
Pagi itu keluarga Wijaya sedang sarapan bersama, termasuk Kevin yang hari sebelumnya baru saja pulang dari rumah sakit. Sedangkan Jovina, remaja tanggung itu masih terbuai di alam mimpi. Di antara semua orang yang ada di sana, hanya Kevin yang terlihat tidak bersemangat menyantap roti bakar yang biasanya menjadi menu favoritnya.
"Kevin, kenapa rotinya gak dimakan, Nak? Atau mau makan apa? Biar dimasakkan. Jangan lupa kamu harus minum obat." Henny mengingatkan putranya.
"Ma, apa aku belum boleh pake HP?"
"Kamu kan dengar sendiri dokter bilang apa. Kamu belum boleh banyak membaca, nonton TV, menyetir ... Untuk amannya lebih baik tidak usah pakai HP dulu," tegas Henny.
Kevin tidak membantah. Ia tahu mamanya sengaja menjauhkannya dari ponsel agar tidak bisa menghubungi Jeany. Bahkan sambungan pesawat telepon di rumah dicabut oleh Henny. Kevin tidak ingin berselisih dengan sang mama sebelum mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi. Ia melihat papa, kakak dan kakak ipar yang sepertinya jadi lebih diam daripada biasanya.
Pemuda itu menunggu hingga menjelang siang saat Henny keluar rumah untuk menghadiri acara perkumpulan dengan sesama ibu-ibu. Kevin segera mendatangi kakak iparnya.
"Kak Winda, apa benar Jeany pergi sama Randy?"
"Ehm itu ... Lebih baik kamu tanyakan langsung sama dia." Winda tidak bisa mengatakan yang sebenarnya, tetapi juga tidak ingin berbohong.
"Kok aku merasa mama kayak benci banget sama Jeany?"
"Vin, kakak pinjami HP kakak supaya kamu bisa ngomong sama Jeany, tapi jangan sampai mama tahu ya." Winda menuruti kata hatinya untuk membantu Kevin. Bagaimanapun ia juga menyukai Jeany.
"Makasih, Kak!" jawab Kevin sumringah.
Pemuda itu masuk ke dalam kamarnya dan langsung menelepon Jeany.
"Halo. Ini aku."
"Halo, Vin, akhirnya kamu telpon! Kamu udah keluar rumah sakit? Kenapa kemarin gak hubungin aku sama sekali?" Suara Jeany terdengar cemas sekaligus lega.
"Kamu kemarin ke mana?"
"Kemarin aku pergi cari kerja."
"Sama Randy?"
"Iya."
"Sekarang lagi di mana?"
"Lagi di kampus ... Mau lihat-lihat kalau ada lowongan kerja."
"Sama Randy juga?"
"Dia cuma anterin aku."
"Harus banget ya pergi terus ama Randy? Peluk-pelukan ama dia?"
"Vin, apa-"
Kevin langsung mematikan panggilan teleponnya karena kesal. Ia tahu sikap cemburunya telah berlebihan. Namun ia tidak dapat menahan rasa yang begitu saja muncul. Rasa seolah dadanya ingin meledak. Daripada ia menyakiti Jeany dengan kata-katanya, lebih baik menunggu hingga suasana hatinya membaik.
"Gimana, Vin? Apa kata Jeany?" tanya Winda ketika Kevin mengembalikan ponselnya.
"Nanti aja ngomong ama dianya kalo aku udah gak emosi, Kak."
"Tapi jangan biarkan masalah berlarut-larut ya, segera selesaikan."
Kevin mengangguk dan kembali ke kamarnya. Sambil berbaring, ia membayangkan wajah Jeany, gadis yang berhasil membuatnya tahu bagaimana rasanya tersiksa karena cemburu. Reaksinya memang kekanakan, tetapi ia ingin Jeany sadar bahwa kedekatan gadis itu dengan Randy sangat mengganggu dirinya.
