
"Gimana kata dokter, Ma? Kapan aku boleh pulang?" tanya Kevin tak sabar setelah Henny dan Stevi kembali ke ruangan tempatnya dirawat.
"Kata dokter harus tunggu hasil CT Scan baru tahu. Nanti siang baru keluar hasilnya." Henny lalu melirik isi dalam piring di atas nampan makanan yang baru sedikit disentuh oleh Kevin. "Lho kenapa nasinya gak dihabisin, Kevin?"
"Aku gak selera makan, Ma. Kepala masih sakit."
"Kalau kamu cuma makan sedikit bagaimana mau cepat sembuh? Nanti makin lama opnamenya," ucap Henny membujuk putranya agar mau makan.
Kevin menghela napasnya tanpa semangat. "HP aku mana, Ma?"
"Mama gak tahu. Tadi malam semuanya panik begitu dengar kamu kecelakaan. Gak ada yang kepikiran soal HP kamu."
"Mungkin masih di mobilnya Kak Kevin, Ma," timpal Jovina.
"Ya coba nanti mama suruh Agus cek ke bengkel."
Kevin menoleh pada adiknya. "Vina, Kakak boleh pinjam HP kamu bentar?"
"Lagi sakit kepala gak boleh main HP, Kak Kevin ...." jawab Jovina. Nada bicaranya seolah sedang mengajari anak kecil.
"Bentar aja. Kakak mau telpon Jeany."
Henny dan Stevi langsung berpandangan. Henny menunjukkan raut wajah tak senang, sedangkan Stevi memasang wajah sedih.
"Bener tuh harus cepet kabarin Kak Jeany biar dia gak nangis lagi hehe ... Nih." Jovina menyodorkan ponselnya pada Kevin, tidak menyadari perubahan raut wajah dua orang lain yang ada di sana.
Kevin segera menekan sebelas digit angka yang telah dihafalnya di luar kepala. Ternyata adiknya juga telah menyimpan nomor gadis yang hendak dihubunginya itu. Pemuda itu tersenyum membaca nama yang tertera pada layar, 'Kak Jeanynya Kak Kevin'.
Beberapa menit berlalu namun panggilan Kevin tidak kunjung diterima. Pemuda itu mengembalikan ponsel adiknya dengan wajah muram. Pasti HP-nya disimpan di tas lagi, batinnya kecewa.
"Nanti begitu kamu sampe rumah bilangin Jeany ya supaya ke sini," pintanya pada sang adik.
"Yaelah gak usah aku bilangin juga Kak Jeany pasti ke sini. Tadi aja udah nanya nomor kamarnya Kak Kevin."
"Beneran?" tanya Kevin penuh harap.
"Suerr deh!" Jovina mengangkat dua jarinya.
"Kevin, Mama mau keluar sebentar, ada janji sama teman Mama. Nanti agak sore Mama datang lagi." Tiba-tiba Henny membuat keputusan untuk pulang.
__ADS_1
"Mama pulang ke rumah?"
"Enggak."
"Hm ya udah," jawab Kevin lesu.
Jovina mengikuti mamanya. "Ikut, Ma! Aku lupa jam dua mau kursus gitar sama Tania!"
"Kamu ini gak usah terlalu banyak kursus, Vina. Pilih saja yang kamu benar- benar suka. Lebih baik hanya menguasai satu keahlian daripada belajar banyak macam tapi gak ada yang jadi," omel Henny panjang lebar pada putrinya.
"Mama nih, kalo gak ikut kursus banyak-banyak mana tau yang mana yang asyik," jawab Jovina sambil menggerutu.
Henny hanya menggelengkan kepalanya, membayangkan gitar akustik yang baru dibeli oleh putrinya tidak lama lagi akan berpindah tempat ke gudang. Ia lalu menoleh pada Stevi. "Kalau begitu saya titip Kevin sama kamu ya, Stevi?"
"Iya, Tante. Waktu saya sakit juga Kevin yang jaga saya terus. Sekarang gantian saya yang jaga Kevin," ucap Stevi sambil memandang hangat pada Kevin, tetapi yang dipandang langsung mengalihkan wajahnya ke arah lain.
"Wah kalian berdua memang serasi sekali," puji Henny sambil tersenyum sebelum meninggalkan ruangan tersebut.
Setelah mama dan adiknya pergi, Kevin berbicara pada Stevi dengan nada kesal. "Kamu apa-apaan sih, Stev, ngomong begitu di depan mama aku?"
"Yang aku omongin kan memang kenyataan."
"Lebih baik sekarang kamu pulang. Aku udah bilang ke mama kalo kita udah putus."
Kevin memandang tajam Stevi. "Tolong pulang. Aku butuh ketenangan."
Setelah berbicara seperti itu, Kevin memejamkan matanya berusaha untuk tidur. Namun rasa sakit di kepalanya membuatnya terus terjaga hingga obat pereda rasa sakit dari dokter menunjukkan khasiatnya. Stevi masih setia menunggu di samping Kevin walaupun tahu kehadirannya tidak diharapkan. Gadis itu duduk tertunduk, menahan rasa sedih di hatinya.
