Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)

Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)
Mulai Sekarang Lupakan Kejadian Malam Itu


__ADS_3

Kevin baru saja tiba di rumahnya setelah mengantar Stevi pulang. Tadi siang ia mengajak kekasihnya itu jalan-jalan untuk membantunya melupakan sejenak rasa sedihnya. Terbukti wajah Stevi kembali sumringah setelah pemuda itu membelikannya jam tangan bermerek dengan taburan kristal swarovski pada bagian dalam jam yang tertutup kaca. Kekasihnya itu memang penggemar jam tangan.


Di lantai dua rumahnya, Kevin berhenti di depan kamar Jeany, ragu-ragu antara ingin mengetuk pintunya atau tidak karena dilihatnya lampu kamar tersebut telah dimatikan. Dilihatnya jam tangannya menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Pemuda itu tidak ingin mengganggu waktu istirahat Jeany hanya untuk urusan remeh yang bisa dilakukan keesokan harinya. Ia pun memutuskan masuk ke kamarnya sendiri.


"Baru pulang kamu, Vin?" Winda menyapa sebelum pintu kamar Kevin menutup sempurna.


Mendengar suara Winda, Kevin membuka lebar pintu kamarnya.


"Iya, Kak. Tadi habis jalan-jalan sama Stevi."


"Oh. Brarti Jeany gak pulang sama kamu ya?"


"Engga. Emang tadi dia pergi?"


"Iya. Tadi begitu Kakak pulang dia langsung pamit mau keluar. Ada urusan katanya."


"Trus dia udah pulang apa belum?"


"Belum. Tadi kakak kira yang barusan pulang itu Jeany, ternyata kamu."


Wajah Kevin berubah cemas. "Pergi ke mana dia," gumam pemuda itu sambil mengeluarkan ponsel dari dalam saku celana panjang denimnya. Ia menghubungi Jeany tetapi ponsel gadis itu tidak aktif.


"Kok dia gak kasih tahu kalo mau pergi, kan bisa aku antar. Udah malam begini mau cari ke mana coba," ucap Kevin kesal bercampur cemas.


"Mungkin gak mau ganggu kamu sama Stevi."


Kevin mengeluh dalam hati. Salahnya sendiri juga tadi pergi tanpa berpamitan pada Jeany. Namun itu juga dikarenakan ia tidak menemukan gadis itu ketika hendak berangkat. Akhirnya ia hanya mengirim pesan percakapan yang mengabarkan dirinya menemani Stevi jalan-jalan. Pesan tersebut belum dibaca oleh Jeany hingga saat ini.


"Kakak juga nyesel sih tadi gak tanya lebih jelas. Soalnya kakak gak nyangka dia bakal belum pulang jam segini."


Kevin dapat melihat dengan jelas bahwa kakak iparnya juga merasakan kekhawatiran yang sama dengan dirinya. Memikirkan Jeany pergi seorang diri di malam hari dan hingga kini belum kembali, membuat perut Kevin tiba-tiba mulas. "Aku keluar cari dia dulu," pungkasnya.


"Ya udah tapi hati-hati ya. Kalo ada apa-apa segera hubungi kakak atau Kak Marvin."


"Oke."


Kevin memang mengatakan ingin mencari Jeany, tetapi ia tidak tahu ke mana harus mencari. Ia berputar-putar di sekitar tempat tinggalnya. Ia telah mengelilingi kecamatan yang dulunya merupakan rawa-rawa itu, tetapi tidak menemukan keberadaan gadis yang sedang ia cari.


Pemuda itu berhenti di depan sebuah toko yang telah tutup. Ia mengeluarkan ponselnya, ingin menghubungi seseorang.


"Sial!" umpatnya tatkala menyadari tidak ada siapa pun yang bisa ditanyai mengenai Jeany. Gadis itu seolah hidup sebatang kara, tanpa teman dan keluarga. Lalu ia teringat Serly, kakak kos Jeany yang ceriwis itu.


