Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)

Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)
Tidur Bersama


__ADS_3

Wajah Kevin mendadak berubah serius. Kedua bola matanya juga enggan menatap Jeany, membuat perempuan itu ingin mengamuk. Jeany merasakan panas menjalar dari dada hingga ke ubun-ubun. Sepertinya rasa panas itu tidak akan mereda walau ia memberi pukulan bertubi-tubi pada laki-laki di hadapannya.


"Duduk dulu, Jean," ucap Kevin setelah menyadari dirinya membuat perempuan itu berdiri lama menunggu jawaban darinya.


Jeany menarik kursi dengan kasar dan mendudukinya. Dipandanginya Kevin dengan mata menyala-nyala. Dalam kemarahannya, ia masih berharap laki-laki itu akan menyangkal pertanyaan darinya. Namun perubahan sikap Kevin membuat harapan Jeany menipis.


"Siapa yang bilang sama kamu?" tanya laki-laki itu dengan gurat wajah sangat serius.


"Lisa."


Kevin mengangguk paham. Ia segera menghubungi sekretarisnya. "Suruh Lisa ke ruangan saya sekarang juga!"


Setelah itu keduanya saling diam. Jeany tidak mengerti mengapa Kevin seperti marah padanya. Harusnya ia yang marah, pikirnya kesal.


Tidak lama berselang, Lisa masuk dengan wajah menantang. Ia sudah tahu untuk apa dipanggil.


"Kamu bilang apa ke Jeany?" tanya Kevin dingin. Ia membiarkan Lisa tetap berdiri.


"Aku bilang aku hamil anak kamu."


"Jangan bohong!" Kevin menggebrak meja. Belakangan meja malang itu sering menjadi sasaran kemarahan Kevin. "Kita gak pernah ngapa-ngapain. Kalo kamu hamil itu bukan anakku!"


Lisa menatap Kevin dengan wajah kecewa. "Kamu gak mau mengakui, Vin? Setelah semua yang udah aku lakuin buat kamu? Aku gak masalah kalo kamu gak cinta sama aku, tapi anak ini gak bersalah!" ucapnya sambil menyentuh perutnya yang masih datar.


Jeany merasa dirinya sedang menyaksikan tayangan sinetron di televisi. Bedanya, kini ia menjadi salah satu pemeran di sinetron tersebut, peran perempuan yang dikhianati kekasih. Ia menggigit bibir untuk menahan air mata yang nyaris mengalir.


Melihat wajah Jeany yang sangat menderita, Kevin memutuskan untuk segera menyudahi pembicaraan konyol itu. "Oke kalo kamu bilang kita sering melakukan. Sekarang aku tanya di mana kita biasa melakukannya?"


"Di Singapore kita sering melakukan di apartemen kamu," jawab Lisa tegas.


"Bagaimana dengan di Indonesia?"


"Kadang di rumahku, kadang kamu juga mengajak aku ke apartemenmu."


"Di mana apartemenku?"


"Di The Emerald."


Kevin menatap Jeany dengan perasaan puas. "Udah tahu jawabannya kan?" tanyanya pada perempuan itu.


Jeany mengangguk pelan. Ia tidak berani menatap Kevin karena malu. Lokasi apartemen yang disebut oleh Lisa berbeda dengan yang pernah ia datangi sebelumnya. Tapi tunggu. Siapa tahu laki-laki itu punya lebih dari dua apartemen 'kan?


"Kamu yakin gak punya apartemen lain, Vin?"


Pertanyaan Jeany membuat Kevin nyaris murka. "Cukup, Jean! Apartemen yang pernah aku tinggali, semua sudah pernah kamu datangi. Dan cuma kamu perempuan yang pernah aku ajak ke sana!"


Wajah Lisa seketika memucat. Tidak mungkin, pikirnya panik. Jelas-jelas ia pernah mendengar Henny menyebut nama bangunan apartemen yang ditinggali oleh Kevin jika tidak pulang ke rumah.


"Nama apartemen yang kamu dengar dari mamaku itu gak benar. Aku sengaja bohong supaya gak ada yang tahu lokasi apartemen baruku." Kevin seolah mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh Lisa.


Laki-laki itu membeli apartemen tersebut tidak lama setelah bertemu kembali dengan Jeany. Mungkin tanpa disadarinya, ia telah memiliki keinginan suatu hari akan membawa perempuan itu ke sana, tanpa diketahui oleh siapa pun.


Lisa belum ingin menyerah.


"Aku memang bohong soal tempat. Tapi bukan berarti kita gak pernah melakukan, Vin! Tega kamu membuang aku setelah menikmati tubuhku berkali-kali!"


Kevin menyeringai menunjukkan rasa jijik. "Please, Lisa. Untuk apa kamu merendahkan diri sendiri seperti ini?"


"Aku memang sudah rendah sejak menyerahkan tubuhku ke kamu! Itu karena aku sangat mencintai kamu!" Lisa membalas dengan teriakan histeris disertai lelehan air mata.


Bukannya merasa iba, Kevin malah tersenyum mengejek. "Kalau kita sering melakukannya, kamu pasti tahu di mana letak tanda lahirku."

