
Di sisi lain guna mempersingkat waktu Celo menggunakan helikopter untuk pergi ke villa David, karena kehilangan sinyal, panggilannya mati.
Dia berharap kalau istrinya baik-baik saja.
"Tunggu aku sayang, sebentar lagi aku akan sampai." Celo mengirim pesan pada Indira
Indira yang menantikan kehadiran Celo menunggu di atas Villa David, dimana nanti Helikopter mendarat. Sudah setengah jam menunggu namun Celo tak kunjung datang dan ini membuat Indira cemas.
Dia mencoba menghubungi Celo lagi namun ponselnya nggak aktif.
"Jangan buat aku cemas mas," gumam Indira
Tak berselang lama, samar-samar terdengar suara helikopter, Indira sangat senang sekali.
Perlahan helikopter terlihat, "Mas Celo," kata Indira dengan menitikkan air mata.
Dia sungguh merindukan suaminya, kini Helikopter sudah mendarat, Celo pun melompat turun.
Dia menatap Indira yang sudah berdiri tak jauh dari helikopter yang dinaiki Celo,
"Rindunya aku padamu mas," gumam Indira lalu berlari ke arah Celo begitu pula dengan Celo yang berlari ke arah Indira.
Mereka berdua bertemu dan saling peluk, pilot dan copilot yang melihat dari helikopter jadi terharu.
"Kamu menangis?" tanya Copilot
"Nggak, cuma terharu saja," jawab Pilotnya.
Celo memeluk erat istrinya begitu pula dengan Indira, "Aku rindu mas," kata Indira
"Sama sayang," balas Celo.
"Badan kamu kurus sekali mas," ledek Indira
"Kamu juga kurus dan juga jelek," ledek Celo balik
"Tapi meskipun kamu jelek dan kurus, aku tetap cinta dan sayang sama kamu," sahut Indira
"Aku juga sayang, setelah ini kita menggemukan tubuh bersama," timpal Celo.
Puas berpelukan mereka berdua, kini saling berpaut sehingga membuat para anak buah saling menundukkan kepala seolah mereka semua mengheningkan cipta.
"Aku merindukan kamu sayang," bisik Celo dengan menciumi leher sang istri
"Aku juga mas, sangat malah," balas Indira
Tak ingin berlama-lama, Celo mengajak Indira pulang namun Indira mengajak Celo untuk masuk ke villa David terlebih dahulu.
"Ngapain masuk kesana?" tanya Celo
"Ada beberapa barang aku masih di sana mas," jawab Indira.
"Biar anak buah kita yang mengambilnya," ucap Celo namun Indira menolak, dia tetap bersikeras untuk masuk.
__ADS_1
"Baiklah," sahut Celo pasrah.
Kini mereka berdua masuk dengan dikawal anak buah mereka.
"Hati-hati, tangganya licin," kata Celo lalu menggendong istrinya ala bridal
"Tangganya nggak licin kok mas," sahut Indira
Celo terkekeh, lalu mencium pipi istrinya.
Kini mereka sampai di kamar yang digunakan David untuk menyekap Indira.
"Sekarang jelaskan padaku, bagaimana kamu sendirian di sini, mana David. Ingin rasanya aku menghabisi lelaki brengsek itu," tanya Celo
"Mas David?" tanya Indira balik pura-pura tidak tau
"Iya, David kan yang menculik kamu?" jawab dan tanya Celo
"Yang menculik aku bukan mas David mas," jawab Indira
Celo nampak mengerutkan alisnya, dia nampak curiga dengan Indira, kenapa dia bilang kalau bukan David yang menculiknya padahal menurut laporan yang dia terima kalau David sering bolak balik ke villa ini.
"Nggak mungkin laporan anak buah aku salah," batin Celo
"Kalau bukan David siapa yang menculik kamu?" tanya Celo yang nampak tidak percaya.
"Lelaki tua, dia dendam padaku karena dulu aku menolak untuk dijodohkan dengannya," jawab Indira.
