan Stevi.


"Gue Rika."


***


Kevin mengemudikan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi agar dapat segera sampai di rumah. Namun malam itu ia tak pernah sampai ke tempat tujuannya. Sebuah sepeda motor tiba-tiba keluar dari gang tersembunyi, membuat pemuda itu harus membanting setirnya untuk menghindari motor tersebut. Mobil Kevin bertabrakan dengan kendaraan dari arah berlawanan.

__ADS_1


Tolong bantu like dan comment ya, Teman-teman 🙏


__ADS_2