__ADS_1


Lisa tergagap tak bisa menjawab. "Itu ... itu ...."


Kevin beralih menatap Jeany. "Beritahu dia, Jean."


"Eh?!"


Wajah Jeany langsung bersemu merah. Kevin mengatakannya seolah-olah mereka sering melakukan hubungan badan.


"Di mana letak tanda lahirku, Jean?" desak Kevin lagi.


"Di ... di pinggul sebelah kiri ...."


Ya Tuhan, malu sekali rasanya .... Jeany menjerit dalam hati. Otaknya memutar kejadian di suatu pagi menjelang siang, saat ia mendapati dirinya terbangun tanpa sehelai pakaian pun di samping seorang laki-laki. Laki-laki itu masih tidur dengan posisi badan tertelungkup, juga tanpa busana. Itulah pertama kalinya ia melihat tubuh telanjang seorang laki-laki. Dan betapa terkejutnya ia saat mengetahui laki-laki tersebut adalah teman SMA sekaligus teman kuliahnya.


Mendengar jawaban Jeany, tubuh Lisa bergetar menahan rasa malu sekaligus marah. Rencana untuk merusak hubungan Kevin dengan Jeany gagal total, malah ia diperdengarkan fakta yang membuktikan bahwa hubungan keduanya telah demikian intim. Tentu saja, pikirnya getir setelah teringat fakta penting lain yang semula tidak dipercayainya. Bahwa ayah dari anak Jeany memang benar Kevin.


"Mulai besok gak usah datang ke kantor. Kamu dipecat."


Kata-kata tersebut diucapkan oleh Kevin tanpa perasaan. Ia tak peduli lagi sekalipun dulunya Lisa adalah teman baiknya. Kelakuan perempuan itu sangat membahayakan hubungannya dengan Jeany. Kehadirannya di kantor akan seterusnya menjadi duri dalam daging. Lebih baik segera disingkirkan.


Lisa menatap Kevin nyalang selama beberapa saat, tetapi tak ada yang bisa dilakukannya. Perbuatannya barusan memang sangat memalukan. Ia keluar dari ruangan Kevin tanpa mengatakan apa pun.


Setelah kepergian Lisa, Kevin mendiamkan Jeany. Merasa tak enak, perempuan itu memberanikan diri meminta maaf. "Sorry tadi aku sempat gak percaya sama kamu, Vin."


"Sebenarnya ya, Jean, seandainya itu benar pun kamu gak berhak marah. Waktu itu kita gak ada hubungan apa-apa lagi," balas Kevin penuh penekanan.


Darah Jeany kembali mendidih. "Gak berhak marah gimana? Aku gak suka kamu berbagi tubuhmu dengan perempuan lain!"


Kevin langsung bangkit berdiri dan menghampiri Jeany. Ia memegang kedua bahu perempuan itu, mengguncang tubuh mungilnya ketika berbicara.


"Bagaimana dengan kamu?! Susah payah aku berusaha melupakan kenyataan kalau kamu pernah disentuh oleh sahabatku sendiri! Pertanyaanmu tadi membuat aku harus mengingatnya lagi!"


Selama beberapa saat Jeany tertegun. Rupanya di antara mereka masih ada kesalahpahaman semacam ini. Ia memegang kedua pipi sang kekasih. Hatinya dipenuhi oleh rasa cinta.


Kata-kata Jeany membuat Kevin mematung beberapa detik. Namun ia kemudian menggelengkan kepalanya tak percaya.


"Kamu gak perlu bohong, Jean. Aku ini juga laki-laki. Gak mungkin Randy gak menyentuh kamu setelah sah menjadi istrinya. Malam itu juga aku memergoki kalian bersama di kos kamu kan!"


"Aku gak bohong. Sakit Randy membuat dia gak bisa menyentuh aku."


"Maksud kamu?"


"Tunggu dia datang ke Jakarta ya. Dia bilang dia sendiri yang akan menjelaskan ke kamu."


"Jadi kalian masih berhubungan sampai sekarang?" Kevin mulai menunjukkan sifat pencemburunya.


"Cuma lewat WA, Vin ...."


"Tetep aku gak suka."


"Gak usah mulai. Jangan lupa dia udah banyak sekali bantu aku dan Kenny. Ya udah aku balik dulu ya, kerjaanku masih banyak."


Jeany memberi kecupan singkat di bibir Kevin sebelum bangkit berdiri. Ia lalu berjalan menuju pintu. Sebuah tarikan membuat tubuhnya berbalik. Ia langsung merasakan sentuhan lembut dan basah di bibirnya.


Kelembutan yang diberikan oleh Kevin hanya sesaat. Setelahnya ia mel*mat bibir Jeany dengan rakus, menciumnya keras dan dalam hingga perempuan itu meronta kehabisan napas.


"Kamu ini! Masih di kantor tau!" Jeany memukul pelan dada Kevin dengan napas terengah.


"Kalo gitu nanti kita lanjutin di apartemenku," bisik Kevin serak di telinga Jeany.


