Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)

Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)
Episode Ekstra 2 Janji Randy


__ADS_3

Perlu pukulan berat untuk mengubah seorang pemuda yang hanya tahu bersenang-senang menjadi laki-laki dewasa penuh tanggung jawab. Randy harus merasakan dulu dunianya terbalik karena divonis mengidap HIV, sebelum memutuskan pulang kampung dan berbakti pada orang tua.


Baru beberapa hari meninggalkan ibu kota, ia sudah didera rasa rindu pada gadis yang telah berkali-kali menolak cintanya. Hampir setiap hari ia menghubungi gadis itu dan menanyakan kabarnya. Andai kata dalam darahnya tidak mengalir virus berbahaya, ia pasti sudah nekat membawa gadis itu pulang ke kampung halaman dan merajut masa depan mereka di sana, walau tahu cintanya tak pernah terbalas.


Siapa sangka tidak lama kemudian ia menemukan kesempatan itu.


"Aku hamil, Ran .... Mama Kevin mengancam akan menggugurkannya. Aku harus gimana?" tangis gadis itu terdengar menyedihkan ketika Randy meneleponnya.


Mungkin bagi pria lain tidak ada yang lebih menyakitkan selain mengetahui gadis yang ia cintai dengan sepenuh hati mengandung darah daging orang lain. Namun bagi Randy, rasa perih itu muncul lebih hebat tatkala mendengar nada putus asa setiap kali Jeany mengucapkan kalimatnya.


Ia memutuskan menikahi Jeany dan menjadi ayah dari janin yang dikandung oleh perempuan itu. Randy yang dulu hanya tahu bersenang-senang dengan perempuan tanpa melibatkan perasaan, akhirnya benar-benar menikah dengan perempuan yang ia cintai.


Namun ada yang membuatnya merasa miris. Ia yang dulu begitu bebas menyentuh perempuan tanpa ikatan sakral pernikahan, setelah menikah justru tak bisa menyentuh perempuan yang telah resmi menjadi istrinya. Bukan tidak bisa, melainkan Randy yang terlalu takut. Jeany terlalu berharga untuk berhubungan dengan laki-laki kotor seperti dirinya. Ia menganggapnya sebagai hukuman atas perbuatan amoralnya di masa lalu.


Dan seolah telah menjadi ketetapan takdir, tali perjodohan mereka hanya terikat selama dua tahun lebih. Perpisahan harus terjadi saat kedua orang tua Randy mengetahui bahwa bocah lucu yang sangat mereka sayangi sejak masih berada dalam kandungan ternyata bukan cucu kandung mereka.


Perasaan Randy begitu hancur saat mengantar Jeany dan putranya ke bandara untuk meninggalkan Pulau Dewata, dan meninggalkan dirinya dalam kenangan yang tak akan pernah lekang dimakan waktu.


Laki-laki itu sengaja membeli tiket agar dapat ikut masuk ke dalam ruang tunggu keberangkatan. Walau sangat marah karena telah dibohongi, kedua orang tua Randy masih bermurah hati mengijinkannya mengantar Jeany dan Kenny ke bandara.


"Aku akan selalu sayang sama kamu dan Kenny, Jean. Jangan pernah putus hubungan," ucap Randy memeluk erat perempuan yang masih berstatus sebagai istrinya itu setelah petugas maskapai mengumumkan keberangkatan.


Untuk terakhir kalinya pula Randy menggendong bocah tampan yang telah ia rawat sejak lahir. "Jangan lupain papa ya, Kenny." Ia mengecupi bocah itu sambil terisak.


"Huaaa ...." Kenny menangis keras, seperti ikut merasakan kesedihan kedua orang tuanya.


Mendengar tangisan putranya, air mata Jeany mengalir semakin deras. "Aku juga sayang kamu, Ran," katanya sesenggukan. "Makasih udah jadi suami yang bertanggung jawab buat aku. Makasih udah jadi papa yang baik buat Kenny. Maafin aku belum bisa jadi istri yang baik."


Hati mereka terlampau hancur untuk memedulikan tatapan ingin tahu orang-orang di sana. Setelah itu, proses perceraian mereka serahkan sepenuhnya pada pengacara. Kini, lima tahun setelah kejadian itu Randy telah dapat bernapas lega. Jeany dan Kenny telah bersatu kembali dengan laki-laki yang seharusnya sejak awal berada di sisi mereka.


Ia sendiri telah menemukan perempuan istimewa yang telah mengikatnya dalam sebuah pernikahan, yang ia harapkan menjadi pelabuhan terakhir perjalanan cintanya. Hanya kenangan manis yang terkadang muncul tanpa tahu tempat dan waktu, mengingatkan Randy bahwa ia pernah menjadi laki-laki yang sangat beruntung memperistri Jeany.


