
Stevi menyaksikan Kevin dengan Jeany begitu kompak ketika mengurus Enzo. Selepas dimandikan, bayi yang hampir bisa berjalan itu sangat aktif bergerak ke sana kemari membuat Jeany kewalahan untuk memakaikannya baju.
Dengan sigap Kevin mengangkat keponakannya dan memeganginya, selagi Jeany memasukkan tangan mungil Enzo ke dalam lengan kaosnya. Begitu pula ketika memakaikannya celana. Jeany menghembuskan napas lega setelah Enzo berpakaian lengkap.
"Kamu baru kayak gitu udah ngos-ngosan. Gimana kalo gak ada aku yang bantuin?" gurau Kevin.
"Ya paling ponakan kamu gak pake baju."
Kevin dan Jeany saling berpandangan. Sedetik kemudian tawa mereka pecah berbarengan.
"Kamu hari ini salah makan apa?" tanya Kevin sambil menyeka air mata yang keluar karena terlalu banyak tertawa. Jeany hanya menggeleng di sela-sela tawanya.
Stevi melihat itu semua. Dan hanya ia yang tidak mengerti hal lucu apa yang membuat kedua orang itu tertawa. Seketika muncul perasaan yang belum pernah ia alami sebelumnya. Perasaan tersisih.
"Kalian ngetawain apa?"
"Bukan apa-apa. Gak penting kok," jawab Jeany cepat-cepat agar Kevin tidak menceritakan keanehan dirinya hari itu.
Kevin hanya menyeringai.
"Stev, mau coba peluk Enzo gak?" Ia memberdirikan Enzo menghadap ke arah Stevi.
Stevi maju dengan ragu-ragu, takut Enzo menangis bila ia mendekatinya. Akan tetapi bayi itu hanya memandangi Stevi yang baru pertama kali dilihatnya dengan wajah ingin tahu.
"Wah pinter ya gak takut orang," puji Stevi dengan sumringah setelah berhasil memeluk Enzo. Namun pelukan itu tidak bertahan lama, karena Enzo meronta ingin dilepaskan. Bayi itu lalu mengelilingi kamar. Sebentar merangkak, sebentar melangkah tertatih, dengan Jeany yang selalu menjaga di dekatnya. Stevi dapat melihat Jeany melakukan pekerjaannya dengan baik.
"Yang, orang rumah kamu biasanya pulang jam berapa?" tanya Stevi karena dilihatnya rumah Kevin sangat sepi, terutama di lantai dua tersebut.
"Kak Marvin ama istrinya biasanya pulang sekitar jam setengah tujuh. Adik aku lagi kursus, mungkin gak lama lagi pulang," jawab Kevin sambil melihat jam tangannya. Ia ingin adiknya itu segera pulang karena ada hal yang ingin ditanyakannya.
"Oh. Trus kamar kamu yang mana?"
"Kamar aku di sebelah."
"Kalo kamar Jeany?"
"Jeany tidur di kamar ini. Kamar Kak Marvin di ujung sana. Kamar Jovina yang pintunya ada tempelan Hello Kitty itu."
"Hehe lengkap banget. Gak sekalian kamu tunjukin kamar Bi Murni."
Kevin tertawa.
"Boleh kalo kamu mau. Di belakang juga ada taman. Aku sama Jeany sering duduk-duduk di sana sama Enzo, soalnya bosan kalo di dalam rumah terus."
"Oh. Ehm, Yang, nanti makan di luar yuk. Udah lama kita gak nge-date."
"Boleh. Tapi tunggu kakak aku pulang ya, biar aku kenalin."
Wajah Stevi tampak tersenyum bahagia.
"Sekalian tunggu Jeany selesai kerja," lanjut Kevin.
Senyuman di wajah Stevi seketika memudar. "Tunggu Jeany buat apa?" tanyanya sambil berusaha meredam rasa tidak suka yang muncul.
"Biar pergi sama-sama."
"Bisa gak, kita pergi berdua aja? Ini kan kencan."
"Tapi Jeany-"
"Aku gak ikut, Vin. Pergi aja berdua ama Stevi," pungkas Jeany. Ia juga tidak ingin ikut, tidak ingin lagi menyaksikan pemandangan Kevin dan Stevi saling melepas rindu.
