
"Kalian seperti udah lama kenal."
Kalimat itu bukan lagi sebuah pertanyaan. Baru sekarang Vivian sadar pembicaraan antara Revan dan Vanessa tidak seperti rekan bisnis yang baru pertama kali bertemu. Kecurigaannya langsung terbukti karena Revan sama sekali tidak menyangkal.
"Kami sudah kenal sebelumnya, tapi dia bukan pacarku."
"Trus apa? One night stand kamu?"
"Hanya teman yang pernah sama-sama kuliah di Amerika."
"Wow ...." Vivian mendecakkan lidahnya dengan gaya dramatis. "Ternyata sudah kenal sejak kuliah di Amerika. Kenapa baru cerita sekarang?"
"Memangnya kamu pernah tertarik dengan kehidupan kuliahku?"
"Nggak usah muter-muter, Rev. Kamu nggak cerita karena takut aku curiga, 'kan?"
Revan menutup matanya sambil mengembuskan napas lelah. Ekspresi wajahnya seolah mengatakan ia bosan menghadapi tuduhan Vivian. "Kamu tanya langsung aja sama dia," putusnya setelah membuka mata.
Laki-laki itu mengambil ponselnya dan melakukan panggilan. Suara nada sambung panggilan memecah keheningan di ruangan itu. Vivian segera paham bahwa Revan mengaktifkan fitur pengeras suara.
Tidak butuh waktu lama, panggilan tersebut diterima. "Hi, Van. What's up? Jangan bilang kamu udah kangen sama aku."
Suara serak nan manja milik Vanessa ketika menyapa Revan membuat Vivian ingin bersumpah serapah. Istri mana yang tidak marah mendengar perempuan lain melancarkan godaan pada suaminya?
Karena tidak bisa melampiaskan kemarahannya pada Vanessa, Vivian mencubit keras-keras lengan Revan. Mata laki-laki itu membelalak karena kaget, tetapi suaranya tetap tenang saat berbicara.
"Maaf mengganggu waktu istirahatmu, Nes. Ada yang ingin aku dan istriku tanyakan." Revan mendekat pada Vivian dan memperlihatkan layar ponselnya. Rupanya ia melakukan panggilan video.
"Oh Hai, Vivian. Apa yang bisa aku bantu?" Vanessa tersenyum sangat ramah pada Vivian. Senyum itu tidak mendapat balasan.
"Vivian ingin tahu kenapa kamu tadi mengaku jadi pacarku," kata Revan menjelaskan.
"Oh itu ...." Mulut Vanessa meluncurkan tawa geli yang membuat kening Vivian berkerut. "I was just kidding."
"Just kidding?" seru Vivian tak percaya.
"Yeah, well .... Melihat kamu yang kelihatannya lagi marah banget, aku jadi iseng."
__ADS_1
"Nggak bisa dipercaya! Apa kamu nggak tahu dampak dari lelucon nggak lucu kamu itu?" Vivian berkata dengan geram.
"I'm sorry, okay? Lagian kamu tadi juga nggak sopan sama aku. Jadi anggap aja kita impas." Tampaknya Vanessa memang tidak menganggap serius masalah tersebut.
Sebelum Vivian bisa menjawab, Revan telah menarik ponselnya. "Terima kasih banyak atas klarifikasinya, Nes. See you tomorrow," ucapnya, lalu mengakhiri panggilan video tersebut.
"Apa-apaan see you tomorrow?!" Vivian memandang suaminya dengan kesal.
"Kamu sudah mendengar semuanya, 'kan? Pertemuanku dengan Vanessa hari ini murni untuk kepentingan perusahaan. Dan besok adalah jadwal penandatangan kontrak kerjanya."
"Kenapa harus kamu yang turun tangan? Apa gunanya marketing manager?"
"Aku adalah direktur utama yang juga merangkap direktur pemasaran. Nggak mudah membujuk Vanessa untuk mau menjadi brand ambassador produk kami. Dia pasti merasa nggak dihargai kalau aku nggak menyempatkan diri untuk ketemu."
Vivian diam menatap wajah Revan. Ia mempertimbangkan ucapan laki-laki itu. Karir Vanessa sedang berada di puncak. Ia juga artis yang terkenal selektif dalam memilih iklan yang akan dibintanginya. Namun produk yang ia bintangi pasti laku keras di pasaran. Nama besar Vanessa seolah menjadi jaminan keberhasilan pemasaran.
Sangat wajar jika Vanessa yang terbiasa dielu-elukan oleh penggemarnya merasa tersinggung dengan sikap Vivian tadi. Dengan berat hati Vivian harus mengakui bahwa semua ucapan Revan memang masuk akal.
