Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)

Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)
DB 16 - Panggilan Mendadak


__ADS_3

Perasaan Vivian jadi tidak enak karena Vanessa juga bertolak ke Jakarta hari itu. Tadi malam ia dan Revan sempat mengobrol sebentar soal Vanessa. Ternyata biduanita itu tidak seorang diri ke Surabaya. Ke mana pun pergi, ia selalu didampingi oleh manajer dan asistennya yang kebetulan sedang keluar ketika Vivian datang tadi malam. Namun bukan berarti Vivian boleh merasa tenang. "Kamu nggak bakal ketemu Vanessa di sana kan, Rev?"


"Astaga, Vi." Vivian dapat membayangkan ekspresi bosan Revan ketika menjawab pertanyaan darinya. "Enggaklah. Penyelesaian kontrak dengan Vanessa sudah aku delegasikan ke Devan. Kamu bisa ikut ke Jakarta kalau nggak percaya."


Itu adalah sebuah ajakan yang mustahil Vivian terima. Timnya sedang dikejar tenggat waktu. Tidak harus lembur saja ia sudah sangat bersyukur. "Aku nggak bisa. Kerjaanku nggak mungkin aku tinggal, apalagi sebentar lagi aku resign."


"Tapi aku nggak bisa pergi dengan tenang kalau kamu terus curiga begini."


"Kamu ngomong apa sih? Pergi dengan tenang pergi dengan tenang!" Dahi Vivian sampai berkerut karena jengkel mendengar ucapan suaminya.


"Lho iya kan aku mau ke Jakarta buat urusan pekerjaan. Gimana bisa pergi dengan tenang kalau istriku di rumah lagi nuduh macem-macem?"


"Aku nggak nuduh, tapi terus terang aku nggak mau kamu ketemu sama dia."


"Siap laksanakan, Permaisuri."


"Halah pret ...!"


Terdengar suara tawa Revan. "Suami mau pergi masih aja dijutekin."


"Kamunya juga jangan bilang mau pergi mau pergi terus." Nada bicara Vivian tak lagi ketus. "Pesawatnya jam berapa?"


"Tiket jam 11. Ini sudah di tol mau ke Juanda."


"Hati-hati, Rev. Tolong jaga kepercayaanku. Langsung pulang begitu urusan di sana selesai"


"Pasti, Vi. Aku juga nggak mau lama-lama jauh dari kamu. Kalau ada apa-apa segera telpon aku."


"Ya. Kamu tahu kan aku sayang banget sama kamu?" Entah mengapa Vivian merasa penting untuk memastikannya.

__ADS_1


"Hehehe iya tahu. Aku juga sayaaang banget sama kamu."


Panggilan dari Revan berakhir, meninggalkan kegelisahan di hati Vivian. Namun ia tahu tidak ada yang bisa dilakukannya. Seorang istri tidak dapat mencegah suami yang memang ingin berselingkuh. Oh ya ampun .... Vivian menghela napas dengan keras karena merasa bersalah. Bukankah ia telah berjanji akan mempercayai suaminya? Namun apa yang sekarang sedang ia pikirkan?


Karena tidak ingin terus larut dalam pikiran negatif, Vivian memutuskan untuk menyelesaikan urusan yang tadi tertunda. Ia berjalan menuju ruangan kepala cabang bank tempatnya bekerja.


Vivian mengetuk pintu tiga kali sebelum membukanya. Pak Joni, kepala cabang berusia sekitar 50 tahun itu terlihat sedang menatap layar laptop. Laki-laki itu mengangkat wajahnya melihat Vivian berdiri di ambang pintu. Ia memberi perempuan itu senyum ramah. "Ya, Vi, kenapa? Sini masuk."


Vivian tersenyum menyapa atasannya itu. "Pagi, Pak. Saya ganggu nggak nih?"


"Nggak juga, Vi. Ini saya lagi cek-cek laporan perkiraan nilai kalian semua karena mau meeting sama Pak Ryan Regional Head siang nanti. Bisa heboh satu Indonesia kalau nilai kalian meleset." Pak Joni mentertawakan leluconnya sendiri.


Vivian ikut tertawa walau tidak merasa lucu. Ia ingin menciptakan suasana menyenangkan agar pengunduran dirinya lebih mudah diterima oleh atasannya itu. Ada aturan two month notice untuk posisi manajer yang mengharuskannya mengajukan pengunduran diri 60 hari sebelum tanggal berhenti kerja.


"Kebetulan, Pak, saya mau info pengajuan proposal yang atas nama PT Nabati Utama." Vivian bersemangat memberi laporan secara lisan. "Sudah tahap 90%, tinggal minta rekap penjualan yang kurang ke bagian accounting."


