Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)

Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)
Perasaan Sebenarnya


__ADS_3

Sambil duduk bersebelahan, Randy dan Jeany menikmati mi ayam yang baru saja disajikan. Tampak uap panas mengebul dari dalam mangkuk, membangkitkan selera makan gadis yang belum juga mendapatkan pekerjaan itu. Jeany menambahkan sambal dan kecap manis banyak-banyak ke dalam mangkuknya.


"Jean, lo makan bakso apa rawon?" Randy bergidik melihat kuah yang tadinya bening kini berwarna hitam kecoklatan.


"Begini baru enak. Mau coba?"


"Engga engga." Randy menggelengkan kepalanya cepat-cepat.


"Lo beneran gapapa kan makan di sini?" tanya Jeany yang masih tidak yakin Randy menyukai menu makan siang mereka.


"Gapapa gue mah yang penting lo senang."


Tadinya pemuda itu ingin mengajak Jeany makan di sebuah kafe. Namun gadis itu menolaknya karena tak ingin Randy terlalu boros. Jadilah mereka saat ini berada di sebuah kedai yang tidak terlalu ramai, dengan harga mi ayam per porsinya tak lebih dari dua puluh lima ribu rupiah. Usai makan, Jeany duduk bertopang dagu dengan wajah yang tampak sedang memikirkan sesuatu.


"Udah, gak usah terlalu sedih. Perekonomian emang lagi lesu. Banyak tempat usaha yang melakukan efisiensi dengan ngurangin orang kerjanya. Jadi wajar kalo lo sekarang belum dapat kerja, bukan karna lo gak bagus. Habis ini kita cari lagi di tempat lain ya."


Randy menghibur gadis yang disukainya itu. Ia tidak peduli disebut sok tahu, asalkan gadis itu tak bersedih lagi.


"Kevin gimana kabarnya ya, Ran? Udah dua hari. Gue gak bisa hubungin dia, dia juga sama sekali gak hubungin gue ...." Jeany tidak menyadari ucapannya membuat pemuda itu dongkol.


Randy membayangkan dirinya sedang menjatuhkan tubuh Kevin di atas panggung smackdown. Hanya dengan cara itu ia dapat menyingkirkan rasa kesalnya. Tiba-tiba ia menemukan cara untuk membalas Kevin dan membuatnya cemburu. Ditatapnya Jeany.


"Jean, lo mau ketemu Kevin kan?"


"Iya mau."


"Gue tau caranya. Ikut gue ke reuni besok. Gue yakin dia besok ke sana ama Stevi."


"Emangnya Kevin udah keluar dari rumah sakit, Ran?"


"Udahlah. Gue juga heran kenapa dia gak hubungin lo."


Jeany tertunduk sedih. "Apa dia dilarang sama mamanya ya?"


"Makanya kalo mau tahu, besok tanya langsung sama dia."


Gadis itu menatap Randy dengan bimbang. Sorot matanya menunjukkan ketakutan. "Gue gak bisa, Ran. Gue gak nyaman ikut acara kumpul-kumpul kayak gitu. Pasti rame banget di sana ...."


"Kan lo perginya sama gue." Randy membujuk lagi setelah dilihatnya Jeany masih ragu. "Mau ketemu Kevin gak?"


"Mau," jawab Jeany memelas.


"Kalo gitu sekarang kita pergi beli baju buat dipakai besok." Pemuda itu langsung bersemangat.


"Untung gue udah gajian." Jeany tersenyum getir, mengingat kejadian di hari ia mendapatkan gajinya.


***


"Dia pergi sama teman aku, Ma?" tanya Kevin sangsi, masih di kamar yang biasa ditempati oleh Jeany. Sudah tidak ada lagi barang-barang gadis itu di sana. Winda pun telah membawa Enzo ke kamarnya sendiri, seolah tahu akan ada percekcokan antara mertua dan adik iparnya.


"Apa masih kurang jelas? Mama sengaja gak mau cerita ini waktu kamu masih dirawat di rumah sakit, biar kamu gak kepikiran. Asal kamu tahu saja, dia itu tidak setia! Dia ada hubungan dengan teman kamu! Begitu tahu kamu kecelakaan, dia tidak mau lagi bertahan di sini."


"Tapi dua hari lalu dia masih jenguk aku di rumah sakit ...."


"Itu karena Stevi terlalu baik, gak tega lihat kamu sedih terus makanya dia minta Jeany untuk datang. Nak, kamu harus sadar perempuan terbaik buat kamu adalah Stevi."


"Gak, gak mungkin, Ma! Ini pasti cuma salah paham!"


"Setelah kamu lihat ini apa kamu masih bisa bilang ini cuma salah paham?"


Henny menunjukkan foto yang diambilnya diam-diam di rumah sakit. Ia telah mencetaknya dengan memperbesar di bagian yang diinginkannya. Kevin menghempaskan foto tersebut dengan kasar setelah melihatnya.


