
"Mas Celo pasti pergi dengan selingkuhannya kak, berani dia membohongi aku," kata Indira.
Nita mencoba menenangkan adik iparnya tersebut sedangkan Alex menggendong Dania.
"Mungkin saja Celo ada kerjaan lain di luar kantor, kita positif thinking aja ya," hibur Nita
"Iya mbak," sahut Indira.
Kini mereka masuk ke dalam, Alex membawa Dania ke kamarnya sedangkan Nita ke kamar Indira, dia mencoba menghibur Indira yang masih menangis.
"Sudahlah Indira, apa yang kamu tangisi. Kita kan nggak tau apa yang dilakukan Celo, jadi jangan berpikiran negatif dulu," kata Nita
"Sekarang apa coba kak, dia pergi ke luar kota bilangnya ada meeting, dia juga bilang kak Alex ikut lo, kalau nggak selingkuh apa lagi," sahut Indira
"Mas Celo juga sering pulang malam, dua kali aku menemukan bekas gambar bibir wanita di jasnya," imbuh Indira.
Nita nampak tersenyum, dia juga nggak tau Celo beneran selingkuh apa tidak tapi dia ingin menceritakan sesuatu pada Indira.
"Aku akan menceritakan sesuatu pada kamu, kesalahan yang pernah aku lakukan.
Dulu aku menyukai Gilang, suami Nindi sahabat kamu, aku bekerja di perusahaannya sebagai sekertaris Gilang. Aku melakukan banyak cara supaya aku dekat dengannya, aku juga terkadang sengaja membuat Nindi dan Gilang salah paham." Nita bercerita pada Indira.
Indira bingung dengan cerita Nita, kenapa Nita malah membuka aibnya.
"Apa hubungannya dengan mas Celo mbak?" tanya Indira.
"Maksudnya mungkin memang ada yang sengaja membuat kalian salah paham," jawab Nita.
Indira nampak berfikir, apa benar yang dikatakan Nita.
"Intinya kamu jangan asal menuduh sebelum ada bukti nyata, daripada kamu akan menyesal nanti. Karena lelaki juga nggak suka jika dia dicurigai. Kalau memang ada pelakor di antara kalian, hempaskan pelakor itu jauh-jauh. Masa kamu kalah sama Nindi, dulu Nindi asli siaga banget dia tidak membiarkan Gilang lepas darinya sedetik pun," ungkap Nita.
Setelah memberikan pemahaman pada Indira Nita menyusul Alex ke kamarnya.
Di kamarnya Indira membuat list, dia ingin mengecek semua secara diam-diam mulai dari daftar mutasi rekening Celo, menyadap ponsel Celo dan lain-lain.
"Iya aku harus selidiki, jika kamu beneran selingkuh awas kamu mas. Aku memang miskin tapi bukan bearti kamu bisa seenaknya padaku," kata Indira.
Waktu berlalu dengan cepat, Alex dan Nita pamit pulang.
"Kok buru-buru sih mbak, aku masih belum puas main sama Dania. Dia tu gemesin banget Lo," kata Indira sambil mencubit pipi Dania yang tembem.
"Kamu dong main kesana, masak iya saudara tua yang main ke saudara muda melulu," sahut Nita
"Iya iya kak, nanti aku main deh biar bisa bersama si tembem ini," timpal Indira dengan mencium Dania.
Karena terganggu dengan ciuman Indira, Dania pun menangis.
__ADS_1
"Iihh nangis, nggak mau ya dicium Tante cantik," ucap Indira dengan mengelus pipi Dania.
"Kalo suka anak kecil, Celo ajak gulat terus biar segera jadi cebongnya," sahut Alex.
"Iya kak," timpal Indira dengan terkekeh.
Kini mobil Alex sudah berlalu, dan Indira kembali ke kamarnya.
Sri yang sedari tadi menguping pembicaraan Indira dan Nita pun menyebarkan gosip yang dia dapat.
"Hey hey, ada berita hot ini. Berita yang hot, teraktual, terpercaya dan sangat menarik untuk diperbincangkan," kata Sri
"Apaan sih Sri," sahut art lainnya
"Begini, aku mendengar di balik tembok jelas meski samar samar namun ini tentu terpercaya, tajam setajam kater," ucap Sri
"Apaan sih Sri, kamu ni seperti pembawa acara gosip Fena Rose aja daritadi muter-muter nggak jelas langsung to the poin gitu Lo," protes lainnya
"Gini aku dengar-dengar kalau Tuan Celo selingkuh," kata Sri.
