Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)

Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)
DB 8 - Menghapus Utang Budi


__ADS_3

David, adik Vivian, keluar dari kamar dengan muka berminyak dan rambut berantakan. Karena rumah mereka kecil, suara pertengkaran di ruang tamu terdengar hingga ke kamar dan memaksanya untuk bangun.


Mata pemuda itu tampak merah akibat begadang setiap malam. Ia mengucek matanya yang masih terasa berat dan menatap jengkel pada dua orang perempuan di ruang tamu. "Mama sama Kak Vivi nggak bosen apa berantem terus? Sincia malah berantem, nanti rejekinya dipatok ayam baru nangis bareng."


Kedua perempuan yang diajak bicara itu sama-sama melotot padanya. Mama Vivian yang lebih dulu angkat bicara. "Yang ada dipatok burung kamu!" hardiknya menatap bagian bawah tubuh David. "Nggak tahu malu! Cepat mandi sana, pakai baju merah yang kemarin Mama belikan!" bentaknya, lalu meninggalkan kedua anaknya untuk duduk di samping suaminya yang sedang menonton berita.


Vivian juga jadi melihat bagian bawah tubuh David. Sesuatu terlihat menyembul di balik boxer bergambar kartun Spongebob yang sedang dipakai oleh adiknya itu. Vivian menaikkan pandangannya ke wajah David, yang langsung memberinya senyum manis.


"Hehehe jangan shock gitu dong mukanya. Punya Kak Revan kan juga kayak gini tiap pagi."


Nyaris saja garpu di tangan Vivian melayang ke wajah kurang ajar David. Sebagai gantinya, Vivian melempar amplop tebal berwarna merah, dengan sengaja menjadikan wajah adiknya sebagai target lempar.


"Eits!" David memiringkan kepalanya dengan cekatan dan menangkap amplop itu tanpa kesulitan berarti. Rasa kantuknya langsung hilang karena mendapat rejeki nomplok di pagi hari. Sambil memegang amplop merah tersebut, ia memberi Vivian pelukan erat. "Kamsia, Kakakku Sayang. Kiong hi xin nian, wan shi ru yi, shen ti jian kang, nian nian you yu, angpao na lai ...."


Tangan Vivian menggetok kepala adiknya. "Kalo nggak ngerti artinya nggak usah ngomong. Mandi sana. Badan kamu bauk bikin Kakak pengen muntah!" gerutu perempuan itu sambil menutup hidung.


Sambil cengengesan David berjalan menuju kamar mandi. "Pipis dulu biar nggak tegang," ujarnya pada sang kakak. Setelah kembali, pemuda itu langsung duduk di sofa dan mencomot kue keranjang dari piring Vivian.


"Kakak setelah nikah jadi tambah galak. Untung Kak Revan udah bucin sama Kakak. Ngomong-ngomong, di mana kakak iparku yang ganteng bin tajir melintir itu?" tanyanya sambil celingukan mencari keberadaan Revan.


Wajah cantik Vivian tidak menampakkan rasa sedih yang timbul akibat ucapan adiknya. Ia menjaga agar intonasi suaranya tetap terdengar wajar. "Lagi sincia sama keluarganya di Singapore."


"Oh gitu." David menganggut-anggutkan kepala. "Trus, mertua Kakak masih nyebelin nggak?" tanyanya sambil meringis.


"Ho-oh masih," jawab Vivian ikut meringis.


"Itulah yang bikin Mama marah sama kakak kamu tadi!" Tiba-tiba saja mama Vivian menyahut dari depan televisi. "Masak nggak ikut merayakan sincia sama keluarga suami? Nggak ada sopan-sopannya jadi menantu!"


Menulikan diri adalah pilihan yang diambil oleh Vivian untuk saat ini. Daripada dianggap anak durhaka karena sering membentak orang tua, lebih baik ia berpura-pura tidak mendengar ucapan pedas mamanya. Untungnya ada David sebagai pengalih perhatian. "Skripsi kamu udah sampe mana, Vid?" tanyanya, tiba-tiba merasa sangat tertarik pada kemajuan pendidikan sang adik di perguruan tinggi.


Perasaan sayang Vivian pada papanya memang telah sirna. Begitu pula dengan perasaan sayangnya pada sang mama yang lebih didominasi oleh rasa benci yang aneh. Benci sekaligus sayang, sukar diungkapkan dengan kata-kata. Namun terhadap adiknya, rasa sayang Vivian benar-benar masih utuh.

__ADS_1


Mereka tumbuh bersama dan saling mendukung satu sama lain dengan cara yang unik. Dulu Vivian remaja sangat senang mengerjai David. Ia akan menyisir rambut panjangnya menutupi wajah dan mengeluarkan suara cekikikan halus untuk menyambut adiknya yang baru keluar dari kamar mandi. Sedetik kemudian suara teriakan David akan terdengar hingga ujung gang rumah mereka. Sekarang siapa sangka adiknya yang penakut itu sudah tumbuh menjadi pemuda tampan dan luar biasa badung.


"Maleslah, Kak, aku bikin skripsi. Susah cari perusahaan yang mau dijadikan obyek penelitian. Mungkin pada takut datanya kesebar," keluh David sambil menyandarkan kepalanya ke bantal besar sofa.


Mata Vivian menyipit memandang adiknya. "Apa bukan karena kamunya yang malas?"


"Ya karena susah itu jadi males," jawab David tanpa beban.


Hampir saja Vivian berkata kasar pada adiknya, kalau pikirannya tidak teralihkan karena mendengar kata-kata mamanya yang membuat darahnya lebih mendidih.


"Gitu aja susah. Suami kakak kamu kan punya perusahaan."