***


Randy pulang ke rumah setelah seharian berkutat dengan kesibukan di toko. Layaknya pegawai kantoran yang merasa gembira menyambut akhir pekan, begitu pula perasaan Randy saat ini. Sejak dipercaya mengelola toko, ia menjadikan hari Minggu sebagai hari libur. Laki-laki itu tidak ingin seperti kedua orang tuanya yang terlalu sibuk bekerja, mengabaikan sisi lain kehidupan yang seharusnya masih bisa dinikmati. Tutup satu hari dalam satu minggu tidak akan membuat mereka bangkrut.


Pandangan laki-laki itu mengitari penjuru rumah yang terasa sangat sepi. Aneh, komentarnya dalam hati. Ke mana istri yang biasanya mengomel jika ia pulang terlambat? Hari ini ia terlambat satu jam, ngomong-ngomong.


Bergegas ia menuju kamar dan membuka pintunya. Terlihat Monica, sang istri sedang duduk bersandar di kepala tempat tidur sambil melihat layar ponsel. Kerutan dalam tampak di dahi perempuan itu.


"Kamu lagi apa, serius amat?" Randy segera menghampiri Monica dan mencium pipinya, lalu mengecup perut sang istri untuk menyapa buah hati mereka di sana.


"Eh kamu udah pulang." Monica tersenyum melihat suaminya, tetapi tidak lama kemudian pandangannya kembali terfokus pada layar ponsel. "Aku lagi baca novel. Sebentar ya dikit lagi abis kok."


Randy menunggu dengan sabar. Ia memanfaatkan waktu yang ada untuk mandi. Setelah tiga puluh menit berlalu dan Monica masih asyik membaca, laki-laki itu perlahan menarik ponsel dari tangan sang istri. "Makan dulu, Sayang. Trus minum obat," katanya lembut.


Monica refleks melihat jam di dinding kamar. "Astaga udah jam tujuh ternyata. Kok gak kerasa ya?"

__ADS_1


"Kamu keasikan baca novel sampe nyuekin suami," jawab Randy dengan wajah kecut.


"Hehehe maaf."


Monica segera menyiapkan makan malam untuk dirinya dan Randy. Mereka makan sambil bertukar cerita tanpa gangguan ponsel yang semakin hari semakin membuat manusia ketergantungan. Randy selalu menikmati saat-saat seperti ini. Family time yang berkualitas. Ia berjanji akan menjadikan makan bersama di meja makan sebagai rutinitas wajib bersama anak mereka kelak.


"Gimana tadi di toko, Sayang? Rame banget ya?" tanya Monica setelah memperhatikan wajah Randy yang tampak sedikit lelah.


"Toko kita mana pernah sepi?" jawab Randy tergelak kecil.


Untuk mengatasi toko yang rame, Randy mempekerjakan banyak karyawan. Namun punya banyak karyawan juga kerap membuatnya sakit kepala. Ada saja masalah baru. "Tadi Titin sama Komang berantem. Dua krat minuman gelas di toko sampe rusak gara-gara dibanting," katanya mulai bercerita pada sang istri.


"Astaga. Emang berantem kenapa?"


"Rebutan cowok, karyawan toko sebelah. Padahal tuh cowok udah punya istri."


"Ada-ada aja ya mereka. Trus kamu marahin?"


"Ya aku bilang silakan kalau mau berantem di luar jam kerja dan di luar toko. Tapi kalau masih mau kerja sama aku, selama di toko mereka harus profesional."


"Kerugian minuman gelas yang rusak gimana?"


"Potong gaji," jawab Randy menyeringai. "Biar gak kebiasaan."


Monica memasang wajah ragu. "Pasti habis ini mereka langsung berhenti. Mana mungkin mau gajinya dipotong."


"Biarin aja kalo gitu. Yang jelas aku udah kasih kesempatan. Kalo kelakuan mereka kayak gitu terus juga lama-lama gak ada yang mau kasih kerjaan. Mereka sendiri yang rugi."


"Mereka gak mikir sampe ke sana," timpal Randy turut menggeleng.


"Oh iya. Kamu jadi pecat Nengah? Dia udah tiga hari bolos tanpa kabar kan?"


Randy terbahak menjawabnya. "Engga."


"Kok engga? Kenapa kamu ketawa?"


"Aku SMS dia tadi. Aku bilang kalau dia masih bolos, aku bakal kasih tahu istrinya kalau dia pacaran lagi. Dia langsung masuk kerja tadi."


"Ckckck .... Kamu ya!" Monica berdecak dan mencubit punggung tangan Randy. "Kenapa gak kasih tahu aja? Kasihan istrinya diselingkuhin."


Wajah Randy berubah serius. "Ini masalah rumah tangga orang lain. Aku gak berani ikut campur."


"Ya tapi kan kasihan istrinya," kesal Monica.


"Aku cuma bisa kasih nasehat. Keputusan tetap ada di tangan dia."


Monica merenung memikirkan nasib para perempuan yang dikhianati lelakinya. Ia jadi teringat cerita novel yang tadi dibacanya.

