
"Aku kasih kamu waktu satu minggu untuk berpikir."
Ultimatum yang Revan cetuskan sebelum meninggalkan rumah untuk kedua kalinya itu berputar-putar dalam pikiran Vivian, menyisakan kegelisahan yang menghantui hari-harinya. Ia sangat menyadari, kesempatan yang diberikan oleh Revan adalah peluang terakhir mereka untuk bersama. Jika ia tidak mau mengundurkan diri dari pekerjaan, maka rumah tangga mereka akan benar-benar berakhir.
Lalu mana yang harus Vivian pilih? Selama beberapa hari ia benar-benar memikirkannya, mempertimbangkan berbagai konsekuensi dari setiap keputusan yang akan diambilnya kelak. Namun semakin memikirkannya, ia semakin merasa bimbang dan tertekan.
Vivian mengembuskan napas keras-keras, berharap beban hidup yang tengah menghimpitnya akan terurai bersamaan dengan udara yang keluar dari hidung. Namun ia tidak merasa lega sedikit pun. Sadar dirinya sedang tidak fokus, perempuan itu menghentikan kegiatannya memeriksa e-mail penting yang masuk hari itu.
Dengan punggung menyandar pada kursi kerja, mata Vivian memandangi sekeliling ruangan kantor tempatnya mencari nafkah selama lima tahun terakhir. Setelah terbiasa menjadi pekerja kantoran, sulit rasanya membayangkan jika setiap hari akan dilaluinya di rumah saja seperti keinginan Revan.
Hari itu Vivian memutuskan tidak lembur terlalu lama karena ia baru teringat belum menjenguk rekan kerjanya yang beberapa hari lalu melahirkan anak kedua.
"Don, kamu lembur sampai jam berapa? Sudah pesen makan?" tanyanya pada Doni yang belum menunjukkan tanda ingin pulang. Wajah anggota timnya itu tidak beralih sedikit pun dari layar laptop.
"Sampai selesai semua, Bu. Ini saya lagi nyiapin dokumen untuk visit nasabah besok, lagi bikin simulasi tabel angsuran."
Vivian mengangguk dengan sorot mata penuh apresiasi. Akhir-akhir ini Doni memang terlihat lebih bersemangat. "Ya tapi jangan telat makan," katanya mengingatkan. "Buatkan juga dokumen permohonan kredit dan biaya yang timbul."
"Siap, Bu."
"Saya duluan ya, mau besuk Citra dulu. Oh iya, anaknya cowok apa cewek ya?" Vivian bertanya agar tidak salah memilih hadiah.
"Cewek, tapi modelannya kayak cowok," jawab Doni yang memang sudah lebih dulu menyempatkan diri untuk membesuk Citra. Wajah laki-laki itu terlihat geli, mungkin sedang membayangkan rupa bayi yang baru saja ia bicarakan.
"Hush kamu ini. Kalo Citra denger bisa-bisa tambah lama dia urus dokumen nasabah kamu."
Citra yang baru saja disebut oleh Vivian adalah admin kredit yang sedang dalam masa cuti melahirkan. Bagi Vivian, menjalin hubungan baik dengan teman satu kantor juga penting, terutama jika apa yang orang itu kerjakan sangat berpengaruh pada pencapaian tim yang ia pimpin.
Vivian menanyakan lokasi rumah Citra pada Doni sebelum meninggalkan kantor. Dalam perjalanan, ia mampir di toko emas dan membeli sebuah gelang bayi di sana. Setelah mempertimbangkan matang-matang, hadiah berupa perhiasan emas dirasanya lebih bermanfaat. Ia memilih gelang yang terlihat manis dengan hiasan berbentuk stroberi, sangat cocok untuk bayi perempuan.
Aku juga pasti senang kalau ada yang kasih gelang lucu begini buat bayiku, batinnya saat sepasang mata indahnya memperhatikan gelang seberat satu setengah gram itu dimasukkan ke dalam kotak berlapis beledu oleh pegawai toko emas.
Khayalan indah itu membuat hati Vivian dipenuhi perasaan hangat sekaligus sedih dalam waktu bersamaan. Ia menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya, entah sudah keberapa kalinya di hari itu. Perempuan itu masuk ke dalam mobil dan memacunya ke sebuah kompleks perumahan di Surabaya Timur.
Setelah menyusuri gang perumahan yang sama sebanyak dua kali, Vivian akhirnya menemukan rumah yang ia cari. Perempuan itu memarkir mobilnya dan turun. Suara tangisan bayi langsung tertangkap oleh indera pendengarannya. Ia menunggu sebentar. Tangannya memencet bel setelah tangisan terdengar mereda, berharap kedatangannya tidak mengganggu orang tua sang bayi.
