
Pagi itu, Jeany mengira Kevin akan mengabaikannya setelah sikap buruknya pada pemuda itu tadi malam. Nyatanya pemuda itu masih bersikap seperti biasa. Belum lama gadis itu selesai mandi, Kevin telah mengetuk pintu kamarnya. Mereka berbicara di depan kamar gadis itu.
"Hari ini aku gak bisa bantu jaga Enzo ya. Stevi minta ditemenin," ucap Kevin merasa tidak enak hati.
"Ya," jawab Jeany dingin.
Tiba-tiba pemuda itu meraih tangan kanan Jeany dan meletakkan sesuatu ke dalam telapak tangannya, sebuah kotak beludru berukuran kecil yang terlihat cantik dan mewah.
"Apa ini?" tanya Jeany menyembunyikan rasa aneh yang muncul akibat sentuhan tangan pemuda itu.
"Buka aja."
Jeany membuka kotak tersebut dan terpaku melihat isinya.
"Suka gak? Aku pingin kasih tadi malam, tapi kamu lagi sensi kayaknya," ujar Kevin sambil tersenyum masam.
Jeany melihat jam tangan kulit tersebut. Jam tangan berwarna putih yang terlihat elegan dan bermerek mahal. Gadis itu menebak harga jam tangan tersebut sekurang-kurangnya dua juta rupiah. Sungguh ia sangat menyukainya.
"Aku sengaja pilih yang talinya kecil, soalnya tangan kamu kan kecil," ucap Kevin lagi.
Pemuda itu menunggu respons Jeany dengan harap-harap cemas. Ia melihat gadis itu masih memandangi jam tangan pemberiannya. Jam tangan yang dibelinya diam-diam ketika Stevi sedang mencoba celana panjang di ruang ganti, jam tangan yang dibayangkannya akan memperindah pergelangan tangan Jeany yang kecil itu.
"Aku gak suka. Kamu ambil balik aja," tukas Jeany sambil menutup kotak jam tersebut dan meletakkannya di atas meja pajangan. Gadis itu tak kuasa mengembalikannya langsung ke tangan Kevin.
Jawaban gadis itu membuat senyum di wajah Kevin saat itu juga menghilang. Jeany menolak memandang Kevin, karena ia tahu hatinya akan melemah bila melihat kekecewaan di wajah pemuda yang dikasihinya itu.
"Kamu gak suka modelnya? Kasih tahu aku, kamu suka yang kayak gimana? Ntar aku beliin." Di luar dugaan, Kevin masih berbicara lembut padanya.
"Aku gak suka jam tangan."
Kevin memandang Jeany tajam. Tampak jelas tatapan matanya menunjukkan amarah tertahan. "Aku udah ngasih itu ke kamu. Terserah mau kamu pakai atau buang," ucap pemuda itu. Ia membalik badannya dan berjalan pergi.
Jeany memandangi punggung Kevin yang semakin menjauh dengan perasaan sedih. Jam tangan itu dibiarkannya tetap berada di atas meja.
Maafin aku, Vin ....
"Jean? Kok melamun? Ayo sarapan dulu, mumpung saya belum berangkat."
Jeany tersadar dari lamunannya karena Winda memanggilnya. Kakak ipar Kevin itu sudah selesai sarapan, dan tengah menghabiskan waktu singkatnya sebelum berangkat ke kantor dengan bercengkrama bersama putranya.
"Nanti aja, Kak, saya gak biasa sarapan."
__ADS_1
"Nanti kalo lapar makan aja. Titip Enzo di Bi Murni atau Mbak Iis dulu gapapa. Oh ya, tadi malam kamu pulang jam berapa? Kevin kuatir banget sampai keluar lagi buat cari kamu. Saya mau tunggu kamu pulang, tapi malah ketiduran. Untung aja kamu udah pulang."
Jeany merasa bersalah. Ia memang sempat berpikir untuk tidak kembali ke rumah Kevin. Namun tanggung jawabnya untuk menjaga Enzo tidak mungkin dilalaikannya.
"Pulang jam sepuluh lewat. Maaf ya udah bikin Kak Winda kuatir."
Winda tersenyum. "Saya ada kabar bagus buat kamu. Saya sama Kak Marvin mau jalan-jalan ke Bandung. Jadi besok sampai Minggu kamu libur. Lumayan kan libur tiga hari."
"Pasti gara-gara besok saya harus ke kampus ya Kak Winda sampai ambil cuti?"
"Gak juga. Memang jatah cuti tahunan saya masih ada. Mau diuangkan juga dapetnya gak seberapa, jadi dipakai aja. Kak Marvin juga ikutan cuti. Mau refreshing dulu sekeluarga hehe ...." Wajah Winda berbinar senang.
"Iya, Kak."
"Kamu juga tiga hari ke depan senang-senang sama teman kamu ya. Mumpung belum kerja, nikmati waktu libur yang ada. Karna kalau udah kerja, yang paling dicari tuh hari libur," ucap Winda sambil meringis.
"Iya, Kak."
Sementara itu, di sisi lain kota Jakarta, seorang gadis yang baru saja bangun dari tidurnya harus mendengar kabar kurang menyenangkan.
