
"Kamu bilang apa? Dekat sama Kevin?" Lisa memandang skeptis pada Jeany.
"Kami dulu pacaran."
"Hah yang benar saja! Jangan membual, Kevin tidak mungkin berpacaran dengan perempuan kaku seperti kamu."
"Kalau tidak percaya tanyakan langsung sama dia."
"Oke kita ke ruangannya sekarang."
Lisa dan Jeany berjalan menuju ruangan Kevin. Tampak Vera sang sekretaris melihat mereka berjalan mendekat dengan raut wajah bingung.
"Ver, tolong beritahu Pak Kevin kalau aku dan Jeany mau ketemu," ucap Lisa pada sahabatnya.
"Oke, Lis."
Vera segera menekan nomor ekstensi Kevin pada pesawat teleponnya dan menyampaikan pesan Lisa. Tidak lama kemudian ia sudah mendapat jawaban. "Kalian boleh masuk," katanya memberitahu Lisa dan Jeany.
Kedua perempuan itu berjalan menuju ruangan Kevin dengan jantung berdebar kencang. Debaran itu semakin kuat manakala mereka melihat Kevin sedang duduk menunggu di kursi kebesarannya, tampak begitu tampan dan memesona.
"Ada apa ini?" tanya Kevin dengan kening berkerut. Ia memandangi Jeany dan Lisa bergantian.
"Vin, apa benar kamu dan Jeany dulu berpacaran? Sekarang di kantor sedang tersebar gosip kedekatan kalian." Lisa menanyakan hal yang sangat mengejutkan bagi laki-laki itu.
Sejenak Kevin tampak kaget, tetapi dengan cepat raut wajahnya kembali dingin. Laki-laki itu memberi tatapan tak suka pada Jeany sebelum menjawab, "itu gak benar."
"Nah, benar kan dugaan saya. Kamu cuma membual!" Lisa berkata penuh kemenangan pada Jeany.
Perempuan yang disudutkan itu menatap Kevin dalam-dalam. "Kamu gak mau mengakuinya, Vin?"
"Apa yang mau diakui? Memang kita gak pernah ada hubungan apa-apa kecuali sahabat."
"Persetan dengan sahabat! Kita punya an—"
"Jaga bicaramu, Jean! Jangan sampai ucapanmu mengganggu rencana pernikahanku dengan Lisa. Sekarang lebih baik kamu keluar. Ada yang mau aku omongkan berdua dengan Lisa."
Bentakan Kevin membuat Jeany menelan kembali kata-kata yang ingin diucapkannya.
"Oh iya, Vin, besok kita harus fitting ulang baju pengantin. Kamu harus kosongkan jadwalmu ya." Lisa sengaja berkata demikian untuk memanas-manasi Jeany.
"Nanti aku kasih tahu Vera supaya mengosongkan jadwalku," jawab Kevin sambil memperhatikan Jeany yang berjalan keluar dari ruangannya tanpa suara.
"Tidak tahu malu sekali dia. Ngaku-ngaku pernah pacaran sama kamu. Pasti gosip itu juga dia yang menyebarkannya!" Lisa menjelek-jelekkan Jeany di depan Kevin.
"Lis, dia sahabatku. Jangan keterlaluan sama dia. Dan jangan sekalipun ungkit soal gosip itu di depan papa mama. Aku gak mau mama sampai kepikiran."
"Ya sudah kalau itu mau kamu. Aku juga gak mau mama kamu terganggu gosip gak penting."
Kevin mengangguk. "Kamu boleh kembali ke ruanganmu."
"Tadi katanya ada yang mau kamu bicarakan berdua sama aku?" kata Lisa mengingatkan tunangannya.
"Cuma yang barusan aku bilang."
"Aku kira kamu mau membicarakan soal pernikahan kita?"
"Aku lagi sibuk, Lis. Kita bicarakan nanti setelah pekerjaanku selesai."
"Ya sudah aku gak ganggu kamu lagi."
Dengan berat hati Lisa keluar dari ruangan Kevin. Vera, sang sahabat sedang menunggunya penuh rasa ingin tahu. "Kalian ngapain di dalam? Kenapa Jeany juga ikut?"
"Cuma konfirmasi soal gosip yang lagi heboh. Jeany bilang dia pernah pacaran sama Kevin. Ternyata gak benar. Gak tahu malu sekali ya dia!"
