Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)

Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)
Siapa yang Kamu Pilih?


__ADS_3

Suara tangisan Enzo menyadarkan Stevi bahwa ia seharusnya tidak melepas pandangannya dari bayi lucu itu. Gadis itu segera menutup ponselnya dan berlari mencari Enzo. Dalam keadaan panik, ia berdoa agar kelalaiannya barusan tidak membuat keponakan Kevin itu celaka.


Derap kaki Stevi terhenti saat melihat Henny menggendong sang cucu yang sedang meraung-raung, berjalan perlahan menapaki tangga. Mama Kevin itu melihat tajam ke arah dirinya.


"Stevi, saya kecewa sekali sama kamu."


***


Sopir taksi menghentikan kendaraannya di depan sebuah gang yang terlalu sempit untuk dimasuki mobil. Kevin dan Jeany saling berpandangan. Mereka turun dari taksi dan berjalan menyusuri gang tersebut, mencari tempat tinggal Devi.


Alamat yang diberikan oleh Devi menunjukkan sebuah rumah sederhana, rumah yang tidak cocok dengan penampilan Devi yang selalu terlihat berpakaian mahal. Melihat kedatangan Kevin dan Jeany, Devi segera membuka pintu pagar rumahnya. Ia memang sedang menunggu mereka, orang-orang yang dianggapnya telah mengkhianati sahabatnya.


"Jadi apa tujuan kalian datang ke sini? Mau ngeroyok gue?" tanya Devi tanpa rasa takut setelah mereka masuk ke dalam rumahnya. Bila tamunya macam-macam, ia siap meminta bantuan tetangganya.


Kevin segera menuntut penjelasan. "Lo dapat foto itu dari siapa?"


"Gue gak ada keharusan ngasih tahu kalian kan?"


"Dev, kenapa lo tega kayak gini? Gue ada salah apa sama lo?" Jeany tidak mengerti mengapa Devi begitu membencinya.


"Karna gue tahu sakitnya diselingkuhin pacar. Gue benci pelakor!"


"Dev-" Kata-kata Jeany dipotong oleh Kevin. "Biar aku aja yang jelasin, Jean."


Jeany menahan napas, seolah tahu apa yang akan dikatakan oleh Kevin. Pemuda itu memulai penjelasannya.


"Yang terjadi sebenarnya gak seperti yang terlihat di foto. Waktu itu Jeany dijebak temennya sendiri. Dia diberi obat dan mau dijual ke om-om yang ada di foto itu."


Devi menunjukkan wajah meremehkan. "Lo kira gue bakal percaya? Udahlah kalo emang jual diri ngaku aja, udah ada buktinya juga!"


"Gue belum selesai ngomong!!" bentak Kevin. Pemuda itu melanjutkan kalimatnya. "Gue yang menolong Jeany waktu itu. Tapi gara-gara mabuk malah gue sendiri yang akhirnya memperkosa Jeany."


"Vin ...." Jeany menggeleng, merasa Kevin tidak perlu menyebut kata memperkosa.


"Biar aja, biar dia tahu dan gak nuduh kamu macem-macem lagi."


Namun wajah Devi masih terlihat tidak percaya. Kevin terus bercerita.


"Setelah kejadian itu Jeany sama sekali gak pernah minta gue untuk bertanggung jawab, karna dia tahu gue udah punya pacar. Tapi gue terus merasa bersalah, gue yang terus deketin Jeany untuk menghilangkan rasa bersalah gue. Sampai akhirnya gue jadi sayang sama dia. Sekarang gue tanya sama lo, apa salah kalo gue mau bertanggung jawab?"


"Gue gak percaya. Ini pasti cuma karangan lo supaya dia gak ketahuan busuknya!" Devi menuding Jeany dengan jari telunjuknya.


"Tutup mulut lo! Gue berani sumpah ini cerita yang sebenarnya. Gue yang udah mengambil kesucian dia! Coba pikir gimana kalo lo yang ada di posisi Jeany? Apa lo gak mau orang yang udah memperkosa lo bertanggung jawab?!"