Kemungkinan baik yang masih tersisa adalah gadis itu pulang ke rumah kosnya. Kevin segera melajukan mobilnya. Ia harus secepatnya memastikan Jeany memang sedang berada di kos, agar dapat segera menyingkirkan perasaan gelisah yang dirasanya menyiksa batinnya.


Belum lama berjalan, ponselnya berbunyi. Satpam di rumah orang tuanya yang menelepon.


"Pak Darto, gimana?" tanya Kevin penuh harap.

__ADS_1


"Non Jeany-nya sudah pulang, Den."


Pemuda itu langsung menghembuskan napas lega. "Oke makasih infonya ya, Pak."


Untung tadi ia sempat meminta satpam di rumah orang tuanya itu untuk memberi kabar begitu Jeany kembali. Awas saja gadis itu, pikirnya. Ia perlu menegaskan bahwa kelakuan Jeany yang pergi tanpa kabar dan tidak bisa dihubungi seperti tadi harus menjadi yang pertama dan terakhir.


Begitu tiba di rumahnya, Kevin segera mengetuk pintu kamar Jeany, tidak sabar ingin berbicara dengan gadis itu.


"Ada apa?" tanya Jeany dengan wajah datar setelah membukakan pintu kamarnya.


"Kamu habis dari mana?"


"Tadi ada urusan."


"Kenapa gak bilang kalo mau pergi?"


"Buat apa?"


"Ya biar aku bisa antar."


"Aku bisa pergi sendiri."


"Lain kali jangan kayak gitu lagi ya. Aku kuatir banget tau gak pas Kak Winda bilang kamu belum pulang. Hampir aja tadi aku ke kos kamu karna gak tahu lagi harus cari kamu ke mana."


Raut wajah Jeany menampakkan kebimbangannya untuk beberapa saat. Namun tidak lama kemudian wajah gadis itu kembali dingin. "Kalo gak ada yang mau dibicarain lagi aku tidur dulu."


"Tunggu!"


Pandangan Kevin turun ke hidung Jeany yang mancung, lalu bibirnya yang mungil tetapi berisi. Pemuda itu meneguk ludahnya. Ia segera menurunkan pandangannya. Lalu dilihatnya leher indah gadis itu yang kini terpampang jelas hingga ke tulang selangka, karena kerah lebar pakaian tidur yang dikenakannya.


"Kalung kamu mana?"


"Ka-kalung apa?" Jeany tanpa sadar menyentuh lehernya.


"Kalung yang biasa kamu pakai."


"Aku gak pakai kalung."


"Aku pernah lihat kamu pakai."


Kevin tidak mengerti mengapa Jeany berbohong padanya. Di saat bersamaan, Jeany juga tidak mengerti bagaimana pemuda itu bisa mengetahui bahwa ia selama ini mengenakan kalung, karena kalung tersebut selalu tersembunyi di balik pakaiannya. Kalaupun sesekali tersembul keluar, biasanya laki-laki juga tidak akan memperhatikan hal-hal detail semacam itu.


"Itu kalung peninggalan papa kamu kan?"


Gadis itu tersentak. "Kok kamu bisa tahu?"


"Kamu sendiri yang bilang."

__ADS_1


"Kapan aku bilang?"


Kevin diam sejenak. Lalu dijawabnya pertanyaan gadis itu dengan pertanyaan juga. "Yakin mau aku jawab?"


"Iya," ucap Jeany mantap karena ia memang merasa tidak pernah menceritakan soal kalung tersebut pada Kevin.


"Waktu aku mau lepas baju kamu dan kalung itu nyangkut."


Kevin langsung memejamkan matanya usai berbicara. Ia sungguh tidak ingin mengungkit kesalahan fatal yang pernah dilakukannya itu. Namun kelakuan Jeany yang terang-terangan membohonginya membuatnya tidak memiliki pilihan lain. Bagaimana ia tidak tahu kalung tersebut sangat penting bagi gadis itu, bila dalam keadaan minim kesadaran saja gadis itu masih meracau, mempertahankan kalung yang dikiranya hendak dirampas darinya.


