Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)

Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)
Hubungan Kalian Sudah Sedekat Ini


__ADS_3

Bonus Akhir Pekan 😘


Selepas Jeany pergi, Stevi mengendurkan pelukannya dan mengikuti arah tatapan mata Kevin. "Kayaknya bentar lagi kita bisa double date, Yang," ucapnya membuat Kevin yang sedang larut dalam pikirannya sendiri itu mengalihkan perhatiannya ke Stevi.


"Maksud kamu?"


"Ya kayaknya Jeany udah mulai membuka hatinya buat Randy. Kamu gak lihat tadi mereka deket banget?"


"Gak merhatiin." Pemuda itu menjawab datar.


Stevi tersenyum manja padanya. "Cowok memang gak peka."


"Ayo, aku antar kamu pulang sekarang."


"Kok sekarang sih, Yang? Aku kan masih mau lama-lama di sini ...."


"Kamu belum selesai packing buat pindahan kan? Nanti aku bantuin di rumah kamu." Kevin mencari alasan agar Stevi tidak berlama-lama di apartemennya.


"Iya tapi pelukan bentar ya sebelum pulang?"


Gadis itu memeluk kembali sang kekasih, merasakan kehangatan dari tubuh mereka yang saling menempel. Kevin membalas pelukan itu walau tidak erat. Ia teringat pada Jeany dan rasa kesalnya datang kembali, membuatnya mengencangkan pelukannya pada Stevi.


***


Jeany baru saja masuk ke kamarnya setelah diantar oleh Randy. Ia memang yang diturunkan pertama karena jarak rumah kosnya yang paling dekat dengan apartemen Kevin. Gadis itu memegang pundaknya, tempat Randy memberikan dukungan dan kekuatan ketika ia hampir menangis tadi. Tidak disangka Randy yang terlihat badung itu bisa juga bersikap dewasa dan lembut.


"Haaahhh ...."


Desahan panjang keluar dari mulut Jeany saat ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Tubuhnya terasa lelah, selelah hatinya saat ini. Ia mengingat kebencian yang dengan jelas ditunjukkan Devi padanya, dan makian yang didesiskan di telinganya tadi sesaat sebelum mereka naik ke mobil Randy.


"Dasar cewek murahan!"


Walau terdengar menyakitkan, Jeany merasa pantas mendapatkannya. Gadis itu mengakui, ia memang bersalah karena hendak merebut Kevin dari kekasihnya. Namun bila dapat bersama dengan laki-laki yang dicintainya, ia siap menerima segala kebencian dan caci maki itu.


Kamar Jeany semakin gelap karena kini matahari telah menyinari bumi di belahan lain. Gadis itu masih berbaring tanpa semangat. Ia tidak berselera makan tetapi perutnya mulai terasa tidak nyaman. Sekarang terlambat makan sedikit saja asam lambungnya langsung naik.


Pikiran Jeany berkelana, memikirkan apakah Kevin hingga detik ini masih bersama dengan kekasihnya. Bila masih, apa saja yang mereka berdua telah lakukan? Mungkin mereka sedang berkencan untuk menghabiskan malam minggu seperti pasangan pada umumnya, pikirnya sedih.


Dengan wajah muram Jeany melangkah keluar dari rumah kosnya untuk mencari makan. Hari ini ia harus sendiri lagi di rumah itu. Serly, kakak kosnya sedang mengikuti pelatihan kerja di luar kota. Sedangkan teman kosnya yang lain sepertinya telah pindah, karena tidak ada lagi sandal jepit yang biasanya tergeletak di depan pintu kamar masing-masing.


"Hai, gue datang lagi," sapa seorang pemuda begitu gadis itu membuka pintu rumah kosnya.


"Randy? Kok lo bisa masuk sini?"


"Kan pagernya kagak digembok," jawab Randy sambil menyeringai.


Mau tak mau Jeany jadi tersenyum. Randy memang berbeda dengan Kevin. Dulu Kevin tidak berani masuk ke kosnya walau hanya sebatas melewati pagar yang tidak terkunci. Namun itu juga berarti ia harus ekstra berhati-hati terhadap pemuda di hadapannya ini.


"Lo belum makan kan? Gue bawain nasi bebek goreng."

__ADS_1


"Wahhhh ...." Mata Jeany langsung berbinar senang. Sudah lama sekali ia tak memakan menu kesukaannya itu. Sekarang perutnya terasa sangat lapar. "Bentar ya gue ambilin piring ama minum," ucapnya kepada Randy.


Gadis itu berjalan masuk diikuti oleh Randy. Jeany segera menahannya. "Lo ngapain ikut masuk?"


"Mau makan lah masak mau bobo?" Randy menjawab sambil tersenyum nakal.


"Kita makan di situ."


Jeany menunjuk meja dan kursi kayu yang tersedia di teras. Randy hanya bisa tersenyum kecut. Gadis itu belum bisa mempercayainya. Ia harus mendekatinya dengan perlahan, jangan sampai membuatnya takut.


Randy melihat Jeany keluar dengan membawa piring untuk nasi dan piring sambal. Gadis itu hendak masuk lagi untuk mengambilkan minuman.


