
Tabiat sang mama membuat Vivian hampir yakin uang untuk merenovasi rumah mereka didapat dari Revan. Walau belum memastikan kebenarannya, rasa kecewa yang menyakitkan telah menusuk hati Vivian. Susah payah ia menjaga harga diri keluarganya di depan orang tua Revan, tetapi mamanya sendiri yang menjatuhkannya. Namun ia tahu, mengelak hanya akan membuat penilaian mereka terhadapnya bertambah buruk.
Untunglah mentalnya yang sekuat baja membuatnya masih mampu menegakkan kepala kendati rasa malu tengah menyergapnya. "Saya akan menanyakannya dulu ke Mama. Kalau betul orang tua saya pernah minta uang sama Revan, saya akan mengembalikannya dan memastikan itu tidak akan terjadi lagi," ucapnya dengan penuh kesungguhan.
"Tidak perlu." Mama Revan menyahut dengan dingin. "Anggap saja itu sedekah untuk keluarga kalian. Kami hanya ingin kamu dan Revan segera bercerai. Berapa pun yang sudah keluarga kalian ambil tidak jadi persoalan bagi kami."
"Saya tidak akan bercerai dengan Revan." Vivian melontarkan jawaban tegas. Ia menekan amarah yang menggelegak di dadanya. Namun ketimbang ingin meluapkan amarahnya kepada orang tua Revan, ia lebih ingin mendamprat mamanya sendiri. Kalau jadi orang tua Revan, ia juga pasti tidak mau memiliki besan mata duitan seperti mamanya.
Sayangnya, orang tua Revan menganggap Vivian sebelas dua belas dengan mamanya. "Tidak ada gunanya pernikahan kalian dilanjutkan. Revan juga sudah ingin bercerai, 'kan? Dia pasti sudah sadar kalau selama ini hanya dimanfaatkan."
__ADS_1
Mata Vivian membelalak karena mendengar kalimat menusuk dari mulut mama Revan itu. Hatinya terasa begitu sakit. Kenapa Revan menceritakan masalah rumah tangga mereka pada orang tuanya? Tidak tahukah ia hal itu akan membuat Vivian malu?
"Kami sudah punya calon istri yang sempurna untuk Revan. Revan seharusnya sudah menikah dengan calon pilihan kami kalau bukan karena kamu." Papa Revan menimpali dengan fakta yang lebih menyakitkan.
Vivian tahu ketika pertama kali berjumpa dengan Revan di warnet, laki-laki itu sedang dalam keadaan kabur dari rumah karena tidak ingin dijodohkan. Ia pun mengira orang tua Revan telah membatalkan niat mereka setelah ia dan Revan menikah. Bahkan mulanya ia berpikir orang tua Revan akan menerima dirinya dengan tangan terbuka jika ia bisa membuktikan ketulusannya pada putra mereka.
Habis sudah kesabaran Vivian. Ia menatap kedua mertuanya dengan sorot mata menantang. "Kalau begitu saya dan Revan tinggal bikin anak, 'kan?"
"Apa?!"
__ADS_1
Vivian melihat kedua mertuanya saling berpandangan dengan wajah terkejut. Namun ia tidak peduli. Seperti yang Revan katakan, rumah tangga ini ia dan Revan yang menjalaninya. Orang lain tidak berhak ikut campur, sekalipun itu adalah orang tua mereka sendiri.
"Saya dan Revan sudah menyelesaikan masalah di antara kami. Kami tidak akan bercerai. Jadi saya mohon Papa dan Mama tidak ikut campur lagi dalam permasalahan rumah tangga kami."
"Revan adalah putra sulung kami, penerus keluarga Halim. Tidak seharusnya dia sembarangan memilih istri."
"Kak Vivi bukan perempuan sembarangan! Jangan mentang-mentang punya banyak duit kalian jadi seenaknya menghina Kak Vivi!" Adik Vivian membela kakaknya dengan suara lantang. Sepasang mata pemuda itu memberi orang tua Revan tatapan penuh peringatan, seolah mengatakan, "Awas kalau kalian berani menghina kakakku lagi!"
"Vivian, sebaiknya kamu didik adik kamu supaya tidak bersikap seperti preman. Jangan sampai dia bikin malu keluarga Halim."
__ADS_1