
"Bentar-bentar, bukankah ini pembantu yang pagi itu kamu bawa ke rumah ini kan? kenapa kamu mengajaknya makan bersama?" tanya mama Celo heran
"Nanti Celo jelaskan ma, pa. Intinya Indira bukan pembantu di rumah ini," jawab Celo dengan tegas.
"Ya sudah, mama dan papa istirahat dulu nanti kamu jelaskan pada kami ya," sahut mama lalu pergi ke kamar dengan papa Celo.
Indira yang nggak enak dengan orang tua suaminya memutuskan untuk ikut ke kantor.
"Mas aku ikut ke kantor ya?" tanya Indira
"Iya tapi nanti aku ada jadwal keluar jadi kamu sendirian di ruangan aku nggak papa ya," jawab Arcelo
"Iya mas nggak papa daripada aku di rumah takut sama orang tua kamu," sahut Indira dengan tertawa.
Kini Arcelo dan Indira berangkat ke kantor.
Setelah kepergian Celo dan Indira ke kantor mama pergi ke dapur untuk mengambil susu untuk suaminya, saat di dapur mama Celo memanggil semua art nya untuk bertanya bagaimana keadaan rumah ketika dia tinggal.
"Rumah baik-baik saya nyonya," kata Art
"Oh ya, apa ada kabar tentang tuan Celo, apa dia pernah membawa wanita pulang atau gimana?" tanya Mama Celo
Tentu Sri maju untuk menjawab pertanyaan Nyonya besarnya.
__ADS_1
"Tuan Celo tidak pernah membawa wanita nyonya tapi Tuan Celo mengatakan pada kita semua kalau nona Indira itu istrinya," jawab Sri
"Kok bisa," kata Mama Celo kaget.
"Dulu kan Celo bilang kalau itu pembantu baru," imbuh mama
"Benar nyonya, tapi saya lihat mereka tidur bersama bahkan beberapa waktu yang lalu Tuan Celo bertengkar hebat," kata Sri
"Celo, Celo bisa-bisanya kamu menikah tanpa bilang pada mama memangnya kamu anggap mama dan papa ini apa," ucap Mama dengan memijat pelipisnya.
Mama yang agak pusing memutuskan kembali ke kamar untuk membicarakan hal ini dengan suaminya.
**********
Sepanjang perjalanan, Celo dan Indira nampak terdiam, Indira bingung dengan orang tau Celo sedangkan Celo juga mikir alasan apa yang akan dia berikan untuk mama dan papanya nanti.
"Iya sayang, aku juga pengennya seminggu lagi kita pindah, kemarin tukang yang menghubungi aku juga bilang kalau renovasinya sudah selesai tinggal memasukkan furniturnya," ucap Celo setuju.
Tak berselang lama mereka sudah sampai di kantor, Celo yang ada rapat dengan klien harus keluar dan meninggalkan Indira di ruangannya.
Indira yang merasa bosan hendak keluar namun tiba-tiba ada seorang wanita masuk yang tak lain adalah Farah, "Kamu! ngapain lagi kesini?" tanya Indira dengan marah.
"Untuk menggoda suami kamu, mau apa lagi," jawab Farah dengan tersenyum.
__ADS_1
"Dasar wanita ular, nggak punya malu sudah ditolak masih saja ngejar," sahut Indira
Sebenarnya Farah datang dengan teman ranjangnya untuk menemui Alex, namun karena dia boring dia memutuskan untuk ke ruangan Celo tapi bukannya Celo yang dia temui melainkan Indira.
"Memang aku nggak punya malu lalu kamu mau apa?" tanya Farah memancing amarah Indira.
Indira yang kesal menarik rambut Farah, begitu pula Farah dia menarik rambut Indira, mereka berdua saling bertengkar tanpa ada yang melerai. Farah yang lelah memilih melarikan diri daripada terus bertengkar dengan Indira.
"Woy jangan kabur," teriak Indira mengejar Farah.
Farah masuk ke dalam ruangan Alex begitu pula dengan Indira.
"Ada apa ini!" teriak Alex
"Tu kak Alex, Farah ini hendak menggoda mas Celo," kata Indira.
Teman ranjang Farah melihat Indira dengan saksama, wanita di depannya kini terlihat tidak asing. Dia terus menatap Indira dengan lekat, meski merah mungkin karena pukulan dari Farah tapi wajah cantik Indira masih bisa dia kenali.
"Maaf pak David, saya akan segera selesaikan masalah ini," kata Alex lalu mengajak Indira keluar namun David melarangnya.
"Jangan pak Alex," larang teman ranjang Farah yang bernama David tersebut.
Indira yang mendengar David bicara membolakan mata, suara itu nampak tidak asing bagi Indira.
__ADS_1
Perlahan Indira menajamkan pandangannya pada David,
"Mas David," kata Indira lalu dia pergi begitu saja.