
Setelah Kevin pergi, Alan meminta istrinya untuk memikirkan kembali keputusannya. Apalagi kondisi putranya itu belum sepenuhnya pulih setelah kecelakaan yang dialaminya.
"Ma, apa tidak sebaiknya kita mengalah saja? Sepertinya Kevin sangat mencintai Jeany. Papa khawatir pendarahan di kepalanya bisa memburuk kalau tidak dijaga dengan baik."
"Kamu mau membiarkan anak kita bersama dengan perempuan murahan itu, Pa???"
"Bukankah tadi Kevin sudah menjelaskan? Anak itu kerja di club malam hanya sebagai waitress kan?"
"Oh, jadi kamu sekarang membela anak itu? Kenapa? Apa dia mengingatkan kamu sama perempuan yang pernah kamu tiduri???"
"Cukup, Ma! Kejadian itu sudah lama sekali berlalu! Tidak perlu diungkit-ungkit lagi!"
Dibentak oleh Alan membuat Henny semakin sakit hati. "Bagaimana aku tidak mengungkitnya kalau anak kita mengulangi kesalahan yang pernah kamu perbuat!!!"
Alan terdiam dengan kata-kata Henny. Ia baru sadar istrinya belum sepenuhnya memaafkannya. Kenangan menyakitkan itu tetap tersimpan rapat di relung hati terdalam sang istri.
"Ehm, Ma .... Menurutku Jeany gak seperti yang Mama pikirkan kok. Selama menjaga Enzo dia juga bertanggung jawab sekali." Marvin memberikan pendapatnya dengan hati-hati.
Henny melotot marah pada putranya. "Mama yakin dengan penilaian mama. Dia bukan perempuan baik-baik. Mama lihat sendiri dia berpelukan dengan laki-laki lain!"
"Tapi kita juga gak bisa membiarkan Kevin begitu saja di luar, Ma. Anak itu kan gak pernah hidup susah," ujar Marvin masih berusaha membujuk mamanya.
"Biarkan saja. Mama yakin dia tidak akan tahan lama di luar sana tanpa bantuan kita. Dan mama yakin perempuan itu juga akan meninggalkan Kevin setelah tahu Kevin tidak punya apa-apa lagi. Setelah itu mama akan atur Kevin kuliah di luar negri supaya tidak bisa berhubungan lagi dengan perempuan itu!"
Marvin mendesah dalam hati melihat mamanya yang begitu keras pada pendiriannya. "Seenggaknya kita harus tahu Kevin pergi ke mana. Jangan sampai terjadi sesuatu sama dia."
"Mau ke mana lagi dia, pasti menemui perempuan itu!"
"Tapi aku gak tahu alamat Jeany, Ma."
"Sepertinya Stevi tahu. Kamu saja yang tanya, mama malas bicara sama dia."
Marvin pun menerima ponsel yang disodorkan oleh Henny. Dalam hati ia merasa lega karena mamanya tidak benar-benar ingin memutuskan hubungan dengan Kevin. Ia betul-betul merasa kasihan pada sang adik yang kehidupan asmaranya tidak seberuntung dirinya.
***
Hari Minggu seharusnya menjadi hari yang paling menyenangkan untuk Stevi. Pada hari tersebut gadis itu bisa bangun lebih siang, lalu pergi bersenang-senang dengan teman-teman dan sahabatnya seharian penuh. Apalagi di saat libur semester seperti ini, tidak ada tugas kuliah yang harus dikerjakan.
Namun sejak keluarganya bangkrut, ia sering menolak ajakan teman-temannya untuk berkumpul dan bersenang-senang. Berbagai hal ia jadikan alasan penolakan, hingga teman-temannya pun bosan untuk mengajaknya lagi. Hanya Devi dan Sandra yang mengetahui kondisi keuangan keluarganya. Namun dua sahabatnya itu akhir-akhir ini tidak memiliki waktu untuk dirinya.
Seorang diri. Itulah yang dirasakannya saat ini setelah selesai berbicara dengan Marvin. Tanpa keluarga, tanpa teman, tanpa kekasih, bahkan kini terancam kehilangan kendaraan satu-satunya. Mengingat Kevin membuat hatinya kembali sakit. Mantan kekasihnya itu bahkan rela meninggalkan keluarganya demi perempuan lain. Namun ia tahu dirinya tidak dapat bersaing dengan Jeany, karena untuk menjaga Enzo saja ia tidak mampu melakukannya sebaik gadis itu.
Terbayang wajah kecewa mama Kevin saat mendapati cucunya terjatuh di tangga karena kecerobohan dirinya. Untung saja bayi itu tidak mengalami luka serius. Kini ia tidak memiliki muka lagi untuk bertemu dengan keluarga Kevin.
Penat dengan berbagai masalah dalam hidupnya, kaki Stevi melangkah menuju rumah Rika, tetangganya. Ia hanya butuh teman bicara. Tetangganya itu menyambutnya dengan senyuman hangat ketika membukakan pintu rumah.
