Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)

Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)
Kamu Sendiri yang Memulai


__ADS_3

Siang itu Kevin tidak menemani Jeany menjaga Enzo. Ia ada janji bertemu dengan dua orang sahabat yang salah satunya sudah lama tidak dijumpainya.


Usai memarkir mobil, ia masuk ke dalam kafe yang telah disepakati menjadi tempat pertemuan. Ternyata dua orang sahabatnya telah lebih dulu tiba dan sedang menunggunya di meja dengan tempat duduk seperti sofa yang merapat pada dinding kafe. Makanan dan minuman juga telah dipesan.


"Hai, Bro! Gimana kabar lo?" Kevin memberi Johan pelukan khas lelaki.


Johan membalas pelukan tersebut. "Baik, Bro!"


"Gue gak lo sapa, Vin?" tanya Randy yang merasa diabaikan.


Pelototan sebal Kevin berikan pada pemuda tengil itu. "Gak kurang jauh lo ngajak ketemuannya?" omelnya karena ia harus melintasi dua jalan tol untuk sampai ke kafe tersebut.


"Sorry, Vin gua yang ajak ketemuan di sini. Habisnya gua kangen suasananya. Tenang gua yang traktir!" Johan yang menjawab pertanyaan Kevin tersebut.


"Oh kalo elo mah gapapa. Apa sih yang engga buat lo?" jawab Kevin ramah disertai senyum lebar.


Randy langsung meledeknya. Ia mengikuti gerak bibir Kevin dan menirukan kata-katanya tanpa suara. Johan tergelak melihat tingkah Randy. "Lo gak berubah ya, Ran. Sayang banget Rafael sama Akbar lagi pulang kampung," ucapnya di sela tawa.


"Lo gak pulang kampung juga?" ketus Kevin pada Randy. Entah mengapa hari ini ia sangat sebal pada sahabatnya itu.


"Ogah. Ntar gue disuruh bantu jaga toko," jawab Randy cepat.


"Kan bagus tuh, hitung-hitung belajar bisnis masa depan," ucap Johan.


"Bisnis apaan? Yang ada gue disuruh angkat-angkat barang!" Randy bergidik mengingat masa remajanya ketika membantu di toko kelontong milik orang tuanya tersebut.


Jangan salah. Walaupun Randy menyebutnya toko kelontong, toko milik orang tua Randy merupakan penyalur besar di kotanya. Sebagian besar toko-toko yang ada di kota tersebut melakukan perkulakan di toko milik orang tua Randy. Bahkan hingga toko di kota tetangga banyak yang menjadi langganan mereka.


"Jangan gitu. Ntar kan lo juga yang jadi penerus tuh toko," kata Kevin mengingatkan.


Randy melihat Kevin dengan tatapan iri.


"Lo enak jadi penerus perusahaan. Gue penerus toko kelontong," ucapnya meratapi nasib.


"Hahaha yang penting kan duitnya banyak ...." Mau tidak mau Kevin jadi tertawa melihat mimik wajah Randy. Perasaan sebalnya saat itu juga menghilang.


"Udah ah daripada ngomongin toko kelontong, kita ngomongin cewek aja," kata Randy dengan riang. "Gimana cewek China cakep-cakep gak? Lo sampai kapan di Indo?" tanyanya pada Johan.


"Sama ajalah kayak cewek di sini, ada yang cakep ada yang biasa. Gue balik bulan depan."


"Lo udah berapa kali pacaran di sana?" tanya Randy lagi.


Sementara itu Kevin hanya menyimak percakapan kedua orang sahabatnya. Di antara mereka bertiga, ia yang paling tidak berpengalaman untuk urusan perempuan.


"Gua di China gak pernah pacaran. Mau fokus kuliah."


Wajah Randy terlihat meremehkan. "Yaelah kan bisa kuliah sambil pacaran. Di SMA juga lo pacaran mulu."

__ADS_1


"Bedalah, sekarang udah makin tua, bukan waktunya main-main lagi."


"Tua apaan baru bertambah 3 tahun juga. Gak seru lo ah," tukas Randy kecewa.


"Lo sendiri gimana, masih kayak dulu?"


"Kayak dulu gimana maksud lo?" tanya Randy pura-pura tidak mengerti.


"Masih doyan tebar benih ke mana-mana lo?"


"Hahahahaha! Tanya Kevin aja. Gimana, Vin?"


"Tauk. Heran gue, lo apa gak merasa bersalah ama tuh cewek-cewek?" Kevin ingin mengetahui mengapa Randy bisa menjalani gaya hidup bebasnya tanpa beban.


"Ngapain? Orang kami melakukan suka sama suka kok. Malah banyak dari mereka yang ngajak duluan," jawab Randy dengan entengnya.


"Serius lo?!" tanya Johan hampir tersedak makanannya. Dari sekian banyak perempuan yang pernah dipacarinya, tidak ada yang terlebih dahulu berinisiatif mengajaknya bercinta.


"Sebejat-bejatnya gue, gue gak pernah maksa seorang perempuan buat tidur ama gue," ucap Randy serius.


