Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)

Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)
Merasa Rendah Diri


__ADS_3

Pagi sekali, Kevin telah mengenakan kemeja dan celana panjang kain, lengkap dengan sepatu kulit hitam. Ia ingin tampil rapi agar dapat meningkatkan daya jualnya sebagai calon karyawan. Semalaman pemuda itu memilih beberapa lowongan pekerjaan yang dirasanya cocok dengan dirinya, terutama dalam hal jam kerja.


Kevin keluar dari kamar kosnya dengan membawa surat lamaran pekerjaan beserta daftar riwayat hidup yang telah terbungkus amplop berwarna coklat. Pemuda itu sedikit mengeluh dalam hati. Pekerjaan belum didapat, tetapi ia sudah harus keluar uang untuk mencetak dokumen-dokumen tersebut. Kesulitan keuangan membuat seseorang jadi perhitungan, pikirnya sambil menggelengkan kepala.


Penghuni kos di sebelah kamar Kevin juga keluar dari kamarnya bersamaan dengan pemuda itu. Ia menyapa ramah Kevin. "Pagi, Bro. Rapi bener, mau berangkat kerja ya?"


"Pagi. Gue baru mau cari kerja," jawab Kevin tak kalah ramah.


"Wah kebeneran. Lo mau ikut gue gak? Tempat gue lagi butuh banget SPB buat satu minggu, event di Mall Jakarta."


Kevin terlihat memikirkan tawaran teman kosnya yang bernama Bayu itu. "Thanks tawarannya. Tapi gue lagi cari kerjaan jangka panjang. Paling engga buat setengah tahun," jawabnya sambil tersenyum sopan.


Bujukan masih gencar diberikan pada Kevin. "Lo butuh duit cepet gak? Dibayarnya per hari lho ini. Cuma satu minggu juga, abis itu kan lo masih bisa ngelamar-ngelamar lagi. Kalo lo ngelamar di tempat lain juga belum tentu langsung keterima," ujar Bayu berapi-api.


"Ehm, boleh tahu berapa bayarannya?" Kevin bertanya ragu-ragu.


"Seratus lima puluh ribu per hari, makan ditanggung kantor. Kalo bisa capai target bakal dapat bonus."


"Barang apa yang dijual?" tanya Kevin masih ragu.


"HP merek lokal."


"Gue gak harus interview dulu? Langsung diterima gitu?"


"Iya tenang aja. Gue kenal ama bosnya." Bayu menjawab sambil tersenyum lebar.


"Hmm ya udah gue mau. Tapi tolong ajarin gue ya, terus terang gue belum berpengalaman."


"Siipp. Sekarang juga kita ke kantor buat briefing. Gak sulit kok, gak usah bikin laporan. Lo cuma perlu belajar product knowledge aja."


Kevin pun berangkat bersama Bayu. Ia tidak terlalu menyukai pekerjaan tersebut, tetapi setidaknya keuangannya selama satu minggu ke depan akan terjamin. Pemuda itu berandai-andai bila setiap hari dapat mencapai target. Ia tersenyum sendiri membayangkan nilai rupiah yang akan diterimanya.


Tidak sulit bagi Kevin untuk mempelajari spesifikasi berbagai ponsel yang harus dijualnya. Pemuda itu bersyukur dikaruniai kemampuan mudah menghafal. Banyak yang mendatangi stan pamerannya untuk bertanya-tanya, terutama kaum hawa. Ia menjelaskan produk yang ditawarkannya dengan penuh semangat.


Selesai makan siang, Kevin meminum obatnya. Persediaan obat hanya cukup untuk beberapa hari saja, setelah itu ia masih harus konsultasi ulang ke dokter spesialis saraf. Pemuda itu termenung memikirkan dari mana mendapatkan biaya untuk itu semua.


"Lo sakit?" Sentuhan seseorang di keningnya menyadarkan Kevin dari lamunannya.


Kevin mengangkat kepalanya dan melihat seorang gadis cantik tengah tersenyum dan menunggu jawabannya. Dia adalah Dewi, sales promotion girl yang bekerja di tempat yang sama dengannya. Kevin sedikit mundur untuk menjaga jarak dengan gadis itu.


