
Dari kos Jeany, Kevin langsung mengendarai mobilnya menuju rumah Stevi. Agak jauh memang, tetapi ia rela bahkan bila harus menjemput dan mengantar kekasihnya itu setiap hari. Rasa cinta telah mengalahkan rasa lelahnya.
Sementara itu, Stevi menunggu kedatangan Kevin dengan perasaan gugup. Ia ingin mengetahui pendapat Kevin mengenai penampilan barunya. Sedari pagi ia berulang kali melihat pantulan dirinya di cermin. Semakin sering ia melihat, semakin ia merasa rambut barunya itu membuatnya bertambah cantik.
Mobil Kevin yang baru tiba terlihat dari jendela ruang tamu. Stevi pun bergegas menyambut kekasihnya itu. Ia memasang senyum terbaiknya.
"Rambut baru, Stev?" tanya Kevin yang terkejut dengan perubahan penampilan Stevi.
"Iya, Yang. Gak cocok ya?" Stevi agak kecewa karena tanggapan Kevin ternyata biasa saja.
"Eh engga kok. Cocok banget. Cantik hehe ...," jawab Kevin berdusta. Sesungguhnya ia lebih menyukai penampilan lama Stevi.
Rambut Stevi yang sekarang keriting bergelombang memang membuatnya terlihat seperti seorang artis Korea. Namun ia seolah bukan dirinya lagi. Kevin merasa ada sesuatu yang kurang walaupun ia juga tidak tahu mengapa bisa merasa seperti itu.
Namun Kevin sadar semua hanya masalah selera. Ia yakin banyak orang yang akan memuji Stevi dengan rambut barunya. Dan setelah kekasihnya itu bosan dengan model rambutnya yang sekarang, ia pasti akan mengubahnya lagi. Karena itulah Kevin tidak mengatakan pendapatnya yang sebenarnya. Kekasihnya itu tidak perlu merasa sedih hanya karena hal yang tidak berlangsung lama.
"Masuk dulu yuk. Mama aku minta dikenalin sama kamu," ajak Stevi sambil tersenyum malu-malu.
"Oh oke. Penampilan aku udah oke kan?" Kevin sibuk merapikan rambut dan pakaiannya.
"Penampilan kamu selalu oke, Sayang." Stevi merasa lucu melihat Kevin yang sedang gugup sehingga berinisiatif menggodanya.
"Iya dong, kalo engga kamu gak mungkin terima aku jadi pacar kamu." Kevin berbalik menggoda.
Mereka berjalan memasuki rumah sambil tertawa. Stevi pamit ke belakang untuk membuatkan minuman setelah mempersilakan Kevin duduk di sofa ruang tamu rumahnya. Belum lama pemuda itu duduk, mama Stevi turun dari lantai dua. Kevin segera berdiri dan memberi salam pada mama sang kekasih.
"Selamat siang, Tante. Saya Kevin pacarnya Stevi," katanya sambil mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan mama Stevi.
"Selamat siang. Panggil saja saya Tante Vira. Mari duduk, Kevin."
Kevin dapat melihat bahwa Stevi sangat mirip dengan mamanya, cantik dan sangat merawat diri. Namun wanita yang lebih tua itu terlihat lebih lembut dengan aura keibuan yang memancar kuat dari dirinya.
__ADS_1
"Sudah lama pacaran sama anak saya?" Tante Vira mulai menginterogasinya.
"Sudah empat bulan, Tante," jawab Kevin sopan.
"Apa kamu serius dengan anak saya?"
"Serius, Tante. Saya sangat mencintai Stevi."
"Baiklah. Boleh saya minta nomor handphone kamu? Siapa tahu lain waktu saya mau ngobrol sama kamu."
"Boleh sekali, Tante," jawab Kevin sambil tersenyum.
Setelah bertukar nomor ponsel, Tante Vira memandangi Kevin dengan seksama sebelum melanjutkan bicaranya.
"Kevin, saya cuma mau pesan supaya kamu bisa sabar menghadapi Stevi ya. Anaknya memang manja sekali. Dia anak perempuan satu-satunya, makanya papanya sangat memanjakan dia. Anaknya baik, tapi kadang dia juga bisa egois karena selama ini keinginannya selalu dituruti. Jadi saya mohon Kevin bisa membimbing dia dengan sabar ya," jelas mama Stevi panjang lebar.