"Gue bantuin ambil deh biar lo gak bolak-balik." Randy menawarkan bantuan.


"Gak, lo tunggu sini," jawab gadis itu tegas sebelum masuk kembali.


Tidak lama kemudian Jeany keluar membawa dua gelas air putih.


"Cuma air putih, Jean? Gak ada es teh gitu?" protes Randy.


"Gak. Tadi kan lo udah minum soda. Gak baik tahu kebanyakan gula."


"Astaga .... Gak nyangka lo perhatian juga ama gue." Randy berpura-pura terharu.


"Sebenarnya karna gak ada minuman lain."


"Hahaha .... Lo lucu juga ya!"


Gadis itu menuang sambal ke piring kecil yang dibawanya dan menambahkan kecap manis. Aroma bebek goreng yang sangat menggoda ditambah sambal yang banyak membuatnya tidak sabar untuk menyantap makanan tersebut.


"Lah, Jean?"


"Apa lagi?" tanya gadis itu kesal karena kegiatan makannya terganggu.


"Kok gak ada sendok garpu?"


"Makan bebek goreng ya enaknya pake tangan dong, Ran."


"Tapi tangan gue kotor." Randy menunjukkan kedua telapak tangannya.


Jeany pun menyerah dan mengijinkannya masuk. "Ya udah lo cuci tangan di dalam. Habis masuk jalan lurus aja, setelah dua kamar ada kamar mandi. Lo cuci di situ."


"Jiah .... Gak ada wastafel?"


"Mampet."


"Hmm ya udah deh. Gak dianterin nih? Ntar gue nyasar gimana?"


Jeany memelototkan matanya.

__ADS_1


"Hahaha iya iya. Duh galak bener calon bini gue ...."


Jeany tersenyum kecil setelah Randy masuk untuk cuci tangan. Tidak bisa dipungkiri kehadiran pemuda itu telah sedikit mengobati rasa sedih dan sepinya.


Randy kembali dengan wajah yang sulit ditebak. Jeany tidak ambil pusing karena ia sedang berkonsentrasi menikmati hidangan yang telah masuk ke mulutnya. Mereka berdua makan dalam diam. Keduanya sama-sama tidak suka mengobrol ketika sedang makan. Setelah makan, Randy dan Jeany bergantian masuk untuk cuci tangan. Randy hanya bisa pasrah melihat Jeany yang begitu berhati-hati padanya.


"Jean?"


"Ya?"


"Banyak nyamuk ya."


Jeany tertawa melihat wajah memelas Randy. Ia masuk ke dalam untuk mengambil sesuatu. "Oles ini aja biar gak digigit nyamuk," ucapnya setelah kembali ke teras.


"Minyak kayu putih?" tanya Randy dengan wajah tidak suka.


"Lo pilih pake ini ato digigit nyamuk? Ntar muka lo bentol-bentol."


"Hmm ya udah deh. Kok mau deketin lo banyak amat ya rintangannya," keluh pemuda itu.


"Hahaha masak nyamuk lo anggap rintangan?"


Jeany tertawa lepas menampakkan wajah ayu yang sempurna di mata Randy. Pemuda itu memandanginya dengan terpesona.


"Lo cantik kalo ceria begini."


Jeany terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Kenapa tiba-tiba Randy jadi serius?"


"Gue udah merhatiin lo sejak lo kerja di club malam," ucap pemuda itu lagi. "Tapi gue gak bisa deketin lo karena tahu gue terlalu kotor buat lo. Ibaratnya lo masih seperti kertas putih yang belum ternoda."


Gadis itu menahan napasnya. Sepertinya ia tahu ke mana arah pembicaraan Randy.


"Dan sumpah gue gak tahu harus marah atau lega waktu tahu sahabat gue udah menodai kertas putih itu."


Jeany terpaku di tempat. "Lo ... tahu?"


Randy mengangguk.


"Dari mana lo tahu?" tanya Jeany lagi.


"Ayolah gue ini berpengalaman ...."


"Dan lo deketin gue karena merasa gue sekarang sama dengan cewek-cewek yang pernah lo tidurin?"


Randy menggenggam tangan gadis itu. "Gak seperti itu. Tapi itu membuat gue lebih percaya diri untuk deketin lo. Gue serius sama lo."


Jeany merasa Randy sungguh aneh. Laki-laki lain biasanya tidak akan mau punya kekasih yang sudah tidak suci, tetapi pemuda itu justru mendekatinya setelah mengetahui dirinya yang tak lagi sempurna.


"Oh, gak nyangka ya hubungan kalian sudah sedekat ini."

__ADS_1


Sebuah suara terdengar dingin menyela mereka. Randy dan Jeany sama-sama tidak menduga kedatangan Kevin malam itu.


Jaga kesehatan ya, Teman-teman. Jangan baca novel sampai begadang atau sampai lalai pada pekerjaan ya. Novel ini gak ke mana-mana kok, bisa dilanjut bacanya setelah ada kelonggaran waktu 😊😊😊


__ADS_2