Akulah Istri & Selingkuhanmu

Akulah Istri & Selingkuhanmu
Berdebat


__ADS_3

Saat Gilang masuk kantornya semua mata memandang Gilang, mereka ingin sekali tertawa namun takut jadi mereka hanya bisa tertawa dalam hati.


Veri yang melihat Gilang jadi heran bin bingung, ada apa dengan bosnya tersebut.


"Pak Gilang, anda waras?" tanya Veri sambil menahan tawa.


Veri heran dengan cara berpakaian Gilang yang menurutnya warna warni seperti pelangi.


"Apa maksud kamu Ver?" tanya Gilang balik dengan tatapan kesal pada Veri


"Pakaian pak Gilang warna warni seperti pelangi," jawab Veri


"Bagus kan? ini itu trend terbaru, jadi besok buat pengumuman untuk para pegawai supaya mereka juga memakai pakaian seperti ini," sahut Gilang yang membuat Veri membolakan matanya.


"Apa pak? apa wajib atau hanya sunah?" tanya Veri


"Wajib lah, termasuk kamu juga ya, biar mataku tu bening melihat kalian berpakaian warna-warni," jawab Gilang.


"Pak apa ada peraturan seperti itu? lalu bagaimana jika para pegawai nggak mau memakai baju warna-warni pak?" tanya Veri lagi


"Ada, ini peraturan dari aku langsung kalau pada nggak mau, pecat saja mereka," jawab Gilang


Veri hanya bisa menghela nafas tanpa bisa protes, mungkin bos nya saat ini sedang dirasuki peri pelangi jadi dia ingin semua berpenampilan seperti pelangi.


Tanpa ada kata Veri langsung pergi meninggalkan Gilang, dia mengumpulkan para pegawai, entah hal ini berlaku untuk bagian gudang atau tidak.


Banyak pegawai yang protes dengan peraturan baru dari Gilang tapi bagaimana lagi daripada mereka dipecat, mencari pekerjaan juga nggak segampang membalikkan telapak tangan.


Nindi yang merasa boring pun menghubungi Indira dia ingin pergi ke rumah Indira.


"Ya udah Nin, kamu datang saja aku juga boring nih sendirian" kata Indira dari seberang panggilan.


"Ok," sahut Nindi lalu mematikan sambungan teleponnya.


Nindi meminta ijin pada mama mertuanya untuk pergi ke rumah Indira, dan setelah mendapatkan ijin Nindi pergi dengan diantar sopir mamanya.

__ADS_1


Setelah sampai di rumah papa mertuanya Nindi segera turun dia mengetuk pintu dan tak selang lama Sri art membukakan pintu dan Sri segera menyuruh Nindi masuk.


Sri datang ke kamar Indira untuk memberitahukan kalau ada Nindi di bawah dan Indira bergegas turun untuk menemui Nindi.


"Halo Nin," sapa Indira


"Halo In," balas Nindi


"Aku boring banget, kita keluar yuk. Nongkrong dimana gitu," kata Nindi


"Ayok," sahut Indira dengan senang.


Mereka mengirim pesan pada suami masing-masing, baik Gilang maupun Celo merasa terusik takut kalau istri mereka digoda orang.


Gilang menghubungi Celo, dia mengajak Celo untuk menyusul para istri.


"Ya udah ayo," sahut Celo dari seberang panggilannya.


Kini Gilang pergi ke perusahan Admadja, dia ingin menjemput kakaknya.


Celo pun bergegas turun,


Kini mereka sudah meninggalkan perusahaan Admadja.


Celo yang melihat baju Gilang tentu tertawa, "Gilang baju kamu kok warna warni seperti pelangi?" tanya Celo


"Iya kak, lagi pengen memakai baju seperti pelangi," jawab Gilang dengan terkekeh.


"Aneh," batin Celo.


Tak selang lama mereka sampai di kafe tempat nongkrong para istri mereka.


Di sana nampak Nindi dan Indira mengobrol asik, bahkan mereka tertawa lepas tak ada beban dan ini membuat Gilang dan Celo saling pandang.


"Mereka sepertinya bahagia sekali kak," kata Gilang

__ADS_1


"Iya Gilang, sebaiknya kita pantau mereka dari sini saja," sahut Celo


"Iya kak," timpal Celo.


Nindi dan Indira tidak tau kalau mereka dimata-matai oleh para suami jadi mereka bercerita bebas termasuk keluh kesahnya jadi istri para suami mereka. Gilang dan Celo yang kepo dengan apa yang Nindi dan Indira obrolkan akhirnya pindah tempat tak jauh dari para istri mereka.


"Eh In, kamu kok bisa digrebek sih waktu itu, dan kok bisa kak Celo ada di sana?" tanya Nindi


"Entah, aku sendiri tidak tau kenapa mas Celo ada di sana, pokoknya dia datang saat aku minta tolong dan begonya dia tu malah ikut jatuh di lubang yang sama dengan aku, ya terus itu jadi masalah dengan warga," jawab Indira


"OOO gitu," sahut Nindi


"Kamu juga gimana tu, kok dulu tiba-tiba nikah? dan parahnya nggak mengundang aku," tanya Indira.


"Ceritanya panjang In, dulu nyesek banget aku, jadi istri yang nggak dianggap karena wajah aku jelek," jawab Nindi


"Iya Nin, kita sama. Aku dulu diajak pulang ke rumah mas Celo diperkenalkan sebagai pembantu," sahut Indira.


"Astaga In, nasib kita sama ya, awal nikah sungguh nyesek banget," timpal Nindi dengan sedih.


Gilang dan Celo yang mendengar keluh kesah istri menjadi bersalah.


"Kamu parah Gilang, kenapa nggak menganggap istri kamu hanya karena dia jelek, tu lihat istri kamu sampai sedih begitu," kata Celo tak terima


"Kak, kakak juga keterlaluan lo memperkenalkan Indira sebagai pembantu ke mama dan papa, tu Indira juga bersedih," sahut Gilang tak terima juga


Akhirnya mereka berdua berdebat mencoba membela diri masing-masing sehingga membuat keributan di kafe.


Nindi dan Indira yang mendengar suara para suami pun saling pandang


"Bukankah itu suara mas Gilang," kata Nindi


"Iya, bukankah itu juga suara mas Celo," sahut Indira


Kemudian mereka memutar bola mata mereka ke sumber suara dan betapa kagetnya mereka Gilang dan Celo saling berdebat tak jauh dari meja mereka.

__ADS_1


__ADS_2