
Kevin kini telah mengingat kecelakaan yang tadi malam dialaminya. Setelah sempat bingung melihat mama dan adiknya yang berkumpul dengan wajah cemas di samping tempat tidurnya, pandangan pemuda itu mengarah kembali ke Stevi yang masih memegang tangannya. Ia kecewa karena tidak ada sosok yang sangat dirindukannya.
"Jeany mana, Ma?" tanya Kevin dengan suaranya yang masih terdengar lemas.
"Jeany?"
Henny dan Jovina saling berpandangan. Mereka merasa aneh karena Kevin langsung menanyakan Jeany begitu terbangun dari tidurnya. Sedangkan Stevi harus kecewa karena doanya agar Kevin lupa ingatan dan melupakan hal apa pun tentang Jeany tidak terkabul.
"Kak Jeany di rumah jaga Enzo," sahut Jovina.
"Oh iya," kata Kevin kecewa. "Tapi dia tahu kan kakak di sini?"
"Tahu kok. Kak Jeany kuatir banget lho sama Kakak sampe nangis!"
"Beneran?" Kevin tersenyum membayangkan seperti apa ekspresi cemas gadis yang biasanya berwajah datar itu.
"Kok Kak Kevin malah senyum-senyum sendiri? Kayaknya kepalanya kebentur keras, Ma!" Jovina mengutarakan kesimpulannya pada Henny.
Kevin mengabaikan komentar sok tahu adiknya itu. "Vina, beliin kakak roti abon ya di bawah."
"Kak Kevin aneh-aneh aja deh. Makan yang ada aja napa?" Vina menggerutu mendengar permintaan aneh kakaknya itu. Gadis itu menunjuk nampan berisi makanan yang disediakan oleh pihak rumah sakit.
Sang mama segera menengahi. "Belikan saja, Vina. Orang sakit memang biasanya begitu permintaannya. Kevin, habis makan roti, makan juga makanan dari rumah sakit ya?"
"Iya, Ma." Kevin lalu berbicara pada Stevi yang sedari tadi diam. "Stev, kamu temenin adik aku ya? Dia suka males gerak kalo gak ada temennya."
"Eh? Oke aku temenin. Ayo, Vina."
"Hehe .... Tau aja aku malas turun sendirian."
Walau merasa aneh, Stevi tidak menolak permintaan Kevin. Gadis itu ingin menunjukkan pada mama Kevin bahwa dirinya adalah kekasih yang bisa diandalkan oleh putra wanita itu. Ia dan Jovina lalu keluar dari kamar tempat Kevin dirawat.
Setelah Stevi dan Jovina keluar, Kevin melihat mamanya dengan wajah serius. Ia berbicara sambil menahan nyeri di kepalanya. "Ma, suruh Jeany ke sini ya?"
"Jeany masih jaga Enzo, Sayang. Kalau ada yang mau diomongkan ke Jeany nanti biar Mama sampaikan."
"Apa gak ada yang bisa gantiin? Aku kangen dia, Ma ...."
Alis sang mama saling bertaut. "Maksud kamu gimana Mama gak ngerti."
__ADS_1
"Aku bilang aku kangen sama pacar aku, Ma."
Henny terpaku sebentar. "Kevin, apa benturan di kepala kamu terlalu keras sampai kamu lupa? Pacar kamu itu Stevi, Nak, bukan Jeany."
Kevin tersenyum lemah, tidak mampu menggeleng karena rasa nyeri di kepalanya. "Engga, Ma aku gak lupa. Aku udah putus sama Stevi. Pacar aku sekarang Jeany."
Henny tidak sempat merespons ucapan Kevin karena setelah itu dokter masuk dan melakukan pemeriksaan pada Kevin. Dokter dan perawat rumah sakit kemudian mempersiapkan pemuda itu untuk menjalani CT Scan. Kevin ditanya apakah memiliki alergi atau riwayat penyakit lainnya. Mama Kevin sangat berharap benturan di kepala Kevin tidak berdampak buruk pada kesehatan putranya itu.
***
Di lantai dasar rumah sakit, Jovina memilih-milih roti dengan penuh semangat. Rasa malasnya tergantikan oleh rasa lapar setelah indera penciumannya menangkap aroma roti yang begitu wangi dan manis. Gadis itu membeli roti dengan berbagai isi seperti kismis, sosis, keju, coklat dan tentu saja roti abon pesanan kakaknya.
Stevi mengamati bibir Jovina yang tampaknya hanya dipoles dengan lipgloss. "Kamu gak suka pake lipstik ya, Vina?" tanyanya berbasa-basi.
"Iya gak suka," jawab Vina sambil lalu karena masih asyik memilih roti.
"Oh. Tapi kamu punya lipstik kan?"
"Punya lah, paling dipake tipis-tipis kalo mau ke pesta atau ke mall."
"Kamu suka pake merek apa?"
Jovina menyebut sebuah merek kosmetik asal Jepang. "Dibeliin Mama, ya aku pake aja yang penting cocok."
