
"Ada apa? pagi-pagi mengganggu tidur ku," omel Celo
Sri membatu, bagaimana mungkin Celo berada di kamar Indira, apalagi dada Celo penuh warna merah seperti tanda cinta dan sebuah beberapa gambar kuku.
"Sana, sana pergi!" usir Celo karena dia ingin melanjutkan tidurnya.
Celo menatap wanita yang masih terlelap ditempat tidur, dia mengingat kembali kejadian semalam lalu dia tersenyum.
Saat asik menatap Indira bagian bawahnya beraksi
"Sh*it, tongkat sakti kenapa kamu bangun lagi bukankah semalam kamu sudah puas masuk sarang kamu," ucap Celo dengan mengusap rambutnya kasar.
Karena ingin mengulang kejadian semalam Celo membangunkan Indira, dia memintanya untuk melayaninya pagi ini.
"Indira bangun, yuk kita ulangi kegiatan semalam," kata Celo
Indira cuma mengangguk selain masih mengantuk badannya juga masih pegal semua selain itu Indira masih merasakan sakit pada bagian sensitifnya namun dia tidak bisa menolak keinginan dari Celo.
Kemudian kejadian semalam terulang kembali, mereka berdua saling memburu untuk mendapatkan klim*aks mereka.
Di dapur Sri menceritakan pasal Celo yang tidur di kamar Indira.
"Hey Woro-woro pengumuman, sini-sini pagi ini aku dapat gosip hot, teraktual, terpercaya, terakurat dan setajam kater," kata Sri setelah dia di dapur.
Semua pelayan jadi kepo, kemudian mereka mendekati Sri.
"Ada apa Sri?" tanya pelayan lainnya
__ADS_1
"Tau nggak pak Celo satu kamar dengan Indira," jawab Sri
"Kamu tau darimana?" tanya pelayan lainnya
"Aku menyaksikan sendiri lah, Tuan Celo bertelanjang dada membuka pintu saat aku membangunkan Indira," jawab Sri
"Wah, terus gimana?" tanya mereka lagi
"Dada tuan Celo merah merah semua tau nggak, ih mulut Indira seperti vacum cleaner saja, hisapannya kenceng banget," jawab Sri
"Wah nggak nyangka Indira mau tidur dengan tuan Celo," kata pelayan lain
"Mungkin tuan Celo yang memaksa Indira untuk tidur dengannya," sahut lainnya
"Nggak mungkin Tuan Celo seperti itu, tipe tuan Celo itu tinggi setinggi langit mana mau dengan si Indira itu. Aku yakin seyakin-yakinnya kalau Indira memakai ajian jaran goyang," terka Sri
Para pelayan malah berdebat sehingga makanan untuk sarapan belum siap, Indira turun bareng bersama Celo, nampak rambut keduanya basah.
Bagian sensitif Indira yang masih sakit membuat Celo membantunya untuk turun tangga.
Celo menatap meja makan namun belum ada makanan tersaji malah di dapur para pelayan berdebat sehingga membuat Celo menggebrak meja.
"Kalian pikir, aku menggaji kalian untuk berdebat di pagi hari!" maki Celo
Seketika semua berhenti berdebat begitu pula dengan Indira, dia menundukkan kepala karena takut.
Indira mengambil roti dan juga selai, kemudian dia menuangkan susu di gelas.
__ADS_1
"Mas sarapannya ini saja ya," kata Indira yang membuat pelayan semua berbisik.
"Eh maaf tuan Celo maksudnya," imbuh Indira.
Celo yang memang lapar segera melahap roti buatan Indira kemudian dia menghabiskan susu di gelas.
Setelah sarapan Celo beranjak karena dia harus bekerja.
Sebelum dia pergi, dia menyampaikan sesuatu pada para pelayan terlebih dahulu.
"Indira hanya bertugas melayani aku, jadi jangan sekali-kali menyuruhnya untuk membersihkan rumah dan lain-lain," kata Celo yang membuat semua kaget.
Celo masih belum bilang kalau Indira adalah istrinya dia masih belum siap untuk itu.
Mendengar kata-kata Celo membuat Indira sedih karena Celo masih belum menerimanya sebagai istri namun Indira tidak bisa protes.
Untuk saat ini bisa melayani Celo sudah cukup baginya.
"Aku berangkat dulu Indira," kata Celo yang membuat Indira mengangguk
"Hati-hati Tuan Celo," pesannya.
Mungkin yang dilakukan Celo bisa dibilang keterlaluan namun dia takut kalau pelayan mengadukan perihal Indira pada orang tuanya dia belum siap kalau mama dan papanya tau jika dia menikah karena grebek warga.
Selepas kepergian Celo Sri mendekati Indira, dia melirik Indira dengan lirikan mautnya.
"Jadi apa hubungan kamu dengan tuan Celo? jangan mimpi ya Tuan Celo menyukai kamu, kamu tu hanya dijadikan teman ranjangnya saja, lagian jadi cewek kok murah banget mau-maunya tidur dengan majikan," kata Sri
__ADS_1
"Kamu nggak tau yang sebenarnya jadi diam lah!" sahut Indira