"Benarkah! tapi wajar sih kalau orang kaya selingkuh kan mereka banyak uang berbeda dengan kaum bawah seperti kita," sahut Art lain.
"Kan biasanya kalau orang selingkuh itu setelah pernikahan sudah lama la ini kan baru beberapa bulan sudah selingkuh bearti memang dasarnya Tuan Celo tidak mencintai istrinya," ucap Sri.
"Benar juga ya," sahut art semua.
"Kalian ngapain?" tanya Indira
"Bergosip," jawab Sri tanpa melihat Indira karena posisi mereka semua membelakangi Indira.
"Aku boleh ikut?" tanya Indira
"Boleh sini-sini," ajak Sri lalu membalikkan badannya.
Semua memandang Indira dengan mata yang membola.
"Eh nyonya," sahut mereka semua
"Kalian gosip apa? kok saya nggak diajak," tanya Indira lalu mengambil minum.
"Ini Nyonya, saudara Sri hamil di luar nikah dan kekasihnya nggak mau tanggung jawab," jawab Art di sana dengan berbohong.
"Oh, gitu. Turut berduka cita ya Sri," kata Indira lalu pergi.
Semuanya menghela nafas, untung Indira tidak mendengar gosip mereka.
********
__ADS_1
Matahari sudah kembali ke persembunyiannya, kini hari yang cerah berganti dengan hari yang gelap.
Indira menyendiri di balkon kamarnya sambil menunggu Celo namun hingga pukul sembilan Celo belum juga datang.
Indira yang terus memikirkan Celo jadi tidak nafsu untuk makan.
Dia yang lelah akhirnya memilih untuk tidur, dan tepat pukul dua Indira bangun namun Celo masih belum pulang.
Melihat sampingnya yang kosong membuat Indira menangis, kemudian dia menghubungi Celo namun ponselnya sedang di laur jangkauan.
"Tega kamu mas, apa ponsel sengaja kamu matikan" kata Indira dengan air mata yang terus jatuh.
Setelah lelah menangis dia memejamkan matanya kembali, meski sulit terlelap namun dia bisa terlelap juga.
Pagi sudah datang menyapa, Indira perlahan membuka matanya dia mencari Celo namun disampingnya hanya ada guling dan bantal tanpa tuannya.
Indira tersenyum ketir, "Jadi kamu nggak pulang mas. Bagus," gumam Indira lalu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Hari ini rencannya dia akan pergi ke bank untuk meminta mutasi rekening akun bank milik Celo, siapa tau dia bisa menemukan bukti supaya Celo tidak bisa mengelak lagi.
Setelah bersiap Indira turun ke bawah untuk sarapan karena semalam dia tidak makan jadi pagi ini dia makan lumayan banyak dan ini membuat pelayan rumahnya senggol-senggol di dapur.
"Aku pergi dulu, kalian jaga rumah baik-baik," kata Indira lalu pergi dengan tas selempangnya.
Kali ini dia tidak menggunakan jasa sopir rumah Celo, dia memilih naik taxi online.
"Kamu lihat nggak, matanya sembab dan Tuan Celo nggak pulang kan?" kata Sri mulai bergosip.
"Iya, semalam juga nyonya nggak makan," sahut lainnya.
"Sudah-sudah, ayo kita bekerja," timpal lainnya.
Sepanjang perjalanan Indira menangis memikirkan Celo, meskipun dia berusaha kuat namun jiwanya sungguh rapuh.
Setibanya di bank Indira masuk kemudian mengambil nomor antrian dan menunggu nomornya dipanggil.
Lama menunggu kini gilirannya, dia memberikan buku tabungan Celo dan meminta teller untuk print out mutasi rekening milik Celo.
Menunggu sebentar dan hasil print out mutasi rekening Celo sudah siap
"Ini mbak print mutasi rekeningnya, apa ada yang bisa dibantu lagi?" tanya mbk yang melayani Indira saat ini
"Nggak mbak makasih," jawab Indira lalu berdiri dan keluar.
Dia mengecek hasil mutasi rekening Celo dan betapa kagetnya dia melihat ada nama wanita yang sering Celo transfer uang, dan terakhir Celo mentransfer uang yang jumlahnya sungguh fantastis yaitu 30 miliar ke salah satu agen property.
"Tega kamu mas,"
__ADS_1