Jeany cepat-cepat meninggalkan ruangan tersebut, membuat Kevin terkekeh melihat kekasihnya yang masih saja polos walaupun telah memiliki seorang anak. Namun tawanya menghilang saat rasa cemburu kembali mempengaruhi akal sehatnya. Ia belum sepenuhnya mempercayai Jeany.

__ADS_1


Di luar ruangan, perjalanan Jeany menuju ruang kerjanya terhenti karena Vera memanggilnya. Wajah sekretaris Kevin itu kini sangat bersahabat.


"Jean, saya minta maaf ya untuk masalah kemarin. Pak Kevin gak pernah nyuruh saya kasih kamu undangan. Itu cuma ide Lisa untuk manas-manasin kamu," akunya dengan wajah bersalah. "Saya gak tahu kalo kamu calon istrinya Pak Kevin," ucapnya lagi.


Pengakuan Vera membuat Jeany yakin bahwa Kevin tidak pernah melakukan hal di luar batas dengan Lisa. Namun itu tidak membenarkan sikap perempuan itu padanya. Pandangan tegas diberikannya pada Vera.


"Meskipun saya bukan calon istri Kevin, kamu gak boleh mempermainkan orang lain seperti itu."


Vera menundukkan kepalanya. "Maafkan saya. Saya janji tidak akan mengulangi lagi."


"Saya maafkan."


Jeany lalu berjalan kembali ke ruangannya. Sambil berjalan, ia memikirkan banyak hal. Salah satunya adalah meminta Kevin mengganti sekretarisnya yang sekarang dengan sekretaris laki-laki.


***


"Jean, besok kamu sama Kenny makan malam di rumahku ya. Papa dan yang lainnya sudah gak sabar mau ketemu Kenny. Bisa kan?" tanya Kevin tanpa mengurangi konsentrasinya mengemudi. Mereka sedang dalam perjalanan pulang dari kantor.


"Iya." Jeany mengiakan walau merasa gugup akan bertemu kembali dengan keluarga Kevin.


"Mereka minta hari ini, tapi aku bilang kamu gak bisa karna harus bikin brownies."


Jeany memberi senyuman pada kekasihnya. "Makasih pengertiannya."


"Setelah ini gak usah jualan brownies lagi ya? Aku gak mau kamu kecapekan dan pingsan lagi," pinta Kevin.


"Udah engga. Hari ini yang terakhir."


Mobil Kevin berhenti di depan rumah Mita untuk menjemput Kenny. Bocah itu melompat senang melihat papa mamanya pulang. Mereka bertiga pulang ke rumah dengan perasaan bahagia.


Usai makan malam dengan menu sederhana masakan Jeany, Kevin mengajak putranya bermain basket di lapangan dekat rumah. Sementara Jeany sibuk di dapur menyelesaikan pesanan brownies, dibantu oleh seorang asisten yang didatangkan oleh Kevin untuknya. Ia belum selesai ketika sudah waktunya Kenny terlelap. Untung ada Kevin yang menjaga sang putra, membacakannya dongeng sebelum tidur.


"Pa, kenapa Papa sama Mama mau nikah lagi?" Kenny sudah mengantuk tetapi masih ingin mengobrol dengan papanya.


"Soalnya dulu nikahnya gak dirayakan."


"Kenapa gak dirayakan?"


"Waktu itu papa belum kerja, belum ada uang buat merayakan."


"Sekarang uang Papa banyak?"


Kevin tertawa. "Lumayan banyak. Kenny mau beli apa? Nanti papa beliin."


"Uangnya buat Mama aja, supaya gak usah bikin brownies lagi."


Kevin terhenyak. Kenny ternyata sangat peka dengan kondisi mamanya. Ini semua karena ia lalai, pikirnya, membuat perempuan yang dicintainya berjuang seorang diri membesarkan putra mereka. Ia mengusap kepala Kenny penuh rasa sayang.


"Papa sudah kasih semua uang papa ke Mama. Habis ini Mama gak bikin brownies lagi, kecuali kalo Kenny yang minta dibikinin."


"Horeeeee ...." Bocah itu tertawa senang di atas kasur. Dengan matanya yang lebar ia memandang Kevin yang sedang berbaring di sebelahnya. "Pa, kenapa Papa gak tinggal sama Mama sama Kenny?"


"Hmm soalnya Papa ada kerjaan yang gak bisa ditinggal. Nanti kalo sudah beres kita tinggal sama-sama ya?"


"Tapi Kenny mau bobo ditemenin Papa ...."


Rengekan Kenny membuat Kevin tak tega. "Iya malam ini papa temenin Kenny bobo."


Kevin mengusap-usap kepala Kenny hingga bocah itu tertidur. Akan tetapi tidak lama kemudian ia sendiri ketiduran. Saat Jeany masuk ke dalam kamar, ia tersenyum melihat dua laki-laki yang dicintainya sudah tertidur pulas. Ia mengecup pipi keduanya sebelum membaringkan diri di samping Kenny. Malam itu mereka bertiga tidur bersama.


Mampir karya temanku juga yuk 🙏

__ADS_1



__ADS_2