Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)

Akibat Kesalahan Satu Malam (Kemelut Cinta)
Kamu Tinggal di Sini Saja


__ADS_3

"Ma, kok kita gak berhenti?" tanya Jovina pada mamanya ketika mobil mereka terus melaju meninggalkan sang kakak dan keponakan.


"Buat apa berhenti, Nak?"


"Ya kasi tumpangan Kak Kevin sama Enzo."


"Sayang, itu mereka memang sengaja mau jalan santai. Kalau mau naik mobil pasti tadi kakak kamu perginya sudah bawa mobil," jawab sang mama menjelaskan.


Jovina mengangguk mengerti. Sekali lagi dilihatnya sang kakak, keponakan dan babysitter-nya yang kini hanya terlihat siluet tubuhnya saja karena jarak mereka yang semakin jauh. Berjalan berdampingan seperti itu memang membuat mereka terlihat seperti sebuah keluarga kecil.


"Kok bisa temennya Kak Kevin jadi babysitter-nya Enzo, Ma?"


"Soalnya babysitter yang harusnya datang gak jadi datang. Mama bingung cari pengganti dalam waktu singkat. Jadi kakak kamu tawarin temennya."


"Bukan .... Maksud Vina, kok temennya Kak Kevin mau jadi babysitter sih?"


"Ya kalau orang bekerja tujuannya untuk cari uang kan?"


"Jadi temennya Kak Kevin lagi butuh uang ya?"


Sang mama tersenyum sebelum menjawab. Sejak kecil putrinya memang punya rasa ingin tahu yang besar. Kalau mau melihat sisi positifnya, bisa dibilang putrinya termasuk anak yang memiliki pemikiran kritis.


"Semua orang butuh uang, Sayang. Kamu dan kakakmu juga butuh, tapi Papa Mama masih sanggup memenuhi kebutuhan kalian jadi kalian tidak perlu sekolah sambil bekerja," urai Henny panjang lebar.


Sedikit banyak Henny sudah mengetahui kondisi Jeany yang sedang kesulitan keuangan dari Kevin. Namun, apa penyebabnya ia juga tidak jelas. Pertanyaan dari putrinya membangkitkan rasa penasaran dalam dirinya mengenai latar belakang gadis itu.


"Iya Vina paham, Ma. Hebat ya temennya Kak Kevin bisa kuliah sambil kerja," ucap Jovina. Rasa simpatinya muncul mendengar penjelasan sang mama.


"Makanya kamu yang cuma sekolah aja jangan malas-malasan." Henny mengambil kesempatan untuk menasihati putrinya.


"Iya, Ma, iya," jawab Jovina bosan. Ia tidak melanjutkan lagi percakapan dengan mamanya karena tidak ingin mendapat wejangan panjang lebar.


Sesampainya di rumah, Jovina tidak langsung masuk ke kamarnya. Ia menunggu keluarga kecil tadi pulang. Begitu melihat mereka memasuki rumah, ia segera menyambut dengan bersemangat


"Hai, kenalin aku Vina adiknya Kak Kevin," sapa Vina ramah pada Jeany sambil mengulurkan tangannya.


"Eh iya halo. Saya Jeany." Jeany membalas uluran tangan Vina.


"Mama mana, Vina?" Kevin bertanya karena tidak melihat sang mama.


"Lagi di kamar. Katanya mau mastiin gak ada barang yang ketinggalan buat besok ke Hong Kong," jawab Vina pada kakaknya. Ia lalu beralih ke Jeany lagi. "Kak Jeany habis jalan-jalan ya sama Kak Kevin sama Enzo?"


"Iya. Bentar saya ke toilet dulu ya," jawab Jeany terburu-buru. Ia ingin segera memakai pembalut yang dibelinya.


"Kak Jeany kenapa, Kak? Sakit perut ya?" tanya Jovina heran.


"Iya kayaknya," jawab Kevin asal. Tidak mungkin ia mengatakan Jeany sedang datang bulan pada Jovina. Ia tidak pernah membahas masalah kewanitaan dengan mama maupun adik perempuannya, aneh saja rasanya.


"Kak Kevin kenal Kak Jeany di mana?"


"Dia teman SMA kakak. Sekarang satu kampus juga."


"Ohh .... Cantik ya orangnya," puji Jovina tulus.


"Cantik?" Kevin mengernyitkan alis. Harus diakui Jeany memang tidak jelek. Kulitnya putih dan paras wajahnya lembut membuat siapa saja betah melihatnya.


Mungkin gak salah juga disebut cantik, pikir Kevin.


"Iya lah cantik. Kak Kevin gak lihat gak pake makeup aja mukanya enak dipandang gitu? Itu namanya cantik natural," celoteh Jovina yang memang tidak suka berdandan, karena itu ia merasa memiliki kesamaan dengan Jeany.


