Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)

Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)
Papa Sudah Pulang


__ADS_3

Suara pintu yang dibuka dengan tergesa-gesa mengejutkan para penghuni divisi keuangan. Wajah-wajah yang sedang fokus menatap layar komputer sontak terangkat dan memandang ke arah pintu. Semua tampak kaget melihat siapa yang berdiri di sana.


Pandangan Kevin menyapu seluruh ruangan divisi tersebut. Ia memperhatikan satu per satu meja yang ada di sana. Hanya ada satu meja yang tidak berpenghuni, meja milik perempuan yang sedang ia cari.


"Ke mana Jeany?" tanyanya pada Juli yang duduk tepat di sebelah meja kosong itu.


"Je-Jeany pulang, Pak. Katanya lagi gak enak badan," jawab Juli terbata-bata karena mendadak ditanya oleh direktur dingin itu.


"Naik apa dia pulang?"


"Naik Grab."


Kevin langsung melangkahkan kakinya menuju pintu di ujung ruangan yang merupakan akses masuk ke dalam ruangan Prasetyo beserta asisten manajernya.


"Sekarang juga ke ruangan saya," titahnya pada Prasetyo. Lagi-lagi tanpa senyum.


"Apa divisi kita ada bikin kesalahan ya, Pak? Kok Pak Kevin kayak marah gitu mukanya?" Febi bertanya cemas pada atasannya.


"Saya juga gak tahu, Feb."


Prasetyo berjalan menyusul Kevin yang telah lebih dulu meninggalkan ruangan divisi keuangan. Ia merasa para stafnya memperhatikan dirinya dengan wajah kasihan.


"Pasti mau dimarahi deh. Lo lihat tadi Pak Kevin mukanya serem banget," ucap Juli mulai bergosip.


"Tapi kalo mau marahin Pak Pras ngapain Pak Kevin nyari Jeany dulu?" sangkal Anet.


"Hmm mungkin cuma iseng nanya soalnya gak lihat Jeany, kan mereka temen lama."


"Kok kayaknya Pak Kevin bukan tipe orang yang suka iseng ya."


Para staf tersebut hanya bisa menduga-duga apa yang sebenarnya terjadi. Sementara itu, di dalam ruangan direktur utama, Prasetyo sedang duduk berhadapan dengan Kevin. Tatapan tajam Kevin membuatnya ingin mengalihkan pandangan. Namun demi kesopanan ditahannya keinginan itu.


"Anak yang kamu bilang mirip saya, apa dia anak Jeany?"


Prasetyo tampak kaget. Ia malah balik bertanya. "Jadi Pak Kevin sudah tahu?"


"Berapa usianya?"


"Enam tahun lebih, Pak."


Mata Kevin tampak bergetar. Sudah sebesar itu usia anaknya.


"Laki-laki atau perempuan?"


"Laki-laki."


"Siapa namanya?"


"Kenny, Pak."


"Kenny ...." Kevin tidak dapat menahan diri untuk tidak tersenyum.


Prasetyo sampai tidak habis pikir melihat orang di hadapannya. Entah yang mana sifat asli laki-laki itu, dingin dan angkuh bagai gunung es, atau hangat penuh cinta seperti yang pernah ditunjukkannya ketika bersama Jeany?


"Kenapa?" Rahang Kevin mengeras. Sorot matanya memancarkan amarah.


"Kenapa apanya, Pak?"


"Kenapa Jeany gak cerita ke saya?"


"Oh itu ...." Prasetyo tersenyum. Namun senyumnya langsung hilang melihat wajah Kevin yang semakin menggelap.


"Ehem." Prasetyo berpura-pura membersihkan tenggorokannya sebelum menjawab. "Karena Pak Kevin sudah mau menikah. Jeany takut Pak Kevin tidak mau menerima Kenny. Atau malah mau mengambil Kenny dari dia."


Prasetyo dapat melihat perubahan pada raut wajah Kevin. Wajah dingin itu kini menunjukkan apa yang dirasakan oleh pemiliknya. Sedih, marah, kecewa .... Semua tampak jelas di mata Prasetyo.


***


Jeany baru saja sampai di rumah Mita. Ia terpaksa pulang lebih cepat dari kantor. Walau tubuhnya sudah pulih, hatinya sedang tidak baik-baik saja. Mungkin tadi adalah pengalaman paling menyakitkan baginya. Karena kepingan harapan yang berhasil disambungnya dengan susah payah harus kembali hancur, kali ini tak bersisa.


"Mama ...!" Kenny berlari menyambut sang mama.


Jeany mengecup pipi sang putra. "Brownies-nya udah dikasih ke oma, Sayang?"