"Lo hebat banget. Kita seumuran tapi lo udah lebih segala-galanya dari gue. Udah mapan, punya rumah dan mobil sendiri," ucap Stevi penuh kekaguman setelah cukup lama mengobrol di ruang tamu rumah Rika.
"Biasa aja. Lo juga bisa kok kalo mau kayak gue."
"Gue pusing, Rik. Mobil gue harus dijual buat bayar hutang bokap nyokap gue. Gue gak bisa bayangin pergi kuliah tanpa mobil, pasti nanti di kampus dipandang sebelah mata." Stevi mencurahkan isi hatinya.
Wajah Rika terlihat sendu, menunjukkan bahwa ia juga merasakan apa yang dirasakan oleh Stevi. Ia menepuk-nepuk punggung tangan Stevi dengan lembut.
__ADS_1
"Lo jangan sedih. Yakinlah semua ada jalan keluarnya. Gue bisa bantu kalo lo mau."
***
"Kamu ... minggat?"
Jeany bertanya dengan bingung setelah melihat kekasihnya datang sambil membawa sebuah tas berukuran besar. Wajah pemuda itu juga terlihat kemerahan seperti habis ditampar. "Muka kamu kenapa?"
Kevin tersenyum sedih. Ia duduk dan menceritakan semua yang terjadi pada kekasihnya. Baginya sebuah hubungan harus dijalani dengan keterbukaan. Ia tidak ingin menyembunyikan apa pun dari Jeany.
"Aku gak ngerti kenapa Stevi harus cerita ke Mama soal kamu pernah kerja di club malam." Kevin mengakhiri ceritanya dengan kesal.
"Dia gak sengaja. Dia juga ngerasa bersalah, makanya telpon Randy buat jemput aku." Jeany berbicara sambil mengelus pipi Kevin yang memerah bekas ditempeleng mamanya.
"Itu justru bikin mama aku makin salah paham sama kamu," gerutu Kevin.
"Kita juga banyak salah sama Stevi. Aku malah sekarang kuatir kalo dia beneran kenal Rika. Kamu harus ingetin dia, Vin."
Kevin mengangguk. "Maaf ya. Aku pernah bilang kita gak perlu menderita karena orang-orang yang hanya bisa menghakimi tanpa mau tahu kejadian yang sebenarnya," ucapnya dengan wajah sedikit malu. "Ternyata mamaku yang seperti itu."
Jeany menggelengkan kepalanya. Ia senang Kevin benar-benar mencintainya hingga rela tidak dianggap anak lagi oleh orang tuanya. Namun bagaimana kehidupan mereka setelah ini?
"Kamu udah tahu mau tinggal di mana?" tanya gadis itu.
"Tadi dalam perjalanan ke sini aku udah mikirin semuanya. Rencananya aku mau cari kos deket sini. Trus cari kerja. Untung uang kuliah udah dibayar, jadi masih bisa lanjut." Kevin menatap Jeany sambil meringis. "Besok kita input KRS bareng ya, supaya bisa sekelas."
Jeany mendadak memutus kontak matanya dengan Kevin. Gadis itu sedikit menunduk ketika berbicara. "Ehm .... Sebenernya aku udah ngajuin cuti kuliah."
"Loh kenapa?"
Kevin menghembuskan napasnya dengan gusar. "Kan masih ada jangka waktu pembayaran sampai bulan depan. Kamu cabut pengajuan cuti kamu yah, aku bakal usahain biayanya."
Jeany memegang tangan Kevin, berusaha memberi pengertian pada pemuda itu. "Aku udah pikirin ini matang-matang, Vin. Aku kan cuma cuti bukannya berhenti. Nanti kalau uang udah terkumpul juga aku bakal lanjut kuliah lagi. Paling lama satu tahun."
Kevin menatap Jeany cukup lama. "Jean, aku ingin menikahi kamu." Pemuda itu mengatakan sesuatu yang tidak disangka-sangka.
"Kamu ini .... Lagi ngomongin kuliah kok tiba-tiba ngomongin nikah ...," jawab Jeany sambil merasakan jantungnya berdetak sangat cepat.
"Aku serius. Inilah yang seharusnya aku lakukan sejak dulu, bertanggung jawab dengan menikahi kamu. Kita menikah aja, lalu tinggal di kontrakan kecil-kecilan. Gimana, kamu mau kan?" Kevin bertanya sambil menggenggam tangan Jeany.
"Lebih baik kamu fokus sama kuliah kamu dulu, Vin. Kita berdua juga sama-sama belum punya pekerjaan. Kalau nikah dan punya anak nanti apa gak makin berat?"
Tiba-tiba Kevin tertawa. "Kok kamu udah mikir sampe punya anak segala? Nikah kan gak harus langsung punya anak .... Nanti pas bikin pake pengaman aja biar gak jadi anaknya."
"Iya juga ya .... Eh, apa???"
Kevin tertawa makin keras melihat kekasihnya salah tingkah. Namun tidak lama kemudian wajahnya berubah serius.