"Iya iya cantik," jawab Kevin sambil melihat ponselnya.

__ADS_1


Pemuda itu langsung tersenyum senang karena ternyata sudah ada balasan dari Stevi. Ia menitipkan Enzo pada adiknya karena ingin menelepon kekasihnya itu.


"Titip Enzo bentar ya. Kakak mau telpon dulu," ucap Kevin sambil berjalan ke kamarnya di lantai dua.


"Mau telpon siapa, Kak?" tanya Jovina agak kesal. Pasalnya sang keponakan langsung merengek minta digendong, sedangkan ia belum terbiasa menggendong bayi.


"Pacar kakak."


Jovina pun memaklumi. Ia sudah mendengar dari mamanya bahwa sang kakak sudah memiliki kekasih. Kali ini mamanya sedikit heboh ketika bercerita, karena yang dibicarakannya adalah putra keduanya yang selalu bersikap dingin pada perempuan. Namun menurut Jovina reaksi mamanya agak berlebihan. Menurutnya sang kakak hanya belum menemukan perempuan yang dicintainya saja.


"Vina, sorry saya lama. Kamu pasti capek ya," kata Jeany sungkan karena melihat Vina yang kepayahan menggendong Enzo.


"Gapapa kok, Kak. Akunya yang gak pintar gendong bayi hehe ...."


Jeany mengambil alih Kenzo dan membawanya ke kamar. Jovina mengikutinya. Mereka melewati kamar Kevin. Samar-samar mereka dapat mendengar suara laki-laki itu berbicara dengan seseorang.


"Lagi asik telpon tuh dia," ujar Jovina sambil meringis.


"Telpon siapa?"


"Pacarnya."


"Oh."


Jovina diam-diam memperhatikan Jeany. Ia ingin memastikan bahwa ia tidak salah melihat kesedihan yang sekilas terpancar di mata teman kakaknya itu.


Apa dia naksir Kak Kevin ya? tanyanya dalam hati.


Di kamar, Jeany menyiapkan peralatan mandi Enzo. Gadis itu memandikan Enzo dibantu oleh Jovina, walaupun sebenarnya Jovina lebih banyak melihat daripada membantu. Ia senang melihat Jeany yang memperlakukan keponakannya dengan lembut. Babysitter sebelum Jeany menurutnya kurang lembut, mungkin karena sudah berpengalaman mengurus bayi sehingga gerakannya cepat tanpa keraguan.


"Kak Jeany kenal pacarnya Kak Kevin?" Jovina memancing reaksi Jeany.


Benar saja, gadis itu terlihat sedikit tersentak dengan pertanyaan tiba-tiba darinya. Bahkan ia mengalihkan pandangannya seolah tidak ingin membahas hal tersebut. Namun ia tetap menjawabnya singkat.


"Kayak gimana sih orangnya? Baik gak? Cantik? Kok Kak Kevin bisa suka?"


"Kalo itu kamu harusnya tanya sama kakak kamu," ucap Jeany sambil memaksa diri untuk tersenyum.


"Aku kan pingin tahu pendapat Kak Jeany. Kalo Kak Kevin kan lagi jatuh cinta, jadi jawabannya pasti gak obyektif." Jovina menerangkan alasannya.


Mendengar kata obyektif, Jeany yang sedang mengoleskan minyak telon pada Enzo sampai menolehkan kepalanya demi melihat adik Kevin itu. Ia memandang Jovina dengan tatapan takjub. Sepertinya kualitas pendidikan semakin baik bila anak SMA saja sudah membiasakan diri berpikir obyektif, walaupun untuk masalah tidak penting seperti ini.


"Menurut saya dia cantik," jawab Jeany berusaha obyektif.


"Kakak punya fotonya gak?"


"Lihat aja di Fb-nya."


"Oh iya ya. Apa nama Fb-nya?"


"Kalo gak salah Stevi Agustina."


Jovina pun sesaat berkutat dengan ponselnya, mencari nama yang disebut oleh Jeany pada sebuah aplikasi pertemanan.


"Hmm .... Kayaknya yang ini ya?" Jovina menunjukkan layar ponselnya pada Jeany.


"Iya betul."


Setelah melihat foto-foto Stevi, Jovina dapat melihat kekasih kakaknya itu memang sangat cantik. Foto yang diunggah pun seolah hasil jepretan fotografer handal. Namun ia tidak suka membaca tulisan keterangan yang menurutnya tidak ada hubungannya dengan foto-foto tersebut. Bosan melihat foto Stevi, ia beralih ke Jeany.


"Kalo Fb Kakak apa? Aku add ya?"

__ADS_1


"Iya boleh. Sini saya aja yang ketik namanya," jawab Jeany karena tahu banyak orang yang sering salah mengeja namanya.


