Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)

Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)
Apa Ada Sesuatu di Antara Mereka?


__ADS_3

Tidak terasa sudah hampir satu minggu Jeany menjadi babysitter di rumah Kevin. Gadis itu bersyukur semua anggota keluarga Kevin memperlakukannya dengan baik, tidak terkecuali papa Kevin yang awalnya paling ia takuti.


"Masih muda sudah kerja keras ya," komentar papa Kevin ketika bertemu Jeany untuk pertama kalinya. Gadis itu menganggapnya sebagai sebuah pujian.


Saking baiknya keluarga Kevin padanya, Kak Winda sampai memberinya satu setel pakaian untuk dikenakan pada acara ulang tahun Enzo. Bahkan meminjamkan sepatunya. "Biar hasil fotonya bagus," katanya pada Jeany.


Tadinya Jeany tidak berharap akan hadir pada pesta ulang tahun bayi itu. Ia lebih memilih menunggu di rumah dari pada terlibat dalam keramaian pesta. Belum apa-apa tangannya sudah dingin membayangkan pesta yang menurutnya akan dihadiri oleh orang-orang dari kelas atas.


Padahal cuma pesta bayi, kenapa bikin stress begini? Jeany meratap dalam hati.


Bukan hanya itu masalahnya. Karena diundang sebagai teman Kevin, tidak mungkin ia datang tanpa membawa hadiah. Ia bisa saja membeli hadiah setelah jam kerjanya berakhir. Namun hadiah apa yang harus diberikan pada Enzo? Kalau hadiahnya terlalu murah, bukankah ia akan malu pada Kevin dan keluarganya? Namun uang dari mana untuk membeli hadiah mahal? Bolehkah ia meminta gajinya dibayar di muka?


Gadis itu berjalan mondar-mandir di dalam kamar memikirkan solusi atas masalah yang sedang dihadapinya. Ia sadar hal yang disebutnya sebagai masalah, mungkin bagi orang lain hanya hal sepele. Namun bagi dia yang selalu takut dengan anggapan orang-orang terhadapnya, hal tersebut sangat membebani pikiran.


Setelah berbagai pikiran konyol memenuhi kepalanya hingga ia tidak mampu lagi berpikir, Jeany memutuskan untuk menelepon Serly. Siapa tahu kakak kosnya itu punya dana ekstra yang bisa dipinjamkan. Ia berjalan ke balkon kamar agar tidak mengganggu Enzo yang sedang tidur.


Sambil menikmati hembusan angin yang menerpa tubuhnya, Jeany melakukan panggilan dari ponselnya.


"Halo, Jean. Tumben lo telpon?" suara ceriwis Serly menyambutnya.


"Halo, Kak. Aku lagi butuh bantuan Kakak."


"Hmm kalo ada butuhnya aja baru cari gue ...." Serly berpura-pura merajuk.


"Kakak bisa pinjemin aku uang gak?"


"Yaelah elu mau pinjem duit udah kayak nagih hutang aja. Baik-baikin gue dulu, rayu gue dong."


"Kak Serly ...." Terdengar suara putus asa Jeany. Ia sedang tertekan tetapi kakak kosnya itu malah mengajak bercanda.


"Aduh iya iya .... Bener-bener deh. Emang lo mau pinjem duit buat apaan?"


"Mau beliin keponakan Kevin kado. Besok ulang tahunnya. Aku disuruh datang ke pestanya. Takut banget, Kak ...." Akibat cemas, Jeany jadi banyak bicara.


"Apa yang lo takutin? Pesta keponakan sendiri kok takut."


"Keponakan sendiri?"


"Ya keponakan Kevin kan keponakan lo juga."


Karena merasa sesuatu akan meledak keluar dari ubun-ubunnya, Jeany menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya. Ia harus tahan dengan sikap Serly yang hobi menjodohkan dirinya dengan Kevin. Bagaimanapun ia sedang membutuhkan bantuan kakak kosnya itu. Sedikit makan hati tidak menjadi persoalan.


"Jadi Kakak bisa pinjemin aku uang kan?" Jeany sebisa mungkin membuat suaranya terdengar manis.


"Lo butuh berapa?"

__ADS_1


"Aku juga gak tahu, Kak. Menurut Kak Serly bayi umur satu tahun bagusnya dikado apaan?"


"Kok lo malah nanya gue? Kan lo babysitter-nya, harusnya lo yang lebih ngerti."


"Bingung, Kak. Kayaknya dia udah punya semua."


"Kalo tante baru dia belum punya kan?"


"Kak Serly .... Serius dikit dong ...," rengek Jeany sambil menghentakkan kakinya.


"Hahahahaha .... Lagian elo ngapain pake pusing segala sih? Beliin aja baju ato sepatu. Simpel gak pake ribet!"


"Ya udah aku ikutin saran Kak Serly. Kira-kira lima ratus ribu cukup gak, Kak?"


"Buat beli kado? Cukup! Tapi ...."


"Tapi apa, Kak?"


"Tapi duit gue yang gak cukup hehehehe ...."


