Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)

Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)
Hanya Merasa Bersalah, Tidak Lebih


__ADS_3

Enzo baru saja tidur tidak lama setelah Jeany menyuapinya makan siang. Benar kata Kevin, keponakannya itu tidak rewel. Ia tidak menangis ketika Jeany menggendongnya untuk pertama kali, membuat gadis itu sangat bersyukur dengan dimudahkannya pekerjaannya kali ini.


Kevin juga menepati kata-katanya. Ia menemani Jeany menjaga Enzo hingga bayi lucu itu tertidur.


"Jean, yuk kita makan dulu mumpung Enzo tidur," ajak Kevin yang sudah merasa lapar.


"Kamu dulu aja, Vin. Aku harus jaga Enzo, jangan dia tiba-tiba bangun gak ada orang."


"Minta Bi Murni gantiin jaga bentar. Aku panggilin Bi Murni." Kevin langsung keluar dari kamar Enzo.


Jeany merasa akhir-akhir ini Kevin selalu memutuskan segala sesuatu tanpa bertanya padanya. Bukan ia tidak mau makan bersama Kevin, tetapi ia sadar posisinya di rumah itu hanya seorang pengasuh bayi dan Kevin adalah majikannya.


Jeany tentu saja senang bila Kevin bersikap peduli padanya. Namun, ada perasaan takut bila dirinya telanjur terbiasa dengan segala perhatian pemuda itu. Tidak mungkin Kevin akan seumur hidup menjaganya. Suatu saat pemuda itu pasti akan merajut masa depan dengan gadis yang dicintainya dan melupakan dirinya. Membayangkannya saja sudah membuat dada Jeany terasa sesak.


"Kamu ngelamunin apa?" tanya Kevin setelah kembali ke kamar dan melihat Jeany berdiri di samping tempat tidur bayi dengan pandangan kosong.


"Eh? Engga ngelamun kok. Kalo Bi Murni gak bisa kamu makan duluan aja," jawab Jeany karena melihat Kevin kembali seorang diri.


"Bisa kok. Nih udah datang orangnya."


Benar saja, Bi Murni masuk dan mempersilakan mereka berdua untuk makan sementara ia menjaga Enzo yang sedang tidur. Ia sudah tahu bila Jeany adalah teman dari putra majikannya. Namun sebenarnya ia penasaran bagaimana gadis yang terlihat biasa saja itu mendapat perlakuan istimewa dari tuan mudanya, sedangkan gadis-gadis lain yang lebih memesona bahkan tidak pernah diajak Kevin berbincang.


Di ruang makan, Kevin terlihat berkali-kali mengecek ponselnya.


"Belum ada balasan dari Stevi ya?" Jeany mengerti apa yang menjadi penyebab kegelisahan Kevin.


"Belum. Memang dia belum online sih dari tadi malam."


"Iya sabar aja mungkin lagi kehabisan paket data," kata Jeany mengemukakan kemungkinan yang ada.


Kevin mengangguk. Keduanya melanjutkan makan mereka. Jeany teringat untuk mencari artikel yang menjelaskan perilaku bayi bila haus. Ia pun membuka ponselnya yang sedari tadi tidak disentuhnya, karena tidak ingin perhatiannya teralih dan membuatnya lalai dari kewajiban menjaga Enzo.


Kening gadis itu berkerut melihat pesan percakapan dari seseorang, yang tanpa memperbesar foto profilnya pun Jeany sudah dapat mengenalinya.


Randy


[Temenin gue jalan yuk? 😘😘😘]

__ADS_1


Jeany


[Gak bisa. Kerja.]


Randy


[Kerja di mana? Plg jam brp? Gue jemput!]


Jeany


[Rahasia 😛]


Jeany mengetik pesan balasan sambil tersenyum geli membayangkan wajah Randy setelah membaca pesan darinya. Ia berharap pemuda itu tahu bahwa tidak semua perempuan akan bertekuk lutut padanya.


"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Kevin penasaran.


"Ini Randy tanya aku kerja di mana, tapi gak aku kasih tahu."


Seketika Kevin mematung. Ia tidak menyangka sahabatnya itu akan benar-benar mendekati Jeany. "Dia sering chat kamu?" tanyanya pada Jeany.


"Engga, baru kali ini."


"Iya aku tahu kok orangnya kayak gimana," jawab Jeany sambil tertawa.


"Kok kamu ketawa?"


"Habis aneh aja sifat kamu sama Randy beda seratus delapan puluh derajat gitu, tapi kalian bisa sahabatan."


"Sebagai sahabat, dia baik. Jadi aku gak masalah bersahabat dengan dia. Tapi aku gak akan tinggal diam kalau dia mempermainkan orang yang aku sayang," jawab Kevin serius.