__ADS_1
Kevin tidak langsung mengiakan. Ia ingin memastikan bahwa Jeany benar-benar tidak berniat ikut. "Ya udah kalo gitu," jawabnya setelah melihat wajah serius Jeany. Ia lalu menoleh pada sang kekasih. "Mobil kamu ditinggal di sini aja, Stev. Nanti aku antar pulang."
Stevi mengangguk dan tersenyum berterima kasih pada Jeany. Ia jadi teringat sesuatu. "Oh iya, hampir lupa. Gue bawa oleh-oleh buat lo, Jean," ucapnya sambil mengambil sebuah barang dari dalam tas dan menyodorkannya pada Jeany. "Ini."
"Makasih."
Jeany menerima sekotak coklat yang terlihat mahal dari Stevi. Ia menyimpannya di lemari agar tidak mengundang rasa ingin tahu Enzo, yang pasti akan menjadikannya sebagai mainan baru bila tidak segera diamankan.
"Sore semuanya."
Semua orang menoleh pada sosok yang baru muncul dan kini sedang berdiri di pintu. Enzo melihat tantenya kemudian tertawa menggemaskan.
"Sini ponakan tante peluk dulu." Jovina segera menghampiri Enzo.
"Vina, kenalin ini Stevi pacar Kakak. Stev, ini adik aku."
Jovina dan Stevi saling bersalaman.
"Halo, Vina. Kamu mirip Kevin ya."
"Halo juga, Kak. Gak mirip ah Kak Kevin bibirnya tipis, bibir aku berisi." Vina memajukan bibirnya.
"Gimana kursus kamu, Vina?" tanya Kevin mengabaikan tingkah aneh adiknya.
"Not bad lah. Tapi aku dapat tempat paling belakang gara-gara telat daftar."
"Kamu kursus apa?" Stevi mencoba mengakrabkan diri dengan adik kekasihnya itu.
"Kursus makeup, Kak."
"Oh kalo kursus makeup bagus ambil yang privat. Agak mahal memang tapi bener-bener diajarin sampai bisa."
Vina melihat Stevi dengan kagum. Persis seperti di foto, memang cantik dan anggun sekali pacar kakaknya itu, seperti seorang artis Korea. Model pakaian yang dikenakannya juga sedang tren saat ini. Adik Kevin itu lantas melirik ke arah Jeany yang berdiri tidak jauh darinya, bertanya-tanya apa yang dirasakan Jeany saat melihat kakaknya bersama sang kekasih. Timbul rasa kasihan di hatinya.
Adik Kevin itu berjalan ke kamarnya, diikuti oleh sang Kakak.
"Kok Kak Kevin ikut ke sini?" tanya Vina heran melihat Kevin mengikutinya.
"Iya kakak mau tanya. Kamu kok upload foto kakak sama Jeany di Fb?"
"Hehe .... Kak Kevin udah liat? Bagus kan fotonya, siapa dulu fotografernya."
"Gak baik pasang foto orang sembarangan. Kamu hapus ya."
"Kenapa harus dihapus?"
"Orang jadi salah paham. Semua mikirnya Jeany pacar kakak."
"Tanpa lihat foto itu juga orang-orang mikir begitu."
"Maksud kamu?"
"Kak Kevin gak sadar cara Kakak memperlakukan Kak Jeany itu seperti Kakak memperlakukan pacar. Kalo Kakak sukanya ama Kak Jeany, kenapa pacarannya ama Kak Stevi?"
Perkataan adiknya itu membuat Kevin tertegun sesaat. Namun ia segera menyangkalnya. "Kamu salah. Jeany itu cuma sahabat Kakak."
Kevin lalu membalik badannya dan pergi dari kamar adiknya. Kata-kata Jovina membuatnya melupakan niat awal untuk meminta adiknya itu menghapus foto yang diunggahnya.
Sekitar tiga jam kemudian, Marvin dan Winda terlihat memasuki ruang tengah. Kevin langsung memperkenalkan kekasihnya pada kedua orang tua Enzo itu.
"Kakak kira mobil temannya Vina yang di luar, ternyata pacarnya Kevin. Kok pacar kamu dibiarin ke sini sendiri, Vin?" tanya Marvin selepas bersalaman dengan Stevi.
__ADS_1
"Gapapa, Kak aku yang gak mau ngerepotin Kevin." Stevi yang menjawab pertanyaan tersebut.