"Udah, Ma. Oma bilang Mama pekerja keras!"


Jeany hanya tersenyum menanggapinya. Keadaan yang memaksa, pikirnya kecut.


"Jean, kamu udah makan siang? Masih kliyengan?" tanya Mita yang khawatir melihat wajah pucat sahabatnya.


"Belum, Mit. Udah baikan kok."

__ADS_1


"Ya udah makan di sini aja. Kamu pasti belum masak kan?"


"Iya tadi pagi cuma goreng telur buat sarapan."


"Yuk, Kenny kita temenin mama kamu makan," ajak Mita pada sang anak angkat.


Mita dan Kenny menemani Jeany di ruang makan. Untung menu siang itu adalah koloke. Daging ayam berbalut tepung yang digoreng dan dihidangkan dengan siraman saos asam manis itu adalah makanan kesukaan Jeany sedari kecil. Ada juga tumis sayuran yang biasa disebut capcay oleh orang-orang, tetapi Jeany tidak menyentuhnya. Ia tak pernah suka sayuran.


Saat Jeany tengah mencuci piring bekas makannya, bel rumah Mita berbunyi. Ia meninggalkan Jeany dan Kenny di dapur untuk melihat siapa yang datang.


Jeany cukup lama berada di dapur. Ia sekalian mencuci peralatan masak yang masih menumpuk di bak cuci piring dapur Mita, hitung-hitung sebagai ucapan terima kasih karena sahabatnya itu selalu membantunya menjaga sang putra. Baru setengah jalan, sabun cuci piring Mita habis.


Ternyata Mita tidak punya persediaan sabun cuci piring di lemarinya. Merasa tanggung, Jeany yang perfeksionis itu berniat ke warung tetangga untuk membeli sabun dan melanjutkan kegiatan cuci piringnya. Ia mengajak serta putranya.


Sambil menggandeng Kenny, Jeany berjalan menuju pintu depan. Perempuan itu melihat Mita sedang berada di ruang tamu bersama seorang laki-laki yang duduk dengan posisi membelakanginya. Tampak tidak asing baginya. Kayak pernah lihat, pikir Jeany sambil lalu.


"Mit, aku sama Kenny ke sebelah bentar ya. Mo beli sabun," pamitnya pada Mita.


Wajah Mita tampak gugup. Ia melihat ke arah tamu laki-laki tersebut.


"Ehm, Jean, ada yang mau ngomong sama kamu."


Jeany melihat Mita dengan pandangan bertanya. Tepat ketika itu tamu laki-laki tadi berdiri dan membalik tubuhnya. Mata Jeany membelalak. Kevin sedang memberinya tatapan tajam menusuk. Ia dan Kevin saling berpandangan cukup lama.


Kevin lalu melihat ke arah anak kecil di samping Jeany, yang juga sedang melihat dirinya. Tatapan mata Kevin bergetar akibat kerinduan hebat yang dirasakannya. Ia sangat ingin memeluk bocah tersebut, darah daging yang baru saja ia ketahui kehadirannya. Ia sangat ingin memperkenalkan dirinya, mendengar anak tersebut memanggilnya papa.


Namun sebelum itu, ia harus membereskan kesalahpahaman antara dirinya dengan ibu dari anak itu. Ia lalu kembali menatap Jeany. "Mit, bisa titip Kenny sebentar?" tanyanya pada Mita sambil tetap melihat wajah Jeany.


"I-iya bisa!"


Mita merasa sangat gugup. Menyaksikan pertemuan antara ayah dan anak yang sekian lama terpisah membuatnya berdebar-debar. Ia menggandeng Kenny dan mengajaknya keluar. "Kenny, jalan-jalan ke taman mau? Nanti mami beliin es krim di sana."


"Iya mau, Mami!" Kenny menoleh pada mamanya untuk minta ijin. "Kenny boleh ke taman kan, Ma?"


Jeany mengangguk perlahan. "Iya hati-hati mainnya."


Dua orang yang tersisa di ruangan tersebut masih berdiri mematung dengan mata saling bertatapan. Jeany ingin mengucapkan sesuatu tetapi bibirnya seolah terkunci. Kevin berjalan maju untuk mendekatkan jarak antara dirinya dengan Jeany.


"Sampai kapan kamu mau menyembunyikan anakku?"


"Siapa yang kasih tahu kamu?"


Satu hentakan yang dilakukan oleh Jeany membebaskan lengannya dari cekalan Kevin. Perempuan itu mati-matian bertahan agar tidak menangis. "Buat apa aku bilang?! Buat apa kamu tahu sedangkan kamu sebentar lagi mau menikahi perempuan lain?!"


