
"Mas, bisa bantu aku," kata Nindi yang membuat Gilang dan mama menoleh dengan raut wajah yang sulit di artikan.
Gilang nampak bengong hingga tepukan mama menyadarkannya.
"Cepat tolong istrimu," kata mama dengan tersenyum.
Gilang bergegas mendekati Nindi, "Apa yang bisa aku bantu?" tanya Gilang gugup karena masih tidak percaya kalau Nindi meminta bantuannya.
"Aku ingin minum," jawab Nindi dengan tersenyum.
Sehingga mama yang melihatnya ikut senang karena anak dan menantunya sudah baikan.
"Gilang segera mengambilkan air untuk istrinya, dia sungguh senang sekali akhirnya Nindi telah mencair, es yang beberapa hari ini membeku telah mencair.
Gilang yang senang menunggui Nindi minum, saat gelas sudah habis airnya Gilang segera mengambil gelas dari tangan Nindi dan meletakkannya di meja.
Dia segera memeluk istrinya, dia sungguh rindu dengan istrinya, saat dia mendiamkan Nindi kemarin-kemarin dia juga sangat rindu namun egonya lebih besar daripada rindu sehingga mampu mendiamkan istrinya beberapa hari.
"Aku rindu sekali sayang, terima kasih telah memaafkan aku," kata Gilang, dia sungguh mengira Nindi benar-benar memaafkannya.
Nindi memaksakan senyumannya, mama yang melihatnya jadi lega, dia mengira Nindi tidak akan memaafkan Gilang namun ternyata dugaannya salah.
Gilang yang saking senangnya, mencium Nindi berkali-kali sehingga membuat Nindi kesal dengan Gilang namun karena ada mamanya dia tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima kecupan dari Gilang.
Mama yang keadaannya masih lemah mau nggak mau harus dirawat terlebih dahulu, beliau ingin satu ruangan dengan Nindi supaya Gilang tidak bingung harus menunggui yang mana.
"Terima kasih ya Nin, kamu mau memaafkan Gilang," kata Mama dari bed samping bed Nindi.
"iya ma, Nindi dan mas Gilang kan sudah berbaikan jadi mama jangan kepikiran kami lagi ya, mama fokus dengan kesembuhan mama dulu," kata Nindi
Gilang duduk diantara bed mama dan juga nindi.
"Benar ma apa yang dikatakan Nindi, mama banyak istirahat dan jangan mikir yang nggak-nggak biar tensi mama nggak naik, pokoknya mama jangan sekalipun memikirkan Gilang dan Nindi lagi, nanti makan mama juga akan Gilang perhatikan, supaya tensi mama segera normal kembali," ucap Gilang.
"Iya Gilang, cerewet sekali bahkan dokter yang menangani mama nggak secerewet kamu," sahut mama dengan tertawa.
**********
Beberapa jam dalam perjalanan kini Alex dan Nita telah sampai di rumah Alex yang diikuti mobil Nita di belakang. Nampak mama dan papa telah menunggu kedatangan mereka di ruang tamu.
"Mas aku kok gugup ya," kata Nita
__ADS_1
"Kenapa gugup sayang?" tanya Alex.
"Mungkin karena ketemu mertua jadi gugup," jawab Nita.
Alex membukakan pintu untuk Nita lalu dia meminta sopir mobil Nita supaya langsung pergi ke rumah barunya.
"Pak, barang-barangnya bawa ke rumah alamat ini," kata Alex sambil memberikan kertas yang berisi alamat rumah barunya.
Mama dan papa Alex keluar untuk menyambut anak, mantu dan juga cucu mereka.
Alex segera memeluk mamanya, dia sungguh kangen sekali dengan mama, lalu dia memeluk papanya. Kini gantian Nita, yang saling peluk dengan mama dan papa Alex.
"Pantas Alex sampai gila la Nita cantik begini," kata mama yang membuat Nita malu,
"Mama bisa saja," sahut Nita dengan tersenyum
Mama Alex melihat bayi Nita, kemudian beliau menggendongnya.
