
Menyadari kedatangan Jeany, Randy cepat-cepat membereskan barang-barang yang berserakan di atas meja. Ia memasukkannya ke dalam kantong plastik lalu menyimpannya di dalam tas.
"Jangan sampe lo tercemar darah gue yang kotor ini ...."
Bahkan Randy kembali mengeluarkan botol alkohol dari dalam tasnya. Ia menuang isi botol tersebut ke atas kapas dan menggosokkannya pada permukaan meja, tanpa mengecualikan satu senti pun.
"Ran ...." Jeany perlahan duduk di samping pemuda itu. Ia menghentikan gerakan tangan Randy di atas meja dengan menggenggamnya
Randy kembali duduk dan menangis. "Lo pasti jijik ama gue kan?"
"Engga."
Pemuda itu menarik rambutnya sendiri dengan kalut. "Gue takut, Jean. Gue belum mau mati. Dosa gue masih banyak, gue belum pernah nyenengin orang tua .... Trus gimana dengan cewek-cewek yang pernah gue tidurin? Gue takut udah nularin virus ini ke banyak orang ...!" Nada suara Randy sudah tidak beraturan.
"Sabar, Ran, sabar ...." Jeany ikut meneteskan air mata di samping pemuda itu.
"Kenapa gue harus ngalamin ini Jean? Kenapa gue dikasih virus ini di saat gue udah tobat? Harusnya Tuhan tahu gue udah tobat!" Randy sedikit berteriak tidak terima dengan jalan hidupnya.
Jeany tidak mampu menjawab. Ia pun pernah mempertanyakan mengapa kisah hidupnya berbeda dengan orang lain. Tidak ada jawaban yang didapatnya. Pada akhirnya ia menyerah bertanya, dan lebih memilih berjuang untuk menyambung hidup.
"Ran .... Lebih baik lo periksa lagi di rumah sakit biar hasilnya akurat."
"Alat ini sembilan puluh delapan persen akurat. Masa depan gue udah hancur, Jean!"
"Gue pernah baca pengidap HIV tetap bisa hidup lama. Besok gue temenin lo periksa ya?"
Mata Randy melebar mendengar tawaran Jeany yang diucapkan dengan sungguh-sungguh itu. Ia yang tadinya berada dalam kegelapan kini seolah menemukan secercah cahaya. "Beneran? Lo mau nemenin gue?"
Jeany mengangguk tanpa ragu. Ia menatap Randy yang terlihat begitu terpukul. Siapa yang menyangka dalam darah pemuda itu sedang mengalir virus mematikan? Benar-benar seperti mimpi.
"Sejak tahu Claudia kena AIDS, hidup gue gak tenang sampai makan pun gak berselera." Randy memulai ceritanya dengan tatapan hampa, tanpa air mata lagi. "Ada satu saat dimana gue menyerah mengejar cinta lo. Tapi ada saatnya juga gue bisa ngelupain masalah itu dan menganggap semua baik-baik aja. Sampai gue denger kabar Claudia meninggal. Gue stress sampai demam berhari-hari."
"Pantas lo belakangan kurus."
"Pada akhirnya gue tetep gak pantas buat lo, Jean." Pemuda itu tersenyum sedih.
"Engga, Ran. Lo orang baik. Kalo belum ada perasaan ke Kevin, gue pasti udah terima lo."
"Meskipun gue dulunya brengsek?"
"Iya."
"Makasih ya, Jean lo gak jijik ama gue."
"Gue juga bukan orang suci, ngapain mesti jijik."
Pemuda itu tersenyum mendengar penuturan Jeany. "Tolong jangan bilang siapa-siapa. Gue belum siap orang-orang tahu aib gue ini. Gue gak siap dijauhin ...."
"Iya, Ran, gue paham kok."
"Makasih." Randy cukup lama memandangi Jeany sebelum menghela napas berat. "Gue pulang dulu. Besok lo jadi temenin gue?"
"Iya."
Randy dan Jeany bangkit dari sofa dan berjalan ke depan. Mereka hampir mencapai pintu saat seorang pemuda yang mereka kenal menerobos masuk dengan raut wajah marah. Keduanya terperanjat kaget.
__ADS_1
"Kalian ngapain di dalam?!" Kevin hampir tidak dapat mengendalikan keinginannya untuk meninju Randy.
"Kevin? Kamu udah sembuh? Kepala kamu gapapa? Kenapa bisa ke sini?" Jeany yang digerakkan oleh rasa khawatir malah balik menanyakan kondisi pemuda itu.
"Jawab pertanyaanku, Jean. Kalian habis ngapain?"