Sore harinya, Stevi datang menjemput Kevin untuk pergi ke acara reuni. Mereka berdua telah mengenakan setelan batik yang tampak sempurna di tubuh masing-masing. Pakaian batik yang menjadi saksi bisu ketika Kevin meminta putus darinya, pikir Stevi miris.
"Wah kalian memang serasi sekali. Yang satu ganteng, yang satu cantik. Kalau punya anak pasti juga cakep sekali wajahnya." Henny sangat senang melihat Kevin dan Stevi memakai pakaian kembar yang membuat keduanya terlihat serasi dan harmonis.
Kevin memberengut kesal mendengar ucapan mamanya. "Mama ngomong apa, sih? Kevin ama Stevi udah putus, Ma. Kami cuma pergi sebagai teman."
"Putus kan masih bisa pacaran lagi? Kan ada istilahnya cinta lama bersemi kembali. Iya kan, Sayang?" Henny meminta dukungan putrinya.
__ADS_1
"Iya, Ma. Tapi juga ada istilah cinta pertama tidak pernah pudar."
Hanya Kevin dan Stevi yang mengerti maksud Jovina.
"Omong kosong lah yang namanya cinta pertama. Seumuran kalian itu namanya cinta monyet, belum bisa memilah mana yang terbaik," ucap Henny meluruskan putrinya.
"Mama aja yang gak tahu, kayak gak pernah muda aja ...." Jovina menjawab sebelum cepat-cepat masuk ke kamarnya, takut kelepasan bicara lebih banyak.
Bertepatan dengan itu, Winda turun sambil menggendong Enzo.
"Ma, barusan aku dapat telpon dari atasanku di kantor dulu. Besok aku dimintain tolong datang ke kantor, Ma. Pengganti aku gak bisa masuk karena diare, dan kerjaan kantor lagi padat banget sekarang," lapornya pada Henny.
"Waduh, besok mama harus temani Papa ke Bogor. Bagaimana ya? Mau cari babysitter di mana kalau mendadak begini?"
"Biar saya aja yang bantu jaga Enzo, Tante." Stevi menawarkan diri.
"Benar kamu mau, Stevi? Capek lho jaga bayi."
"Iya gapapa kok, Tante. Saya suka anak-anak," jawab Stevi meyakinkan.
Setelah itu, Kevin dan Stevi berangkat menuju hotel tempat reuni diadakan. Kevin menoleh pada Stevi yang sedang menyetir. "Kamu ngapain nawarin jaga Enzo segala, Stev?"
"Lho di mana salahnya? Aku cuma kasihan sama mama kamu soalnya tadi kayaknya bingung banget."
"Ya tapi kan kita udah putus. Sebaiknya kamu jangan terlalu dekat sama keluargaku."
"Ya namanya usaha kan. Siapa tahu dengan aku jadi babysitter ponakan kamu, kita bisa sering ketemu dan kamu jadi cinta sama aku."
Kevin tidak menanggapi sindiran Stevi. Mereka berdua sama-sama diam hingga tiba di tempat tujuan. Di ballroom sebuah hotel bintang lima, telah ramai para alumni satu angkatan mereka yang duduk berkerumun dengan kelompok masing-masing, sama seperti ketika SMA dulu. Grup musik yang beranggotakan alumni sekolah meramaikan acara dengan lagu-lagu yang mereka mainkan secara apik, tidak ada bedanya dengan grup musik terkemuka. Setidaknya begitulah pemikiran Kevin.
Kevin dan Stevi langsung bergabung dengan orang-orang yang dikenalnya. Tampak Johan, serta Rafael dan Akbar yang sengaja kembali ke Jakarta demi menghadiri acara reuni tersebut.
"Hai, Bro! Kok lo tambah kurus sekarang?" sapa Johan pada Kevin.
"Kebanyakan keluar kali. Siapa kira sekarang Kevin udah ada gandengan, malah kita bertiga yang masih jomblo!"
Mereka saling meledek, lebih tepatnya meledek Kevin yang dulu tidak mau berpacaran tetapi kini datang ke reuni berdampingan dengan gadis idaman semua laki-laki ketika di SMA dulu. Stevi ikut tertawa, membuatnya terlihat semakin cantik. Banyak laki-laki di sana yang diam-diam merasa iri pada Kevin.
