
"Terpaksa solo karir lagi," gumam Gilang.
Setelah selesai membantu istrinya memakai pakaian Gilang menuju kamar mandi untuk solo karier. Nindi yang tau hanya bisa tersenyum. Dia masih belum bisa melayani Gilang dan Gilang paham akan hal itu.
Seusai melepas hasrat dengan solo karir Gilang segera kembali dan memakai bajunya.
Dia kemudian memijat kaki Nindi, sesuai pesan dokter cukup bisa membantu mempercepat penyembuhan Nindi.
"Sakit nggak sayang?" tanya Gilang dengan menatap wajah istrinya.
"Nggak, nggak berasa apa-apa," jawab Nindi ketus.
Gilang tersenyum, meskipun Nindi masih ketus padanya dia yakin lama-lama luluh juga.
Art datang untuk mengantar makan malam Nindi dan Gilang, mengingat keadaan Nindi, Gilang menyuruh art untuk mengantar makan mereka ke kamar.
"Makan dulu ya," kata Gilang lalu mendekatkan makanan.
"Aku bisa makan sendiri," ucap Nindi yang menolak untuk di suapi.
"Ya sudah, aku makannya nunggu kamu selesai," sahut Gilang dengan tersenyum.
Gilang menunggui Nindi makan, dan setelah Nindi selesai gantian dia yang makan.
Setelah makan Gilang pamit pada Nindi untuk ke ruang kerjanya karena dia harus melanjutkan pekerjaannya.
"Nggak perlu pamit," kata Nindi
"Harus dong," sahut Gilang
Nindi berdecak kesal, dia masih ingat kemarin-kemarin saat Gilang memperlakukannya dengan tidak baik.
Selepas Gilang keluar kamar Nindi memainkan ponselnya, dia melihat foto-foto ayahnya. Nindi sangat merindukan ayahnya dan tak berselang lama Nindi ketiduran.
Dalam mimpinya Nindi bertemu dengan sang ayah, nampak ayah Nindi bahagia.
"Ayah kenapa meninggalkan Nindi?" tanya Nindi dengan menangis dalam mimpinya.
"Sudah takdir Nin," jawab sang ayah
"Tapi mas Gilang yang membunuh ayah," ucap Nindi yang membuat ayahnya tersenyum.
__ADS_1
"Bukan, sudah takdir ayah. Jangan menyimpan dendam, karena dendam akan menghancurkan kamu, dan membuat hidup kamu nggak tenang, ikhlaskan semua, ayah sudah bahagia di sini," ungkap pak Slamet kemudian pergi dan Nindi terbangun dari mimpinya.
"Astagfirullah, aku mimpi ayah," guman Nindi lalu dia melihat ponselnya kembali.
Nindi menangis, dia merenungi apa yang dikatakan ayahnya, apa sebaiknya dia memaafkan Gilang? entahlah, kini Nindi bingung dengan perasaannya sendiri.
Tak berselang lama Gilang kembali, dia nampak cemas melihat Nindi menangis.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Gilang
"Aku kangen ayah," jawab Nindi menangis.
Gilang menatap Nindi dengan sendu, dia sangat merasa bersalah dengan Nindi.
"Maafkan aku sayang," ucap Gilang.
Gilang memberanikan diri memeluk istrinya dan ternyata Nindi tidak menolak perlukan darinya namun Nindi masih belum menerima pelukan Gilang. Meskipun begitu satu kemajuan karena Nindi tidak menolak.
"Jangan bersedih, kalau kamu sedih kasian ayah di sana, lebih baik kita berdoa yang terbaik untuk ayah sayang," kata Gilang
Nindi mengangguk, memang benar apa yang dikatakan oleh Gilang.
Nindi yang dasarnya masih mengantuk akhirnya tertidur dalam pelukan Gilang.
Gilang menidurkan istrinya lalu dia menyusul dengan merebahkan diri samping Nindi.
Gilang menatap istrinya yang sudah terlelap, tangannya sibuk mengusap sisa-sisa air mata yang masih menempel di matanya.
"Maafkan aku karena selalu menjadi alasan air mata ini keluar, aku memang egois sayang hanya menomorsatukan egoku tanpa mikirin perasaan kamu, bahkan kamu jadi seperti ini juga gara-gara aku," gumam Gilang lalu mengecup kening Nindi.