__ADS_1


"Gue gak peduli! Lo udah nyakitin Stevi. Dia cinta banget sama lo!" sergah Devi.


"Gue gak mungkin jalanin hubungan dengan dua cewek sekaligus. Seharusnya sejak awal gue putusin Stevi dan bertanggung jawab sama Jeany. Tapi gue terlalu pengecut. Jadi kalo ada yang harus disalahkan, salahkan gue!"


Devi masih keras kepala, tidak ingin mengakui kesalahannya. Kevin akhirnya menggunakan cara terakhir.


"Sekarang juga lo hapus foto itu dan minta maaf ama Jeany. Kalo sampe tersebar, gue bakal laporin lo ke polisi. Bokap gue punya banyak kenalan pengacara hebat. Lo paham maksud gue kan?"


"Heh, bisanya cuma ngancam. Biarpun gue hapus, masih ada orang lain yang menyimpan foto itu!"


"Dev, apa foto itu lo dapetin dari cewek bernama Rika?" tanya Jeany serius.


"Buat apa lo mau tahu?"


"Ini penting, Dev. Rika itu orang yang udah menjebak gue. Siapa pun harus berhati-hati sama dia. Dia pinter banget bersandiwara. Dia pura-pura baik dan membantu gue yang lagi butuh uang. Dia bikin gue menerima tawaran kerja di club malam, dan akhirnya ngejual gue ke om-om hidung belang. Untung waktu itu Kevin nolong gue."


Walau tidak menjawab apa pun, wajah Devi terlihat mulai bimbang, seperti memikirkan kata-kata Jeany. Di bawah ancaman Kevin, gadis itu akhirnya mau menghapus foto Jeany. Namun ia tetap menolak untuk meminta maaf.


"Biarin aja, Vin. Percuma juga dia minta maaf kalo terpaksa. Sekarang kita pulang aja." Jeany merasa lelah hingga tidak ingin berlama-lama di rumah Devi. Namun ia masih ingin mengingatkan Devi. "Dev, kalo Stevi juga kenal ama Rika, tolong lo lebih perhatikan dia. Karena Rika pasti mengincar cewek secantik Stevi."


Kevin juga ingin memberi Devi peringatan untuk terakhir kalinya. "Sampe foto itu tersebar, lo masuk penjara!"


Kevin dan Jeany lalu meninggalkan rumah Devi. Setelah apa yang baru saja dilaluinya, Jeany tidak memiliki semangat lagi untuk pergi ke mana pun. Ia memilih pulang ke kosnya, bersama Kevin yang masih belum ingin berpisah dengan kekasihnya itu. Seperti biasanya, mereka duduk di teras.


Usai makan, lagi-lagi Kevin belum ingin pulang. Pemuda itu mengajak Jeany pergi ke toko ponsel terdekat. Ia membeli ponsel untuk menggantikan ponsel lamanya yang hilang ketika kecelakaan. Pemuda itu tersenyum puas. Sekarang ia tak akan lagi kesulitan menghubungi kekasihnya. Mereka kembali ke kos gadis itu.


"Vin, mama kamu apa udah merestui kita?" Tiba-tiba Jeany bertanya.


Kevin menggeleng, tetapi berusaha membuat Jeany tidak sedih. "Jangan kuatir. Secepatnya mama aku pasti sadar kalo dia cuma salah paham sama kamu."


"Gimana kalo mama kamu gak akan pernah merestui kita? Siapa yang kamu pilih, mama kamu atau aku?"


"Mana bisa aku memilih? Yang satu orang yang udah melahirkan aku, yang satu pacar yang sangat aku cintai."


Merasa kecewa, Jeany tidak membalas ucapan Kevin. Mungkin memang terlalu egois bila ia mengharapkan pemuda itu memilih dirinya. "Udah hampir malam. Mending kamu sekarang pulang," sarannya pada Kevin.