"Gak ngapa-ngapain. Cuma ngobrol sebentar."
"Di dalam? Bahkan aku yang pacar kamu aja gak pernah kamu ijinin masuk!"
"Itu ...." Jeany melirik ke arah Randy. Pemuda yang diliriknya itu menggelengkan kepala dengan wajah memohon.
"Gak bisa jawab?" Kevin beralih pada Randy dan menarik kerah baju sahabatnya itu. "Lo habis ngapain ama pacar gue hah???"
"Gak ngapa-ngapain." Wajah Randy terlihat kosong. Sebagian dirinya berharap Kevin membunuhnya saat itu juga, tetapi sebagian dirinya yang lain mengatakan ia belum siap menghadapi kematian.
"Vin, kamu harus percaya aku ama Randy gak ngapa-ngapain!" Jeany cepat-cepat memegangi tangan Kevin, menariknya agar melepaskan cengkeramannya pada kerah pakaian Randy.
"Trus kenapa kamu gak bisa jawab, Jean? Kamu ngapain ama cowok brengsek ini???"
"Hahaha iya gue emang brengsek. Gue pantas dapat hukuman ...." Randy malah tertawa sendiri.
Jawaban Randy membuat Kevin mengepalkan tinju dan mengarahkannya ke wajah sahabatnya itu. Jeany langsung menangkap tangan Kevin, mendekapnya erat sebelum kepalan tangan itu mendarat di wajah Randy. "Berhenti, Vin, berhenti!! Randy lagi sakit!!" jerit gadis itu setengah putus asa.
"Sakit? Sakit apa?" tanya Kevin dengan wajah bingung. Pada saat itu ia kembali merasakan nyeri di kepalanya. Jeany langsung cemas melihat kernyitan di wajah kekasihnya.
"Kamu kenapa, Vin? Ayo sini duduk dulu!"
Kevin menepisnya kasar. Gerakannya mulai limbung. "Gak usah! Jawab aja Randy sakit apa!"
"Sekarang aku belum bisa cerita. Tapi kamu harus percaya sama aku, Vin."
"KEVIN!"
Henny yang tadi di rumah sakit mendapati kamar Kevin ternyata kosong, bergegas mencari putranya itu. Ia tidak membuang waktu lama menyusul Kevin karena tahu tidak ada tempat lain yang dituju oleh putranya selain tempat tinggal Jeany. Setelah bertanya pada Marvin, Henny langsung menyuruh Agus sang sopir mengantarnya ke alamat gadis itu.
PLAK!
"Kamu memang membawa pengaruh tidak baik buat anak saya! Apa kamu tidak tahu dia belum sembuh???" Henny langsung menampar Jeany tanpa dapat dicegah oleh Kevin.
"Ma! Jangan salahkan Jeany, aku sendiri yang mau ke sini!"
Henny menatap putranya tak percaya. "Kamu sekarang berani bentak mama?"
Kevin memegangi kepalanya. Rasa sakit yang menghinggapinya semakin menjadi-jadi.
"Kevin? Kamu kenapa, Nak?"
"Vin, kamu kenapa?"
Henny dan Jeany sama-sama memegangi Kevin. Mama Kevin itu langsung mendorong Jeany dengan penuh kebencian.
"Minggir kamu! Jangan dekati anak saya lagi! Kevin, ayo kita ke rumah sakit sekarang, Nak." Henny menuntun putranya berjalan menuju mobil. Agus yang melihat bergegas membantu.
Sebelum pergi, Kevin menyempatkan diri menoleh ke belakang. "Aku pergi dulu ya, Jean," pamitnya pada sang kekasih. Walau menahan sakit, ia tersenyum agar gadisnya itu tidak terlalu cemas.
__ADS_1
"Kamu harus sembuh, Vin!" Jeany menjawab kekasihnya dengan isakan.
Kevin tersenyum dan mengangguk. Jeany merasa sangat sedih melihat kekasihnya berjalan lemah sembari dituntun oleh mamanya dan juga sang sopir memasuki mobil. Setelahnya mobil itu melaju cepat meninggalkan rumah kos gadis itu.
"Sorry ya, Jean gara-gara gue Kevin jadi salah paham." Suara Randy terdengar tak kalah sedihnya. "Tapi gue bener-bener belum siap dia tahu penyakit gue."
"Gapapa, Ran. Gue yakin Kevin bukan orang picik."
Keesokan harinya, harapan Randy dan Jeany agar hasil tes mandiri yang kemarin dilakukan oleh Randy salah ternyata tidak menjadi kenyataan. Hasil pemeriksaan di sebuah rumah sakit di Jakarta Pusat menyatakan Randy positif terinfeksi HIV.