"Susah gak cari rumah ini, Stev?" Winda yang baru saja menggendong Enzo ikut bertanya.
"Engga, Kak. Kevin udah kasih petunjuk jelas banget."
"Lain kali jangan mau berangkat sendiri. Biarin aja Kevin antar jemput kamu. Jadi cowok harus usaha." Marvin berbicara sambil mengedipkan matanya.
"Halah percuma kalo usahanya cuma pas pacaran. Habis nikah jadi malas ngantar," sindir Winda pada suaminya.
Marvin menyeringai mendengar ucapan sang istri. "Aku kan udah capek kerja, Sayang. Kerjanya juga demi kamu dan Enzo," ujarnya mengeluarkan keahliannya merayu tanpa sungkan disaksikan oleh Jeany dan Stevi.
"Harap maklum ya Kak Marvin memang alay," ucap Kevin yang merasa sedikit malu dengan tingkah kakaknya.
"Ini bukan alay, tapi ungkapan cinta," kata Marvin membela diri. Ia lalu menoleh pada pacar sang adik. "Stevi, kamu kok mau pacaran sama adik saya yang gak ada romantis-romantisnya ini?"
"Kevin romantis kok, Kak." Stevi menjawab dengan malu-malu.
Marvin terbahak-bahak mendengarnya, sulit membayangkan adiknya yang selalu dingin pada perempuan itu bisa bersikap romantis. Ia melirik Kevin dengan wajah geli. Kevin langsung cepat-cepat mengajak Stevi keluar. Ia tidak pernah suka kehidupan asmaranya dibahas.
"Aku sama Stevi makan di luar ya, Kak. Yuk, Stev."
"Lho, Jeany gak ikut?" tanya Winda yang melihat Jeany masih tetap di tempatnya.
"Dia gak mau ikut," kata Kevin menjawab pertanyaan Winda. Sesaat ia memandangi wajah Jeany, sebelum akhirnya meninggalkan ruangan itu dengan Stevi.
"Kamu ini gimana sih, Sayang? Kayak gak pernah pacaran," ucap Marvin gemas melihat ketidakpekaan istrinya.
"Kenapa memangnya?"
Winda memang tidak mengerti. Karena selama ini Kevin selalu menemani Jeany. Jarang sekali ia pergi tanpa Jeany. Bahkan selama satu minggu ini adik iparnya itu dapat dikatakan hampir tidak pernah keluar dengan teman laki-lakinya. Dan karena mengira Jeany dan Stevi berteman dekat, ia juga mengira kali ini pun Jeany akan ikut pergi bersama Kevin dan kekasihnya itu.
"Orang pacaran pasti maunya berduaan dong," bisik Marvin di telinga istrinya, takut didengar oleh Jeany.
"Oh iya ya."
Winda otomatis melihat ke arah Jeany. Gadis yang sadar sedang diperhatikan itu lantas tersenyum, berusaha menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja.
"Kamu udah makan, Jean?"
"Belum, Kak."
"Makan dulu ya. Makan yang banyak biar gak masuk angin."
"Iya, Kak."
Sementara itu di dalam mobil, Stevi langsung menegur kekasihnya. "Yang, kamu tadi gak peka deh," ucapnya merajuk pada Kevin.
Kevin langsung menoleh. "Gak peka gimana?"
"Masak mau kencan malah ngajak cewek lain."
"Haha sorry ya. Aku cuma kasihan dia ditinggal di rumah." Kevin tidak tahu lagi dirinya sedang berkata jujur atau tidak.
"Kalo gitu besok aku ajak Jeany kumpul ya ama Devi Sandra. Biar dia gak bosan di rumah terus."
"Ehm ... itu ...."
Kevin tidak berani mengiakan. Perasaannya mengatakan Jeany tidak akan suka pergi dengan Stevi dan kawan-kawannya. Namun tidak mungkin juga ia menolaknya, karena harus Jeany sendirilah yang membuat keputusan.
"Kamu tanya Jeany dulu aja ya dia mau apa engga. Mungkin aja besok dia capek habis jaga Enzo seharian."
__ADS_1
"Iya besok aku ajak dia. Pasti dia mau."
Dia harus mau. Karena aku gak mau menunda lagi untuk berbicara sama dia.