__ADS_1


"Sayang, jawab yang jujur ya. Kalo Jeany tiba-tiba telpon minta ditemenin karena sakit, apa kamu akan temenin dia trus ninggalin aku sendirian di rumah?"


Randy tertawa keras mendengar pertanyaan istrinya. "Ya engga lah, Sayang. Jeany kan udah punya suami, ngapain telpon aku. Aneh banget sih pertanyaan kamu."


"Duh, ini ceritanya Jeany lagi sebatang kara gak punya siapa-siapa."


Randy jadi semakin heran dengan sikap aneh Monica. Apa ini pengaruh hormon kehamilan? tanyanya dalam hati. Ia memberi jawaban yang diharapkannya mampu meredam keresahan sang istri. "Aku laki-laki bodoh kalau menelantarkan istri demi perempuan lain."


"Tapi perempuan lain itu masa lalu kamu."


"Dan istriku adalah masa depanku."


Monica masih belum puas. "Tapi di novel yang aku baca tadi, cowoknya sampai mendorong istrinya yang lagi hamil besar gara-gara nahan dia pas mau pergi nemenin mantannya yang lagi sakit."


"Astaga .... Jadi ini semua gara-gara novel?" Randy menepuk keningnya.


"Dengerin dulu aku belum selesai cerita!" sela Monica galak.


"Hufff iya iya trus gimana?"


"Trus perut istrinya kebentur meja dan dia jatuh ke lantai. Suaminya ngelihat istrinya minta tolong karena perutnya sakit, tapi tetep pergi."


"Ya simpel aja sih. Itu berarti tuh cowok gak cinta sama istrinya," sahut Randy santai.


"Tapi dia cinta banget. Dia sampe depresi dan mau bunuh diri habis ditinggal istrinya."


Randy memutar bola matanya malas. Itu sebabnya ia tidak suka membaca roman picisan dengan cerita yang menurutnya aneh. Mana mungkin suami yang mencintai istrinya tidak khawatir melihat istri yang sedang hamil tergeletak kesakitan di lantai? Melihat wanita hamil yang tidak dikenal saja hati kita pasti tergerak ingin membantu.


"Trus ada lagi cerita lain. Suaminya nikah lagi sama perempuan lain pas istrinya masih koma gara-gara melahirkan anaknya, katanya-"


"Udah udah cukup," potong Randy cepat. "Kamu kok bisa baca cerita kayak gitu sih?" tanyanya heran.


"Itu yang muncul di halaman depan begitu aku buka aplikasinya. Ya aku baca. Ternyata ceritanya bikin geregetan." Mungkin karena memiliki kesamaan dengan tokoh perempuan di novel yang ia baca - sama-sama sedang mengandung- Monica jadi merasa dirinyalah yang sedang teraniaya.


"Monic ...." Randy memanggil nama sang istri dengan penuh perasaan, membuat perempuan itu menatapnya tanpa berkedip. "Denger ya. Aku gak tahu dengan laki-laki lain. Tapi aku gak mungkin begitu terhadap perempuan yang aku cintai. Mana bisa aku mikir nikah lagi saat kamu lagi koma? Aku pasti bakal stress banget sampe makan tidur aja belum tentu bisa."


Kata-kata Randy membuat Monica terpana. Selama bertahun-tahun mereka menikah, laki-laki itu sudah sering memperlihatkan kesungguhannya. Namun tetap tidak membuat Monica berhenti merasa takjub setiap kali sang suami melakukannya. Sorot mata Monica memperlihatkan rasa sayang teramat dalam pada sang suami. "Iya aku percaya sama kamu."


"Kalo gitu ayo minum obatnya."


Setelah melihat sang istri meminum obatnya, Randy berkata lagi, "besok kita ke toko buku aja mumpung hari Minggu. Pilih-pilih novel yang kamu suka. Tapi ingat, jangan sampe lupa waktu kayak tadi kalo baca novel."


"Hehe iya .... Makasih ya, Yang!" kata Monica sumringah.


Randy membalas senyuman sang istri. Ada rasa bahagia bercampur takut. Dengan virus mematikan bersemayam dalam tubuh, mampukah ia dan Monica menjadi orang tua yang baik bagi anak mereka kelak? Akankah Tuhan memberi mereka kesempatan untuk menyaksikan buah hati mereka tumbuh dewasa, menikah, hingga punya anak? Pertanyaan-pertanyaan itu selalu muncul setiap kali Randy terjaga dari tidurnya di tengah malam.


Akan tetapi wajah bahagia sang istri membuat semangat Randy kembali tumbuh. Ia memang tidak tahu masa depannya akan seperti apa. Namun ia berjanji akan melakukan apa yang menurutnya terbaik untuk dilakukan.

__ADS_1


Yang suka cerita detektif dan penuh teka-teki, mampir di karya temanku ya 😃🙏



__ADS_2