"Aku harus bicara langsung sama Jeany!"


Kevin keluar dari kamar dan menuruni tangga. Henny bergegas mengejarnya.

__ADS_1


"Kevin! Kamu masih harus istirahat, Nak!"


"Gak, Ma. Aku gak tenang sebelum bicara langsung sama dia."


Sesampainya di lantai bawah, ibu dan anak itu bertemu dengan Stevi yang baru saja datang.


"Stevi, syukurlah kamu sudah datang. Ini Kevin bersikeras mau ketemu Jeany, tolong kamu bujuk dia." Henny meminta bantuan Stevi.


"Tante tenang dulu. Biar saya antar Kevin. Daripada dia pergi sendiri, bahaya."


Henny dan Kevin sama-sama terkejut mendengar tawaran Stevi.


"Kamu beneran mau antar aku ketemu Jeany, Stev?"


"Iya. Kamu kan belum boleh nyetir."


"Ya ampun, Stevi kamu memang terlalu baik. Saya malu sekali dengan kelakuan anak saya," ucap mama Kevin dengan wajah penuh penyesalan.


"Gapapa, Tante saya ikhlas."


"Ma, kami pergi dulu ya. Ayo, Stev!" Kevin tidak menanggapi ucapan mamanya, yang diinginkannya saat ini hanyalah bertemu dengan Jeany dan meminta penjelasan dari gadis itu.


Karena jalanan macet, mereka tiba di kos Jeany satu setengah jam kemudian. Tampak rumah kos tersebut semakin tidak terawat. Kevin masih sempat berpikir akan memindahkan Jeany ke tempat yang lebih layak. Pemuda itu tersenyum senang melihat perempuan yang dikenalnya. Ia segera menyapanya.


"Sore, Kak Serly."


Serly yang sedang duduk di teras karena merasa kepanasan di dalam rumah itu menoleh ke arah sumber suara.


"Wah elo?! Masih sering ke sini ya ternyata? Kok lo keknya tambah kurus?" Kakak kos Jeany itu berbicara dengan ramah. Namun ia melirik tidak suka pada Stevi.


"Jeany ada, Kak?" Kevin tidak ingin berbasa-basi lagi.


"Lagi keluar tuh."


"Keluar ke mana? Sama siapa, Kak?"


"Ya sama cowoknya lah! Masak sama cowok gue?"


Kevin masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya. "Jeany gak mungkin pacaran ama cowok lain."


"Gak mungkin gimana? Orang cowoknya tiap hari datang ke sini. Namanya Randy, ganteng banget orangnya!"


"Brengsek!"


Serly terlonjak kaget mendengar Kevin memaki. Pemuda yang biasanya lembut itu kini terlihat menyeramkan.


"Udah udah, Vin, ayo kita pulang. Jangan bikin ribut di tempat orang." Stevi berusaha menenangkan Kevin. Ia menarik tangan pemuda itu agar berjalan mengikutinya.


"Makanya kalo udah punya cewek jangan deketin adik gue! Lo kira enak di-PHP?" Tanpa tahu duduk persoalan, Serly memarahi Kevin. Dari sudut pandangnya, ia melihat pemuda itu hanya mempermainkan Jeany.


Penuh emosi, Kevin ingin berbalik. Namun ia terus ditarik oleh Stevi menuju mobil. Akhirnya ia mengurungkan niatnya, sadar tujuannya datang ke sana bukan untuk bertengkar dengan Serly. Di dalam mobil ia menghela napasnya kasar, merasa frustrasi.


Mobil itu meninggalkan kos Jeany. Stevi melirik Kevin. Setelah beberapa menit berlalu, ia merasa ini waktu yang tepat untuk berbicara dengan Kevin. Gadis itu meminggirkan mobilnya.


"Vin, kenapa kamu lebih pilih Jeany daripada aku?"


Kevin mendesah malas. "Kan udah aku bilang aku gak bisa cerita. Yang jelas semuanya salah aku."


"Salah kamu karena udah tidur ama dia?"


Pemuda itu langsung menatap Stevi tajam. "Dari mana kamu tahu?"


Stevi tersenyum getir. "Jadi bener?"


"Siapa yang kasih tahu kamu?"

__ADS_1


"Siapa yang kasih tahu itu gak penting. Tapi aku tahu perasaan kamu ke Jeany itu bukan cinta kan? Kamu cuma merasa bersalah dan perlu bertanggung jawab ama dia kan?"


"Bukan rasa bersalah."


"Vin, aku gak akan mempermasalahkan kesalahan kamu itu. Asal kamu mau kembali sama aku, kita lupakan masa lalu dan mulai dari awal."


"Maafin aku, Stev. Kita gak bisa kembali kayak dulu."


