Akulah Istri & Selingkuhanmu

Akulah Istri & Selingkuhanmu
Gilang mulai curiga.


__ADS_3

Gilang sudah menjamah sebagian tubuh istrinya dengan nafas yang menggebu dan hasrat yang sudah di ubun-ubun Gilang ingin segera menyatukan miliknya dan milik Rara, namun tiba-tiba ponselnya berdering dan Rara menyuruhnya untuk mengangkat telponnya.


"Angkat mas, siapa tau penting," ucap Rara lirih dengan hasrat yang sudah di ubun-ubun juga.


Gilang pun beranjak dari atas Rara, dia segera menyambar ponselnya dan berjalan agak menjauh.


"Apa?" teriak Gilang


Nindi pun ikut panik pasalnya Gilang sedikit shock saat menerima panggilan.


Setalah menerima telponnya hasrat Gilang menghilang, raut wajahnya susah ditebak lalu dia bergegas ke kamar mandi untuk ganti pakaiannya.


"Ada masalah apa pak?" tanya Rara cemas


"Maaf Ra, aku harus pulang karena mama aku sakit," jawab Gilang.


"Ya sudah, pak Gilang pulang saja dulu," kata Nindi


"Kamu nggak papa kan pulang sendiri?" tanya Gilang tak enak.


Nindi tersenyum, "Nggak papa kok pak" sahut Nindi


Gilang keluar terlebih dahulu, entah Nindi harus senang atau sedih sekarang, Gilang tidak jadi menyentuhnya, padahal momen momen seperti ini sangat Nindi inginkan dari pertama dia menikah dengan Gilang.


Langit masih menangis meski tidak sederas tadi, entah mengapa Nindi malas untuk pulang ke apartemen Gilang.


Toh pulang atau tidak Gilang tidak akan mencarinya.


Malam ini Nindi menginap di hotel, rencananya besok pagi sekali dia pulang lalu berangkat, Gilang juga pasti tidak pulang mengingat mamanya sakit.


Setelah keadaan mamanya membaik entah kenapa Gilang ingin sekali pulang ke apartemennya, dia merasa bersalah sekali pada Nindi karena tadi hampir saja melakukan hal terlarang dengan sekertarisnya.


Gilang melajukan mobilnya malam-malam menuju apartemennya, saat membuka pintu dia semua nampak gelap.


"Kok gelap ya?" gumam Gilang lalu masuk dan menyalakan semua lampu.


Dia berjalan ke kamar Nindi dan membukanya namun tidak ada tanda-tanda kehidupan sehingga membuat Gilang panik.


"Nin?" panggilnya siapa tau Nindi di kamar mandi namun nihil, Nindi tidak ada di sana.


Gilang nampak cemas, dia takut kalau terjadi apa-apa dengan Nindi, meskipun dia tidak mencintai Nindi namun Gilang juga tidak ingin Nindi dalam bahaya.

__ADS_1


Gilang mencoba berfikir positif, mungkin saja karena hujan badai tadi Nindi menginap di rumah temannya atau gimana.


Puas dengan asumsinya kini Gilang keluar kamar Nindi dan pergi ke kamarnya, karena lelah Gilang langsung saja tidur.


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul empat pagi, Nindi segera cek out dari hotel dan pulang ke apartemennya, saat membuka pintu Nindi kaget pasalnya semua lampu menyala,perasaan dia tadi sebelum berangkat telah mematikan semuanya


"Mungkin aku lupa," katanya lalu menuju kamar.


Nindi sungguh tidak kepikiran kalau Gilang pulang. Di merebahkan sebentar tubuhnya di kasur dan memikirkan rencana selanjutnya.


Puas memikirkan rencananya kini Nindi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, setalah itu dia mencari makanan di kulkas karena dia sangat lapar saat ini.


Sarapannya kali ini adalah roti dan juga susu, Nindi mencari praktisnya saja tanpa harus susah payah masak.


Seusai sarapan Nindi berangkat ke kantor dan dia tidak membangunkan Gilang karena dia juga tidak mengira kalau Gilang di apartemen dengannya.


Satu jam kemudian Gilang keluar kamar lengkap dengan pakaian kerjanya.


Saat keluar kamar dia heran pasalnya semua lampu telah padam.


"Apa Nindi pulang ya?" gumamnya lalu melihat kamar Nindi.