"Ohh ini ...." Jovina tersenyum.


Berbanding terbalik dengan Stevi yang telah mengunggah ratusan foto, akun Jeany hanya menampilkan beberapa foto.


"Kok fotonya dikit amat?" protes Jovina.


"Iya soalnya saya gak fotogenik," jawab Jeany jujur.


Jovina memperhatikan foto-foto Jeany yang memang sepertinya selalu diambil dari sudut yang salah.


"Gapapa, Kak yang penting aslinya cantik hehehe ...," hibur Jovina.


Kedua orang itu segera menjadi akrab. Jeany bersyukur sekali adik Kevin menerimanya dengan baik. Mereka bermain dengan Enzo sambil mengobrol, walaupun tentu saja Jovina yang lebih banyak mendominasi percakapan.


Jeany melihat jam menunjukkan pukul enam petang. Sudah waktunya memberi makan Enzo. Ia mengajak Jovina ke ruang makan. Lagi-lagi mereka melewati kamar Kevin yang terdengar masih asyik bertelepon.


Pasti dia kangen banget sama Stevi, pikir Jeany sedih sambil melangkah menuju lantai bawah tempat ruang makan berada. Setelah mendudukkan Enzo di kursi makan khusus bayi, ia mulai menyuapi bayi itu.


"Enzo sayang, makan dulu ya. Buka mulutnya aaakk ...."


Ia perlahan menyuapi Enzo. Entah karena masih kenyang atau bagaimana, bayi itu agak enggan membuka mulutnya ketika disuapi, bahkan menangis sehingga Jeany berkali-kali menggendongnya untuk membuatnya tenang. Tanpa terasa lebih dari setengah jam berlalu. Jeany masih dengan sabar menyuapi Enzo. Sedangkan Jovina sudah dari tadi masuk ke kamarnya.


"Wah bayinya mama pinter ya makannya ...."


Seorang wanita muda masuk ke ruang makan dan langsung memeluk Enzo. Sang bayi pun tertawa riang menyambut kepulangan mamanya. Pemandangan yang sangat menggemaskan.


"Halo, kamu pasti babysitter yang baru ya. Saya mamanya Enzo, panggil aja Kak Winda. Jangan panggil Bu ya, ketuaan." Lagi-lagi Jeany menemukan orang rumah Kevin sangat ramah terhadapnya.


"Saya Jeany, Kak."


"Kamu masih muda banget ya," ucap Winda sambil memperhatikan Jeany dari atas ke bawah.


"Iyalah, Kak, masih muda. Kan seumuran sama aku." Kevin tiba-tiba masuk ke ruang makan.


"Teman kamu ini tinggal di mana, Vin?" tanya Winda. Ia tahu sudah hampir waktunya Jeany pulang.


"Kos deket kampus."


"Lumayan jauh lho itu. Apa gak sebaiknya satu bulan ini kamu tinggal di sini aja?" saran Winda pada Jeany.


"Eh? Gak usah, Kak, saya pulang aja gapapa kok."


"Betul lho, Nak Jeany sementara tinggal di sini saja. Daripada bolak-balik. Sudah malam juga ini, gak aman cewek pulang malam-malam," imbuh mama Kevin yang entah sejak kapan sudah berada di ruangan tersebut.


Jeany mulai berkeringat dingin.


Tinggal di rumah Kevin? Kenapa jadi aneh begini?


"Tapi saya gak bawa baju ganti." Jeany mencari alasan menolak tawaran tersebut.


"Gapapa, Jean, nanti aku antar ke kos ambil barang keperluan kamu," bujuk Kevin.


Kevin tahu Jeany merasa tidak nyaman bila harus menginap di rumahnya, tetapi tidak bisa dipungkiri itu adalah keputusan terbaik, daripada harus pulang malam setiap hari. Ia tidak keberatan mengantar dan menjemput Jeany, tetapi belum tentu ia bisa selalu melakukannya.


"Iya habis makan malam kamu antar Jeany ambil barang ya, Vin. Atau diantar sopir saja," putus mama Kevin tanpa menunggu jawaban Jeany.


"Aku aja yang antar. Sekarang boleh, Ma? Biar gak kemalaman. Nanti kami makan di luar aja," usul Kevin pada mamanya.


"Iya gapapa. Enzo juga udah selesai makan kan? Gimana menurut kamu, Win?"

__ADS_1


"Gapapa kok, Ma. Memang sudah jamnya Jeany off juga ini."


Setelah berpamitan pada mama dan kakak iparnya, Kevin mengantar Jeany ke kos dengan mobilnya. Gadis itu hanya bisa pasrah duduk di dalam mobil Kevin. Perasaannya tidak enak, seolah ada hal buruk yang akan terjadi saat dirinya tinggal di rumah Kevin kelak.


__ADS_2