"Kamu yakin?" tanya Celo lagi
"Tapi ini bukannya villa David, lalu dimana orang yang menculik kamu? tentu nggak mungkin meninggalkan kamu sendiri sayang, apalagi memberikan ponsel kamu." Celo sungguh curiga menurutnya kata-kata Indira mencurigakan
"Entah mas, aku juga tidak tau. Tadi ada banyak pria berpakaian hitam-hitam menyerang si kakek tua tersebut," kata Indira yang membuat Celo mau nggak mau percaya.
Indira bersiap dia mengambil tasnya, sesuai mendapat barangnya, Celo dan Indira kembali lagi ke atas dan pergi dari villa David.
Celo yang sangat merindukan istrinya terus saja mencium Indira, sehingga membuat anak buahnya mati kutu.
"Jangan melirik tuan Celo, maklum seabad nggak ketemu istrinya jadi ya sedikit rakus, dan menganggap kita ini sebagai patung," bisik anak buah mereka.
Celo membungkus tubuh Indira dengan jas miliknya
"Kamu baik-baik saja kan sayang?" tanya Celo
"Aku baik mas," jawab Indira
"Penculik kamu nggak macam-macam kan sayang?" tanya Celo
"Nggak mas," jawab Indira
Celo lagi-lagi memeluk Indira yang awalnya peluk kangen kini menjadi peluk naf su dimana Celo mulai men ci umi leher istrinya
Tangan Celo juga menyusup masuk ke dalam dada istrinya
__ADS_1
"Mas kamu mau ngapain?" tanya Indira
"Mau menjenguk dua bukit aku," jawab Celo
"Astaga mas, heran aku sama kamu," sahut indira dengan menggelengkan kepala.
Beberapa saat kemudian, mereka kini telah sampai di rumah, di sana sudah ada Alex, Nita, Gilang, Nindi mama dan papa. Semua senang karena Indira telah ketemu namun mereka juga cemas, takut kalau terjadi apa-apa dengan Celo maupun Indira.
"Indira," teriak Nindi
Indira melepas tangan Celo yang merangkulnya, dia kemudian berlari lalu memeluk Nindi,
"Bagaimana keadaan kamu In?" tanya Nindi
"Aku baik Nin," jawab Indira
Kini gantian Nita yang memeluk Indira lalu gantian Alex, Gilang mama dan papa.
Mereka semua sangat lega karena Indira pulang dengan selamat.
"Syukurlah kamu pulang dengan selamat," kata Alex
"Iya kak Alex," sahut Indira.
Mereka semua mengobrol sebentar, Alex dan Gilang nggak yakin kalau yang menculik Indira bukan David karena semua bukti mengarah pada David, bahkan Villa itu pemiliknya adalah David.
"Kok aneh ya, jadi siapa penculik kamu?" tanya Alex
"Orang jahat kak yang dulu diminta bibi aku untuk menikahi aku," jawab Indira berbohong
"Lalu kenapa bisa hilang semua ya," ucap Alex heran
"Apa mungkin mereka adalah jin tau setan yang menyamar," timpal Gilang
Karena ucapannya semua mata tertuju pada Gilang, dan ini membuat Gilang terkekeh.
Karena semua sudah jelas, dan Indira juga baik-baik saja mereka semua pamit ke kamar masing-masing mengingat hari juga sudah sangat larut.
Nindi dan Gilang juga menginap di rumah papanya.
Kini Celo dan Indira juga sudah di kamar. Indira yang merindukan kamarnya langsung berbaring dan menikmati bantal dan gulingnya.
"Aku sungguh merindukan tempat tidurku," kata Indira
"Rindu tempat tidurnya tapi tidak pemiliknya," sahut Celo
"Ya nomor satu rindu pemiliknya dong mas," timpal Indira.
"Jadi apa bisa gulat sekarang?" tanya Celo
"Mas Celo, bisa nggak gulatnya besok saja," jawab Indira yang membuat Celo melemas
Melihat suaminya melemas membuatnya tertawa
__ADS_1
"Ayo ayo, aku juga pengen gulat,"