"Berapa lama saya bisa hidup, Dok?" tanya Randy yang memang sudah pasrah dengan hasil pemeriksaan.
"Hasil tes darah menunjukkan angka CD4 lima ratus, artinya kondisi Adik masih cukup baik. Harapan hidup masih sangat tinggi, tentunya dengan bantuan obat untuk membuat virus tersebut tidak bisa berkembang di dalam tubuh. Banyak sekali pasien saya yang sudah bertahun-tahun hidup dengan HIV. Saya akan melakukan tes resistensi sebelum meresepkan obat."
Beruntung dokter memberi penjelasan yang menguatkan semangat hidup Randy. Penderita HIV tetap bisa hidup normal walaupun harus seumur hidup mengonsumsi obat. Bila sempat, Jeany akan menemani Randy dalam proses pengobatannya. Kehadiran gadis itu membuat Randy terhindar dari depresi yang biasanya dialami oleh pasien HIV.
Entah sudah berapa lama waktu yang dilaluinya tanpa berjumpa dengan Kevin. Jeany mendapat kabar pemuda itu sudah keluar dari rumah sakit dan melakukan rawat jalan di rumah. Kabar itu menjadi kebahagiaan kecil baginya. Setelah melakukan serah terima dengan kasir yang bekerja pada shift sore, gadis itu pulang dari tempat kerjanya dengan langkah yang terasa lebih ringan daripada hari-hari sebelumnya.
Ia dicegat oleh Henny yang ternyata sudah sedari tadi menunggunya di luar restoran.
"Bisa kita bicara di sana?" Henny menunjuk sebuah kafe tidak jauh dari restoran. Jeany mengiakannya.
Mama Kevin itu tidak berbasa-basi lagi. Ia tidak menunggu hingga minuman yang dipesan datang.
"Pendarahan di otak Kevin awalnya tidak parah, tapi kejadian kemarin membuat dia butuh waktu lama untuk sembuh. Dokter bilang bisa fatal kalau dia sampai drop lagi. Bisa lumpuh, koma atau yang lebih parah lagi, meninggal."
Kedua mata Jeany membulat mendengar kondisi kekasihnya. "Lalu apa maksud Tante memanggil saya?"
"Kamu harus membantu saya membujuk Kevin untuk berobat ke Singapore."
"Ke Singapore?"
"Supaya Kevin mendapat ketenangan dan bisa cepat melupakan kamu. Pilihannya hanya ada dua. Kamu yang mengalah, atau saya. Saya tidak bisa mengalah."
"Saya juga tidak bisa, Tante," ucap Jeany tegas.
"Pengobatan Kevin butuh waktu lama dan biaya yang tidak sedikit. Saya tidak akan pernah bisa merestui hubungan kalian. Suatu saat Kevin akan meninggalkan rumah lagi dan kalau itu terjadi mungkin kondisinya akan jauh lebih buruk dari sekarang. Kamu mau itu terjadi?"
Jeany menggigit bibirnya dan menatap Henny penuh permohonan. "Kalau begitu tolong restui kami, Tante ...."
"Saya tidak bisa. Setiap melihat muka kamu saya selalu teringat dosa suami saya. Butuh waktu lama bagi saya untuk melupakan kejadian itu dan saya harus menemui banyak psikiater. Saya tidak mau lagi hidup tertekan seperti itu."
"Tapi saya bukan wanita penghibur ...."
"Sudahlah tidak usah berakting. Kamu dan Stevi sama saja! Kelihatan alim hanya di depan!"
"Saya harus bagaimana untuk membuktikan ke Tante kalau saya tidak seperti itu?"
"Cukup buktikan saja kalau kamu benar-benar mencintai Kevin, kamu pasti ingin dia sembuh dan hidup bahagia. Saya ibu yang melahirkan dia, sedangkan kamu cuma perempuan yang belum lama pacaran dengan dia. Kevin lebih butuh keluarganya."
Jeany masih terdiam, tidak mampu membuat keputusan apa pun. Minuman yang telah tersaji sama sekali tidak disentuhnya
"Pikirkan baik-baik. Masa depan Kevin seharusnya cerah. Bukan hidup susah bersama perempuan seperti kamu."
Henny memanggil pelayan dan meminta tagihan. Ia menyerahkan selembar uang seratus ribu. Setelahnya, ia beranjak meninggalkan Jeany yang masih duduk mematung dengan air mata mengalir deras membasahi pipinya. Ia tahu gadis itu butuh waktu untuk berpikir.
__ADS_1
Baca juga karya temanku author Nana Curly ya, Teman2 😃