***
Jeany kini duduk berhadapan dengan Henny di ruangan privat sebuah restoran. Perasaan gugup menyelimutinya. Ia tidak mengerti mengapa mama Kevin itu tiba-tiba mengajaknya bertemu. Bahkan Winda yang seharusnya masih di kantor juga tiba-tiba pulang untuk menggantikannya menjaga Enzo.
"Langsung saja. Saya mau kasih tahu hari ini hari terakhir kamu bekerja di rumah saya. Setelah pulang dari sini tolong kemasi barang-barang kamu dan pergi." Nada bicara Henny terdengar begitu dingin.
Jeany terkejut mendengarnya. Mata gadis itu membulat menatap Henny. "Ta-tapi kenapa, Tante?"
"Saya sudah tidak butuh jasa kamu lagi." Henny lalu mengeluarkan amplop berwarna coklat yang tampak cukup tebal dari dalam tasnya. "Ini gaji kamu."
Jeany hanya melihat amplop tersebut sekilas. "Apa saya ada salah, Tante?" tanya gadis itu lirih.
__ADS_1
"Kalau kamu sadar diri, seharusnya kamu sudah tahu apa salah kamu tanpa perlu bertanya."
Gadis itu benar-benar tidak mengerti. Seingatnya ia tidak melakukan kesalahan apa pun, kecuali ...
"Kevin sudah cerita semua ke Tante?"
Henny menatap gadis itu dengan gurat wajah menahan amarah. "Saya masih memandang kerja bagus kamu selama menjaga cucu saya. Jangan buat saya sampai mengeluarkan kata-kata kasar untuk membuat kamu mengerti!"
"Saya-"
"Jauhi anak saya. Sampai kapan pun saya tidak akan merestui hubungan kalian."
DEG!
Ternyata memang benar Kevin sudah menceritakan hubungan mereka pada Henny. Namun reaksi mama Kevin yang seperti ini tidak pernah dibayangkan oleh Jeany. Selama ini Henny selalu memperlakukannya dengan sangat baik walaupun ia hanya seorang pengasuh bayi. Kevin pun pernah berkata mamanya adalah tipe orang tua yang lebih mementingkan kebahagiaan anak-anaknya.
Jeany menggelengkan kepalanya cepat-cepat, tidak ingin lagi untuk kesekian kalinya disuruh menjauh dari laki-laki yang dicintainya. "Tolong restui kami, Tante ... Kami saling mencintai ...." ucapnya dengan nada memohon.
Henny bergeming. Ia bangkit dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan Jeany yang masih kalut dengan pikirannya sendiri. Gadis itu tak mengerti mengapa Henny membencinya. Salahkah bila ia mencintai Kevin? Sejak awal hubungan mereka tidak pernah berjalan mulus. Apakah lebih baik ia menyerah saja?
Jeany mengeluarkan ponselnya karena ingin menghubungi Kevin. Ia lalu melihat pemberitahuan panggilan tak terjawab di layar ponselnya yang menunjukkan nama Jovina sebagai pemanggil. Jeany segera menelepon adik Kevin itu.
"Halo, Kak Jeany ...." Terdengar suara ceria Jovina tatkala menerima panggilannya.
"Iya halo, Vina. Tadi kamu telpon saya?"
"Oh itu Kak Kevin yang telpon. HP Kak Kevin hilang jadi pake HP aku. Kak Jeany tadi ke mana sih kok gak angkat telponnya?"
Jeany tersenyum lega mendengar Kevin masih mencarinya. "Tadi HP saya ada di dalam tas. Kamu lagi sama Kevin, Vina?"
"Engga, Kak, aku lagi di rumah Tania. Nanti mau pergi les sama-sama. Kak Stevi yang lagi sama Kak Kevin."
"Oh." Jeany merasa sedikit kecewa. "Apa kamu tahu kenapa tadi kakak kamu telpon saya?"
"Kayaknya mo ngasih tau supaya Kak Jeany gak usah kuatir deh. Tau gak, begitu Kak Kevin bangun yang langsung dicari tuh Kak Jeany! Dia minta aku bilang ke Kak Jeany supaya datang ke rumah sakit."
"Sungguh?"
Tanpa sadar air mata Jeany meleleh mendengar penuturan Jovina. Perasaan khawatir dan rindunya pada Kevin bercampur menjadi satu, memenuhi rongga dada gadis itu. Ia mengambil amplop yang ditinggalkan oleh Henny karena tahu akan membutuhkannya. Gadis itu lalu berjalan menuju pintu keluar restoran tanpa memedulikan tatapan orang-orang yang merasa heran melihatnya menangis.
__ADS_1
Jeany mencegat taksi yang lewat di depan restoran. Kepada sopir taksi gadis itu meminta diantar ke rumah sakit tempat Kevin dirawat. Ia tidak ingin menunda lagi untuk berjumpa dengan kekasihnya. Selama Kevin masih ingin bersama dengannya, ia tidak akan menyerah memperjuangkan cinta mereka.
Tolong like dan komen ya, Teman-teman 🙏