"Trus kok bisa mereka sukarela gitu?"


"Pinter-pinternya gue merayu mereka lah," jawab Randy jemawa.


"Lo gak takut salah satu dari mereka hamil, Ran?" Kevin sungguh penasaran hingga tanpa sadar mengucapkan pertanyaan yang ada di benaknya.


"Sembarangan lo! Gue cuma iseng nanya!"


"Hahahahaha! Gak usah pura-pura lah. Cowok normal mana yang tahan lihat cewek sebening Stevi?"


"Tunggu tunggu. Ini lagi ngomongin Stevi anak SMA kita?" Johan menyela pembicaraan kedua sahabatnya.


"Hebat kan dia. Sekalinya pacaran langsung dapat artis Korea," jawab Randy sambil melirik sahabat yang sedang ia bicarakan.


"Wah wah mantap lo, Vin!" Johan berdecak kagum sekaligus iri.


"Mulai sekarang sedia k*ndom di tas lo, Vin. Siapa tahu ntar ada setan lewat hahahaha! Eh tapi kalo sampe kebablasan lo tinggal nikahin dia aja sih, kan lo ama dia juga pacarannya serius." Randy tertawa geli membayangkan seandainya sahabatnya yang alim itu menikah muda karena menghamili pacarnya.


Randy seperti tidak menyadari kata-kata yang dimaksudkannya untuk bercanda itu benar-benar menohok nurani terdalam Kevin. Ia telah menjadi laki-laki bejat yang tidak bertanggung jawab pada gadis yang telah dinodainya.


"Kalo cewek lo masih tersegel lo harus ngelakuin selembut mungkin, Vin. Biar dia gak sakit." Randy memberi saran tanpa diminta.


"Kayaknya bakal tetep sakit deh. Gua baca semua perempuan bakal sakit kalo ngelakuin itu pertama kalinya," timpal Johan.


"Baca? Emang lo belum pernah praktek?"


"Gua mah menganut prinsipnya Kevin. Tunggu halal dulu baru tancap," jawab Johan lugas.

__ADS_1


"Hahahahaha!"


Randy kembali terpingkal-pingkal. Ia melihat Kevin yang terdiam dengan raut wajah yang sulit ditebak. Kata-kata Johan sungguh telah menjadi sindiran telak bagi Kevin.


"Ngomong-ngomong, Jeany gimana, Vin?" tanya Randy tiba-tiba. Kali ini tidak ada sisa tawa di wajahnya.


"Je-Jeany? Gimana apaan maksud lo?" Kevin tidak siap mendadak ditanya soal Jeany.


"Kok lo jadi gelagapan gitu? Lo udah tanya belum dia sekarang kerja di mana?"


"Tunggu tunggu. Ini ngomongin Jeany anak SMA kita juga?" Lagi-lagi Johan menyela.


"Iya. Lo gak tahu sahabat lo ini sekarang lagi deket ama Jeany?"


"Wah wah, Vin, gak nyangka lo gue tinggal ke China jadi player gini!"


Kevin cepat-cepat menyanggah. "Apaan sih kalian. Gue ama Jeany cuma sahabatan."


"Gimana ceritanya lo bisa sahabatan ama Jeany?" Johan lebih tertarik mengetahui kisah di balik persahabatan Kevin dengan Jeany dibanding bagaimana Kevin bisa berpacaran dengan Stevi.


"Eh? Itu ... itu sejak kami satu kelompok tugas kuliah." Kevin mengulangi kembali kebohongan yang pernah diucapkannya pada Stevi.


"Gue tanya gimana, bukan sejak kapan."


"Hahahahaha!" Randy tidak dapat menahan tawanya.


"Apaan sih lo ketawa mulu!" hardik Kevin sebal.


Pemuda itu sedikit mengangkat pergelangan tangannya untuk melihat jam yang melingkar di sana, berharap sudah waktunya untuk pulang. Untung saja kali ini sang waktu berpihak padanya. "Gue cabut dulu. Mau antar adik gue belanja," ucapnya memberitahu kedua sahabatnya.


"Tunggu! Lo belum jawab Jeany kerja di mana," cegah Randy.


"Dia gak mau kasih tahu gue, Ran."


Randy menatapnya tidak percaya. Kevin membalas tatapannya tanpa keraguan. Ia ingin terlihat meyakinkan di hadapan Randy. Sementara Johan mulai bingung karena melihat kedua sahabatnya bersikap tidak biasa.


"Gue duluan ya. Udah telat. Ntar kontak-kontak lagi," ucap Kevin akhirnya.


"Yoi. Hati-hati, Bro!" Hanya Johan yang menjawab Kevin.


Setelah Kevin pergi, Johan bertanya pada Randy. "Lo ngapain mau tahu Jeany kerja di mana?"


Randy menyeringai licik sebelum menjawab pertanyaan sahabatnya. "Gak lama lagi lo juga bakal tahu."


Diam-diam pemuda itu mengirim pesan percakapan pada Stevi.


Jangan salahin gue, Vin. Lo sendiri yang memulai ....

__ADS_1


__ADS_2