"Apa, Ma?! Pindah rumah?!" pekik Stevi tak ingin percaya.
"Iya, Nak. Ada yang mau beli rumah ini dengan harga bagus. Bisa untuk melunasi kredit papamu di bank dan sisanya cukup untuk bayar kontrakan rumah," jawab sang mama.
"Gak bisa, Sayang. Kita sudah gak sanggup bayar bunga pinjamannya."
"Om Vhian gak bisa bantu? Kak Gio sama Kak Aldo kan gajinya besar, masak gak bisa bantu?"
"Hutang mama ke Om Vhian sudah banyak, Sayang. Sedangkan kakakmu dua-duanya sudah berumah tangga. Mereka punya tanggung jawab kepada istri dan anaknya, tidak mungkin mama bebani lagi."
"Mama kan bisa minta tolong temen-temen Mama yang banyak duitnya. Itu Tante Salma kan deket banget sama Mama, masak gak mau bantu?"
Vira menghela napasnya yang terasa berat. Ia tahu tidak akan mudah memberikan pengertian pada putrinya itu. Pukulan ini terlalu berat untuknya.
"Stevi Sayang, selama satu tahun lebih mama jungkir balik cuma biar bisa bayar bunga bank, pinjam sana pinjam sini supaya rumah ini gak disita. Tapi mama baru sadar itu cara yang keliru. Memang satu tahun lebih kita bertahan. Tapi bisa sampai kapan? Yang ada hutang mama bertambah banyak di orang-orang. Cuma gali lubang tutup lubang."
"Apa harus kontrak rumah, Ma? Gak beli rumah baru aja? Apa kata temen-temenku nanti ...."
"Sisa uangnya gak cukup untuk beli rumah, Sayang."
"Trus di mana papa sekarang? Kita terancam gak punya tempat tinggal gini kok papa enak-enakan di Malaysia?"
__ADS_1
"Stevi! Gak boleh ngomong begitu! Papamu juga sedang berjuang di sana!"
"Berjuang apanya? Harusnya papa pulang urusin hutangnya! Gara-gara dia kita jadi miskin!"
Hampir saja telapak tangan Vira mendarat di pipi mulus putrinya bila ia tidak menahan dirinya. Sebagai gantinya, tangisnya pecah karena luapan emosi yang sudah tidak dapat dibendungnya.
"Kamu kira mama mau seperti ini? Kamu kira mama gak malu sama temen-temen mama? Tapi kalau terus mempertahankan gengsi gak akan menyelesaikan masalah. Mama sudah gak peduli lagi omongan orang. Yang penting mama dan keluarga mama bisa bertahan hidup!"
Stevi terkejut melihat mamanya yang biasanya tenang itu menangis. Ia memeluk mamanya dan merasakan punggung wanita yang melahirkannya itu naik turun seiring dengan suara tangisannya, seolah merasakan sakit yang amat sangat. Ia pun ikut menangis.
"Maafin Stevi, Ma ... Stevi cuma belum siap ... Stevi sayang Mama ...."
"Iya, mama juga sayang Stevi ... Kita mulai dari awal ya, Nak ...."
"Iya, Ma."
"Hari ini mama mau lihat rumah yang rencananya kita kontrak. Kamu ikut ya?"
"Di mana, Ma?"
"Perumahan Surya Permata. Memang gak sebesar rumah kita sekarang, tapi daerahnya bersih dan yang penting gak susah transportnya kalau mau ke mana-mana. Cukup dekat juga sama kampus kamu."
"Trus kapan kita pindah?"
"Secepatnya. Mungkin dalam satu minggu ini, setelah urusan rumah ini beres. Kamu mulai packing barang-barang kamu ya."
Stevi sadar ia harus menghadapi kenyataan bahwa kehidupannya tidak akan seperti dulu. Di saat seperti ini ia sangat membutuhkan dukungan kekuatan dari laki-laki yang dicintainya.
"Aku hari ini mau pergi sama Kevin aja, Ma."
"Kevin sudah tahu kondisi keluarga kita?"
"Sudah, Ma. Dia janji gak akan ninggalin Stevi."
"Mama bersyukur kamu dapat laki-laki yang baik."
"Doakan hubungan Stevi sama Kevin lancar ya, Ma," pinta Stevi karena ia percaya doa seorang ibu mampu menembus langit.
Air mata Vira meleleh lagi.
"Tanpa kamu minta pun mama selalu mendoakan kamu. Yang paling penting buat mama adalah kebahagiaan anak-anak mama. Mama cuma minta kamu yang kuat ya. Kita gak bisa kayak dulu yang bebas mau beli apapun. Sekarang kita harus berhemat, sampai keuangan keluarga kita stabil."
__ADS_1
Stevi merasa ia tidak akan sanggup bila harus membatasi dirinya seperti yang diminta oleh sang mama. Kegemarannya berbelanja sudah begitu mendarah daging. Namun ia tidak ingin lagi membuat sang mama sedih dan menangis. Ia hanya bisa berpura-pura menerima keadaan, walau batinnya berkecamuk, memprotes Sang Pencipta atas kemalangan hidupnya. Gadis itu lalu mandi dan bersiap-siap karena kekasihnya telah berjanji akan menemaninya seharian penuh.