Pak Joni menyimak dengan serius. "Kira-kira ada masalah nggak minta dokumen itu?"


"Kapan bisa submit proposalnya? Karena sudah dikejar sama regional."


"Dalam satu dua hari ini saya minta Doni submit."


Sang kepala cabang tampak puas mendengar laporan Vivian. "Oke, Vi, tolong maksimalkan ya." Laki-laki itu kembali memperhatikan layar laptop. Jari-jarinya mulai menekan huruf demi huruf pada keyboard.


Melihat atasannya kembali sibuk, Vivian tahu ia tidak bisa membuang waktu lagi. Ia harus segera menyampaikan niatnya. "Sekalian saya mau ngobrol sebentar ini."


"Ngobrol aja." Pak Joni masih asyik mengetik laporan.


"Saya berencana resign, Pak."

__ADS_1


Kepala cabang itu langsung berhenti mengetik dan menatap Vivian dengan rasa kaget yang terlihat jelas di wajahnya. "Resign? Kamu mau resign?"


"Iya, Pak."


"Apa alasannya?"


"Alasan keluarga. Saya ingin punya lebih banyak waktu untuk keluarga."


Pak Joni tampak menyayangkan keputusan Vivian. Ia berusaha membuat perempuan itu memikirkan ulang rencananya. "Sayang sekali sebenarnya, Vi. Prestasi kerja kamu sangat bagus. Saya tahu perjuangan kamu dari dulu, nggak banyak yang bisa seperti kamu. Kalau nggak resign saya yakin beberapa tahun lagi kamu pasti bisa menduduki posisi saya sekarang ini."


Sorot mata Vivian menunjukkan rasa sedih saat ia mendengar kalimat bujukan itu. Perempuan itu bukannya tidak tahu risiko yang harus ia hadapi. Mengundurkan diri sama artinya dengan melepas karir cemerlang yang telah ia bangun dengan susah payah.


Pak Joni sepertinya memahami kebimbangan Vivian. "Kamu pikir-pikir dulu satu minggu ini. Saya harap ada solusi selain berhenti kerja. Kamu bisa ambil cuti dulu kalau memang perlu. Nanti saya bantu ajukan kenaikan gaji ke kantor pusat."


Seperti yang sudah Vivian perkirakan, pengunduran dirinya tidak akan disetujui dengan mudah. Ia tetap mengiakan permintaan Pak Joni agar atasannya itu merasa dihargai. Namun keputusan itu sudah ia pikirkan matang-matang. Tiga hari lagi ia akan kembali membawa surat pengunduran diri.


Selain Pak Joni, ada satu orang atasan lagi yang harus ia informasikan soal rencana pengunduran dirinya, yaitu Pak Samuel yang memegang posisi kepala kredit. Respons yang ia dapatkan pun sama. "Kamu bantu-bantu dulu lah di sini. Jangan resign dulu," kata Pak Samuel yang bahkan tidak menanyakan alasan pengunduran diri Vivian.


Setelah itu Vivian kembali ke ruangannya dengan perasaan lega. Walau belum mengajukan pengunduran diri secara resmi, kedua atasannya telah mengetahui niatnya itu. Sekarang yang harus ia lakukan adalah bekerja sebaik mungkin untuk mencapai target.


Jam di dinding telah menunjukkan angka 11. Vivian meninggalkan kantornya untuk pergi ke rumah sakit, membesuk salah seorang debiturnya yang dirawat di sana. Setengah perjalanan telah ia lalui saat ponselnya berdering. Ia terkekeh melihat yang ternyata menelepon adalah sang adik kesayangan.


Tumben nih anak telepon. Pasti mau minta duit.


"Kenapa, Vid? Kamu mau ngadu karena nggak dikasih uang jajan sama Mama?" Sambil menyetir, Vivian menjawab telepon melalui headset bluetooth-nya.


"Kak, aku lagi di kantor Kak Revan. Kakak bisa ke sini sekarang nggak?"


Senyum di wajah Vivian seketika menghilang. "Kamu ngapain di kantornya Revan?" tanyanya dengan nada tinggi.

__ADS_1


"Kak Revan nyuruh aku penelitian buat skripsi di sini. Tapi ini aku dipanggil sama mertua Kakak. Kakak disuruh ke sini."


"Kamu gimana sih? Kan sudah Kakak bilang jangan penelitian di sana!" Vivian mematikan sambungan telepon dengan kasar. Ia merasa sangat kesal pada David yang lancang pergi ke kantor Revan walau ia telah melarang, juga pada Revan yang mengambil keputusan tanpa bertanya kepadanya. Mobilnya berputar arah menuju kantor suaminya itu.


__ADS_2