Namun sedekat apa hubungan Vanessa dengan Revan hingga perempuan itu berani melempar candaan di luar batas? Caranya berinteraksi dengan Revan juga tidak bisa dikatakan wajar. Terlalu banyak sentuhan fisik.
"Kamu deket banget ya sama Vanessa?" Vivian bertanya dengan mata menatap tajam.
"Kamu sadar, 'kan dia berkali-kali menggoda kamu?"
"Yang penting aku nggak tergoda."
"Tapi—"
"Vi." Revan memotong ucapan Vivian. "Akan selalu ada orang seperti Vanessa. Kita nggak mungkin bisa melanjutkan pernikahan ini kalau kamu nggak bisa percaya sama aku."
Vivian kembali bungkam. Tentu saja ia ingin melanjutkan pernikahan mereka. Namun masih sulit baginya untuk percaya seratus persen pada Revan.
"Kamu nggak tertarik sedikit pun sama Vanessa?" Karena semua keraguan bermula dari kehadiran Vanessa, Vivian ingin tahu pendapat Revan tentang perempuan itu.
"Tertarik. Tentu saja tertarik. Aku laki-laki normal."
Rasa kecewa tergambar jelas di wajah Vivian. Kendati mengharapkan kejujuran, bukan jawaban seperti ini yang ingin ia dengar.
__ADS_1
"Kalau tertarik kenapa kamu nggak pacarin dia?"
"Karena itu hanya ketertarikan fisik. Laki-laki tertarik melihat cewek cantik adalah hal biasa," jawab Revan apa adanya. "Nggak pernah sedikit pun terlintas di pikiranku untuk selingkuh. Aku nggak mau menyakiti kamu."
"Tapi kamu minta cerai, Rev! Apa kamu pikir itu nggak menyakiti aku?"
"Kita bicara sambil duduk." Revan menunjuk sofa ruang tamunya yang berwarna putih gading, lalu mendudukkan diri di bagian tengah sofa.
Setelah diminta untuk duduk, Vivian baru menyadari rasa pegal di kedua tungkai kakinya. Ia mengambil tempat di ujung sofa, sejauh mungkin dari Revan.
Revan melihat Vivian menjaga jarak dengannya tanpa berkomentar apa pun. Ia menghadapkan tubuhnya ke arah perempuan itu dan mulai berbicara dengan nada serius. "Waktu itu aku sangat kecewa sama kamu. Kamu terlalu sibuk dengan pekerjaan. Kamu juga nggak melibatkan aku dalam hal apa pun. Aku merasa nggak dihargai sebagai suami."
"Dan menurutmu bercerai adalah keputusan terbaik?"
"Aku sempat merasa pernikahan kita adalah sebuah kekeliruan." Revan mengakui. "Tapi waktu Mbak Mi menelepon dan bilang kamu sakit, aku cemas sekali dan akhirnya pulang untuk melihat kondisimu."
"Kamu pulang untuk mengambil dokumen perceraian," kata Vivian mengingatkan.
"Aku terpaksa melakukan itu untuk melihat mana yang menjadi prioritas kamu. Nggak ada gunanya mempertahankan pernikahan kalau kita selalu kembali ke pola yang sama."
"Jadi masalah kita nggak ada hubungannya sama Vanessa?"
"Aku kira pembicaraan soal Vanessa sudah selesai sejak tadi," keluh Revan dengan wajah bosan.
"Terus terang aku masih sulit percaya, Rev."
"Harus dengan cara apa lagi aku membuat kamu percaya? Demi Tuhan, aku sama sekali nggak selingkuh."
Vivian tahu Revan bukan orang yang akan sembarangan menyebut nama Tuhan. Jika sampai melakukannya, itu berarti ia memang bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Lagi pula, tidak ada bukti yang menunjukkan suaminya itu telah berselingkuh. Setelah diingat kembali, Revan juga tidak pernah menanggapi godaan Vanessa.
"Ya, aku percaya." Vivian memutuskan untuk mempertahankan rumah tangganya.
"Terima kasih." Rasa lega membuat Revan tersenyum begitu cerah. Ia menggeser posisi duduknya agar lebih dekat dengan sang istri. "Kamu benar-benar akan resign?"
"Ya."
Melihat Vivian mengangguk dengan terpaksa, Revan memberanikan diri untuk mengusap rambut perempuan itu dan mengutarakan apa yang ada di pikirannya dengan suara lembut.
__ADS_1
"Jangan sedih. Sebenarnya aku nggak bermaksud melarang kamu kerja. Aku tahu karir penting buat kamu. Kamu boleh kerja, tapi itu nggak boleh sampai mengorbankan keluarga. Aku ingin kita bersama-sama mengasuh dan mendidik anak."
Setelah mendengar ucapan Revan, Vivian yang seharusnya senang malah terisak-isak.