Kening pemuda itu berkerut. "Sekarang kan masih jam lima sore, Jean."


"Iya tapi kamu udah lama di sini. Jangan sampai tetanggaku mikir yang engga-engga."


"Aku dari tadi cuma di teras. Mereka juga tahu lah kita gak ngapa-ngapain."


"Kita tetap harus mencegah kemungkinan terburuk. Jangan sampai aku dianggap perempuan gak bener."

__ADS_1


"Kenapa kamu harus mikirin apa kata orang sih? Yang penting kan kamu gak seperti itu."


"Gimana aku gak kepikiran, Vin? Fotoku sewaktu-waktu bisa beredar. Kalau kita gak jaga sikap semua orang bakal percaya aku emang cewek gak bener!"


"Kenapa harus takut? Toh kita gak merugikan siapa-siapa. Kalau mereka menuduh kamu macam-macam karena foto itu, kita tinggal jelaskan yang sebenarnya."


"Vin! Kamu enak ngomong begitu. Yang dicap jelek itu aku! Kamu lihat sendiri tadi Devi tetap gak percaya biarpun udah kamu jelaskan!" Jeany merasa frustrasi karena Kevin tidak juga mau mengerti.


"Makanya aku bilang gak usah pedulikan omongan orang lain! Mereka itu cuma bisa menghakimi tanpa mau mencari tahu kejadian yang sebenarnya. Kita gak perlu menderita karena orang-orang seperti itu."


"Kamu kok gak ngerti-ngerti sih, Vin?" erang Jeany putus asa.


"Aku sangat mengerti, Jean. Kamu yang ketakutan berlebihan. Atau jangan-jangan kamu suruh aku pulang karena Randy mau datang?"


Jeany mengernyit heran. "Kenapa jadi nyambung ke Randy?"


"Tadi kamu balas chat dari dia kan!"


"Aku cuma tanya keadaan dia. Kemarin sikap dia aneh banget soalnya."


"Aku gak suka kamu terlalu perhatian sama dia."


"Udahlah, Vin. Lebih baik kamu pulang dulu .... Daripada kita bertengkar kayak gini," ucap Jeany lelah.


Kevin pulang dengan hati dongkol. Niat hati ingin melepas rasa rindu dengan menghabiskan waktu selama mungkin bersama sang kekasih, malah berakhir dengan perselisihan. Kini setelah memikirkannya kembali, ia bahkan tidak mengerti penyebab pertengkaran tadi.


***


Di bagian belakang rumah majikannya, Bi Murni menemani Iis yang masih berjuang menyetrika setumpuk pakaian milik majikannya.


"Kalo kayak gini mending babysitter itu yang jaga Den Enzo. Kerjaanku juga ndak kira numpuk kayak gini. Untung tadi jatuhnya ndak parah yo, Bik!"


"Iyo untung Den Enzo masih dilindungi Gusti Allah."


"Padahal aku lebih seneng sama Non Stevi lho. Orangnya ramah, murah senyum. Ndak kayak babysitter itu, ndak pernah ngajak ngomong, ndak mau nyuci piring. Sombong kok ngakunya minder!" Sudah menjadi sifat Iis, tidak bisa bila tidak bergosip.


"Ya ojok disamakan to. Ndak semua orang itu grapyak kayak Non Stevi. Memang ada yang sifatnya seperti Non Jeany, takut sama orang. Tapi kan ndak berarti orangnya ndak baik. Buktinya Den Kevin bisa jatuh cinta."


"Iyo ta, Bik? Duh aku jadi ngerasa bersalah lho tak pikir orange sombong. Tapi apa bener yo dia cewek panggilan, kok sampe diusir nyonya kayak gitu?"


"APA?! MAMA NGUSIR JEANY?!"


Terdengar suara menggelegar di belakang mereka. Bi Murni dan Iis sontak menoleh dan mendapati wajah majikan muda mereka yang kini tengah dipenuhi aura gelap kemarahan.

__ADS_1


__ADS_2