Kevin lebih banyak diam. Hingar bingar acara reuni tidak menarik minatnya. Ia semata-mata datang untuk menepati janjinya pada Stevi. Namun ada satu hal yang dinikmatinya dari acara tersebut, yaitu lantunan lagu kesukaannya yang kini dinyanyikan oleh grup musik berbeda walaupun masih sama-sama beranggotakan alumni sekolah mereka.
Akhirnya ku menemukanmu
Saat hati ini mulai meragu
Ketika lirik tersebut keluar dari bibir sang vokalis, terlihat Randy datang bersama Jeany. Mereka sangat serasi dengan pakaian serba hitam. Randy mengenakan kemeja hitam pas badan. Gesper ikat pinggang yang dikenakannya membuatnya terlihat gagah dan keren. Sedangkan Jeany mengenakan gaun tanpa lengan yang sedikit ketat, memperlihatkan ukuran pinggangnya yang ramping. Wajah gadis itu juga terlihat sangat menggoda karena tata rias salon yang dipaksakan oleh Randy padanya.
"Ya ampun itu bener Jeany? Beda banget ...."
"Gue baru tahu Randy ama Jeany pacaran ...."
Terdengar bisik-bisik teman-teman mereka. Sejak masuk ke dalam ballroom, Randy dan Jeany memang langsung menjadi pusat perhatian. Kevin tentu saja juga melihat mereka. Ia harus menahan perasaannya yang bergejolak, apalagi setelah melihat Randy menggenggam tangan gadis yang dicintainya itu.
"Lo jangan pingsan dulu, Jean. Mulai aja belom." Randy merasakan tangan Jeany sangat dingin dan wajah gadis itu pun memutih. Ia belum pernah melihat orang lain gugup hingga seperti Jeany.
"Takut, Ran. Semua ngelihatin kita," keluh Jeany. Gadis itu memang lebih mudah cemas bila berada di kerumunan orang yang dikenalinya.
"Gak usah takut. Gue bakal selalu menemani lo di sini."
Mereka menghampiri Kevin dan kawan-kawan. Devi dan Sandra juga telah duduk di sana.
"Cie cieee kita harus minta PJ nih. Akhirnya Randy berhasil jadian ama Jeany." Johan menyambut kedatangan temannya dengan menagih traktiran.
"Makan doang yang lo pikirin!" cibir Randy.
"Buseettt .... Apa temen kita ini udah tobat ya?
__ADS_1
"Lo jangan mau kalo dia belum tobat, Jean! Yang ada ntar makan hati mulu!"
Randy menyeringai mendengar celotehan teman-temannya. "Gue aminin aja deh."
"Jiah jadi belum jadian?"
"On process."
"Lo kayak lagi ngajuin kredit aja on process on process ...."
"Yah batal dapat PJ deh kita."
Semua menyayangkan gagalnya kesempatan mereka untuk makan gratis. Tentu saja Kevin tidak termasuk di dalamnya.
Akbar mendekati Randy dan berbicara dengan mimik wajah serius. "Eh Ran, lo masih inget Claudia gak?"
"Inget lah." Tentu saja Randy tidak pernah lupa dengan siapa ia pernah bersenang-senang.
"Lo tau gak dia lagi sakit?"
"Engga. Sakit apaan emang?"
"Denger-denger TBC akut. Badannya udah kurus banget, sekarang lagi kritis di ICU."
"Kasihan. Apa ada yang bisa gue bantu? Biaya pengobatan mungkin?" Wajah Randy menunjukkan keprihatinannya.
"Lo tau gak-" Akbar membisikkan sesuatu di telinga Randy.
"Yang bener lo, Bar?!"
Wajah Randy terlihat sangat syok. Ia memandang Akbar tanpa berkedip.
"Bener lah. Lo kan tahu adik gue sahabat dia."