"Nggak boleh!" sahut Vivian cepat. "Jangan ganggu perusahaan Revan."


"Memang anak nggak berguna!"


Sambil kembali menulikan diri, Vivian bangkit dari sofa dan berpamitan pulang. Sejak dulu ia tak suka berlama-lama di rumah itu. Selalu saja ada hal yang merusak suasana hatinya di sana. Kalau bukan karena ingin melepas rindu dengan adiknya, ia pasti sudah pulang dari tadi.


"Hmm. Nanti Kakak bantu cari perusahaan buat skripsi kamu."


"Take your time," jawab sang adik, yang Vivian artikan sebagai "tidak usah terburu-buru".


Tanpa sadar Vivian menghela napas ketika memasuki mobilnya. Sebelum pergi, ia memandangi sejenak rumah masa kecilnya. Sekali lagi ia merasa sangat bersyukur karena tidak perlu lagi tinggal di sana.


Di perjalanan, Vivian teringat untuk mampir ke rumah tantenya yang bernama Maya. Ia mampir bukan karena hubungan mereka dekat, tetapi karena adik papanya itulah yang dulu berbaik hati membiayai kuliahnya. Ia tak ingin dianggap sebagai kacang yang lupa pada kulitnya. Namun ia malah terjebak pada situasi yang tidak menyenangkan.


"Yang kemarin Tante minta tolong gimana, Vi? Apa sudah ada kabar baik?" tanya tantenya dengan wajah penuh harap setelah sebelumnya menyediakan berbagai macam suguhan untuk sang keponakan.


Vivian menjawab terus terang. "Aku sudah cek, Tante. Kolektibilitas Om Hans di BI kurang baik karena ada telat bayar kewajiban di bank lain."


Wajah Tante Maya langsung berubah. Dahinya berkerut, kentara jelas sedang menahan marah. Begitu pula dengan Om Hans yang dari dulu memang tidak pernah menyembunyikan ketidaksukaannya pada keluarga Vivian.

__ADS_1


"Itu kan Om Hans. Sekarang pakai nama Tante. Tante nggak punya hutang di bank lain kok."


"Tetap nggak bisa, Tante. Kewajiban pasangan juga dilihat. Kalaupun aku paksa untuk mengajukan, tetap nggak akan lolos di analis kreditnya."


"Nggak bisa apa nggak mau bantu? Jangan lupa dulu kamu pernah Tante bantu, harusnya sekarang kamu juga bantu Tante dong."


"Nggak bisa, Tante. Sudah peraturannya begitu."


"Memang nggak tahu terima kasih!" bentak Tante Maya tiba-tiba. "Kalau bukan karena Tante, kamu nggak mungkin bisa kuliah di tempat mahal dan ketemu suami kaya! Sekarang Tante minta bantuan kredit susahnya minta ampun. Kalau memang nggak bisa bantu pinjam di bank, kamu kan bisa minta sama suami kamu yang kaya itu!"


Suami Maya ikut menimpali. "Dari dulu aku juga nggak setuju kamu bantu mereka. Sekarang lihat sendiri kan, orang yang kamu bantu nggak ada balas budinya sama sekali!"


Vivian mengepalkan tangannya, benar-benar berusaha keras untuk tidak meledakkan emosi. Apa sudah tidak ada orang yang benar-benar tulus di dunia ini? pikirnya frustrasi. Mamanya sendiri meminta balas jasa karena telah melahirkan dan membesarkannya. Sekarang tantenya menagih balas budi atas uang yang dikeluarkannya untuk membiayai pendidikannya dan dengan tidak tahu malunya ingin melibatkan Revan.


"Tante," kata Vivian dengan nada suara mengingatkan. "Mama nggak akan pinjam uang sama Tante untuk bayarin kuliahku seandainya kakak Tante punya tanggung jawab sebagai kepala keluarga."


Tante Maya tertawa sinis. "Itu namanya cerdas. Ngapain kerja banting tulang buat menghidupi anak orang lain?"


Tubuh Vivian seketika menegang. Rasa benci menyelimuti dirinya. Ia benci pada keluarganya. Ia benci harus berutang budi pada mereka. Seandainya utang itu bisa dibayar dengan nyawa, ia akan menyerahkan nyawanya saat itu juga. Namun yang dimilikinya hanya deposito bernilai seratus juta rupiah. "Besok aku transfer seratus juta ke rekening Tante." Perlahan namun pasti ia akan menghapus utang budi itu.


Tante Maya mendengus mendengar angka yang disebut oleh Vivian. Mungkin baginya jumlah tersebut masih terlalu sedikit. Ia baru menjawab setelah melihat suaminya mengangguk. "Ya sudahlah daripada nggak ada!"


Setelah itu Vivian langsung pulang ke rumah. Rencana semula untuk mengunjungi beberapa debitur ia batalkan begitu saja. Pertemuannya dengan keluarga benar-benar telah menguras habis energinya.


Ia masuk ke kamar, tanpa sadar memandangi foto pernikahannya dengan Revan yang terpasang apik di dinding, tepat di atas kepala ranjang. Perempuan itu mengingat kenangan manisnya dengan sang suami di kamar itu.


Tahun lalu, pada hari raya yang sama, Revan membisikkan doa indah di telinganya. "Semoga tahun depan kita udah dipercaya untuk jadi papa mama ya. I love you, My Wife."


Hari ini, satu tahun setelahnya, Vivian baru mengaminkan doa suaminya itu. Ia mengusap lembut perutnya, berharap di sana akan segera tumbuh buah cintanya dengan sang suami.


I love you too, Rev ....

__ADS_1


__ADS_2