Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)

Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)
Tolong Jaga Stevi


__ADS_3

Di sebuah rumah minimalis, Kevin berbicara empat mata dengan mama dari kekasihnya yang tadi meminta untuk bertemu. Ia kini duduk di sofa ruang tamu, menunggu lawan bicaranya yang tampak lebih kurus dibanding terakhir kali ia melihatnya.


"Maaf ya Tante ganggu kesibukan kamu," ucap Vira mengawali percakapan mereka.


"Engga kok, Tante. Kebetulan rumah ini searah dengan tujuan saya."


Vira menghela napasnya. "Yah, salah satu alasan saya memilih mengontrak rumah ini juga karena dekat dengan kampus kalian. Kamu pasti sudah tahu kondisi keluarga kami kan?"


Kevin mengangguk. "Stevi sudah cerita ke saya. Jadi nanti Tante dan Stevi akan pindah ke rumah ini?"


"Iya. Saya sudah tanda tangan surat perjanjian kontrak rumah di notaris. Tinggal memindahkan barang-barang saja. Sambil menunggu Stevi siap," jawab Vira dengan mata berkaca-kaca yang membuat pemuda itu tertegun.


Kevin hanya membisu, tidak tahu harus bersikap bagaimana untuk menghibur mama sang kekasih. Entah mengapa akhir-akhir ini ia sering melihat perempuan menangis. Ah, ia jadi memikirkan Jeany lagi. Ia berharap gadis itu baik-baik saja.


"Kevin ...." Vira seolah tak mampu melanjutkan kalimatnya.


"Iya, Tante?"


"Papanya Stevi sakit ...!" Pecahlah tangis wanita itu.


Mama Stevi menceritakan satu lagi ujian dalam rumah tangganya. Air matanya turun deras mengingat sang suami yang kini sedang berobat di negeri seberang. Kevin duduk diam menyimak setiap kata-kata Vira dengan perasaan tidak menentu.


"Kanker paru. Sudah masuk stadium empat, sudah kena tulang," ucap Vira tersedu-sedu. "Tapi papanya masih punya keinginan kuat untuk sembuh. Di Malaysia sudah satu tahun ini berobat, kemo, radiasi ... semua sudah dilakukan. Itu juga yang membuat papanya tidak bisa mengontrol bisnisnya dan akhirnya bangkrut. Kami semua berusaha ikhlas menjalani semua ini, tapi yang paling kami khawatirkan adalah putri kami satu-satunya."


"Maksud Tante, Stevi belum tahu kalau papanya sakit?" Kevin bertanya demikian karena ia ingat betul kekasihnya itu pernah bercerita bahwa papanya ke Malaysia dalam rangka dinas kerja, bukan berobat.


"Papanya bersikeras tidak mau memberi tahu Stevi. Karena dia tidak mau Stevi stres. Anak kami itu terlalu dimanja, tidak pernah susah. Ini semua salah saya. Seandainya saya tidak terlalu memanjakannya ...."


"Maaf, Tante, tapi menurut saya Stevi harus tahu. Jangan sampai Stevi tahu waktu semuanya sudah terlambat, dia pasti akan lebih terpukul," kata Kevin hati-hati.


"Tante tahu maksud kamu. Tapi sekarang mental Stevi belum siap untuk itu. Sekarang saja setiap hari dia menangis dan marah-marah. Tante takut dia depresi."


Kevin terkejut mendengarnya. "Benarkah begitu, Tante? Karena di depan saya Stevi kelihatannya sudah bisa menerima keadaan."


"Itu karena dia tidak ingin kelihatan buruk di depan kamu, dia takut kamu tinggalkan, jadi dia berpura-pura baik-baik saja."


"Saya juga tidak mungkin meninggalkan Stevi dalam kondisi seperti ini," ucap Kevin pelan. Ada perasaan aneh yang tidak bisa ia jelaskan ketika mengatakan kalimat tersebut.