"Cuma vitamin," jawabnya singkat. Ia sedikit risih dengan sikap Dewi yang terlalu perhatian padanya. Gadis itu juga tidak segan menyentuh tubuh Kevin ketika berbicara, seperti bahu dan tangan, membuat pemuda itu semakin merasa tidak nyaman. Untunglah saat itu ada pengunjung yang datang, sehingga ia bisa segera menghindar dari Dewi.


Selama sepuluh jam bekerja, Kevin lebih banyak berdiri. Waktu yang terasa amat panjang baginya. Ia pun sedikit tidak percaya diri karena banyak pengunjung yang datang tetapi tidak membeli. Sempat terpikir olehnya, mungkinkah ia kurang bagus dalam melakukan pekerjaannya?


Namun sepertinya Bayu berpikiran sebaliknya. "Good job, Vin. Stan kita makin rame sejak ada lo!"


Akan tetapi hari itu Kevin tidak berhasil mencapai target. Pemuda itu memasukkan lembaran uang yang diterimanya ke dalam dompet. Ia tersenyum miris, merasa pendapatan yang diterimanya tidak sebanding dengan rasa lelahnya. Bahkan dulu uang yang didapatnya dari orang tuanya jauh lebih besar daripada pendapatannya hari ini.


Seseorang memegang lengannya ketika Kevin sedang mengambil tas, bersiap-siap untuk pulang.


"Udah mau pulang? Gak mau ngopi dulu?" Dewi bertanya padanya.


"Ikut aja, Vin. Cuma di cafe sebelah juga." Bayu turut mengajaknya.


"Gue mau langsung pulang aja, Yu. Mau ketemu pacar gue." Sengaja ia berbicara seperti itu. Dapat dilihatnya wajah Dewi terlihat kecewa.


"Oh yang kemarin datang bareng lo ya?" Bayu mendekati Kevin dan berbisik, "lo ajak masuk ke kamar aja gapapa, kos kita bebas kok."


Kevin hanya tersenyum menanggapinya. Tentu ia sangat ingin bisa bermesraan dengan kekasihnya. Namun ia harus menjaga nama baik Jeany. "Gue ama dia pacaran sehat kok," ucapnya yang dibalas dengan tatapan tidak percaya oleh Bayu.


***


Sudah berhari-hari Randy tidak menemui Jeany. Setiap hari gadis itu mengiriminya pesan, menanyakan keadaannya. Pemuda itu membaca pesan dari gadis itu sambil menyeringai. Lo perhatian ama gue juga ya, Jean ....


Usai dari tempat sepupunya, pemuda itu mendatangi rumah kos Jeany. Ia tersenyum senang melihat gadis itu tengah duduk manis di teras seolah menunggu dirinya.


"Halo, Babe. Lo kok tahu sih gue mo dateng? Sepertinya kita berdua punya ikatan batin ya?"


Jeany melongo. Bukan karena terkejut dengan kedatangan Randy yang tiba-tiba, tetapi karena kata-kata yang diucapkannya dengan sangat percaya diri itu.

__ADS_1


"Lo ngapain malem-malem ke sini, Ran?"


"Buat ngobatin rasa kangen lo lah."


"Tapi gue gak kangen tuh," jawab Jeany jujur.


"Ah masa? Siapa ya yang tiap hari kirim WA tanya kabar gue?"


"Gue cuma takut lo depresi gara-gara gue tolak," sahut Jeany dingin. "Serius deh, lo apa lagi ada masalah?"


"Gak kok. Cuma gak enak badan aja. Nih gue bawain Opera."


Randy meletakkan kotak kue besar di atas meja. Jeany meliriknya. "Itu kan mahal, Ran. Ngapain repot-repot segala?" ucap gadis itu merasa tak enak.


"Jangankan cuma cake, Jean. Lo minta berlian Eropa satu karat juga pasti gue beliin." Randy memulai gombalannya. Sebenarnya bukan gombal. Ia memang benar-benar akan membelikannya bila Jeany meminta, walaupun tentu saja tidak seberat satu karat.


Gadis itu menanggapinya dengan dingin. "Bentar gue ambilin minum ama piring. Kita makan cake-nya bareng-bareng."


Randy tersenyum begitu lebar. Ia senang bisa berlama-lama di sana, mengobrol sambil menikmati kue lezat bersama gadis yang disukainya. Tidak lama kemudian Jeany datang membawa nampan berisi gelas, piring dan sendok.