Kevin tidak tahu harus berkata apa. Ini adalah pengalaman pertamanya berpacaran. Ia tidak tahu apakah semua orang tua akan berkata seperti itu pada kekasih anak gadisnya. Namun satu yang Kevin tahu, ia telah mendapatkan restu dari mama sang kekasih.
"Baik, Tante saya akan berusaha," jawab Kevin akhirnya.
"Diminum dulu, Kevin. Saya tinggal ke atas dulu ya, masih ada yang harus saya kerjakan. Nanti pulangnya jangan terlalu malam ya," pesan Tante Vira pada Kevin dan putrinya.
"Siap, Tante."
"Kamu sama mama aku ngobrolin apa aja, Yang?" tanya Stevi setelah mamanya naik ke lantai atas.
"Mama kamu tanya berapa lama kita pacaran."
"Trus tanya apa lagi?"
"Trus mama kamu minta nomor HP aku."
__ADS_1
"Mama aku baik kan? Tunggu papa aku pulang dari dinas kerjanya ya, aku kenalin ke papaku juga!" kata Stevi sambil merangkul manja lengan Kevin. Tubuhnya kini menempel dengan tubuh Kevin.
"Papa kamu dinas di mana?" tanya Kevin sembari berusaha menahan sesuatu yang tiba-tiba bergejolak dalam dirinya akibat sentuhan Stevi. Ia tidak menyangka Stevi akan berinisiatif mendekatinya seperti itu.
"Di Malaysia. Udah satu tahun ini mama aku bolak-balik Jakarta-Malaysia buat dampingi papa di sana. Aku mau ikut tapi mama bilang gak usah, takut ganggu pekerjaan papa di sana. Aku kangen banget sama papa." Stevi bercerita sambil mengerucutkan bibir merahnya, membuat Kevin menelan ludah.
"Sabar ya kan sekarang ada aku yang selalu temenin kamu," ucap Kevin lembut sambil mengusap kepala Stevi dengan penuh kasih sayang.
"Yang, kamu suka aku sejak kapan?" Stevi menanyakan hal yang sudah lama membuatnya penasaran.
"Sejak kelas tiga SMA. Tapi waktu itu kamu sudah punya pacar, jadi aku gak bisa pdkt," jawab Kevin sambil tertawa mengenang dirinya yang sempat patah hati.
"Jadi kamu udah nungguin aku selama tiga tahun lebih?" Stevi tidak menyangka Kevin telah begitu lama memendam perasaan padanya.
"Iya."
Terkesima dengan pengakuan jujur Kevin, Stevi memandangi wajah sang kekasih.
"Apa kamu sekarang merasa tersentuh?" tanya Kevin membalas tatapan Stevi.
"Sangat."
Mereka berdua saling berpandangan selama beberapa detik. Entah siapa yang memulai, perlahan jarak di antara wajah mereka semakin menipis. Stevi memejamkan matanya dengan jantung berdebar-debar. Tinggal beberapa senti lagi dan bibir mereka akan bertemu. Ciuman pertama mereka.
Melihat Stevi seperti mengijinkan untuk melanjutkan apa yang sedang ia lakukan, Kevin menurunkan wajahnya untuk mencium sang kekasih. Tangan kiri Kevin memegang lembut pipi Stevi. Seketika ia merasakan hangat di telapak tangannya merambat hingga ke jantungnya. Ini adalah ciuman pertamanya. Wajar bila ia sedikit gugup.
Bukan, ini bukan ciuman pertama.
Tiba-tiba sebuah suara muncul di benaknya. Dan tiba-tiba sebuah kilas balik muncul di pikirannya. Ingatan ketika ia mencium Jeany, ketika ia mel*mat bibir gadis itu dengan penuh hasrat, dan ketika ia menyentuh setiap jengkal tubuh gadis itu.
Ingatan yang tiba-tiba muncul membuat Kevin membeku di tempat. Pemuda itu tidak mampu dan sudah tidak ingin lagi melanjutkan kegiatannya saat itu. Ia merasa menjadi laki-laki paling berengsek sedunia.
__ADS_1
Terlihat Stevi masih memejamkan matanya menunggu. Kevin merasa dirinya mulai berkeringat di sekujur tubuh. Ia sudah memulai sesuatu yang kini tidak mungkin bisa dihentikannya. Sambil menutup mata pasrah, pemuda itu memaksa dirinya terus maju.
Jaga kesehatan ya, Teman-teman. Jangan baca novel sampai begadang atau sampai lalai pada pekerjaan ya. Novel ini gak ke mana-mana kok, bisa dilanjut bacanya setelah ada kelonggaran waktu 😊😊😊