Kevin mengucapkan kalimatnya sambil membayangkan Vina, adik perempuannya, dan Jeany. Sedetik kemudian ia menyadari kekeliruannya. Bagaimana mungkin ia menyayangi Jeany? Ia hanya merasa bersalah, tidak lebih.


Jeany mendadak canggung mendengar kalimat Kevin. Ia tipe perempuan yang bila malu akan ketahuan karena Kevin dapat melihat dengan jelas wajah memerah gadis itu.


"Maksudku, aku gak akan tinggal diam kalau dia sampai deketin adik perempuanku." Kevin berusaha memberi penjelasan.


Tentu saja. Mana mungkin dia sayang sama kamu. Tahu diri sedikit, Jeany! kata Jeany getir dalam hatinya.

__ADS_1


Gadis itu lalu tersenyum tanda mengerti. "Adik kamu kok gak kelihatan?" tanyanya sambil berusaha menekan perasaan sedih.


"Ada tadi. Sekarang lagi keluar sama Mama. Tadi kamu di kamar Enzo terus jadi gak ketemu. Kalo adik kamu sekarang umur berapa?" Kevin balik bertanya.


Pemuda itu baru menyadari bahwa sangat sedikit sekali hal yang diketahuinya tentang Jeany.


"Delapan tahun."


"Beda jauh ya umurnya." Kevin berkomentar setelah menghitung selisih usia Jeany dengan adiknya yang ternyata dua belas tahun.


"Papa mama kamu dalam rangka apa ke Hong Kong?" Jeany tidak ingin membicarakan keluarganya sehingga ia jadi lebih aktif bertanya pada Kevin.


"Perjalanan bisnis."


"Pasti jabatan papa kamu tinggi ya di kantornya."


"Ya begitulah hehe ...."


Selesai makan, Jeany hendak mencuci piring bekas makan mereka. Namun Kevin melarangnya karena akan dicuci oleh Mbak Iis. Rupanya keluarga Kevin memiliki dua orang asisten rumah tangga. Menurut Jeany jumlah tersebut masih kurang mengingat rumah keluarga pemuda itu cukup besar.


"Mama sulit percaya sama orang. Cuma dua orang itu yang awet sampai sekarang," jelas Kevin.


Mereka berdua kemudian kembali ke kamar Enzo. Bayi itu masih tertidur. Sebelum Bi Murni keluar, Jeany mengucapkan terima kasih padanya. Gadis itu lalu beralih ke Kevin.


"Vin, kamu kalau ada urusan duluan aja gapapa. Aku bisa kok sendiri."


"Beneran gapapa? Kalo gitu aku tidur dulu ya, habis makan ngantuk," jawab pemuda itu sambil meringis. "Kalo butuh apa-apa minta aja sama Bi Murni atau Mbak Iis. Atau panggil aku aja, kamarku di sebelah gak aku kunci," lanjutnya lagi.


"Haha iya iya tidur sana." Jeany mendorong Kevin keluar dari kamar Enzo.


Setelahnya, Jeany menunggu Enzo bangun sambil memikirkan rencana masa depannya. Semester depan ia harus sudah lulus kuliah agar bisa leluasa mencari uang. Sudah hampir dua tahun belakangan mamanya tidak mengiriminya lagi uang bulanan. Dan kuliah sambil bekerja sungguh melelahkan baginya.


Enzo terbangun dengan tangisan kencang. Jeany langsung menggendong bayi itu dan berbicara dengan nada menenangkan sambil mengusap-usap lembut kepala sang bayi.


"Sssttt .... Gapapa gapapa. Ada tante di sini."


Setelah tidak lagi menangis, Enzo menggeliat minta diturunkan. Jeany melakukannya dengan hati-hati. Rupanya bayi yang sudah bisa berdiri itu sedang senang-senangnya menjelajah lingkungan sekitar. Bayi itu langsung tersenyum ceria dan berpindah dari satu tempat ke tempat lain sambil berpegangan pada benda terdekat. Sesekali ia berceloteh sambil mengacungkan jari telunjuknya. Sepertinya tidak lama lagi Enzo akan bisa berjalan.

__ADS_1


Jeany terus mengikuti pergerakan sang bayi, menjaganya agar tidak terluka atau terjatuh. Gadis itu teringat saat SMP ia pun menjaga adik laki-lakinya seperti ini ketika mamanya sedang tidur. Entah bagaimana, sang adik terjatuh dan menangis kencang. Mama Jeany kemudian datang menenangkan sang adik, lalu memerintahkan asisten rumah tangga untuk memberinya susu. Ia kembali dengan sebuah ikat pinggang yang digunakannya untuk mencambuk Jeany karena telah membuat adiknya terjatuh.


Jaga kesehatan ya, Teman-teman. Jangan baca novel sampai begadang atau sampai lalai pada pekerjaan ya. Novel ini gak ke mana-mana kok, bisa dilanjut bacanya setelah ada kelonggaran waktu 😊😊😊


__ADS_2