Tak hanya kening, bibir Nindi pun di kecup. Awalnya hanya mengecup kemudian menjadi pautan. Gilang yang rindu bercumbu dengan istrinya tak kuasa menahan untuk tidak mencium bibir istrinya. Meski tidur Nindi terdengar men de sah kecil saat Gilang melu mat bibir merah Nindi.
Gilang beralih ke bawah, dia melukis senja di sana, hanya sebentar leher yang putih berubah jadi merah seperti kena ulat bulu.
Antara sadar dan tidak Nindi berkata kalau Gilang tidak boleh menyentuhnya namun tubuh Nindi bertolak belakang, alam bawah sadar Nindi juga menginginkan sentuhan Gilang.
Gilang membuka satu persatu kancing baju Nindi hingga terlihat dua pegunungan yang masih terbungkus oleh penutupnya.
Gilang menelan salivanya, tak sabar dia untuk memainkan dua pegunungan milik istrinya tersebut.
"Jangan mas," ucap Nindi dengan mata yang masih terpejam.
__ADS_1
"Iya nggak, kamu tidur lagi ya," sahut Gilang dengan berbohong
Setalah Nindi tenang Gilang melanjutkan aksinya dia langsung saja melahap pucuk pegunungan istrinya, hingga Nindi men de sah.
"Kamu apa-apaan sih mas," omelnya dengan membuka matanya namun tangannya semakin membenamkan kepala Gilang di pegunungan miliknya.
Sungguh tidak sinkron antara ucapan dan tindakannya, namun Gilang suka. Sementara bibirnya sibuk dengan aktivitasnya saat ini tangan Gilang menyusup masuk ke dalam pakaian bawah Nindi, nampak sudah sangat basah dan ini cukup membuat Gilang tersenyum.
Dengan pelan Gilang membuka celana istrinya dan perlahan memasukkan tongkat ajaibnya ke dalam hutan rimba istrinya, meski kaki Nindi tidak bisa dibuka namun Gilang masih bisa memasukkannya bahkan rasanya sungguh luar biasa, apalagi dijepit kaki istrinya.
"Kamu curang mas," omel Nindi dengan menikmati setiap sodokan Gilang.
"Nggak apa apa sayang yang penting sama-sama nikmat," timpal Gilang dengan terkekeh.
Meski jaim namun Nindi sangat menikmati tongkat ajaib Gilang yang lama tidak dia rasakan.
Bahkan hingga tubuhnya kaku dan tangannya mencengkram rambut Gilang karena dia mendapatkan pelepasannya.
Merasakan hangat di dalam membuat Gilang tersenyum puas karena istrinya puas.
Beberapa saat kemudian Gilang mempercepat laju tongkatnya, dan kini dia mengerang penuh nikmat di atas tubuh Nindi.
Dengan nafas yang sedikit memburu dia merebahkan sejenak tubuhnya di samping Nindi, karena banyaknya cairannya dan juga Nindi sehingga tercecer di sprei. Nindi yang dapat merasakan pun meminta Gilang untuk membersihkannya.
"Mas tumpah di sprei," kata Nindi
Gilang segera beranjak lalu mengambil tisu basah, seusai membersihkan miliknya dia membersihkan juga milik istrinya baru yang tumpah di sprei.
"Punya kamu banyak juga sayang," kata Gilang dengan tertawa
"Iya lama ga keluar," sahut Nindi ketus
Gilang lagi-lagi dibuat gemas dengan sikap jaim istrinya namun Gilang tau kalau jauh di lubuk hati yang terdalam dia sudah memaafkan Gilang hanya masih malu-malu kucing saja.
Setelah semua bersih Gilang memakaikan kembali baju Nindi baru dia yang memakai baju.
Gilang mengecup kening Nindi lalu memeluknya meski Nindi masih saja menolak.
"Nurut ma suami napa sih sayang, aku kan cuma ingin meluk kamu supaya kamu nggak mimpi buruk," kata Gilang yang enggan melepas pelukannya.
Karena tak ingin debat Nindi memilih memejamkan matanya dan Gilang tersenyum penuh kemenangan.
__ADS_1
Meski terkesan memaksakan kehendak setidaknya hubungannya dengan Nindi semakin membaik.
"Maksih," ucapnya lalu dia memejamkan matanya dengan tangan menyabuk di perut Nindi.