"Jangan ambil kalungku .... Kalung dari Papa ...." berontak Jeany ketika itu, membuat Kevin yang saat itu tengah dikuasai oleh syahwat membungkamnya dengan ciuman.


Setelah kejadian malam itu, tanpa dikehendakinya, mata Kevin akan selalu tanpa sengaja tertuju pada leher yang pernah dicecapnya itu, seolah ingin memastikan kalung tersebut masih berada di tempatnya.


Saking terkejutnya Jeany mendengar cerita Kevin, ia hanya bisa membuka mulutnya tanpa bersuara. "Kamu ingat semua kejadian malam itu?" tanyanya beberapa saat kemudian.


Kevin mengangguk. "Dari awal sampai akhir."


"Bu-bukannya kamu gak sadar?" Jeany tergagap memikirkan hal memalukan apa saja yang terjadi malam itu, yang seharusnya tidak boleh diingat oleh Kevin maupun dirinya.


"Harusnya. Aku juga gak tahu kenapa bisa ingat. Makanya perasaan bersalahku sangat besar."


Perasaan bersalah sialan itu lagi.


"Kalung itu aku jual. Puas? Sekarang aku mau tidur."


Namun belum sempat Jeany menutup pintu, Kevin telah menarik paksa lengannya hingga gadis itu tertarik maju beberapa langkah mendekatinya.


"Apa maksudnya kamu jual? Kalung itu penting kan buat kamu?"


"Kalungku mau aku jual atau engga bukan urusanmu."


Kevin menatapnya tak percaya. Mengapa dalam waktu setengah hari sikap gadis itu bisa berubah begitu drastis? "Kalau kamu butuh uang kan bisa bilang sama aku. Nanti kamu ganti setelah gajian. Kenapa harus menjual barang berhargamu?" Pemuda itu masih berusaha bersabar menghadapi sikap ketus Jeany.


"Itu sudah keputusanku. Sebaiknya mulai sekarang kamu lupain kejadian malam itu, lupain rasa bersalahmu, karna aku juga mau melupakannya."


"Maksud kamu apa sih? Kamu pikir aku mau mengingat-ingat masalah itu terus?" Emosi Kevin mulai tersulut.


"Makanya lupain aja."


Jeany menarik paksa lengannya dari cekalan tangan Kevin dan masuk ke dalam kamar, meninggalkan pemuda yang masih berdiri mematung di depan pintu kamarnya itu. Sikap dingin gadis itu di luar tadi kini telah menghilang. Jeany menjatuhkan dirinya di kasur dengan keras.


Gadis itu mentertawakan kebodohannya sendiri. Ia tadi bahkan tidak menangis ketika melihat Kevin mengucapkan janjinya pada Stevi. Namun kini, air matanya jatuh tanpa dapat ia tahan. Karena setiap kata-kata tajam yang diucapkannya pada laki-laki yang dicintainya itu, membuatnya turut merasakan sakit.


Mengapa merasakan cinta harus sesakit ini? Mengapa ia harus mencintai laki-laki yang tidak mungkin dimilikinya?


Akan tetapi, untung saja ia melihat Kevin dan Stevi di taman tadi. Mungkin itu adalah tanda dari Tuhan untuknya, karena hampir saja dengan tidak tahu malu ia bergantung lagi pada pemuda itu.

__ADS_1


Tadi pemilik rumah kosnya menelepon, meminta tolong padanya agar melakukan pembayaran sewa kamar yang tertunggak. Anak dari ibu kosnya itu masuk rumah sakit karena demam berdarah. Jeany merasa malu. Ia yang berhutang, tetapi yang memberi pinjaman yang memohon. Jalan terakhir adalah merelakan satu-satunya perhiasan yang masih dimilikinya.


Stevi benar. Ia tidak bisa terus bergantung pada Kevin. Karena semakin ia terlena oleh kebaikan pemuda itu padanya, perasaan yang tidak seharusnya ada itu akan tetap bersarang di hatinya. Bagaikan rumput liar yang disiram air hujan, begitu pula perasaan cintanya yang tumbuh semakin subur dan menyakitkan. Kini waktunya memaras rumput liar itu.


__ADS_2