"Tapi kamu benar. Aku memang belum punya kemampuan untuk jadi kepala keluarga," ucapnya sambil tersenyum pahit. "Semester ini aku akan menyelesaikan skripsiku. Setelah aku lulus kuliah dan mendapat pekerjaan tetap, kita langsung menikah. Enam bulan lagi," lanjut pemuda itu dengan mantap.
"Jangan terlalu maksa, Vin. Kuliah sambil kerja dan menyusun skripsi itu gak mudah. Jangan sampe kamu kecapekan."
"Engga kok. Tinggal tiga mata kuliah yang harus aku ambil. Plus skripsi. Jadi gak berat. Aku akan ambil jadwal kuliah pagi, supaya siang sampai malamnya bisa kerja."
__ADS_1
"Iya. Tapi ingat harus tetap jaga kesehatan ya jangan memaksakan diri."
"Iya, Sayangku. Kalo diingat-ingat lagi kita dulu sering banget satu kelas ya. Tapi kamu sombong banget, kalo kita berpapasan kamu gak pernah nyapa. Aku cuma dianggap angin lalu," ucap Kevin dengan ekspresi wajah terluka.
"Apa gak kebalik? Kamu tuh pandangannya ngelihatin Stevi mulu ...."
"Ahahaha .... Masak sih?" Kevin terkekeh sambil menggaruk kepalanya.
Jeany memberengutkan wajahnya. Gadis itu sedikit cemburu bila mengingat Kevin pernah sangat mencintai Stevi.
"Jangan ngambek. Sebenarnya aku gak benar-benar cinta ke Stevi. Setelah sama kamu aku baru sadar kalo perasaan aku ke Stevi itu lebih ke kagum daripada cinta. Dia luar biasa cantik soalnya."
"Iya iya Stevi cantik .... Aku mah apa cuma tutup panci ...."
Salah ngomong lagi, batin Kevin sambil menepuk jidatnya.
"Jangan ngambek lagi dong. Kamu juga cantik kok, bikin yang di bawah berdiri terus ...."
"Ih Kevin! Ternyata kamu aslinya begini ya?"
"Iya tapi cuma sama kamu," jawab Kevin menyengir.
"Emang sama Stevi gak pernah?"
"Pernah, tapi- Aduh aduh!" Kevin meringis kesakitan karena mendadak dicubit oleh Jeany. Ia menahan tangan gadis itu. "Dengerin dulu makanya. Aku pernah hampir cium Stevi, tapi batal gara-gara keinget kamu."
Wajah Jeany terlihat muram. Otaknya membayangkan adegan Kevin yang hampir mencium Stevi. Pemuda itu mengusap lembut kepala Jeany, memaklumi kecemburuan kekasihnya.
"Gak usah mikirin yang udah berlalu. Yang penting sekarang berjuang buat masa depan kita. Sekarang temeni aku cari kos yuk?"
Kevin benar, pikir Jeany. Ada masa depan yang harus mereka berdua jemput, tidak seharusnya memikirkan masalah yang telah berlalu. Ia pun mengangguk. "Tapi makan dulu ya, kamu kan harus minum obat. Kamu ada bawa obat kamu kan?"
"Iya bawa."
"Tadi aku masak nasi goreng. Kamu mau? Atau mau makan di luar?"
"Aku makan masakan kamu aja. Pasti enak."
Setelah makan dan memastikan Kevin telah meminum obatnya, Jeany menemani kekasihnya mencari rumah kos di area sekitar kampus. Mereka berkeliling cukup lama hingga menemukan kamar kos yang relatif murah biaya sewanya, bersih dan terawat, walaupun kecil dan tanpa pendingin ruangan.
"Tinggal satu kamar ini yang masih kosong. Sudah ada orang lain yang minat, tapi belum kasih tanda jadi. Kalau Adik serius langsung bayar saja untuk satu bulan supaya bisa langsung ditempati hari ini juga," ucap pemilik kos tersebut.
Kevin membuka dompetnya, menghitung lembaran uang yang masih tersisa. Gerakan tangannya terhenti dan tubuhnya mendadak kaku. Belum pernah ia merasa seperti ini sebelumnya. Uangnya tidak cukup.
Melihat itu, Jeany cepat-cepat mengeluarkan uang yang dibawanya. Uang hasil jerih payahnya menjadi babysitter di rumah Kevin.
"Ini, Pak. Tolong bikinkan kwitansi ya."
Pemilik kos lantas masuk ke dalam untuk membuatkan tanda terima pembayaran. Sebenarnya Kevin sudah diperbolehkan menempati kamar, tetapi Jeany merasa tidak enak masuk ke kamar kos laki-laki. Mereka duduk menunggu di ruang tamu.
"Aku gak berguna banget ya, Jean. Bayar kos aja masih pake uang kamu," ucap Kevin sedih, merasa tidak becus sebagai laki-laki.
"Jangan ngomong gitu. Dulu waktu aku susah kan kamu selalu bantu aku. Sekarang gantian."
__ADS_1
Kevin meremas jemari Jeany, semakin mencintai gadis itu.
Aku harus segera dapat pekerjaan. Aku harus bahagiain Jeany ....