Jeany serasa ingin pingsan.


"Halo? Halo, Jean?"


"Jadi dari tadi sia-sia aku bicara ama Kak Serly?" Nada bicara Jeany terdengar dingin menakutkan.


"Punyaku kayaknya baru bisa aku bayar tiga minggu lagi abis gajian," jawab Jeany sedih.


"Kenapa lo gak pinjem duit Kevin aja sih? Dia kan tajir."


"Gak enak lah, Kak. Masak aku pinjam uang dia buat beli kado keponakannya?"


"Menurut gue gapapa sih. Yang penting kan duitnya lo balikin."


"Engga deh udah terlalu banyak aku hutang budi sama dia."


"Denger ya, seorang laki-laki akan merasa bahagia bila bisa membantu wanita yang dia cintai," ucap Serly sok puitis.


"Sudah dulu ya, Kak aku mau muntah."


"Hahahaha ...." Masih terdengar gelak tawa Serly ketika Jeany memutus panggilannya.


Jeany memijat pelipisnya dengan rasa frustrasi. Kenapa bisa ada orang seajaib Kak Serly?


Gadis itu membalik tubuhnya hendak masuk ke dalam kamar. Namun matanya menangkap sosok Kevin yang sedang berdiri di depan pintu menatap dirinya.

__ADS_1


"Ehm .... Sorry aku gak bermaksud menguping."


"Kamu udah dari tadi di situ?"


"Iya. Sorry."


Kevin tidak ingin berdusta. Ia sejak tadi sudah mendengar percakapan Jeany. Awalnya ia ingin pergi ketika mengetahui gadis itu sedang menelepon seseorang, tetapi kata-kata "pinjam uang" yang diucapkan oleh Jeany membuatnya terdiam di tempat.


Selama ini pemuda itu mengira ia telah melakukan yang terbaik untuk Jeany. Padahal selama belum mendapatkan gajinya, gadis itu melalui hari demi hari dengan keadaan sama saja seperti sebelum ia bekerja di rumah Kevin. Kesulitan keuangan. Selalu hidup dalam keadaan serba ada membuat Kevin tidak dapat segera menyadari hal tersebut.


"Jean, aku kan udah bilang kalo butuh apa-apa bilang aja sama aku," ucap Kevin serius.


"A-aku ...." Jeany tidak tahu harus berkata apa. Ia ingin menyisakan sedikit harga diri yang tersisa, tidak ingin Kevin selalu melihatnya dengan tatapan iba seperti yang saat ini sedang ditampakkannya.


"Habis kamu off kita pergi beli kado buat Enzo yuk?"


Suara lembut Kevin membuat pertahanan diri Jeany runtuh. Gadis itu berusaha menahan air matanya yang telah menggenang. Ia benar-benar merasa tidak berguna karena selalu menyusahkan Kevin. Entah apa yang menyebabkan perasaannya menjadi begitu sensitif.


"Sorry ya aku selalu ngerepotin kamu ...."


"Eh? Kamu kenapa? Ja-jangan nangis ya ...."


Melihat Jeany hampir menangis, Kevin jadi salah tingkah. Tanpa sadar ia berjalan maju mendekati gadis itu.


"Vin, kamu selalu bantu aku. Tapi aku ... aku belum bisa balas kebaikan kamu. Kalau seandainya ada yang bisa aku lakuin buat kamu, kamu juga harus bilang ya," ucap Jeany bersungguh-sungguh.


Kevin menghela napas lega.


"Jadi cuma karna ini kamu mewek? Denger, Jean. Aku seneng kok bisa bantu kamu. Sama sekali gak merasa direpotkan." Kevin berkata dengan mimik wajah serius. Ia menyeka satu bulir air mata yang lolos turun di pipi Jeany dengan jari telunjuknya.


Sentuhan jemari Kevin membuat Jeany refleks menengadahkan wajahnya. Ia melihat Kevin sedang tersenyum lembut padanya. Mereka jadi bertatapan selama beberapa waktu. Jarak di antara mereka begitu dekat. Manik mata Jeany seolah menjadi magnet yang membuat Kevin tidak mampu memalingkan wajahnya.


"Kak Kevin, Kak Jeany? Kalian lagi ngapain?"


Suara dari Jovina membuyarkan momen indah tersebut. Kevin melihat adiknya telah berganti pakaian, terlihat siap untuk pergi. Ia mengeluh dalam hati karena telah melupakan janjinya untuk mengantar adiknya itu.


"Lagi ngobrol aja. Udah mau pergi?"


"Kak Kevin gak usah antar aku deh. Tadi temenku bilang mau jemput."


"Siapa yang mau jemput?"


"Tania, Kak."


"Oh .... Ya udah pulangnya jangan malam-malam." Kevin mengiakan setelah mendengar nama yang dikenalnya.

__ADS_1


Jovina melangkah keluar sambil memikirkan apa yang dilihatnya tadi. Ia yakin tidak salah melihat perlakuan lembut kakaknya pada Jeany. Apa ada sesuatu di antara mereka?


__ADS_2