Vira tersenyum sambil menghapus air matanya. "Saya lega anak saya berpacaran dengan laki-laki baik seperti kamu. Beberapa hari lagi saya harus ke Malaysia, mau dampingi papanya Stevi kemo. Saya minta tolong jaga Stevi ya, karena saat ini dia sangat membutuhkan Nak Kevin. Tolong sabar menghadapi dia. Kalau keadaan sudah lebih baik, saya akan beritahu dia kondisi papanya."


"Baik, Tante."


***

__ADS_1


Di kamar kosnya, Jeany sedang mengisi formulir pengajuan cuti akademik yang tadi diambilnya dari kampus. Ia telah memikirkannya matang-matang. Tubuh dan otaknya tidak akan mampu untuk kuliah sambil menyusun skripsi sekaligus bekerja. Bisa-bisa malah ketiganya tidak berjalan lancar. Lebih baik fokus mencari uang dulu. Bila setengah tahun belum cukup untuk mengumpulkan uang, maka akan diteruskannya menjadi satu tahun. Setelah itu barulah ia bisa fokus kuliah dan menyusun skripsi.


Lagipula ia tidak ingin bertemu lagi dengan Kevin di kampus. Otaknya memutar kembali kejadian tadi malam. Malu sekali rasanya! Bisa-bisanya ia mencium laki-laki yang masih berstatus kekasih orang lain? Apa bedanya kamu dengan perempuan penggoda, Jeany? Pantas saja Stevi memintanya menjauhi Kevin, karena tidak mungkin untuk terus dekat tanpa berharap lebih.


Usai mengisi formulir, Jeany tidur hingga siang karena akhir-akhir ini ia mudah sekali lelah dan mengantuk. Waktu libur tiga hari yang diberikan oleh Winda ingin dimanfaatkannya dengan beristirahat dan memulihkan tubuh yang menurutnya sedang kurang sehat. Ia tidak ingin absen lagi menjalankan pekerjaannya sebagai pengasuh Enzo. Setidaknya ia harus meninggalkan kesan baik di mata Kevin dan keluarganya.


Gadis itu terbangun dengan rasa perih di lambung. Wajar saja karena sejak pagi ia belum makan. Ia keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur. Tidak ada nasi yang dimasak oleh Serly, kakak kosnya. Hanya ada beberapa bungkus mi instan di dalam lemari.


Jeany berpikir sejenak. Dalam keadaan asam lambung tinggi seperti ini, memakan mi instan sepertinya bukan pilihan yang bijak. Ia memutuskan berjalan keluar untuk mencari makan. Keuntungan tinggal di dekat kampus adalah penjual makanan bertebaran di mana-mana.


Setelah berjalan beberapa langkah meninggalkan rumah kosnya, sebuah mobil SUV yang amat dikenalinya berjalan mendekatinya. Jeany berpura-pura tidak melihat dan terus berjalan. Mobil itu terus mengikutinya.


Mungkin karena sedang tertekan dan banyak pikiran, asam lambungnya naik hingga membuatnya ingin muntah. Dengan terburu-buru ia terpaksa berjongkok di selokan terdekat dan memuntahkan penyebab mualnya itu. Pengemudi SUV itu langsung turun dan mendatangi Jeany.


"Jean! Kamu gapapa?" Kevin menepuk-nepuk punggung Jeany dengan cemas.


Jeany hanya menggeleng lemas. Kevin lalu masuk ke dalam mobil untuk mengambil botol air mineral miliknya. Ia menyodorkannya pada Jeany. Gadis itu menggunakannya untuk membersihkan mulutnya, lalu meneguk sedikit isinya.


"Ayo kita ke dokter!" ajak Kevin sambil membantu Jeany berdiri.


"Aku gapapa."


"Gapapa gimana, barusan muntah gitu."