Sejak berbicara dengan Akbar, Randy lebih banyak diam. Begitu pula dengan Jeany yang merasa semakin tidak bernyawa melihat Kevin mengabaikannya seperti tidak ada hubungan apa pun di antara mereka. Ia tidak bisa mengajak Kevin bicara karena pemuda itu selalu dikerumuni oleh teman-temannya.
Menit demi menit berlalu, acara demi acara dilewati. Entah bagaimana Jeany bisa bertahan begitu lama di tempat itu, padahal ia sama sekali tidak menikmatinya. Randy pun terlihat lesu, tidak seperti biasanya. Kini hanya tinggal satu kegiatan lagi yang tersisa sebelum acara reuni tersebut berakhir.
Seolah tidak sabar, Kevin langsung berdiri dan menarik tangan Stevi untuk maju ke lantai dansa. Terdengar suitan dari teman-teman mereka, menggoda pasangan yang dianggap paling memukau itu. Jeany hanya dapat menyaksikannya dengan pilu. Sia-sia ia datang ke tempat itu. Orang yang ingin ditemuinya malah tidak mengharapkan dirinya.
Teman-teman Kevin juga tidak mau ketinggalan. Johan telah memiliki pasangannya sendiri. Sedangkan Rafael dan Akbar berpasangan dengan Devi dan Sandra. Mereka berjalan maju menyusul Kevin dan Stevi.
"Lo lihat kan, Kevin tuh cintanya ama Stevi. Lo cuma selingan aja bagi dia. Dasar bispak!"
Devi berhenti sebentar untuk membisikkan kata-kata tajam di telinga Jeany sebelum kembali berjalan menuju lantai dansa. Jeany mengernyit, tidak mengerti arti dari kata terakhir yang diucapkan oleh Devi. Gadis itu berusaha mengabaikan sikap buruk Devi padanya. Justru sikap Kevin yang ia rasa lebih melukainya.
"Lo mau dansa, Jean?" ajak Randy padanya.
"Engga, Ran, gue gak pede. Kalo lo mau dansa ama orang lain gapapa kok."
"Gue juga malas."
"Lo kenapa lesu, Ran? Apa kepikiran cewek yang tadi diceritain Akbar?"
"Engga, gue sama sekali gak kepikiran dia. Cuma lagi capek aja mungkin. Capek gak bisa dapetin hati lo." Randy menjawab sambil bercanda, tetapi Jeany sempat melihat tatapan mata pemuda itu bergetar.
Setelah itu waktu terasa berjalan sangat lambat. Dari tempat duduknya, Jeany memperhatikan para pasangan yang sedang berdansa diiringi musik yang mengalun indah. Pencahayaan di lantai dansa pun dibuat remang-remang untuk menciptakan suasana romantis. Walau begitu Jeany tetap dapat melihat Kevin yang sedang memegang pinggang Stevi. Gadis itu pun memalingkan wajahnya.
Di lantai dansa, Stevi terus tersenyum. Ia memegang pundak Kevin dengan penuh perasaan, menikmati setiap detik kedekatannya dengan pemuda itu. Mungkin malam ini adalah malam paling indah selama ia berpacaran dengan Kevin. Untuk sesaat ia mengabaikan fakta bahwa dirinya dan Kevin bukan lagi sepasang kekasih.
Tidak terasa satu lagu berakhir. Kevin melepaskan tangannya dari pinggang Stevi. "Stev, aku udah tepatin janji aku kan? Sekarang waktunya kamu tepatin janji."
Stevi mengangguk, mengerti apa maksud Kevin. Pemuda itu lalu berjalan menuju deretan kursi yang tadi ditinggalkannya. Tatapannya tidak pernah lepas dari seorang gadis yang sedang duduk sambil menunduk di sana.
Jeany terkejut saat sebuah tangan terulur di hadapannya. Ia mendongakkan kepala dan melihat Kevin sedang tersenyum padanya.
__ADS_1
"Maaf bikin kamu menunggu lama. Mau kan dansa sama aku?"