
Malam hari pukul tujuh lewat, Kevin dan Jeany hendak pergi ke mal untuk membeli hadiah ulang tahun Enzo. Bayi itu kini sudah beralih dalam penjagaan kedua orang tuanya.
Karena seharian dihabiskan dengan bekerja di kantor, Marvin dan Winda selalu berusaha menghabiskan waktu sebelum tidur mereka dengan membangun momen berkualitas bersama sang buah hati. Bahkan hari Minggu menjadi hari libur Jeany.
Ketika melewati ruang tengah, terlihat Jovina bersama seorang temannya sedang membongkar barang belanjaan mereka.
"Lho kok jam segini udah pulang, Vina?" Kevin menyapa sang adik.
"Kan Kak Kevin sendiri yang bilang jangan pulang malam-malam."
"Oh iya juga ya hehe ...."
"Kakak sendiri jam segini baru mau pergi, nanti pulangnya jam berapa?" tanya Jovina bermaksud menyindir kakaknya.
"Besok pagi." Kevin menjawab dengan kalem.
Jeany yang berdiri di samping Kevin tersenyum mendengar percakapan kedua kakak beradik itu.
"Ma-malam, Kak Kevin." Gadis di sebelah Jovina menyapa Kevin dengan terbata-bata. Wajahnya terlihat malu-malu tetapi sebenarnya ia senang karena akhirnya punya kesempatan berbicara dengan Kevin.
"Iya malam," jawab Kevin terlihat tak acuh.
"Oh iya, Tan, kenalin ini Kak Jeany temennya Kak Kevin." Jovina memperkenalkan Jeany pada Tania.
Mereka berdua bersalaman dan saling menyebutkan nama masing-masing. Jeany yang pada dasarnya tidak banyak bicara tidak mengatakan apa-apa lagi pada Tania. Terlebih teman Jovina itu menatapnya seolah-olah sedang menilai dirinya. Setelah puas mengamati Jeany, Tania mengajak Kevin bicara lagi.
"Kak Kevin mau ke mana?"
"Mau temani Jeany beli barang."
"Tania sama Vina boleh ikut gak, Kak?" Tania bertanya penuh harap.
"Kapan gue bilang mau ikut? Bawa-bawa nama gue aja!" Jovina memarahi temannya.
"Lebih baik gak usah ikut ya takutnya kemalaman," tolak Kevin secara halus.
"Iya jangan ganggu orang yang mau malam mingguan," kata Jovina sambil terkekeh.
Tania terlihat kecewa tetapi tidak membantah. Ia kembali sibuk dengan barang-barang yang tengah berserakan di atas meja.
"Vina, kamu beli alat makeup banyak banget?" tanya Kevin dengan wajah heran.
"Iya kan lusa aku mau kursus makeup," jawab Jovina.
"Bukannya kamu gak suka dandan?" Kevin bertanya lagi.
__ADS_1
"Gak suka karna gak bisa. Makanya mau kursus. Aku mau jadi makeup artist profesional."
"Halah paling cuma anget anget t*i ayam," ucap Kevin meledek, karena memang kursus apa pun yang diikuti oleh Vina tidak pernah bertahan lama.
"Enak aja, kali ini aku serius. Kak Kevin liat aja ntar, aku pasti jadi MUA terkenal!" jawab Jovina berapi-api.
Gadis itu lalu melihat ke arah Jeany dengan antusias. "Nanti kalo Kak Jeany nikah, aku yang makeup-in ya! Buat Kak Jeany gratis!" katanya pada Jeany sambil tersenyum lebar.
Melihat senyum tulus Jovina, Jeany merasakan kehangatan di hatinya. Ia pun memberi adik Kevin itu semangat.
"Iya. Kamu harus buktiin ke kakak kamu kalo kamu bisa."
"Buat gue juga gratis ya, Vina?" Tania tiba-tiba menyahut.
"Enggalah lo tetep bayar, tapi gue kasih harga teman."
"Kok gitu? Kenapa Kak Jeany doang yang digratisin?"
"Soalnya .... Hihihihi ...." Bukannya menjawab, Jovina malah terkikik sambil melihat ke arah Kevin dan Jeany bergantian.
"Ya udah Kakak pergi dulu ya. Yuk, Jean."
Kevin mengajak Jeany pergi setelah melihat gelagat aneh adiknya. Mereka berjalan meninggalkan dua gadis remaja yang sedang mencari jati diri itu.
"Gila kakak lo ganteng bangeeet ...." Tania berkomentar sambil memandangi punggung Kevin dengan tatapan kagum.
Sementara itu, di dalam mobil Jeany melihat Kevin ragu-ragu sebelum mengutarakan keinginannya.
"Vin, boleh gak putar lagunya Naff yang kapan hari?"
"Kamu juga suka lagu mereka?" tanya Kevin terkejut.
"Iya, lagu yang dulu kamu putar enak soalnya."
Kevin tersenyum dan menuruti permintaan Jeany. Tidak butuh waktu lama bagi mereka berdua untuk larut dalam manisnya irama lagu tersebut.