"Mirip sekali dengan Alex," kata Papa Alex
"Iya ya pa," sahut mama
Alex dan Nita saling pandang lalu tertawa, "Mama dan papa memang seperti itu ayo masuk.
Alex menggendong Rio masuk, dia tidak ingin Rio merasa iri dengan adiknya yang diperhatikan orang tuanya.
"Itu kakek dan nenek adik bayi ya pa?" tanya Rio
"Iya sayang, itu kakek dan nenek Rio juga," jawab Alex dengan tersenyum.
"Nggak pa, mereka bukan kakek dan nenek Rio, buktinya mereka nggak sayang dengan Rio, dari sampai tadi kakek dan Nenek tidak menyapa Rio sama sekali," sahut Rio
"Mungkin kakek dan nenek gemas dengan adik bayi, lihat mereka berdua juga melupakan kita semua," ucap Alex.
"Benar apa yang dikatakan papa Alex jadi Rio nggak boleh sedih ya, kakek dan nenek sayang juga kok sama Rio." Kini gantian Nita yang menenangkan Rio.
Alex mencoba menenangkan anaknya tersebut, dia kemudian membawa Rio ke dalam kamarnya sedangkan Nita dan Beby sitter mengobrol dengan mama di ruang keluarga.
Tak berselang lama Celo datang, dia langsung mencari Alex karena rasa rindu dengan kakak tercintanya sangat besar.
"Kak Alex mana ma?" tanya Celo
__ADS_1
"Dikamar, coba pak Celo kesana," jawab Nindi mewakili mama.
"Eh Nit, jangan panggil pak kan aku sekarang adik ipar kamu," ucap Celo.
"Iya, Celo," sahutnya dengan terbata.
Nita nggak enak memanggil Celo langsung namanya, karena sudah hampir dua tahun dia bekerja menjadi bawahan Celo dan Alex.
Celo segera melangkahkan kakinya ke kamar Alex, saat membuka pintu nampak Alex dan Rio sedang bermain di atas tempat tidur.
"Kak Alex," panggil Celo
Mendengar panggilan Celo membuat Alex beranjak dari rebahannya dia segera turun dari tempat tidur lalu segera berlari memeluk Celo.
"Aku kangen sekali dengan kak Alex," kata Celo dengan mengeratkan pelukannya.
"Aku juga kangen dengan kamu Celo," sahut Alex.
Mereka berdua saling melepas rindu dengan berpelukan. Meskipun dulu mereka jahat namun Celo dan Alex saling menyayangi.
Setelah acara kangennya selesai, Celo dan Alex mengobrol sebentar, Celo menceritakan Nindi pada Alex, nampak Celo antusias sekali saat bercerita.
"Celo, kamu nggak mencintai Nindi kan?" tanya Alex yang membuat Celo menatap Alex.
"Ya enggak dong kak, masa iya aku jatuh cinta dengan adik ipar aku," sahut Celo dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kan mencintai seseorang itu tidak salah, asal kita nggak memaksakan cinta kita pada orang tersebut," timpal Alex yang membuat Celo terdiam.
Alex cukup mengerti apa yang dirasakan Celo, mama datang dan mengajak mereka semua makan bersama dan setelahnya Alex dan Nita pamit untuk pulang ke rumahnya.
"Kamu ini jahat sekali sih Alex, baru saja sampai langsung pergi kenapa nggak menginap di sini saja," kata mama
"Rio ingin segera pergi ke rumah barunya," sahut Alex.
"OOO begitu, ya sudah hati-hati ya," ucap Mama dengan tersenyum.
********
Beberapa hari kemudian, Nindi dan mama sudah diperbolehkan pulang.
Nindi setiap Seminggu tiga kali harus melakukan terapi di rumah sakit, dan Nindi juga dianjurkan melatih dengan berjalan pelan-pelan setiap hari di rumah supaya bisa cepat sembuh.
__ADS_1