"Engga. Aku cuma pake yang dibeliin mama aja."
Stevi masih tidak ingin menyimpulkan apa pun. Ia melanjutkan pertanyaannya. "Kamu sering ke apartemen kakak kamu?"
"Apartemen Kak Kevin? Gak pernah. Kak Kevin tuh tertutup soal urusan pribadi, gak kayak Kak Marvin. Tapi memang gak ada perlunya juga sih ke situ."
Mendengar jawaban Jovina, luka hati yang dirasakan oleh Stevi semakin bertambah dalam dan kebencian gadis itu pada Jeany semakin bertumpuk.
Tega kamu bohongin aku, Vin.
***
Setelah CT Scan selesai dilakukan, Kevin baru dapat memakan roti yang dibelikan oleh adiknya. Henny memperhatikan putranya yang sedang makan sambil memikirkan ucapan mengejutkan yang tadi didengarnya dari bibir pemuda itu.
"Kevin, habis makan roti, makan nasinya juga ya. Mama mau ketemu dokter sebentar sama Stevi. Vina, kamu temani kakak kamu dulu ya."
__ADS_1
"Ya, Ma."
Henny mengajak Stevi duduk di kursi panjang yang tersedia di lorong rumah sakit. Ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada hubungan asmara putranya.
"Stevi, maaf ya kalau saya to the point. Apa kamu sama Kevin sedang bertengkar?"
Stevi tampak terkejut mendengar pertanyaan Henny. Tidak lama kemudian wajahnya berubah sedih. "Hubungan kami memang lagi ada masalah, Tante."
"Boleh cerita sama Tante masalahnya? Siapa tahu Tante bisa bantu."
Stevi tampak ragu-ragu sejenak.
"Gak apa-apa cerita saja. Tante bisa jaga rahasia kok," ucap Henny untuk meyakinkan Stevi. Harus diakuinya ia sudah menyukai gadis itu sejak pertama kali melihatnya. Cantik dan elegan memang sejak dulu menjadi kriteria menantu idamannya.
"Tante tahu kan Kevin bersahabat sama Jeany. Kevin kan memang orangnya mudah kasihan sama orang lain, dia selalu bantu Jeany yang lagi kesusahan."
Henny mengangguk. Ia memang sudah tahu bahwa teman putranya itu sedang kesulitan keuangan sehingga bekerja menjadi pengasuh bayi di rumahnya.
"Saya gak tahu gimana ceritanya, tapi tiba-tiba aja Kevin minta putus ...." Stevi bercerita sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. "Katanya dia udah gak cinta lagi sama saya. Cintanya sama Jeany. Saya gak nyangka mereka tega selingkuh di belakang saya, bahkan Jeany sudah pernah diajak ke apartemen Kevin hiks ...."
"Dari mana kamu tahu, Stevi? Mungkin saja hanya salah paham."
"Waktu jenguk Kevin sama teman-teman, saya menemukan lipstik Jeany di apartemen Kevin, Tante. Tapi Kevin membohongi saya. Dia bilang itu punya Jovina. Padahal Jovina gak pernah ke sana."
Mama Kevin mengelus-elus punggung Stevi untuk menenangkannya. Ia sendiri tidak menyangka putranya bisa melakukan hal memalukan seperti itu. Ingatannya kembali pada kejadian bertahun-tahun silam saat suaminya mengkhianatinya dengan seorang wanita penghibur.
"Tante minta maaf atas perlakuan Kevin sama kamu ya ...."
"Saya sangat mencintai Kevin, Tante. Saya belum mau menyerah. Asal Kevin mau kembali sama saya, saya tidak akan mengungkit kesalahan yang dulu-dulu," ucap Stevi sambil terisak.
Henny sangat bersimpati pada Stevi karena ia tahu bagaimana sakitnya dikhianati. Namun mama Kevin itu bukan tipe orang tua yang suka memaksakan kehendak. Ia memang tidak setuju dengan perbuatan putranya, tetapi jika Jeany bisa membuat Kevin bahagia, ia tidak akan menentang hubungan mereka.
"Kamu juga berteman dekat dengan Jeany? Apa kamu pernah ke rumahnya dan ketemu dengan orang tuanya?" tanya Henny yang jadi ingin tahu latar belakang gadis yang kini dicintai oleh putranya itu.
"Saya gak dekat sama Jeany, Tante. Yang saya tahu dia ngekos di Jakarta dan pernah kerja di club malam. Kevin tahu makanya dia bantu carikan pekerjaan lain yang lebih baik."
"Apa?! Pernah kerja di club malam?"
"I-iya, Tante," jawab Stevi takut-takut. Ia seperti melihat kilat kemarahan di mata Henny.
__ADS_1
Mama Kevin mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Dalam sekejap wajahnya berubah murung karena memendam amarah, kekecewaan, dan perasaan terkhianati yang kembali menguak ke permukaan setelah susah payah ia kubur bertahun-tahun lamanya.
Tolong bantu like dan komentar ya, Teman-teman 🙏