"Biasalah memanfaatkan situasi, mumpung kenal sama direktur cakep ...."
Kedua perempuan itu sibuk membicarakan Jeany hingga melupakan tugas utama mereka di kantor.
***
Setelah itu sikap Kevin pada Jeany benar-benar berubah. Ia memperlakukan perempuan itu layaknya perlakuan direktur pada karyawan. Bila bertemu, Kevin hanya memandangnya dingin. Lama kelamaan gosip antara dirinya dengan Kevin yang sempat beredar di kantor mereda dengan sendirinya.
Sebaliknya, Kevin dan Lisa terlihat semakin dekat. Terkadang Jeany melihat kedua orang itu pergi makan siang bersama. Kini orang-orang di kantor membicarakan kedekatan antara direktur utama dengan manajer pemasaran tersebut.
__ADS_1
Untung saja angka penjualan di kantor sedang tinggi-tingginya, begitu pula dengan pesanan untuk membuat brownies yang diterima oleh Jeany. Ia tidak punya waktu untuk merasa sakit hati. Perempuan itu berusaha mengubur dalam-dalam segala perasaannya pada ayah dari anaknya itu. Tidak ada yang perlu diharapkan lagi, putusnya.
Waktu bergulir dengan cepat. Beberapa hari telah berlalu sejak Kevin mengingkari hubungan mereka. Dalam kesibukannya menyiapkan dokumen untuk melakukan penagihan pada langganan, Jeany menerima telepon dari resepsionis.
"Jean, ada tamu yang cari kamu. Namanya Monica, katanya dari Bali."
Perempuan itu tertegun. Monica? Untuk apa istri Randy datang mencarinya sampai ke kantor? Jeany bergegas keluar untuk menemui tamu yang sedang menunggunya.
Monica adalah perempuan bertubuh tinggi dengan berat badan ideal. Ia sangat modis dan percaya diri. Tidak akan ada yang menyangka ia mengidap virus berbahaya, sama seperti suaminya. Jeany tidak akrab dengan Monica. Mereka hanya pernah bertemu beberapa kali.
"Monic, apa kabar? Datang ama siapa?" Jeany berusaha menyapa dengan ramah walau tahu Monica kurang menyukainya.
"Baik. Aku datang sendiri. Bisa kita bicara sebentar?"
"Ya. Tapi aku gak bisa lama-lama soalnya ini jam kantor."
"Gak lama kok."
Jeany lalu mengajak Monica ke sebuah ruangan di kantornya. Ruangan itu biasa digunakan para karyawan untuk rapat berskala kecil. Dengan demikian Jeany yakin tidak akan ada yang mendengarkan pembicaraan mereka.
"Ada perlu apa, Mon?" tanya Jeany setelah mereka berdua berada di ruangan tersebut.
"Gak perlu pura-pura baik lagi, Jean. Aku tahu diam-diam kamu dan Randy masih berhubungan kan?"
"Kami hanya sebatas bertukar kabar."
"Lalu untuk apa Randy mengirimi kamu uang lima juta?"
Jeany terperanjat. Jadi Randy tidak memberitahu istrinya soal uang yang dipinjamnya tersebut?
"Aku terpaksa menerima pinjaman dari Randy, Mon. Anakku baru saja masuk SD jadi aku butuh uang buat bayar uang gedung sekolahnya."
"Kamu kerja di tempat sebagus ini, pasti gaji kamu besar. Jangan ganggu rumah tanggaku dan Randy lagi. Anak itu juga bukan anak Randy, dia gak ada kewajiban membantu anak itu!"
"Kan aku sudah bilang hanya pinjam? Setelah gajian pasti aku kembalikan!" Jeany mulai tersulut emosi karena Monica menyinggung status anaknya.
"Aku gak suka Randy masih berhubungan sama kamu. Dia juga selalu bilang ke orang-orang kalau anakmu itu anaknya. Padahal kan-"
"Kamu gak perlu kembalikan uang itu. Yang aku mau kamu gak menghubungi suamiku lagi."
"Aku tetap akan melunasinya karena memang hutang harus dibayar. Jangan kuatir setelah ini aku gak akan menghubungi Randy lagi."
"Aku pegang kata-katamu." Monica hendak beranjak untuk meninggalkan ruangan tersebut tetapi Jeany memanggilnya kembali.