"Aku berhak tahu, Jean! Demi apa pun dia anakku!" Kevin berteriak marah di hadapan Jeany. Ia begitu marah hingga tubuhnya bergetar.


Akan tetapi kemarahan Kevin tidak ada apa-apanya dibanding luka hati yang dirasakan oleh Jeany. Perempuan itu memukuli dada Kevin, tidak dapat lagi menahan air matanya. "Kamu laki-laki sialan! Sejak kenal kamu hidupku susah! Kamu bersenang-senang dengan Lisa dan melupakan aku!"


Dengan perasaan tak kalah sedih, Kevin memegang tangan Jeany agar berhenti memukulinya. Ia menarik perempuan itu ke dalam dekapannya dan membiarkan Jeany menumpahkan air matanya di sana.


"Dasar bodoh. Aku gak pernah melupakan kamu."


Jeany kembali memukuli Kevin sambil terisak. "Pembohong!"


"Aku gak bohong, Jean. Dulu dan sekarang orang yang aku cinta cuma kamu."


"Lalu kenapa kamu mau menikahi Lisa???"


"Mamaku sakit keras dan minta aku secepatnya menikah. Aku terpaksa, Jean! Aku kira kita sudah gak bisa bersama lagi! Aku gak tahu kamu sudah bercerai dengan Randy!"


Jeany berhenti memukuli Kevin dan mengangkat kepalanya untuk menatap laki-laki itu. "Lagi-lagi karena mamamu?"


Pertanyaan Jeany yang diucapkan dengan wajah penuh kebencian itu membangkitkan kemarahan Kevin. "Apa maksudmu? Kamu masih menyalahkan mamaku?"


Amarah juga kembali menguasai Jeany. Ia mendorong tubuh Kevin sekuat tenaga. "Mamamu yang memaksa kita putus! Aku minta putus karena takut pendarahan di kepalamu bertambah parah, karena kamu selalu memaksakan diri! Tapi begitu aku tahu sedang hamil, aku langsung ke rumahmu!"


Dada Jeany terlihat naik turun seiring tarikan napasnya yang semakin cepat. Kejadian yang terkenang kembali masih terasa menyakitkan baginya. "Mamamu ... mamamu malah membawa aku ke klinik aborsi dan mengancam akan menggugurkan Kenny kalau aku masih mencari kamu!"


Tubuh Kevin seakan tak bertenaga setelah mendengar cerita Jeany. Ia tak ingin percaya mamanya bisa sekejam itu. Akan tetapi Jeany tidak mungkin membohonginya. Ia maju dan menggenggam tangan Jeany. "Tolong maafkan mamaku, Jean," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.


"Aku gak bisa!" kata Jeany langsung menepis tangan Kevin.


Kevin memejamkan matanya sebentar dan mengangguk paham. "Aku ngerti kamu masih butuh waktu."


Ia mengajak Jeany duduk di sofa dan menyandarkan kepala perempuan itu di bahunya. "Kapan kamu tahu kalau kamu sedang hamil?" tanyanya sambil mengusap lembut rambut Jeany.


"Satu bulan setelah kita putus. Aku baru sadar sudah dua bulan gak dapet."


Kevin mengernyit. "Tapi bukannya waktu di rumahku kamu dapet?" tanyanya dengan bingung.


"Kata dokter kemungkinan itu pendarahan implantasi. Karena cuma sebentar dan jumlahnya sedikit."

__ADS_1


Laki-laki itu melingkarkan tangannya di pundak Jeany dan memeluknya erat-erat "Seandainya waktu itu aku lebih peka. Seharusnya aku tahu waktu melihat kamu muntah-muntah. Aku memang bodoh!" ucapnya penuh sesal.


Jeany tersenyum pahit di pelukan Kevin. "Ya ... kita berdua sama-sama bodoh ...."


"Apa karena itu kamu menikah dengan Randy?"


"Ya," jawab Jeany. "Aku gak tahu lagi harus gimana. Waktu dia telpon, aku langsung cerita semuanya. Dia kembali ke Jakarta dan mengajak aku ke Bali. Kami menikah di sana."


"Apa dia memperlakukan kamu dengan baik?"


"Sangat baik. Walaupun kami cuma menikah untuk dapat status, dia benar-benar memperlakukan aku seperti istrinya."


Cemburu. Itulah yang saat ini dirasakan oleh Kevin. Ia menjadi sosok pencemburu bila menyangkut perempuan itu. Akan tetapi sekarang bukan saat yang tepat untuk menunjukkan sisi dirinya yang kekanakan itu.


"Kenapa kalian bercerai?"


"Orang tuanya sangat kecewa setelah tahu Kenny bukan cucu mereka. Mereka memaksa Randy menceraikan aku."