Lagi-lagi Gilang tidak menemukan istrinya.


Pagi ini sebelum Gilang pergi ke kantor dia pulang terlebih dahulu untuk melihat kondisi mamanya.


"Mama sudah sehat?" tanya Gilang


"Sudah sayang, jangan khawatir," jawab mamanya dengan tersenyum.


"Syukurlah ma, kalau ada apa-apa hubungi Gilang ya ma," kata Gilang lalu memeluk mamanya.


Gilang sungguh menyayangi mamanya, hanya mamanya yang Gilang miliki.


Papa Gilang adalah seorang pebisnis terkenal juga, Bisinis ayah Gilang mencakup segala aspek dan kekayaannya tidak terhitung namun saat berada dalam kesuksesan dia malah berulah dengan menikah lagi dengan seorang janda dua anak, semenjak saat itu papa Gilang sedikit mengabaikan mamanya dan Gilang.


Papanya lebih memprioritaskan istri keduanya yang saat menikah usianya jauh lebih tua darinya.


Pencapaian Gilang saat ini juga karena hasil kerja keras Gilang tanpa campur tangan papanya.


"Kapan kamu menikah Sayang?" tanya mama Gilang

__ADS_1


"Entahlah ma," jawab Gilang bohong


"Maafkan GIlang ma, sebenarnya Gilang telah menikah namun Gilang belum bisa memberitahukannya pada mama karena Gilang tidak mencintainya," batin Gilang dengan bersedih.


"Cepatlah menikah, supaya mama tidak kesepian di rumah yang besar ini," kata mama


Puas memeluk Mamanya kini Gilang pamit untuk berangkat ke kantor, sepanjang perjalanan Gilang memikirkan kata-kata mamanya.


Memang benar apa yang dikatakan mamanya namun bagaimana bisa dia memperkenalkan Nindi pada mamanya sedangkan wajah Nindi tidak prospek sama sekali.


Tak terasa Gilang sudah sampai di kantornya, dia segera turun dan masuk.


Setelah sampai dia ruangannya, Gilang menyapa Nindi terlebih dahulu seperti biasa Gilang mencium bibir Nindi, entah mengapa kini bibir Nindi sudah menjadi candu bagi Gilang.


Setalah puas, Gilang melepas pautannya lalu mengusap bibir Nindi dari sisa Saliva mereka.


"Maaf Ra, lipstik kamu berantakan," kata Gilang dengan terkekeh.


"Hubungan seperti ini mau sampai kapan mas," kata Nindi dengan menatap Gilang lekat.


Otak Gilang traveling kemana-mana, dia melihat tatapan Rara dan juga suara saat memanggil mas mengingatkan Gilang pada seseorang tapi siapa? itulah yang sedang Gilang pikirkan.


"Maksudnya apa Ra? kalau kamu menginginkan hubungan yang lebih kamu harus meminta cerai suami kamu terlebih dahulu," sahut Gilang.


Nindi tersenyum, "Baiklah saya pikirkan dulu," timpal Nindi.


"Apa aku jujur saja ya padanya, tapi aku masih bingung, kenapa aku malah terjebak sendiri," Nindi bermonolog dengan dirinya sendiri dalam hati.


Kini mereka berdua sudah berkutat dengan pekerjaan masing-masing.


Gilang nampak sedang mencari sesuatu di mejanya.


"Astaga, tadi lupa tidak aku bawa," gumam Gilang.


Gilang menghubungi Veri untuk mengambilnya namun Veri ada urusan di luar hingga mau nggak mau dia mengambilnya sendiri.


"Kenapa bisa lupa sih," gerutu Gilang saat dalam mobilnya.


Segera mungkin Gilang mengambilnya lalu kembali lagi ke kantor karena akan ada meeting sebentar lagi.


Gilang berjalan menuju unit apartemennya yang terletak di lantai tujuh belas, sesampainya di apartemen segera Gilang mencari berkasnya bahkan dia masuk dalam kamar Nindi, karena tergesa-gesa dia menabrak bungkusan plastik yang berisi baju kotor Nindi hingga beberapa baju keluar.

__ADS_1


Dan terkejutnya Gilang saat dia ingin mengembalikannya kembali dia nampak tidak asing dengan baju-baju tersebut.


"Bukannya ini baju Rara?"


__ADS_2