"Kok gelasnya tiga, Jean? Kita kan cuma berdua di sini?" tanya Randy mengerutkan dahinya.


"Buat Kevin. Gak lama lagi dia sampe."


"Oh? Emang dari mana dia?"


"Abis pulang kerja."


Mendengar itu, Randy mengangkat kedua alisnya. "Kevin kerja?"


"Iya. Dia udah keluar dari rumahnya."


Jeany hanya menceritakan garis besarnya saja pada Randy. Ia melewatkan bagian Kevin ditampar dan dipukul oleh mamanya.


"Wow luar biasa banget tuh bocah ...." Randy bersiul takjub mendengar cerita Jeany.


"Tenang .... Kalo dia gak kuat, ada gue yang siap gantiin!" Randy menepuk dadanya dengan mantap.


"Ah elo ditanya apa jawabnya apa."


"Hehehe .... Namanya juga usaha. Oh ya, gue ke sini bawa kabar baik buat lo," kata Randy menyeringai.


"Kabar baik apa?"


"Gue berhasil dapetin kerjaan buat lo. Jadi kasir di restoran sepupu gue."


"Sungguh?!" Jeany mendadak girang.


"Iyalah kapan gue gak sungguh-sungguh sama lo? Besok lo dipanggil buat interview, cuma formalitas aja kok. Besok gue jemput ya?"


"Lo jemput Jeany mau ngapain?"


Kevin muncul begitu saja di hadapan mereka. Wajahnya terlihat lelah dan kesal. Ia melihat kue di atas meja. Kue yang diketahuinya pasti mahal karena berasal dari toko kue ternama. Kotaknya saja terlihat begitu cantik dan elegan. Seketika ia merasa rendah diri. Ia meletakkan kantong plastik yang dipegangnya tanpa mengatakan apa pun.


"Randy nawarin kerjaan di restoran sepupunya. Wah kamu beli terang bulan?" Jeany tersenyum senang. Ia segera membuka bungkusan plastik tersebut dan memakan isinya. Tangan Randy juga ikut mengambil terang bulan walau ia belum ditawari.


Kevin mengangguk singkat sambil melirik Randy yang bersikap begitu santai. Tadinya pemuda itu sangat senang karena di hari ketiganya bekerja ia akhirnya berhasil mencapai target. Ia ingin sedikit merayakannya dengan membelikan sang kekasih kudapan kesukaannya. Namun kini perasaan senangnya menguap begitu saja.


"Ayo kita makan sama-sama. Minum dulu, Vin." Jeany menyodorkan gelas berisi air putih pada kekasihnya.


"Gimana kerjaan lo, Vin?" Randy menyapa sahabatnya sambil mengunyah terang bulan.


Mungkin karena dirinya sedang sensitif, pertanyaan Randy yang sebenarnya biasa saja itu dirasa Kevin seolah sedang mengejeknya. Ia memasang wajah jutek.


"Gak usah tanya-tanya. Kalo udah makan buruan pulang."


Randy hanya tergelak dengan perlakuan sahabatnya dan tetap mengunyah dengan santai. Ia senang menggoda Kevin. Menurutnya sahabatnya itu sangat lucu bila sedang cemburu.


"Gimana, Jean? Gak gampang loh gue ngebujuk sepupu gue buat nerima lo. Lo harus mau ya," ulang Randy lagi setelah mereka bertiga makan dalam diam.

__ADS_1


Jeany melirik Kevin yang masih memasang raut wajah muram. Gadis itu merasa ia harus membicarakannya terlebih dahulu dengan sang kekasih sebelum membuat keputusan.


"Ntar gue kabarin ya."


"Ya udah. Jangan kelamaan mikirnya, keburu diembat orang lain. Gue pulang dulu ya, hawanya udah gak enak di sini." Randy meringis, lalu menengok Kevin. "Makasih loh terang bulannya, Vin."


"Gue antar lo ke depan."


Randy hanya mengangkat alisnya mendengar ucapan Kevin. Ia membiarkan Kevin mengikutinya hingga ke mobil. Sementara itu Jeany masuk ke dalam membawa gelas dan piring kotor bekas makan mereka.


"Lo ngapain sih ke sini lagi? Bukannya gue udah bilang jangan deketin Jeany lagi," ucap Kevin tak suka setelah ia dan Randy berada di luar pagar.