"Tunggu. Dari mana kamu tahu alamat kantorku?"
Monica tersenyum sinis. "Tentu saja dari Randy. Dia gak pernah menghapus chat dari kamu. Aku harus diam-diam membuka HP-nya waktu dia lagi mandi."
"Kalau kamu baca chat kami harusnya kamu tahu di antara kami gak ada hubungan apa-apa. Randy selalu setia sama kamu. Tolong jangan pernah datangi aku lagi di kantor."
"Lebih baik di kantor kan daripada di rumahmu dan anakmu mendengar pembicaraan kita?"
"Jangan bawa-bawa anakku!" Jeany mencengkeram erat lengan Monica.
Monica tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menepis tangan Jeany dan berjalan meninggalkan ruangan tersebut. Tidak lama setelah ia keluar, Jeany juga menyusul keluar dan kembali ke ruangannya di divisi keuangan.
Namun Monica tidak benar-benar pulang. Seseorang mencegatnya sebelum ia mencapai pintu keluar kantor.
"Keluarganya Jeany ya?"
"Bukan. Aku istri dari mantan suami Jeany."
"Mantan suami Jeany?"
Seseorang yang tak lain adalah Lisa itu melebarkan matanya karena terkejut. Bagaimana tidak, di kantor tidak ada yang tahu bila Jeany sudah menikah, apalagi bercerai. Ia diam-diam tersenyum mendapat informasi penting tersebut.
"Bisa minta waktunya sebentar? Kebetulan ada yang mau saya tanyakan soal Jeany."
Monica melihat jam di pergelangan tangannya. "Boleh. Masih ada waktu satu jam sebelum aku harus ke bandara."
***
Karena harus menepati janjinya pada istri Randy, Jeany bekerja keras mencari uang tambahan. Ia menerima orderan brownies lebih banyak daripada biasanya, walau sering membersit rasa bersalah di hatinya karena waktunya berkumpul dengan Kenny jadi sangat berkurang.
__ADS_1
"Cuma sampai akhir bulan kok, Sayang. Habis itu mama bisa temenin Kenny main lagi," ucapnya pada sang putra yang cemberut karena mamanya tidak menemaninya bermain.
"Ya, Ma, janji ya?" Kenny memang anak yang selalu pengertian.
Setelah beberapa hari kurang tidur, pagi itu Jeany mendapati dirinya tidak enak badan. Namun ia memaksakan diri untuk pergi bekerja.
"Jean, kamu sakit? Muka kamu pucat banget?" tanya Mita cemas saat Jeany mengantar Kenny ke rumahnya.
"Cuma sedikit kliyengan ...."
"Astaga jangan nyetir kalo kliyengan. Gak usah masuk aja hari ini, Jean."
"Cuma dikit kok. Minum obat juga ntar ilang. Aku titip brownies ya, nanti diambil ojek langgananku. Yang satu ini buat dibawa Kenny ke sekolah." Jeany menunjuk satu kotak brownies yang sudah dikemasnya tersendiri.
"Harusnya kamu gak usah maksain diri, Jean. Jadinya sakit kan?"
"Gapapa rejeki gak boleh ditolak."
Mita menggelengkan kepalanya melihat Jeany yang keras kepala. Pada saat itu Kenny berlari memeluk Jeany sambil menangis.
"Mama .... Mama sakit? Kenny gak mau mama sakit .... Kenny sayang mama ...."
"Engga, Sayang mama gak sakit. Jangan nangis ya mama juga sayang Kenny." Jeany mengecup pipi sang putra dan melihatnya berhenti menangis. "Nah gitu dong."
"Janji ya Mama gak sakit?"
"Iya. Mama sehat kok sama kayak Kenny. Kita semua sehat." Sang putra lalu tersenyum ceria hingga menampakkan giginya. Jeany tertegun melihatnya. Benar-benar mirip Kevin, ucapnya dalam hati.
"Jean, berangkat bareng Mas Pras aja ya? Sekaliii ini aja," bujuk Mita.
Jeany mengiakan karena tahu kondisi tubuhnya tidak memungkinkan untuk mengendarai sepeda motor. Ia juga tidak ingin celaka. Masih ada Kenny yang harus dirawatnya hingga tumbuh dewasa.