Mendengar ucapan Jeany, Kevin tidak lagi dapat menahan dirinya agar tidak marah. Ia sudah menunggu gadis itu berjam-jam di dekat kosnya dalam ketidakpastian, karena ia juga tidak yakin Jeany sedang berada di tempat itu. Betapa senangnya ia begitu melihat Jeany keluar. Namun yang didapatnya malah sebuah pengusiran.


"Kamu mau Randy yang ngurusin kamu? Begitu?!"


"Apa sih kok jadi Randy ...."


"Tadi kamu ke sini naik apa?"


Jeany menunduk. "Diantar Randy."


Kevin langsung menarik tangan Jeany dan menyuruhnya masuk ke dalam mobil. Tentu saja gadis itu menolak.


"Masuk!" Kevin berseru pada Jeany.


"Gak mau, Vin, jangan paksa aku!"


"AKU BILANG MASUK!"


Dibentak seperti itu membuat Jeany kaget. Ia langsung terdiam. Kevin pun tidak kalah terkejutnya. Mengapa ia bisa lepas emosi seperti ini? Ia bukan seorang pemarah, tetapi mengapa ia seolah menjadi orang lain bila berhadapan dengan Jeany?

__ADS_1


Beberapa pasang mata mulai memperhatikan mereka karena mendengar suara keras Kevin. Jeany langsung masuk ke dalam mobil dengan patuh, tak ingin dipermalukan lebih jauh lagi. Pemuda itu kemudian juga masuk.


"Sorry ya aku gak maksud bentak kamu. Aku emosi," ucap pemuda itu di dalam mobil dengan suara lembut.


"Aku lapar mau makan."


Kevin menahan senyumnya mendengar jawaban Jeany yang di luar dugaan. Namun ia masih mencemaskan kondisi kesehatan gadis itu. "Ya udah kita makan dulu baru ke dokter ya?" bujuknya.


"Gak perlu. Aku cuma sakit maag gara-gara telat makan."


"Sampe muntah-muntah?"


"Iya. Dulu juga pernah, tapi udah lama gak kambuh."


"Ya udah kamu mau makan di mana?"


"Terserah di mana yang penting ada sambal terasinya."


"Oh oke oke. Makan ayam goreng kalasan mau?"


"Ya."


Kevin mengemudikan mobilnya menuju restoran ayam goreng yang berada tidak jauh dari kampus mereka. Dalam hati ia merasa permintaan Jeany agak aneh, tetapi ia senang karena gadis itu tidak lagi menjauhinya. Sedangkan Jeany, gadis itu juga merasa heran dengan dirinya sendiri. Bukankah seharusnya ia tidak berdekatan lagi dengan pemuda itu? Kenapa malah minta makan padanya?


Kevin dan Jeany menunggu makanan dihidangkan tanpa berbicara satu sama lain. Duduk berhadapan seperti itu membuat keduanya merasa gugup, terutama Jeany yang tadi malam dengan tidak tahu malu menyatakan perasaan melalui sebuah ciuman. Ini akibat terlalu banyak baca novel percintaan, keluhnya dalam hati.


Setelah makanan datang barulah Kevin bersuara. "Kamu yakin mau makan sambal? Setahuku sakit maag gak boleh makan pedas-pedas."


"Gapapa aku lagi pingin banget."


Jeany pun melahap makanan tersebut tanpa memedulikan Kevin yang memperhatikannya dengan takjub. "Habis, Jean? Banyak juga ya makanmu."


"Haha Randy juga bilang begitu ...." Jeany menjawab dengan ceria. Bukan Randy yang menyebabkan wajah gadis itu berbinar senang, tetapi makanan lezat yang baru saja disantapnya.


Namun sepertinya Kevin telah mengambil kesimpulan yang salah.


"Maag kamu masih sakit?"


Jeany merasakan tubuhnya sejenak sebelum menjawab, "udah engga."


"Kalo gitu habis ini ikut aku ke suatu tempat."


"Ke mana?"

__ADS_1


"Apartemenku."


__ADS_2