__ADS_1
Tak lama kemudian Citra membukakan pintu sambil menggendong bayinya yang kembali menangis kencang. Ia tersenyum menerima ucapan selamat dari Vivian, yang diam-diam merasa terkejut melihat paras rekan kerjanya itu. Tanpa tata rias seperti yang biasa dikenakannya di kantor, wajah Citra terlihat sangat pucat.
Namun Vivian lebih terkejut lagi karena Citra tanpa sungkan membuka kancing piyama dan menyusui sang bayi di hadapannya setelah mereka sama-sama duduk di ruang tamu.
"Bentar ya aku nyusuin dia dulu. Minum dulu, Vi," tunjuk Citra pada minuman botol yang sudah tersedia di atas meja.
"Iya entar kalo haus aku minum," jawab Vivian sambil memperhatikan mulut bayi Citra yang menempel pada dada ibunya. "Laper banget ya dia?" tanyanya, sedikit merasa ngeri karena bayi itu menghisap sumber air susu dengan gerakan rakus.
"Iya nih cewek-cewek tapi nenennya kenceng. Sssst aw!" Citra tiba-tiba mendesis kesakitan. Wajahnya seperti ingin menangis.
Vivian menatap cemas. "Kenapa, Cit?"
"Biasa, lecet gara-gara nyusuin. Perih banget," jawab Citra sambil meringis.
Vivian tercenung di tempat. Segala hal yang baru dilihatnya membuatnya mempertanyakan kembali kesiapannya untuk memiliki anak. Selain sakitnya melahirkan, para ibu juga harus merasakan sakitnya menyusui. Tidak bisakah menyusui tanpa rasa sakit? tanyanya dalam hati saat melihat bulir-bulir keringat bermunculan di wajah Citra, kentara jelas temannya itu sedang menahan pedih di ujung dadanya. Sementara itu, sang bayi masih menyusu penuh semangat.
"Nama anak kamu siapa, Cit?" tanya Vivian untuk memindahkan perhatian Citra dari rasa sakitnya.
Segaris senyum terbit di wajah Citra, tetapi entah kenapa Vivian tidak mengartikannya sebagai senyum bahagia.
"Namanya cantik, cocok sama anaknya yang juga cantik." Vivian mengambil kotak hadiah dari dalam tas dan meletakkannya di atas meja. "Ini hadiah buat kelahiran Arvi. Sekali lagi selamat ya."
Citra memberi senyum tulus. "Thanks ya, Vi, pake repot-repot segala."
"You're welcome."
Tidak seperti biasanya, saat ini Vivian sangat berhati-hati menjaga kalimatnya. Ia pernah mendengar, perubahan hormon pada wanita yang baru melahirkan dapat menyebabkan emosi mereka tidak stabil. Itu sebabnya banyak wanita mengalami depresi pasca melahirkan, apalagi bila suami sebagai orang yang paling diharapkan untuk mendukung malah masa bodoh dengan keadaan istri. Ngomong-ngomong, di mana suami Citra?
Tangan Vivian mengambil satu botol minuman di meja dan meneguk isinya. Melihat Citra menyusui sambil menahan pedih membuat tenggorokannya terasa kering. Citra tampak senang melihat tamunya menikmati minuman yang telah ia siapkan. Ia tanpa sadar memperhatikan wajah sang teman.
"Muka kamu mulus banget, Vi. Kalo ntar nikah, aku saranin jangan pake KB yang hormon, ntar muka ngeflek kayak aku dulu," kata Citra mulai bercerita.
Vivian mengamati wajah Citra yang sudah bebas dari flek hitam. Ia menyimpulkan teman kantornya itu sudah lama mengganti metode kontrasepsinya. "Trus kamu pake KB apa sekarang?" tanyanya sedikit penasaran.
"Aku ganti-ganti gara-gara gak ada yang cocok. Yang bikin muka ngeflek lah, bikin siklus mens gak teratur, terakhir bikin beratku naik satu kilo tiap satu bulan. Bayangin! Akhirnya aku pake sistem kalender aja, tapi malah kesundulan!" Wajah Citra tampak tidak senang saat menuturkan pengalamannya.
__ADS_1
Vivian mulai memahami situasi sang teman. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menunjukkan rasa peduli yang besar pada lawan bicaranya.
Citra melanjutkan ceritanya, kali ini dengan mata berkaca-kaca. "Suamiku malah menyalahkan aku, katanya gara-gara aku gak mau KB. Padahal dia sendiri juga gak mau pake k*ndom, katanya gak enak!"
Pupil mata Vivian membesar mendengar cerita Citra. Sudah sering ia menjadi tempat orang-orang menumpahkan isi hati mereka. Ia tidak tahu mengapa mereka merasa nyaman bercerita padanya. Seperti saat ini. Vivian tidak merasa hubungannya dengan Citra dekat, tetapi Citra begitu blakblakan menceritakan masalah rumah tangganya.