Ia duduk di kursi samping pengemudi. Ternyata tubuhnya terasa semakin lemas. "Mas, kayaknya habis serah terima sama kolektor, aku ijin pulang aja ya," ucapnya setelah sampai di tempat parkir dan turun dari mobil.
"Iya gapapa. Nanti aku minta Juli sama Anet yang handle kerjaan kamu."
"Makasih, Mas. Duluan aja masuknya. Gak enak kalo dilihat orang jalan sama-sama."
Prasetyo pun berjalan terlebih dahulu. Setelah beberapa saat, Jeany menyusulnya. Namun seseorang menarik tangannya dengan kasar.
"Kevin! Apa-apaan kamu!" bentak Jeany sambil berusaha membebaskan tangannya. Usaha yang sia-sia. Ia selalu kalah tenaga dari laki-laki itu.
Kevin terus menarik Jeany dan mendorong perempuan itu masuk ke dalam mobilnya. Setelah itu ia sendiri masuk dan melajukan kendaraannya meninggalkan area parkir yang masih sepi.
Ternyata laki-laki itu membawa Jeany menuju apartemennya. Jeany memejamkan matanya menahan pusing. Ia tidak bertanya dan tidak melawan. Dari dulu sampai sekarang Kevin tidak berubah, pikirnya. Kalau sudah seperti ini ia tahu ada yang membuat laki-laki itu merasa tidak senang.
"Apa hubunganmu sama Prasetyo?"
Mereka bahkan baru masuk ke dalam apartemen beberapa detik ketika Kevin mengajukan pertanyaannya. Jeany membalik tubuhnya dan menjawab, "dia atasan aku."
"Bohong! Kalau cuma atasan kenapa kalian bisa berangkat bareng? Kenapa kamu manggil dia Mas?" Kevin bertanya sambil berjalan mendekat.
"Itu bukan urusanmu kan? Urus aja calon istrimu!"
"Jelas urusanku. Aku gak mau ada skandal di kantorku!"
"Oh kamu gak sadar kamu dan Lisa udah bikin skandal?"
Kevin mengangkat sudut mulutnya. "Apa kamu cemburu? Itukah sebabnya kamu bilang ke Lisa kita pernah pacaran?"
"Buat apa aku cemburu sama laki-laki pengecut kayak kamu, yang gak mau mengakui—"
Kevin membungkam Jeany dengan mencium bibir perempuan itu. Sudah lama sekali ia ingin melakukannya. Rasa rindunya sudah terlalu hebat. Ia tak peduli lagi sekalipun perempuan yang sedang diciumnya adalah istri sahabatnya sendiri.
Rasanya masih tetap sama, pikir Jeany. Dengan kesadaran yang tinggal separuh ia memilih mengikuti kata hatinya. Perlahan ia mengalungkan tangannya di leher Kevin dan membalas ciuman laki-laki itu. Hal tersebut membuat Kevin semakin panas. Ia memeluk pinggang Jeany hingga tubuh mereka saling menempel dan mel*mat bibir atas dan bawah perempuan itu bergantian.
Jeany terkesiap saat merasakan lidah Kevin memasuki rongga mulutnya. Sejak kapan laki-laki itu jadi begitu berani? Dulu setiap kali mereka berciuman Kevin tidak pernah menggunakan lidahnya. Ia terus mengikuti permainan Kevin. Dengan lidah mereka saling bertautan, Kevin menggerakkan tangannya membelai punggung Jeany. Sensasi yang dirasakannya membuat perempuan itu mengerang tertahan.
Jeany bahkan merasa dirinya rela menyerahkan tubuhnya saat itu juga bila Kevin meminta. Ia merasa bodoh. Mengapa masih saja mencintai laki-laki yang telah berkali-kali membuatnya kecewa? Tanpa ia kehendaki air matanya menetes, dan saat itu juga tubuhnya terkulai lemas.
Kevin langsung menahan tubuh Jeany agar tidak terjatuh. Ia menyentuh pipi Jeany dan memanggil nama perempuan itu berkali-kali. "Jean? Jean? Kamu kenapa?" tanyanya cemas.
Jeany membuka matanya. Dengan sisa kekuatan yang dimilikinya ia berusaha menatap Kevin. "To-tolong batalkan pernikahanmu," ucapnya lemah sebelum benar-benar tak sadarkan diri di pelukan laki-laki itu.
__ADS_1