"Emang gue harus nurutin kemauan lo? Ini negara bebas, Bro. Gue berhak pergi ke mana aja yang gue mau." Randy membela dirinya.


"Jeany pacar gue. Jangan deketin dia lagi."


Randy memberi senyum mengejek. "Baru pacar kan, belum jadi istri. Selama kalian belum menikah gue masih berhak pdkt."


"Lo gak tau malu ya pdkt ama ceweknya orang," geram Kevin.


"Ngapain malu? Kita bersaing secara sehat aja. Lagian kondisi lo yang sekarang apa bisa bahagiain dia? Keluarga lo aja nolak dia."


"Brengsek lo!" Kevin mengumpat mengeluarkan rasa frustrasinya. Namun ia mengakui yang dikatakan Randy tidak sepenuhnya salah.


"Lo harus belajar sabar, jangan sampe Jeany gak tahan sama lo. Cewek paling gak suka cowok pemarah." Randy berlagak memberi nasihat sebelum masuk ke mobilnya dan melajukan kendaraannya tersebut meninggalkan Kevin yang masih berdiri mematung.


Setelah menghela napas, Kevin kembali ke teras rumah kos Jeany dengan langkah lunglai. Gadis itu memperhatikannya dengan seksama.


"Kamu kenapa, Vin? Capek banget ya?"


"Aku malah takut kamu yang capek." Kevin menjawab dengan suara lirih.


"Kan kamu yang kerja, kok aku yang capek?" tanya Jeany tak mengerti.


Pemuda itu hanya menggeleng.


Jeany lalu bertanya dengan hati-hati. "Ehm, Vin. Soal kerjaan yang dibilang Randy tadi, aku boleh kan kerja di sana?"


"Apa gak ada kerjaan lain? Harus kerja di tempat sepupunya Randy?"


"Kamu kan tahu udah berhari-hari aku cari kerja tapi belum ada hasilnya. Panggilan buat wawancara aja gak ada."


Wajah Kevin semakin murung. Ia menatap dalam-dalam kedua bola mata sang kekasih. "Kalo keadaan kita kayak gini terus, apa kamu tetep mau bertahan sama aku, Jean?"


"Kok kamu ngomongnya gitu? Justru aku harus cepet kerja supaya bisa kumpulin duit, supaya kita bisa cepet nikah ...."


Tanpa aba-aba Kevin meletakkan tangannya di belakang kepala Jeany dan memberi gadis itu ciuman keras di bibir. Jeany terkejut dan memukuli dada Kevin meminta dilepaskan, tidak percaya kekasihnya itu sedang menciumnya dengan kasar di teras rumah kos. Dapat dirasakannya ciuman Kevin sarat akan amarah.


Akhirnya Jeany memutuskan membalas dengan lembut, berharap dapat meredakan gemuruh di dada kekasihnya itu. Namun Kevin justru semakin mel*mat bibirnya dengan penuh gairah. Setelah sama-sama kehabisan napas barulah pemuda itu melepas pertautan bibir mereka.


"Kamu cuma milik aku, jangan buka hati buat laki-laki lain," ucap Kevin sedikit terengah. Jari telunjuknya mengusap bibir Jeany yang memerah karena pagutannya.


Jeany refleks melihat ke luar pagar, takut ada yang lewat dan melihat mereka. Syukurlah gak ada yang lihat, pikirnya. Jantungnya masih berdebar kencang akibat ciuman mereka tadi. Gadis itu lalu menatap sang kekasih yang kini tampak begitu rapuh.


"Aku cuma cinta sama kamu, Vin."


Setelah Kevin pulang, Jeany masuk membawa kue yang diberikan oleh Randy tadi. Ia bermaksud menitipkannya di kulkas kecil milik Serly. Kakak kosnya itu sepertinya sudah tidur.


"Mereka udah pulang?"


Suara Serly membuat Jeany terperanjat kaget. "Kak Serly belum tidur?"


Serly menggeleng. Wajahnya terlihat setengah sadar. "Gue abis nonton drama Korea. Gile cowoknya hot banget ciumannya ...."


"Kak Serly nonton di HP?" tanya Jeany karena tidak melihat keberadaan laptop di atas meja.


"Engga. Gue nonton secara live."


Jeany bergegas masuk ke dalam kamar, berpura-pura tidak mendengar ucapan apa pun.

__ADS_1


__ADS_2