"Liat aja sekarang. Dia malah enak-enakan tidur. Arva tidur, dia ikut tidur. Katanya capek gara-gara semalam aku gak bisa nenangin Arvia yang rewel." Masih sambil menyusui bayinya, Citra terus mengisahkan keegoisan sang suami.
Hampir satu jam Vivian memasang telinga dan bersungguh-sungguh mendengarkan cerita Citra. Ia pulang dari rumah Citra dengan perasaan lega, karena wajah temannya itu tampak lebih ceria saat mengantarnya ke depan pagar. Setidaknya ia hadir di saat sang teman membutuhkan seseorang untuk berbagi cerita.
Dalam perjalanan pulang, ia merenung. Menikah dengan laki-laki yang belum memiliki kesiapan untuk menjadi seorang suami dan ayah hanya akan berujung penderitaan bagi kaum perempuan, seperti yang dialami oleh Citra. Siap berhubungan badan tidak sama artinya dengan siap berkeluarga.
Vivian tidak bisa tidak membandingkan suami Citra dengan suaminya sendiri. Ia jadi menyadari satu hal. Betapa beruntung dirinya memiliki suami seperti Revan. Dulu Vivian juga pernah melakukan pencegahan kehamilan, yang membuat wajahnya ditumbuhi banyak jerawat. Setelah itu Revan menyediakan banyak karet pengaman di rumah agar Vivian tidak perlu lagi berkontrasepsi.
Aku udah menyia-nyiakan suami sebaik Revan.
Kini Vivian tahu mana yang harus ia pilih. Ia memilih Revan. Ia memilih mempertahankan rumah tangganya. Perempuan itu memutar arah kendaraannya, menuju sebuah apartemen mewah di Surabaya Barat. Malam itu juga ia harus menyampaikan keputusannya itu pada Revan.
Setibanya di gedung apartemen, Vivian langsung menuju lift yang disediakan untuk penghuni khusus. Ia menempelkan ujung telunjuknya pada alat pemindai sidik jari, membuat pintu lift seketika terbuka. Lift itu membawanya ke lantai paling atas, lantai 52, ke sebuah griya tawang tempatnya dulu menghabiskan masa awal pernikahan.
Vivian teringat saat-saat ia tinggal di sana. Hunian yang baginya terlalu besar dan terlalu mewah, dengan fasilitas ala hotel bintang lima. Luasnya 500 meter persegi, berkali-kali lipat lebih besar dari rumah orang tua Vivian. Terlalu berlebihan untuk orang biasa seperti dirinya. Ia tidak betah dan memaksa Revan untuk pindah dari situ.
Ingatan itu membuatnya tersentak, dengan sejuta penyesalan memenuhi rongga dadanya. Kenapa baru sekarang ia menyadarinya? Suaminya itu dari dulu selalu mengalah untuknya. Demi dirinya, Revan membuang jauh-jauh egonya sebagai seorang laki-laki. Pemahaman baru itu membuat langkah kaki Vivian semakin cepat menuju pintu apartemen. Ia kembali menempelkan jari telunjuknya pada panel untuk membuka pintu.
Pintu itu terbuka, tetapi bukan Vivian yang membuatnya terbuka lebar. Seorang perempuan cantik dengan rambut berwarna seperti madu berdiri di hadapannya. Perempuan itu bertubuh tinggi semampai. Lekuk tubuhnya tampak sempurna di balik gaun panjang hitam ketat yang ia kenakan.
Vivian terpaku di tempat, tidak mempercayai apa yang sedang ia lihat. "Siapa kamu?" tanyanya dengan suara meninggi.
Pertanyaan bodoh sebenarnya, tetapi ia terlalu terkejut hingga hanya bisa mengucapkan dua kata itu. Tentu saja ia sangat tahu siapa perempuan di hadapannya, karena siapa yang tidak mengenal Vanessa Wong, penyanyi yang saat ini sedang berada pada puncak popularitas? Lagu-lagunya selalu berhasil masuk dalam tangga lagu Top 10 Spotify Charts Indonesia.
Sambil tertawa sumbang, Vanessa menatap tak percaya pada Vivian. "Seriously? Kamu nggak tahu siapa aku?" tanyanya balik dengan wajah kentara tersinggung.
Jika tadi Vivian terkejut, kini ia merasakan amarah yang datang terlambat karena mendapati seorang perempuan keluar dari apartemen suaminya. Tatapannya terkunci pada wajah Vanessa, tajam dan penuh peringatan.
"Yang sebenarnya mau aku tanyakan, sedang apa kamu di apartemen suamiku?"
__ADS_1
Vanessa mengeluarkan senyum manis yang tampak dibuat-buat. Setiap kata seperti sengaja ia ucapkan dengan perlahan dan penuh penekanan. "Menurutmu, apa yang dilakukan seorang perempuan di apartemen pacarnya?"