"Vin, kayaknya Tania suka kamu ya." Lagu yang mengisahkan seorang pria yang tengah jatuh cinta itu mengingatkan Jeany pada tatapan penuh cinta Tania kepada Kevin.
"Biasa orang keren banyak yang ngefans," canda Kevin.
"Sejak kapan kamu jadi narsis gini?" kata Jeany sambil tertawa.
"Bukan narsis. Tapi kenyataan. Kadang risih juga kalo ada yang terang-terangan nunjukin kayak gitu."
Dalam hati Jeany mewanti-wanti dirinya sendiri agar tidak menunjukkan perasaan sukanya pada Kevin. Ia tidak ingin Kevin merasa tidak nyaman dengannya. Dekat seperti ini saja sudah membuatnya cukup bahagia.
__ADS_1
"Kata Vina kamu dulu gak mau pacaran ya? Beda ama Kak Marvin. Boleh tahu kenapa?" tanya Jeany berhati-hati.
Kevin diam sejenak. Ia ingin mengambil kesempatan ini untuk mengetahui lebih dalam mengenai kehidupan gadis itu. Tidak masalah menukarnya dengan kisah aib keluarga yang selama ini disimpannya rapat-rapat. Sungguh ia tidak keberatan bila Jeany yang mengetahui kisah tersebut.
"Sorry pertanyaanku lancang. Gak usah dijawab gapapa kok," ucap Jeany cepat-cepat karena mengira diamnya Kevin dikarenakan tidak suka dengan pertanyaan darinya.
Kevin menggeleng perlahan. "Jean, mau gak aku ceritain satu rahasiaku?" ucapnya sambil tetap memandang lurus ke depan.
Jeany seketika menolehkan kepalanya. Ia memandangi wajah Kevin yang terlihat begitu sempurna di matanya, walaupun hanya dari samping. Demi Tuhan ia sangat mencintai pemuda itu. Ia ingin mengetahui segala sesuatu tentangnya, sekecil apa pun itu.
"Iya aku mau."
"Tapi aku juga ingin tahu lebih banyak tentang kamu, tentang keluargamu."
Jeany tertawa getir. "Buat apa, Vin? Hidupku gak ada menariknya diceritain."
"Aku ingin tahu."
"Iya tapi jangan salahin aku ya kalo ntar kamu bosan. Aku udah bilang gak menarik."
"Deal ya. Habis beli kado kita cari tempat yang enak buat cerita."
Kevin begitu senang dengan kesepakatan mereka hingga tanpa sadar menginjak pedal gas lebih dalam untuk mempercepat laju kendaraannya. Ia ingin cepat-cepat sampai, ingin segera membeli hadiah untuk Enzo, lalu mengajak Jeany ke tempat dimana mereka dapat saling bertukar cerita.
Tidak butuh waktu lama untuk sampai di mal karena lokasinya yang dekat dengan rumah Kevin. Mereka langsung menuju toko perlengkapan bayi. Terlihat banyak pengunjung yang sebagian besar merupakan pasangan muda. Jeany begitu takjub melihat begitu banyak baju bayi dengan berbagai macam model yang semuanya terlihat menggemaskan.
Kevin membantu memilihkan satu set pakaian bayi yang menurut pramuniaga toko merupakan model terbaru. Jeany menurut saja karena ia tahu selera berpakaian Kevin memang bagus. Kevin juga membelikan mainan untuk keponakannya itu.
Ketika berjalan menuju kasir, mata Jeany melihat sepasang sepatu bayi yang menurutnya sangat lucu. Ia mengambil sepatu tersebut dan mengamatinya dengan mata berbinar.
"Aku boleh beli ini gak?" tanyanya pada Kevin.
"Boleh aja tapi kayaknya kekecilan deh di kaki Enzo."
"Itu ukuran newborn, Ibu. Kalau mau yang ukuran lebih besar juga ada." Pramuniaga toko yang berdiri tidak jauh dari mereka memberitahu.
"Bukan buat Enzo," ucap Jeany.
"Oh? Trus buat siapa?" tanya Kevin tak mengerti.
Jeany tidak menjawab karena ia sendiri juga bingung untuk siapa ia membelinya. Ia hanya merasakan dorongan yang begitu besar untuk membeli sepatu tersebut.
"Beli aja gapapa," putus Kevin.
"Makasih, Vin!"
__ADS_1
Kevin melihat Jeany tersenyum begitu ceria. Ada kegembiraan yang muncul di hatinya karena ini pertama kalinya gadis itu meminta dibelikan sesuatu olehnya. Hanya membeli sepatu bayi saja sudah senang sekali, pikirnya. Padahal ia tidak akan keberatan seandainya Jeany meminta dibelikan tas atau barang lain yang lebih mahal.
Namun, ia juga tidak menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang aneh. Kevin paham sudah menjadi kodrat perempuan menyukai barang-barang lucu. Itu tandanya Jeany juga sama seperti perempuan lainnya. Ia jadi bertanya-tanya mengapa gadis itu kini menjalani hidup dengan keterbatasan, membuatnya tidak mampu membeli barang-barang yang mampu dibeli dengan mudah oleh perempuan lain.