Kevin kembali merasa bersalah. "Maaf, Jean. Maaf kamu harus melalui semua ini ...."


Jeany mengangkat kepalanya hingga tidak lagi bersandar di bahu Kevin. "Apa kamu akan tetap menikah dengan Lisa?"


Kevin menggeleng. "Aku sudah memutuskan pertunangan dengan Lisa begitu tahu kamu bukan istri Randy lagi."


Jawaban Kevin membuat Jeany terkejut. Ia memastikan satu kali lagi. "Jadi kalian sudah resmi gak bertunangan?"


"Aku baru ngomong sama Lisa tadi. Besok aku akan menemui keluarganya."


"Bagaimana dengan keluargamu?"


Laki-laki itu kembali memeluk Jeany. "Jangan takut, Jean. Aku gak akan membiarkan kamu menderita lagi," bisiknya lembut tetapi terdengar meyakinkan. "Kamu mau kan menerima aku kembali?"


Jeany menatap Kevin lekat-lekat. Mana mungkin ia tidak mau? Selama tujuh tahun laki-laki itu tidak pernah beranjak dari hatinya. Ia memberi anggukan sebagai jawaban.


"Makasih ... makasih, Jean ...." Kevin kembali memeluk Jeany. "Sekarang tolong kenalkan aku sama anakku."


Kevin dan Jeany berjalan menuju taman perumahan. Di sana Kenny sedang bermain bola dengan anak-anak tetangga, sembari diawasi oleh Mita. Jeany memanggil sang putra yang langsung berlari menghampirinya. Mita pergi menjauh untuk memberi mereka privasi.


"Kenny ...." Jeany berlutut agar wajahnya sejajar dengan wajah Kenny. "Papa sudah pulang, Nak." Ia menunjuk Kevin yang sedang berdiri tidak jauh dari mereka.


Kenny melihat ke arah yang ditunjuk oleh Jeany. "Papa? Om yang tadi?"


Kevin menghampiri ibu dan anak itu lalu berjongkok di depan Kenny. "Iya ini papa. Maaf ya papa baru datang sekarang?"


Jantung Kevin berdetak tak karuan karena wajah yang sangat mirip dengannya itu hanya diam memandangnya. Ia takut sang putra tidak mau menerimanya. Namun tidak lama kemudian terdengar suara Kenny yang imut bertanya, "Papa sudah sembuh? Papa nanti gak pergi berobat lagi?"


Kevin langsung memeluk putranya penuh haru. "Engga, Sayang. Papa gak akan meninggalkan kalian lagi."


Kenny melompat senang dalam pelukan Kevin. "Horeee .... Papa sudah sembuh! Papa sudah pulang! Kenny sayang sama Papa!" Bocah itu balas memeluk ayahnya.


Air mata Kevin tak dapat lagi dibendungnya. "Papa juga sayang Kenny. Papa sayang sekali sama mama dan Kenny."


***


Kevin benar-benar membuktikan janjinya pada Jeany. Usai makan malam dengan keluarganya, ia mengajak sang mama untuk menemui calon istrinya.


"Sejak kapan kamu jadi romantis begini, Nak?" Henny tertawa mengira yang dimaksud oleh Kevin adalah Lisa.


"Sejak aku jatuh cinta sama dia."


Henny menuruti permintaan putranya. Ia senang sang putra yang berubah menjadi pria dingin sejak tujuh tahun silam kini menanggapi setiap ucapannya dengan senyuman. Sudah lama ia tidak mengobrol hangat dengan Kevin.


Namun kernyitan tak urung muncul di dahinya manakala sang putra membelokkan mobilnya memasuki kompleks perumahan yang seharusnya bukan menjadi tujuan mereka.


"Seingat mama rumah Lisa bukan di sini, Vin."


"Kita memang bukan mau ke rumah Lisa."


Henny semakin bingung. "Kata kamu mau ke rumah calon istrimu? Siapa lagi kalau bukan Lisa?"


"Dia ibu dari anakku, Ma."


"Apa maksud kamu?" Kernyitan di dahi Henny semakin dalam.


"Nanti Mama juga tahu," jawab Kevin. Tidak lama kemudian ia tersenyum. "Nah kita sudah sampai."


Kevin mengajak Henny turun dari mobil, menuju sebuah rumah yang tampak sangat sederhana. Ia mengetuk pintu rumah tersebut. Henny tidak dapat menyembunyikan rasa penasarannya. Berkali-kali ia bertanya pada Kevin tetapi putranya itu hanya tersenyum.


Pintu itu terbuka, menampakkan wajah seorang perempuan yang amat dibenci oleh Henny.


"Kamu?!"

__ADS_1


__ADS_2