"Kenapa? Bukannya dulu kamu yang ngejar-ngejar aku? Aku selalu bertanya-tanya di mana kurangku sampai kamu begitu cepat berpaling. Sekarang aku udah tahu, dan aku gak keberatan menerima kamu kembali. Kamu cuma merasa bersalah sama dia. Yang kamu cinta masih tetap aku!"


Stevi masih kukuh pada pendiriannya. Ia tahu betul Kevin termasuk kolot untuk ukuran pemuda seusianya sehingga rasa bersalah yang timbul berhasil mempengaruhi pikirannya dan membuatnya merasa mencintai Jeany.


Kevin menatap gadis itu cukup lama sebelum bersuara. "Tadinya aku gak mau menjelaskan karena gak mau bikin kamu sedih. Tapi karena kamu udah tahu semua, sepertinya aku harus cerita."


Stevi mengangguk, membiarkan Kevin melanjutkan ceritanya.


"Sejak remaja aku ada ketakutan untuk dekat dengan lawan jenis. Waktu kelas tiga SMA, aku sadar aku tetaplah laki-laki normal, tetap ada keinginan untuk berpacaran. Waktu itu aku terlalu idealis, aku ingin mendapat pacar yang sempurna karena cuma ingin pacaran satu kali. Dan waktu itu kamu adalah idaman setiap laki-laki di sekolah. Di mataku kamu begitu sempurna. Sejak itu aku sering memperhatikan kamu, aku merasa kamu yang paling cocok untuk jadi pacar aku. Sayangnya waktu itu kamu udah punya pacar. Begitu tahu kamu putus dari pacar kamu, aku sangat senang dan langsung mendekati kamu."


Stevi masih mendengarkan tanpa bersuara. Kevin pun melanjutkan ceritanya.


"Tapi setelah aku dekat dengan Jeany, aku merasakan perasaan yang belum pernah aku alami sebelumnya. Aku selalu kepikiran dia, khawatir sama dia, marah kalau dia dekat dengan Randy .... Ingin memiliki dia seutuhnya. Aku gak pernah ngerasain itu waktu sama kamu."


Stevi merasakan pukulan di jantungnya. Jadi selama ini Kevin tidak pernah mencintainya? Hanya sebatas kagum?


"Maafin aku, Stev. Waktu itu aku terlalu bodoh sampai gak memahami perasaan sendiri."


"Kamu tetap cinta sama Jeany biarpun tahu pekerjaan dia?" Stevi mencoba peruntungan terakhirnya.


"Maksud kamu?" Kevin menatap dengan bingung.


"Bukannya dia dari club malam?"


"Oh itu .... Dia kan cuma waitress dan sekarang udah gak kerja di sana lagi."


"Kamu yakin dia cuma waitress?"


"Stev, aku laki-laki pertama dia. Selama ini dia selalu menjaga kehormatannya, aku yang udah mengambil itu dari dia ...." Hati Kevin terasa pedih ketika ia mengucapkan kalimatnya, masih tidak percaya Jeany tega mengkhianatinya dengan Randy.


"Jadi sejak awal aku memang gak pernah ada di hati kamu?"


"Sekali lagi maafin aku ...." Kevin menjawab sambil mengernyit karena tiba-tiba merasa nyeri di kepalanya.


"Kamu kenapa, Vin?" tanya Stevi cemas.


"Cuma sakit dikit. "


"Kalo gitu kita pulang sekarang aja, kamu harus minum obat lalu istirahat."


"Aku masih mau cari Jeany."


"Jangan gegabah! Kalau kamu sakit apa bisa cari dia? Dan ingat ya, janji kamu untuk pergi ke reuni sama aku besok tetap berlaku!"


Kevin pun mengangguk.


"Tolong jangan bilang sama mama aku yang tadi aku ceritain, terutama jangan cerita Jeany pernah kerja di club malam. Aku gak mau mama salah paham sama dia."


Stevi menelan ludah, merasa takut Kevin akan marah besar bila mengetahui hal yang sebenarnya. Usai mengantar Kevin pulang, gadis itu langsung menemui Rika di rumahnya. Ia ingin memastikan satu hal.


"Ckck .... Cowok lo itu terlalu polos. Dia gak sadar selama ini udah dibodohi Jeany yang pura-pura alim," ucap Rika setelah mendengar cerita Stevi.


"Tapi Kevin bilang dia laki-laki pertama Jeany."


Rika memberi senyum mengejek. "Kebetulan aja jadi yang pertama. Lo mau bukti?"


Rika menunjukkan sebuah foto di ponselnya pada Stevi. Foto yang menampakkan Jeany sedang tersenyum dalam pelukan seorang laki-laki paruh baya. Stevi terbelalak melihatnya. Namun belum sempat berkomentar, ponselnya berdering.

__ADS_1


"Halo, Dev? Lo ama Sandra mau ke rumah gue? Boleh .... Sekalian gue kenalin tetangga gue, baik banget orangnya."


__ADS_2